
Almira berdiri dengan batin tercengang, tubuhnya terhuyung mundur selangkah dengan perasaan terpukul dengan dorongan pundak dari suaminya yang sebenarnya tidak kasar. Tapi kemarahan yang ditunjukkan kepadanya sungguh diluar perkiraannya.
Almira memutar tubuhnya memandang punggung Wisnu yang berjalan keluar ruang kerjanya dengan langkah masih menyirat emosi.
Tubuh Almira merosot ke lantai, ia menekuk lututnya yang gemetar lemas dan segera memeluknya dengan kepala membenam. Tanpa bisa dia bendung lagi semua kesedihan hadir kembali. Menyesakkan juga perasaannya, dia merasakan sebuah kebimbangan.
Setelah dirinya mengusap air mata yang lolos begitu saja, ia segera bangkit dan memandang ruang kerja yang tadinya rapi kini sudah berantakan seolah remuk seperti pemiliknya.
“Kamu marah karena aku bicara soal melepaskanmu?” gumam Almira merasa sedih karena ia tidak bisa memainkan logika saat bicara, semua berdasar perasaan dan asumsinya saja.
Almira menghela napas membuang sesak di dadanya. Melangkah mendekati serakan barang yang ada di lantai. Mengambil satu per satu buku-buku yang berserakan dan membersihkannya. Ia memeluk erat dalam dekapan sambil menyingkirkan debu beserta pecahan keramik yang mengotorinya.
Dengan langkah hati-hati dirinya mengembalikan buku itu ke meja dan menatanya kembali. Dia berencana akan menyapu dan membersihkan sisanya besok pagi.
Arah matanya berhenti saat menatap layar laptop yang masih menyala. Gambar yang masih menampilkan Delia dan Bagus duduk bersanding di Bar.
“Delia, kamu sedang apa di Bar bersama Bagus? Mas Inu kenapa menyimpan rekaman ini, untuk apa,” gumam Almira memandang gambar Delia yang nampak jauh dan kecil.
Almira kembali menghela napas dan hendak mematikan layar laptopnya, dirinya sangat kaget saat layar depan laptop suaminya memakai gambar profil dirinya.
Almira tertegun sejenak, ia segera memandang ke arah pintu tapi tidak ada siapa-siapa. Perasaannya malah bergelut dengan apa yang baru saja dia lakukan.
“Apa mas Inu benar-benar tersinggung dan marah dengan ucapanku tentang melepaskannya tadi?” tebak Almira mencoba mencerna apa yang suaminya maksud dari kemarahan yang besar ini.
Almira merasa resah, perasaannya menjadi tidak enak. Terdengar desahan napasnya menatap bagaimana kemarahan suaminya akibat ucapan dia lontarkan tanpa memikirkan dulu perasaan yang sebenarnya.
“Akan aku jelaskan besok,” kilah Almira mencoba menenangkan dirinya.
Rasa kantuk yang mendera memaksa Almira meninggalkan ruangan kerja yang masih kotor dan berantakan. Memandang sejenak sambil melangkah ke luar dan menutup pintunya perlahan.
Almira merasa bahwa kesalahan demi kesalahan selalu saja hadir. Katanya berterus terang jalan terbaik untuk sebuah hubungan. Nyatanya karena hal itu juga yang malah menyulut kemarahan suaminya. Almira memijit keningnya yang terasa pusing.
Almira berjalan lebih cepat menuju kamarnya, suasana sepi dirumah besar itu jujur saja membuatnya sangat ketakutan. Dengan berlari kecil dirinya segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Almira kembali menatap punggung suaminya yang tidur miring di pinggiran tempat tidur seolah mengabaikannya.
Hati Almira berdesir nyeri, biasanya suaminya itu akan menggodanya dulu, memberi ciuman dikening sambil memintanya membacakan hafalan Alqur'an juga do'a-do'a sebelum tidur. Tapi kali ini dia sepertinya sangat marah. Hingga posisi tidur yang selalu memeluknya kini berubah menjadi memunggunginya.
