
🌻🌻🌻🌻🌻
Semua bayangan keseruan seolah menguap. Yashna sempat berpikir bahwa hari ini akan menjadi hari menyenangkan karena akan banyak berinteraksi dengan semua peserta pecinta alam yang mengikuti acara, nyatanya ambyar sudah.
Bantengnya yang kokoh saat ini sedang duduk di sebelahnya. Matanya bahkan tidak beralih selain hanya untuk memandang dirinya. Lama-lama Yashna merasa jengah juga. Ia cukup tidak percaya diri ketika berada di sisi Alan. Ia merupakan sosok pria yang dikagumi banyak wanita. Buktinya peserta wanita masih saja ingin mengajaknya bicara meski sudah jelas cara menjawab Alan bahkan tanpa minat untuk menatap.
“Kamu nggak tidur?” Suara lembut itu nyaring di telinga. Seperti biasanya, pria itu selalu mampu menunjukkan kepedulian yang mampu melunturkan amarah pada saat Yashna merasakan kesal
“Hem?” Yashna menggeleng. “Kalau cuma ingin tidur, nggak mungkin aku ikutan acara ini,” ucap Yashna masih memilih menatap ke arah jendela kaca bus. Menatap pemandangan alam nan asri dari rute yang dilewati bus.
Ia tidak sanggup bila harus berhadapan dengan pria itu dengan posisi begitu dekat. Tubuh tegap Alan selalu miring menghadap dirinya hingga ia merasa bagaikan sedang terkungkung dalam pengawasan.
“Nggak pernah angkat telpon dariku, kenapa?”
“Males,” sahut Yashna datar.
“Nggak kangen?”
“Sudah lupa rasanya.”
“Mau kubangkitkan lagi kenangan kita, biar tahu beratnya memendam rindu?” goda Alan mengulum senyum. Ia sangat menyukai tingginya balok es yang diciptakan Yashna ketika sedang kesal. Ia selalu melakukan sesuatu untuk memancing Yashna yang akan bersikap ketus dalam menggapai banyolannya.
Pria itu langsung tergelak saat mendapatkan tatapan tajam Yashna yang sedari tadi seolah ingin mengabaikannya. Alan tidak pernah lelah untuk mendapatkan perhatian dari wanita itu lagi, meski harga dirinya sebagai pria mungkin akan sedikit menurun. Ia mengalah, padahal sebenarnya ia tipe pria yang cukup keras kepala bila menyangkut sebuah keputusan.
“Kita dulu pernah—”
“Nggak diem, aku pindah kursi!” potong Yashna jengkel.
“Pindah ke mana? Semua penuh.” Pria itu mencibir, bahkan tergelak untuk beberapa saat. “Mau jadi kondektur bus?”
“Ish!”
Yashna hanya bisa mendengus. Ia tidak menyangka Alan akan bersikap sangat menyebalkan seperti itu. Bagi Yashna, usianya yang lebih tua pun masih sanggup digoda habis-habisan oleh bocah ingusan.
“Kita ini lagi nggak ada hubungan apa-apa!” tegas Yashna memperingatkan.
“Iya, aku tahu.”
“Terus ngapain kamu sok kenal gitu? Pake nguntit aku dengan menyabotase tempat duduk segala!” protes Yashna kini berupaya menatap Alan dengan mengangkat wajah dengan lebih berani.
“Aku tidak menguntit. Aku donatur nomor sekian-sekian, tuh. Tuduhan kamu tidak berdasar!” balas Alan mencibir, ia memiringkan wajah dengan senyuman tipis kemenangan karena perempuan di hadapannya kehilangan kata untuk mendebatnya.
“Terus ... kamu duduk di sini apa itu maksudnya? Itu ... sponsor harusnya berada di dalam mobil iring-iringan di urutan paling depan. Bukan bis terakhir seperti ini,” sahut Yashna dengan suara sewot. Alan semakin tergelak hingga terpaksa memutar tubuhnya menghadap ke depan, sedikit membungkuk demi bisa menahan sakit perut karena ia benar-benar tertawa lepas.
