Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 88 (Spesial part duo Couples)


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻


Yashna terlihat gelisah. Beberapa kali mengecek jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Namun, batang hidung Alan belum tampak juga.


"Kamu sudah nelpon Alan, kan?" tanya Kartika seraya menyerahkan tiket dan paspor Yashna dengan wajah sedih.


"Sudah, Bun. Katanya sebentar lagi nyampe" jawab Yashna akhirnya memilih untuk duduk di kursi sofa.


Kartika segera mendekat, ikut duduk di samping Yashna. Jemari tangannya terulur, menyentuh lembut tangan Yashna. Memberi sentuhan hangat seorang ibu.


"Bunda pasti bakal kangen sama kamu, Na," ucapnya sedih.


"Maaf, Bun. Bukan maksud Yashna ...."


Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu menarik napas dalam. Untaian kata perpisahan yang sejatinya sangat dibencinya, tetapi demi masa depan kedewasaan Alan, ia harus melakukannya


Berat? Tentu saja bagi Yashna yang sudah terlampau dekat dengan mantan istri Krisna itu. Seorang wanita yang bisa berubah menjadi lebih baik berkat kepahitan hidup yang sudah sering ditelan.


"Bunda tahu rasanya dicintai dengan begitu besar, dari seseorang yang usianya jauh lebih muda, Yashna. Sembilan tahun, bukankah itu lebih lebih parah dari hubungan kalian?" ungkapnya sembari menyunggingkan senyuman tipis.


Yashna menoleh, tidak biasanya calon mertuanya itu menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi. Apa mungkin Alan menceritakan apa yang sedang menjadi kegundahannya? Yashna hanya bisa menebak.


Alan dan Kartika sama-sama memiliki sifat misterius. Sering memendam sesuatu di dalam hati dan pandai menyembunyikan perasaan yang sebenernya.


"Ayah Alan, ya?" tebak Yashna.


"Bukan, tapi Krisna," jawab Kartika membuat Yashna menelan ludah.


Laki-laki yang sekarang menjadi suami dari Isna? Yashna tidak melupakan hal itu, hanya saja ia tidak mau mencampuri urusan orang lain yang terjadi di masa lalu.


"Krisna dan Alan sama-sama bisa menerima kekurangan dari pasangannya, Yashna," nasihat Kartika.


Yashna masih terdiam, belum mau menyahut ucapan Kartika.


"Mencintai dan menyayangi penuh gairah anak muda. Betapa gila bila membayangkan sulitnya mengendalikan mereka. Benar bukan?"


Kartika bertanya seolah sedang memintanya untuk memberikan penilaian.


"Aku tidak memiliki siapapun untuk menjadi bahan perbandingan, Bun," balas Yashna singkat.


"Aku tahu, perselingkuhanku tidak bisa dibenarkan, Yashna. Itulah kenapa aku memintamu untuk tidak melepaskan Alan karena aku tidak mau kamu merasakan penyesalan seperti apa yang kurasakan setelah kehilangan orang yang ternyata sangat mencintaiku sepenuhnya tanpa melihat siapa dan dari mana aku berasal," tandas Kartika.


"Yashna hanya butuh sedikit lagi waktu, Bun. Bukan bermaksud untuk mencari pengganti Alan. Sungguh, tidak ada pikiran ke arah itu. Jangan salah paham, Bun," jelas Yashna segera diberi anggukan Kartika.


"Bunda ngerti, Sifatnya memang mirip dengan ayahnya --Aswa Tama-- saat menjatuhkan pilihan untuk mencinta wanita, ia tidak akan melepaskan walau wanita itu tersiksa karena cintanya."


Yashna mengangguk. Alan tidak peka, atau hanya pura-pura tidak peduli? Terhadap bahasa tidak nyaman yang diberikan saat bersama teman-temannya.


Bahkan sindiran yang sejatinya membuat panas telinga Alan merasa itu bukanlah hal yang harus ia pikirkan.


"Bodo amat orang mau ngomong apa!"


Sebuah jawaban saat Yashna mulai terusik komentar orang mengenai hubungan mereka berdua.


"Tante nggak laku, ya? Sampai macarin anak bau kencur, kuliahan pula."


Shit! Mengumpat. Lalu meminta putus.


Labil, iya. Ternyata usia tidak serta merta menjadi patokan seseorang menjadi dewasa atau tidak.


Alan lebih bisa bersikap dewasa darinya, sekaligus kekanakan dalam waktu bersamaan. Ish! Pusing menjelaskannya.


"Aku tersiksa dengan hubungan kita, Alan."


Pernah satu kali wanita itu mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan dalam hati. Namun, pria bernama Alan itu hanya akan memberinya senyuman super manis ke arahnya. Meyakinkan kalau dia tidak akan menerima perpisahan hanya karena komentar dari orang.