Ah, Mas Inu benar-benar marah. Sepertinya aku memang sudah keterlaluan tadi, padahal niatku tidak seperti itu juga.
Almira duduk di pinggiran kasur yang masih kosong dengan pikiran resah dan merasa bersalah. Ingin sekali dia mencolek punggung suaminya dan meminta maaf. Tapi sungguh karena perasaan yang takut akhirnya dirinya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya, miring menghadap ke arah Wiznu berada.
“Matikan lampunya, malas aku melihat istri durhaka tidur di sampingku,” ucap Wisnu dengan suara dingin yang menyentak perasaan Almira.
__ADS_1
“I-iya mas,” jawab Almira segera bangkit dan menekan saklar, lampu segera padam dan otomatis membuat nyala langit-langit kamar berpedar terlihat semakin jelas.
Almira tertegun menatap langit-langit kamarnya yang berbentuk gambar bintang dan tatasurya serta komet menyala menghilangkan gelap yang sempat tercipta.
“Katanya kamu takut gelap, aku sengaja memesan sekaligus memasangnya agar kamu tidak ketakutan lagi saat pindah tinggal disini,” ungkap Wisnu belum membalik badan, posisinya masih memunggungi istrinya.
Batin Almira berdesir hebat, bagaimana bisa suaminya itu diam-diam mencari tahu tentang dirinya. Almira merasa sangat terharu dengan kejutan ringan tapi malah sanggup menggetarkan hatinya itu. Perasaan bersalah semakin menghantuinya.
“Terimakasih, Mas,” ucap Almira masih tidur miring menatap punggung Wisnu yang tidak bergerak dari posisi tidur mengabaikannya.
Hening.
Tidak ada sahutan sama sekali. Almira menghembus napas. Ternyata diabaikan begitu menyiksa. Rasanya tidak enak sekali, padahal jelas-jelas kemarin dia yang sering mengabaikan suaminya, tapi kenapa malam ini malah menjadi terbalik?
Almira segera menarik selimut hingga menutupi perutnya, memandang langit-langit kamar dengan cahaya hijau bercampur putih menghiasinya. Pemandangan langit malam hari yang indah.
Kenapa aku tidak pernah memperhatikan ya? Padahal terpasang jauh sebelum aku datang. Benarkan si kaku dingin itu bisa romantis juga?
Hingga rasa kantuk mulai semakin menggelayuti matanya, dengan perlahan Almira tertidur, napasnya naik turun dengan teratur.
***
Dering ponsel berdering memekak telinganya, entah siapa yang memasang hingga tanpa sadar Almira mengumpat sendiri dalam gerutu mengganggu tidurnya. Dengan mata masih mengantuk, Almira meraih ponselnya di nakas tapi mati tidak sedang bersuara.
“Mas Inu, ponselmu,” panggil Almira berusaha bangun, pandangannya yang terasa kabur karena kurang tidur memandang arah suaminya tapi tidak menemukan sosoknya.
Almira segera bangkit dan menggeser tubuhnya untuk meraih ponsel Wisnu yang tergeletak di nakas bagian Wisnu, segera mematikan ponsel yang diberi sandi pengaman.
“Benar-benar pria sok penting,” gerutu Almira memandang layar ponsel digenggaman tangannya.
Jiwa iseng seorang penguntit segera bergejolak, sangat penasaran apa isi di dalamnya. Isi dari ponsel seorang Wisnu. Apa saja yang dia lakukan dengan ponselnya. Terlintas di benak Almira untuk membuka dan melihat isinya.
“Apa berdosa saat istri mengecek ponsel suaminya?” gumamnya berbicara sendiri.
Dengan cekatan dia mengetik sandi langsung tanggal bulan dan tahun pernikahannya dan ajaib, kunci pengaman ponsel segera terbuka.
Jantung Almira semakin berdetak kencang, hatinya seolah diremas oleh rasa malu luar biasa melihat kenyataan di depan matanya. Apalagi saat menatap gambar tema yang menampilkan fotonya dengan tulisan kecil istri sholehahku, tenggorokannya terasa tercekat. Wajahnya terasa ditampar keras oleh sikap diam suaminya dalam mengekspresikan cinta di kehidupannya.