Yashna menghela napas. Perempuan itu pun hanya bisa menggemeratakkan giginya dengan tangan terkepal erat. Kesal, sangat kesal. Ia bahkan tidak mampu menghindari bayang-bayang pria muda itu dari kehidupannya.
“Maksud kamu apa?” Yashna memukul kesal punggung Alan yang masih menunduk karena tawanya belum sepenuhnya berhenti.
Pria itu menoleh, memberi senyuman tipis dengan manik mata mengkilap yang menampakkan wajah rupawan pria muda berusia dua puluh dua tahun. Yashna masih berusaha menahan ekspresi datar agar otaknya tidak sampai memuji bocah ingusan yang masih menatapnya lekat.
“Maksudku ikutin kamu?” Alan membalik pertanyaan. Ia masih tersenyum tipis, tetapi tawanya sudah sepenuhnya berhenti.
“Hem.” Yashna hanya berdeham sambil mengangguk pelan. “Masih satu bulan aku baru akan memberikan keputusan antara menerima kamu lagi dan kita memikirkan masa depan kita, atau ... cukup sampai di sini dan kita jalani hidup masing-masing dengan damai,” sambung Yashna dengan suara datar, sebuah kalimat yang justru ditanggapi dengan senyuman lebar Alan.
“Alasanku kenapa aku masih berusaha untuk hubungi kamu ... karena, aku anggap kamu masih tunanganku. Ini cincinku aja belum kulepas.” Alan menggantung jemarinya di udara, memperlihatkan tepat di depan wajah Yashna.
__ADS_1
Yashna mengamati cincin emas putih yang melingkar di jari manis pria di sampingnya dengan tatapan tercenung, mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Alan bersikeras membeli sepasang cincin dengan uang yang berasal dari bonus karena membantu seorang teman dalam mengerjakan proyek merancang dan membangun taman di sebuah rumah mewah.
“Kamu ingat, aku marah gara-gara kamu beli cincin itu?” kenang Yashna melirik ke arah Alan.
“Kamu memang selalu marah kalau aku melakukan apa saja yang tidak kamu suka,” sahut Alan menurunkan jemari tangannya kemudian menyentuh cincin itu dengan jemari tangannya yang lain.
“Kamu merasa begitu? Aku selalu marah padamu?” tanya Yashna pelan.
Goncangan bus yang mulai mendekati lokasi semakin terasa. Yashna beberapa kali harus berpegangan pada terali horizontal yang terletak di pinggiran kaca jendela bus untuk menjaga keseimbangannya agar tidak sampai terayun dan kontak fisik dengan Alan. Alan pun memahami bahwa Yashna masih membentengi dirinya dengan sikap tegas. Padahal jauh di dalam hatinya, Alan sudah sangat merindukan aroma tubuh wanita itu dengan memeluknya sejenak. Mencium bibirnya untuk memberikan ketenangan bahwa hati wanita itu masih miliknya.
“Kita akan sampai di lokasi dalam waktu sepuluh menit! Persiapkan barang bawaan kalian!”
Pengumuman dari ketua panitia bus yang Yashna tumpangi membuat kesenyapan karena peserta memilih untuk tidur kembali ramai. Yashna dan Alan saling berpandangan, sedetik kemudian Yashna memilih untuk melengos.
“Aku merasa kamu nggak suka sama semua yang kukerjakan,” jawab Alan kemudian.
“Karena aku nggak kenal kamu yang sebenarnya,” balas Yashna melirik ekspresi Alan yang bingung. Perempuan itu hanya bisa melipat bibirnya untuk menahan tawa.
Alan pun menepuk kening Yashna hingga mata perempuan itu pun sukses terpejam dengan paksa. Alan tidak mampu menahan gelak tawa. Baginya apa pun yang dilakukan pada Yashna merupakan bentuk sentuhan sayang. Ia tidak peduli kini tatapan mendelik sedang tertuju ke arahnya. Baginya sebagai seorang pria, ia harus melibatkan fisik untuk menunjukan betapa ia sangat menyayangi dan menginginkannya. Sangat berbeda jauh dengan pemikiran wanita yang lebih menyukai melibatkan emosi dan kenyamanan dalam menunjukan rasa sayang.