"Yang penting kita saling cinta. Sesimpel itu, Yashna," pungkasnya.


Alan sudah kebal. Bahkan kalau perlu ia akan nongkrong seharian di apartemennya, tidak berangkat kuliah dan juga bakal bolos kerja paruh waktu. Semua itu akan dilakukan sebelum Yashna memastikan kalau hubungan mereka terus berlanjut.

__ADS_1


"Akan Yashna pikirkan, Bun. Kalau memang Alan benar-benar sayang dan jodohnya Yashna, pasti kita bakal terus bersama. Alan pasti bakal nyusul Yashna pulang ke Indonesia," jawab Yashna diiringi senyum.


"Kamu keren, Yashna. Bunda sayang sama kamu. Bunda harap kamu akan menjadi menantu bunda nantinya, karena kamulah orang yang sudah berjasa mendekatkan bunda sama anak semata wayang yang tidak pernah bunda urus sejak lahir," ungkap Kartika, wanita berusia lima puluh tahun itu dengan tulus.


"Sama-sama, Bun."


Mereka berpelukan sejenak, saling memberi dukungan satu sama lain.


Suara kendaraan dari luar terdengar, sambil menepuk punggung Yashna Kartika segera melepaskan pelukan.


"Alan sudah datang. Ayo, bunda bantu bawa koper. Kita ngejar penerbangan, nih," ujarnya mengingatkan.


Yashna mengangguk.


Kini kedua wanita itu berjalan tergesa untuk mencegah Alan masuk ke rumah. Waktu mereka semakin terdesak dengan jadwal penerbangan tepat pukul dua lebih empat belas menit.


Mereka sampai di depan teras saat Alan keluar dari dalam mobil dengan wajah letih.


"Sorry, tadi ada kelas mendadak," ucapnya beralasan.


"Yuk, aku nggak mau telat," sahut Yashna yang menarik koper yang dibawa Kartika. Alan kemudian mengambil alih.


Tangan satunya menggaruk kepala yang tidak gatal, memandang sang ibu dengan alis mengernyit. Kartika menggeleng pelan.


"Ck!" Alan berdecak.


Sengaja pulang terlambat untuk mengubah keputusan Yashna ternyata tidak berhasil. Terpaksa akhirnya ia merelakan wanita kesayangannya itu sementara tinggal jauh.


"Aku yang nyetir, ya?" pinta Yashna.


"Nggak!" Alan segera menyerobot posisi Yashna yang hendak membuka pintu kemudi. "Duduk manis atau enggak pergi sama sekali!"


"Awas kalau sampai telat," geram Yashna beralih mundur, membuka pintu mobil bagian belakang sopir.


"Iya, bawel," balasnya segera memasuki mobil.


Mobil pun melesat, melewati jalan lengang kota Melbourne menuju ke Bandara Tullamarine. Perjalanan transit ke Jakarta dulu sebelum Yashna melanjutkan ke kota kecil Solo menggunakan jalur darat. Memalak Depe untuk mengantarkan, atau menggunakan jalur kereta api mungkin akan sangat menyenangkan.


"Di Jakarta mau mampir ke rumah siapa?" tanya Alan membuka percakapan.


"Depe," jawab Yashna cepat.


"Wah! Bukankah dulu kalian gelud, ya?" komentar pria itu terkekeh.


"Enggak, mau ngucapin duka cita," sahut Yasha serius.


Alan mengangguk. Kartika juga tidak menyahut ucapan Yashna. Baginya semua hanya masa lalu.


****


Alan memeluk sesaat tubuh Yashna sebelum akhirnya dengan berat hati melepaskan kekasihnya untuk pergi. Kini mereka sudah sampai di Bandara.


Berat? Teramat sangat bagi Alan.


Yashna seseorang yang mampu membuatnya bisa menjadi diri sendiri. Wanita itu sanggup mendebat apa pun yang tidak disukai darinya. Pertengkaran yang justru semakin membuatnya terpikat oleh kepribadian Yashna yang memegang teguh pada sebuah prinsip.


Saat semua wanita mati-matian mengejarnya, Yashna justru membentangkan tembok pemisah dan siap mencampakkannya begitu saja.


Saat beberapa wanita berusaha memikat dengan berjuta pesona, justru Yashna memberikan wajah asli agar dirinya terlihat buruk dan siap untuk ditinggalkan.


Alan, justru pria itu membutuhkan wanita seperti Yashna. Apa pun kondisinya, wanita itu selalu berhasil hidup mandiri di tengah kekurangan hidup yang dijalani.


"Jangan nakal, ya, selama nggak sama aku," ucapnya sambil mengecup kening wanita yang tingginya hanya sebatas dagu. Alan memandang bibir mencibir itu dengan wajah penuh senyuman.