Aku … aku bahkan belum mengganti foto mas bagus di wallpaper ponselku. Astaga! Kenapa aku benar-benar istri durhaka seperti yang dia tuduhkan?
Almira segera meletakkan ponsel Wisnu di tempat semula, tangannya gemetar setelah melihat hal kecil yang sudah suaminya lakukan untuknya. Sebuah hal yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya dalam kehidupannya. Seorang Wisnu menjadikan apa yang ada pada dirinya menjadi barang yang penting. Padahal dulu bisa berhasil berbicara dengannya saja sudah seperti mimpi.
Kriett!
Almira segera menatap pintu yang terbuka dari luar, ia menduga suaminya baru pulang dari masjid untuk menunaikan shalat subuh berjama'ah. Terlihat pakaiannya rapi dan menutup pintu kembali dengan pelan.
__ADS_1
“Mas, pulang dari masjid?” tanya Almira berbasa-basi, bayangan kemarahan suaminya masih terngiang jelas dalam ingatan.
“Iya,” jawab Wisnu singkat.
Dirinya segera berjalan ke arah kamar mandi sambil meraih kaosnya, bisa Almira pastikan suaminya pasti akan berganti baju kemejanya lagi, hari masih terlalu pagi dan bisa kembali tidur lagi.
Dia benar-benar masih marah, biasanya dia ganti baju sembarang tempat.
Almira merasa sangat tersiksa, senyuman hangat seolah menghilang dari wajah suaminya dan berganti menjadi dingin dan kaku. Persis seperti seorang Wisnu Tama yang dia kenal beberapa tahun yang lalu saat menguntitnya.
“Masih bengong? Kamu tidak shalat?” tanya Wisnu sudah keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan ke arah tempat tidur.
“Iya, Mas. Ini mau shalat,” jawab Almira memandang Wisnu yang sudah duduk disampingnya sedang meraih ponsel dan menatap layar yang menyala.
Almira melirik sekilas raut wajah suaminya yang berubah dingin dan bersikap kembali canggung. Almira menghela napas lirih menghadapi kenyataan kemarahan suaminya belum reda.
“Maaf, lancang memakai fotomu sebagai tema dan wallpaper ponselku. Kalau nanti aku sudah rela melepaskanmu dan bisa mendapatkan wanita lain sebagai gantimu pasti akan aku ganti foto di ponselku, kamu tidak masalah 'kan?” lontarnya menghenyak kan perasaan Almira, tiba-tiba perasaannya menjadi sangat sakit saat mendengarnya.
“Kamu senang 'kan? Bukankah kamu mau memperbaiki apa yang seharusnya terjadi, hem?” lontar Wisnu lagi dengan senyuman sinis ke arah Almira.
Almira memandang dengan kerjapan mata seperti mimpi, ucapan yang menusuk, sangat menusuk hatinya. Dengan wajah segera menunduk dia tidak membalas lontaran ucapan Wisnu kepadanya.
***
Jangan katakan kau merasa biasa saja, jangan katakan kau tidak apa-apa.
Rasanya sakit? Katakan iya.
Rasanya perih? Katakan iya.
Karena sejatinya, saat aku mengucapkan kata akan melepaskanmu, itu rasanya lebih sakit menghujam hati, hingga rasanya aku seperti mau mati saja. (Wisnu-Almira)
Bersambung ...
❤Terimakasih semuanya, masih setia mengawal kisah Wisnu-Almira sampai bab ini. 😘
Terimakasih juga untuk Like, Komentar positif dan juga vote yang luar biasa dari kalian semuanya, love love ku❤
Baca juga novel kami berlima, Kak Tya Gunawan, Aldheka Dhepe, Linanda Anggen, Nafasal juga Syala yang dijamin bisa bikin ngakak berjama'ah.
bu
__ADS_1
Salam Cinta dari IG. @Syalayaya