“Kemasi barangmu! kita punya banyak waktu hari ini untuk berdebat,” ujar pria itu menunduk, menarik tas ransel yang berada di bawah kolong kakinya sambil memiringkan wajah, menatap Yashna dengan memberi senyuman nakal.
“Ish, jangan masuk dalam rombonganku!” desis Yashna tidak mau kalah.
“Yang menentukan jalanmu itu aku, bukan kamu,” balasnya dengan seringai yang menyebalkan bagi Yashna.
“Kalau bukan karena kamu memiliki andil dalam pembiayaan acara kali ini ... huh! Sudah ku remas wajah menyebalkanmu itu!” Yashna meremas jemarinya tepat di depan Alan hingga sukses membuat pemilik wajah tampan itu memundurkan kepala agak menjauh.
“Huuu ... takut!” goda Alan kemudian diikuti tawa terbahak. Yashna hanya bisa mendesis kesal.
Beberapa peserta sudah terlihat berdiri dari kursi, bergerak untuk turun dari bus sambil membawa barang bawaan masing-masing. Yashna pun melambaikan tangan karena Setyo, orang yang memanggilnya hampir tidak terlihat karena terhalang barisan peserta yang mengantre untuk turun.
“Yup! Bentar!” jawabnya dengan teriakan.
Yashna merapikan barang bawaan, tidak mengangkat wajahnya sama sekali karena sudah jelas, pria di hadapannya sedang memberikan tatapan tajam dengan rahang mengeras padanya.
“Turun nggak?” tanya Yashna bersiap untuk turun dengan badan sedikit terangkat.
“Siapa dia!” Tampak kilatan kecemburuan dan kemarahan menggebu menyorot raut wajah Alan. Jantung Yashna berdebar kencang, selalu seperti itu. Kilatan menakutkan selalu ditampakkan pria itu ketika mendapati seorang pria terlihat dekat dengannya.
“Teman. Udah, minggir, ah. Aku mau turun!” decak Yashna menatap tajam ke arah Alan, tetapi pria itu bergeming. Kakinya yang panjang menghalangi jalan Yashna untuk keluar dari tempatnya.
“Nggak! Kita di sini aja!”
“Jangan konyol, Alan!” Yashna mengembus napas frustrasi.
Selalu sama, Alan akan menjadi batu seketika saat kemarahan di dalam dirinya sedang memuncak. Namun, kali ini Yashna tidak akan membujuk seperti biasanya. Satu bulan ini ia wanita bebas.
“Dia suka sama kamu! Bodoh, aku bisa lihat!” decaknya seraya memukul jok kursi bagian depannya.
“Memangnya kenapa? Kamu nggak ada hak untuk melarang aku dekat dengan siapapun, Alan.”
Wajah pria terlihat gusar, sorot mata memerah pun sudah menyiratkan betapa marahnya Alan dengan ucapan yang Yashna berikan. Namun, wanita itu tidak akan gentar.
“Kasih aku hukuman apa pun, tapi jangan dengan begini, please!” Wajah itu pun tertunduk, Alan menyandarkan kepalanya ke arah sandaran kursi di depannya. Yashna kembali duduk dengan helaan napas yang dalam.
__ADS_1
“Apa rasanya sakit?” tanya Yashna pelan. Bus kini telah kosong, semua peserta sudah turun dan tinggalah mereka berdua. Setyo pun hanya bisa menurut ketika Aris yang berasal dari bus nomer dua menyeretnya untuk turun dan bergabung dengan peserta lain.
“Aku tanya ... apa rasanya sakit?” ulang Yashna lagi. Namun, pria itu masih menunduk, membenamkan wajahnya dengan telapak tangan.
“Hum, aku ingin menghajarnya!” jawab Alan ketus.