"Enggak ada wanita nakal di usia dua puluh delapan, Al," balasnya sewot.


"Ya, nggak ada yang tahu ... ada duda kaya raya naksir kamu. Nggak tahu nanti hidupku kayak gimana nggak ada kamu," ungkapnya sanggup membuat Yashna tertegun.


Cup

__ADS_1


Wanita itu mengecup pipi Alan, kemudian mendorong dada Alan sambil melambaikan tangan.


"Jangan lupa, kuliah yang bener. Susul aku kalau masih punya niatan buat nikahin aku," lontarnya sambil berjalan mundur.


"Hati-hati, Yashna. Hubungi bunda setelah sampai di Indonesia." Kartika dengan mata berkaca-kaca melambaikan tangan.


"Siap, Bun," sahut Yashna kemudian membalik badan.


Suara panggilan boarding sudah terdengar berulang. Nama Yasha sebagai daftar manifes pesawat Qantas Airlines sudah dipanggil. Setelah melewati prosedur keberangkatan akhirnya wanita itu kini sudah siap melakukan perjalanan panjang. Di mulai dari sekarang, 11 jam 30 menit bila tidak ada kendala, sudah pasti ia akan kembali menginjakkan kakinya di negara tempatnya dilahirkan. Tanpa Alan, bocah itu.


"Apa seberat itu melepaskan?" gumam Yashna memejamkan mata.


***


"Lo di mana?"


Sambil mengobrak-abrik isi tasnya dengan satu tangan Depe kini sedang berjalan mendekati parkiran.


"Bandara! Oh God! Kenapa nggak kasih tahu? Gue 'kan bisa jemput sebelum Lo landing." Depe berujar dengan suara desis kesal.


"Ok, tunggu. Kalau nggak macet, lima puluh menit gue nyampe," kilahnya dengan wajah lega, kontak mobilnya akhirnya ketemu.


Wanita yang kini menyandang status janda beranak satu itu kini sudah mendaratkan pantatnya di jok bagian kemudi. Sambil memandang spion untuk meneliti penampilannya terlebih dahulu.


Kemudian wanita seusia Yashna itu melakukan panggilan telepon di tengah perjalanan.


"Hufh!"


Terdengar embusan napas Depe. Pihak sekolah memberitahukan bahwa Azka sudah saatnya dijemput. Mau tak mau, dengan terpaksa ia pun kembali merepotkan pria muda yang suka sekali kalau dibuatnya repot. Siapa lagi kalau bukan sekretaris somplak Wisnu.


"Ada apa, Bu Bos?" sahut Ihsan dari seberang.


"Jemput Azka bisa?" ucapnya to the point.


"Jam?"


"Sekarang, aku lagi menuju bandara buat jemput teman, bisa atau aku panggil taxi online?" serobotnya penuh pikiran terukur.


"Bisa! Kebetulan aku lagi di jalan. Sekalian jemput anak kesayangan. Hati-hati di jalan, ya."


"Mulai deh, gombal dekil," cerocos Depe membuat Ihsan terkekeh.


"Bawa ke mana? Kantorku apa kantormu?"


"Anterin Azka ke Kafe aja, ya? Aku langsung otw dari bandara ke sana," tunjuk Depe merasa lega. Pria itu selalu bisa diandalkan.


"Yup! Siap, Bu Bos," sahut Ihsan.


"Aku tutup," cetus Depe hendak mematikan ponsel.


"Nggak kasih salam sun dulu, to?" goda Ihsan terkekeh.


Kluk


Tanpa menjawab Depe segera mematikan sambungan. Wajahnya memerah, dengan senyuman terukir merasa geli.


Ihsan, pria itu perayu payah. Namun, entah mengapa rasanya begitu berbeda saat mendengar celotehan rayuan yang terlontar darinya. Rasanya semakin membuat seorang Depe merasa malu sekaligus kesal secara bersamaan.


"Apa kita berjodoh, San? Di saat trauma sebuah kehilangan sangat menghantui hari-hariku."


Depe menghela napas panjang. Fokus menyetir untuk menjemput Yashna, seorang wanita dewasa yang juga sama dilema seperti dirinya mengenai cinta yang begitu besar dari pria yang lebih muda.


"Yashna, mantan pecinta Wisnu, kita layak bahagia. Mari kita buktikan!" serunya dengan tangan terkepal memegang erat setir kemudi.


***


'Menyentuh hatimu adalah bagian tersulit yang kulakukan dalam hidup.


Meskipun begitu, tidak ada secuil pun niatan untuk goyah mengejar hingga tanganmu suatu saat akan terulur, terentang untuk menyambut pelukanku.'

__ADS_1


(Kalandra Tama & Ihsan Paundra)


__ADS_2