
Bab Menceritakan kisah lawas, dua minggu setelah insiden serempetan di depan portal kereta api bab 1
Selamat Membaca
Jam sudah hampir menunjukkan pukul lima sore, Wisnu segera membereskan kertas-kertas dari atas meja kerjanya dan mengumpulkan dalam map. Setelah melakukan peregangan ringan sesaat untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku, dirinya kini sudah siap untuk pulang.
Sudah hampir dua minggu ini dirinya sangat tertib pulang dari kantornya tanpa molor sedikit pun. Seperti sudah ada alarm yang tertanam di dalam otaknya yang tidak bisa lagi ditawar. Ihsan lagi-lagi hanya bisa memandang dengan gelengan kepala.
"Sudah mau pulang, Pak?" tanya Ihsan juga merapikan meja kerjanya seraya melirik ke arah Wisnu.
"Hem, aku tidak boleh terlambat," jawabnya menoleh sesaat ke arah Ihsan sambil tersenyum simpul.
"Apa sih, Pak? Kok saya tidak paham," sahut Ihsan sungguh tidak mengerti dengan apa yang selalu bosnya itu katakan.
Menggunakan kata 'tidak boleh terlambat' setiap pulang dari kantor sungguh membuat seorang Ihsan menjadi sangat penasaran, tapi sayang bos muda dan tampan menawan itu tidak mau membagi cerita apa-apa. Sungguh Ihsan menjadi gemas sendiri melihat kelakuan bosnya yang kelewat tertib.
Perubahan sikap Wisnu ini sebenarnya berawal dari sebuah serempetan motor yang melibatkan antara pria itu dengan seorang wanita muda di depan portal kereta api, tidak menyangka ternyata sanggup membuat pria dingin itu melakukan hal yang tidak masuk akal bagi siapapun, termasuk Ihsan.
Pria kaku dan dingin bernama Wisnu itu bahkan tidak mau semenit saja terlambat. Semua dia lakukan hanya untuk menunggu dengan sengaja, setiap hari di jam yang sama di depan lintasan kereta api setiap jam lima lebih seperempat sore, hanya untuk melihat sekilas gadis yang menarik perhatiannya itu.
Gila ya?
"Pasti karena mau menunggu wanita yang membuat mobil mewah Pak Wisnu tergores dan peyok 'kan?" tebak Ihsan seraya berjalan mengikuti langkah cepat Wisnu.
"Kamu harus membantuku mencari tahu tentangnya," ucap Wisnu menoleh ke arah Assisten-nya itu masih sambil berjalan ke arah lift dan berhenti mematung di depannya.
"Apa kemarin itu Pak Wisnu tidak tanya namanya?"
"Aku lupa, apa ya ... ehm, namanya mirip nama perabotan," ucapnya membuat Ihsan melepaskan tawa.
Perabotan? Astaga, Ihsan sampai harus membuang muka karena tidak bisa berhenti tertawa, bahkan lirikan tajam bosnya itu tidak sanggup membuat dirinya berhenti untuk tertawa.
"Ember atau Ambar, sapu ijuk, dandang?" tanya Ihsan bermaksud menebak.
"Ck! Ngawur," decak Wisnu sambil berjalan masuk ke dalam ruangan lift saat pintunya terbuka.
"Lalu apa? Ehm ... beri sedikit teka-teki, Pak," keluh Ihsan merasa sangat tertantang.
"Kalau aku sendiri lupa, bagaimana caraku memberi teka-teki? Astaga."
"Ciri-ciri wanita itu saja, bagaimana?" ucap Ihsan memberi pendapat.
"Rambutnya coklat sebahu, hidungnya mancung, bibirnya mungil berwarna merah cerry, tingginya sekitar segini," urai Wisnu sambil memberi contoh tinggi badan wanita itu dengan isyarat tangannya.
"Itu ciri umum, Pak. Ada yang lebih spesifik? Misalnya ada tompel di keningnya, atau ada tahi lalat di pipi, seperti itu?" Ihsan merasa gemas dengan uraian dari Wisnu yang terkesan biasa, tidak bisa untuk mencari orang dengan ciri-ciri seperti menggambarkan orang pada umumnya.
"Ck! Ya sudah, aku nyari sendiri saja. Kamu itu payah," tegas Wisnu merasa kesal sendiri.
__ADS_1
Ihsan hanya bisa memberi wajah masam melirik ke arah Wisnu yang kini sudah berjalan keluar dari lift dan berjalan melewati lobby. Ihsan berjalan mengekor di belakang Wisnu, pikirannya tertuju pada kehidupan bosnya, mendadak lain setelah sibuk mencari dengan caranya yang aneh seorang wanita misterius itu. Dunia bosnya seolah kembali berputar dan hidup layaknya manusia normal pada umumnya, jauh dari dirinya beberapa tahun belakangan ini, pria kesepian itu akan duduk berlama-lama di kantor seperti tidak memiliki niatan untuk pulang ke rumah. Hal buruk yang membuatnya jadi jomblo lapuk karena jarang keluar untuk mencari cewek idaman.