Yashna melepaskan senyuman tipis. “Sama seperti itu ... yang kurasakan saat kamu pergi dengan wanita yang kamu sebut sebagai teman,” sahut Yashna membuat Alan menegakkan tubuh seraya menatap Yashna dengan tatapan menyesal.
“Please, i'm so sorry. Aku nyesel. Aku ... tolong, please ... kalau kamu balas aku kayak gini, kita nggak akan ada selesainya, Yashna.” Wajah Alan terlihat sangat frustrasi.
“Kita memang sudah selesai, 'kan?”
“Nggak! Kamu mau jalan sama siapa pun, terserah. Nikahmu sama aku!” tutup pria itu seraya bangkit. Ia menarik tas ransel miliknya kemudian beralih dengan ransel milik Yashna yang berada di atasnya. Ia pun berdiri tegap, menunggu Yashna bergerak dari kursinya.
“Awas! Rombonganmu bareng sama aku!” ujarnya dengan kemarahan yang belum reda.
Yashna hanya bisa bergerak dari tempatnya, bergeser kemudian berjalan lebih dulu di depan Alan, ia malas berdebat.
Alan berjalan dengan membawa dua ransel. Satu berada di punggungnya dan tangannya satu menenteng tas milik Yashna. Ia berjalan mengiringi langkah Yashna menuju ke arah deretan mobil pick up yang membawa ribuan bibit pohon buah yang akan di tanam.
“Acara kali ini ngapain aja?” bisik Alan menundukkan wajahnya dengan mencondongkan dirinya ke arah telinga Yashna.
“Nguji nyali,” sahut Yashna asal.
“Maksudnya?” Alan terlihat bingung. Namun, ia terus saja melangkah mengikuti Yashna. Interaksi mereka berdua berhasil menjadi pusat perhatian. Yahsna mengembus napas, menatap Alan yang kini berada di sampingnya sedang mengamati beberapa peserta dari grup pecinta alam sedang memindahkan bibit pohon dari mobil pick up dan di bawa ke bagian perbukitan yang gundul tanpa pepohonan yang tumbuh.
“Uji nyali apa, sih?” Alan masih saja penasaran. Ia pun beralih menatap Yashna yang kemudian melengos.
“Uji kesabaran kamu sama tingkahku,” sahut Yashna memasang lengkungan senyum ke arah Alan kemudian mengambil dua buah pohon dari tangan panitia.
“Macam-macam, awas!”
Yashna melenggang pergi dari hadapan Alan begitu saja, memaksa pria itu berjalan lebih cepat untuk menyusul langkah Yashna menuju ke tempat pohon itu akan ditanam.
“Kamu pilih yang mana?” tanya Yashna sudah berhenti di depan lubang yang sudah dibuat untuk media tempat menempatkan bibit yang dibawanya.
“Itu bibit buah apa?” tanya Alan menunduk, ia mengikuti Yashna duduk berjongkok dengan meletakkan satu tas ransel milik Yashna ke semak-semak.
“Ini bibit buah kedondong, yang satunya bibit buah rambutan,” jawab Yashna memandang dua bibit yang masih berada di dalam media tanam polibag.
“Aku pilih rambutan aja.”
“Ok.”
“Aku harap ... kamu akan menilai aku dari sana.” Alan mengucap dengan suara bergetar, Yashna segera menoleh. Senyuman pria itu terukir lembut kala menatapnya, sorot mata yang kini udah berangsur normal tanpa memendam amarah lagi. Yashna masih menantikan kelanjutan ucapan pria muda itu tanpa ingin menyela.
“Meskipun aku terlihat buruk di luar, tapi ... seperti buah rambutan. Aku harap kamu mau mengenaliku lebih dalam, hingga kamu bisa menemukan betapa tulusnya rasa sayangku untuk kamu, Yashna.”
Yashna menunduk. Ia menelan ludah berkali-kali, rasanya kelu.
****
'Saat ini aku sedang mencobanya. Mengikuti sesuatu yang tidak pernah kulakukan dan kupahami sebelumnya, agar aku bisa mengenalmu lebih dalam.'
(Yashna Andara Bumi)
__ADS_1