"Hati-hati ya, Pak," ucap Ihsan ketika mobil Wisnu sudah siap di tangga depan lobby.
"Kamu juga, semoga akhir pekanmu menyenangkan," balas Wisnu segera mengambil alih mobilnya dari petugas dan melambai tangan ke arah Ihsan.
Ihsan mengangguk dan menundukkan kepalanya, membiarkan Wisnu meninggalkan hotel dan pulang.
Ihsan menoleh ke belakang dengan wajah terkejut, saat tanpa suara, Johan General Manager Hotel sudah berdiri tepat di belakangnya. Ihsan sampai harus mengelus dada dan menelan salivanya dengan cepat melihat ekspresi Johan yang tersenyum ke arahnya.
"Sudah mau pulang juga?" tanya pria itu kepada Ihsan.
"Iya, pekerjaan saya sudah selesai," jawab Ihsan sambil berdehem menenangkan rasa kagetnya.
"Pak Wisnu terlihat sangat bersemangat sekali, ya, beberapa hari ini?"
"Anda pengamat yang baik," sindir Ihsan.
"Semua orang melihat secara positif perubahan itu, termasuk saya. Saya mohon, Anda jangan salah paham, Pak Ihsan," jelas Johan membuat Ihsan mengangguk penuh senyuman.
"Tentu saja, itu tadi maksud saya," balas Ihsan masih tersenyum.
"Baiklah, saya permisi dulu, Pak Ihsan," pamitnya sambil menundukkan kepalanya kepada Ihsan dan memutar badan meninggalkan Assisten pribadi Wisnu itu di depan pintu luar lobby, pria itu kembali masuk ke dalam hotel.
"Aku tidak menyukai pria itu," ucap Ihsan lirih menanggapi laki-laki bernama Johan itu, bagi Ihsan dia sudah seperti musuh dalam selimut.
Menuruni tangga dengan langkah cepat, Ihsan segera bergegas menuju ke tempat mobilnya terparkir. Sambil menghela napas ia membuka pintu dan menghempaskan tubuhnya di jok kemudi. Ia akan menggunakan kesempatan berharga itu untuk mencari pacar, ia akan menghubungi temannya dan nongkrong bareng mereka.
Selalu seperti ini setiap hari, mengantri saat memasuki lintasan kereta api yang membelah jalan raya juga menyebabkan keruwetan.
Tapi, jangan salah, kini pikiran ruwet tidak lagi hadir mengisi alam bawah sadar seorang Wisnu. Kini, hal seperti ini yang malah membuat jantungnya berdegup kencang, memindai satu persatu deretan kendaraan yang berhenti saat portal ditutup, raungan alarm dibunyikan, juga menunggu detik-detik kereta api lewat, sebuah hal yang sangat dinikmatinya setelah insiden dirinya terjadi dua minggu yang lalu.
Hal gila yang dia lakukan adalah berusaha bertemu kembali dengan gadis itu. Hal yang seharusnya tidak dia lakukan setelah mengancamnya di pertemuan berikutnya, entah hatinya seakan menolak untuk mengikuti logika, nyatanya ia ingin bertemu gadis itu lagi.
"Kenapa aku bisa lupa namanya, ya?" keluh Wisnu mengamati antrean kendaraan dari dalam mobilnya. Raungan alarm tanda peringatan berbunyi nyaring memekakkan pendengaran, ditambah suara deru mesin kendaraan juga makin terdengar berisik di telinga.
Sejauh apa yang ada di sekitarnya tidak lepas dari pandangan matanya. Ia tanpa lelah menanti dan berharap bisa melihat atau pun bertemu kembali dengan gadis itu, gadis yang mengaku berusia empat puluh tahun. Berharap gadis itu menjadi salah satu pengendara motor yang berada di samping kanan kiri mobilnya.
Harapannya semakin pupus setelah dua minggu lamanya menunggu setiap sore di tempat ini, nyatanya sosok gadis itu tidak pernah muncul sama sekali, Wisnu merasa sedikit putus asa. Namun, semakin ia ingin berhenti, semakin pula ia merasa sangat penasaran.
Bagaimana kalau gadis itu lewat hari ini? Bukankah ia akan melewatkan kesempatan bertemu kalau sampai melewatkan satu sore? Ah, pikiran Wisnu yang sungguh di luar kebiasaan.
Apa dia sedang merasakan jatuh cinta?
Wisnu memukul setir mobilnya dan menggeleng, tidak semudah itu baginya. Ia hanya merasakan sebuah dorongan kuat akibat rasa penasaran. Apakah benar gadis itu tidak tertarik padanya? Apa pesonanya benar-benar tidak mempan terhadap gadis itu?
Wisnu harus mengetes sekali lagi dengan bertemu lagi dengannya. Bukankah itu alasan yang masuk akal? Wisnu menguatkan hatinya, hanya memakai alasan itu untuk mengomentari kelakuannya menunggu gadis yang umurnya kelihatan sekali lebih muda darinya itu, hingga menjadi seperti orang bodoh menunggu di depan portal kereta api setiap sore.
__ADS_1
Suara klakson segera terdengar saat portal kembali dibuka. Wisnu banyak melamun, mengamati satu persatu pengendara sepeda motor sampai-sampai kereta api lewat saja tidak menyadarinya.
"Sabar, astaga," keluhnya seraya mulai menjalankan mesinnya dan melaju dengan kecepatan lambat mengikuti gerak laju kendaraan di depannya menyibak keramaian.
Mobilnya lolos bisa bergerak leluasa setelah radius seratus meter dari lintasan kereta, kini rasa kecewa kembali hadir karena tidak bisa melihat wajah gadis itu lagi sore ini, mungkin besok, batinnya menghibur diri.
Ia masih saja berniat untuk melakukan hal yang sama besok pagi. Rasa penasaran yang besar mengenai apa yang tengah dirasakannya, juga apa yang akan dia lakukan kalau sampai bisa bertemu dengan gadis itu lagi? Apa?
Sepertinya berjabat tangan saja tidak cukup untuk melepaskan perasaannya.
"Haruskah aku mengajaknya menikah saja?" ocehnya tersenyum sendiri pada pilihan kosa kata yang tertangkap otaknya, yaitu menikah.
Wisnu mengamati jalanan yang sudah tampak lengang, beberapa kali dirinya menatap pinggiran jalanan yang penuh dengan pedagang kaki lima menjajakan jualannya.
Kota ini memang trotoarnya masih dipenuhi oleh beberapa pedagang untuk menggelar lapak dagangan dengan tenda-tenda, Wisnu tidak merasa terganggu atau apa, karena juga bukan urusannya, walau mungkin menjejakkan kaki untuk jajan di tempat itu belum pernah ia lakukan selama dua tahun tinggal di kota itu.
"AD1971SU," eja Wisnu mengamati plat nomor sebuah motor yang berjajar parkir di samping warung tenda nasi goreng. Ia hanya sekilas memandang dan melajukan kendaraannya begitu saja. Hingga otaknya cepat mengambil kesimpulan, sebuah ingatan yang kuat hadir menyertainya.
"Bukankah itu, plat nomor motor yang menyerempret mobilku!" serunya sambil menoleh lagi ke belakang sejenak.
Tanpa pikir panjang Wisnu segera menepi, dan memutar balik mobilnya ke tempat motor itu terparkir. Harapannya untuk bertemu gadis itu seperti kembali mendapat angin segar.
"Gadis bernama mirip perabot, aku datang," bisiknya sambil tersenyum senang, pria itu menyetir mobilnya dan memarkir tepat di samping motor matic itu berada dengan bantuan juru parkir.
Pertanyaannya, apakah Almira ada di dalam kedai nasi goreng itu ya?
Apa yang akan Wisnu lakukan kalau bertemu dengan gadis itu? Bukankah sifat Wisnu sangat kaku, dingin dan canggung?
Nantikan bonus chapter sebulan sebelum pertemuan dengan Almira di tragedi malam yang mengantarkan keduanya terlibat kasus malam menyakitkan.
Bersambung.
Jatuh Cinta? Aku rasa terlalu cepat aku menyimpulkannya. Sebuah rasa penasaran, kerinduan, keinginan atau juga hasrat untuk mengenal lebih jauh, belum tentu karena aku jatuh cinta, bukan? (Wisnu Tama)
By, Syala Yaya
❤️Terima kasih semuanya, semoga menghibur dan selamat tahun baru 2021❤️
Semoga tahun ini lebih cerah dalam segala bidang dari tahun yang lalu.
Tidak ada lagi rasa ingin menjatuhkan, tapi menguatkan.
Tidak ada keinginan menjegal, tapi merangkul.
Berbuat baik karena kita tidak tahu sampai kapan tahun baru bisa kita lewati lagi.
Sebarkan kebaikan, dimulai dari diri sendiri tularkan kepada lingkungan sekitar agar hidup kita bermanfaat.
__ADS_1
Salam persahabatan dari Wisnu, Almira dan Syala Yaya 🌻🌻