
Yashna mengetuk-ngetukkan ujung sepatu kets putih yang dikenakannya pada permukaan ubin sebuah pasar cinderamata yang sebagian besar isinya pernak-pernik. Yup, hari ini dia mendapat titah dari Kanjeng Ratu Julia untuk menemani Alan memesan suvenir pernikahan. Seiring waktu berdenting, entah sudah berapa yang mereka habiskan untuk mengelilingi toko-toko di sepanjang jalan berikut luar dalam pasar. Rasanya lelah, dan perutnya kini sudah mengeluarkan protes minta segera diisi lagi. Yashna mengerang kesal di dalam hati hingga napasnya terlepas mendengkus.
“Kamu nggak sabaran amat, sih?” lontar Alan yang berjongkok di sampingnya, meneliti barang cantik berupa gantungan kunci berbentuk anyaman akar wangi. Sangat teliti sampai bentuk mata yang tidak sempurna saja tidak terlewatkan dari pengamatan.
“Aku? Bukankah dari tadi aku diam, ya!" Yashna menatap Alan sambil melotot.
”Ya, itu masalahnya!“ Alan tak kalah sengak menjawab Yashna sambil menegakkan tubuhnya, menghadapi Yashna yang mulai bersedekap tangan.
”Apa? Astaga! Aku sudah sabar sejak pagi sampai siang—“ Yashna menelan ludahnya kesal. ”Dan ini apa! Kamu belum menentukan barang mana yang akan kamu pesan untuk suvenir? Oh, Ya Tuhan, menjengkelkan sekali!“
Yashna melangkah pergi, rasanya ubun-ubunnya sudah panas. Dia merasa sangat kesal, menahan diri dari rasa sakit hati ditambah pria itu menguji kesabarannya dengan saharian memutar dari toko satu ke toko yang lain tanpa hasil.
”Hei! Tunggu!“ Alan mengejar Yashna dengan sedikit gerakan hingga tangannya sukses menarik kemeja bagian lengan Yashna, menahannya agar tidak pergi jauh.
”Konsepmu apa? Mau cari barang yang bagaimana? Harga berapa? Oh, Alan menyebalkan!“ Rasanya Yashna ingin melakukan hal ekstrim seperti merangkus wajah Alan sampai kekesalannya menguap.
”Ya, salah sendiri kamu diam dari tadi!“
”Ya, kamu kenapa tidak tanya!“ balas Yashna suaranya kian meninggi.
”Bagaimana aku berani tanya kalau wajahmu dari tadi menyeramkan begitu!“ Alan menggemeratakkan giginya.
”Menyeramkan? Apa kamu bilang tadi? Belum pernah ku—“
”Wah, kayak sindrom pranikah dah mulai menjalari, ya,“ komentar seorang ibu-ibu pemilik toko yang berada di samping mereka. ”Bertengkar saat mengurus perlengkapan pernikahan.“ Tampak itu tidak sedang mengejek, tetapi sering menyaksikan betapa repot dan dramatis beberapa pelanggan yang sedang mencari suvenir pernikahan di tokonya.
Yashna dan Alan pun memutar pandangan mereka dengan wajah merah padam. Ternyata pertengkaran mereka menarik banyak pengunjung toko. Beberapa di antara mereka berbisik sambil tersenyum. Yashna hanya bisa menghela napas, menyikut perut Alan lalu berjalan lagi karena merasa malu. Apa yang akan mereka katakan kalau saat ini dia sedang menemani mantan pacar untuk mencari suvenir pernikahan dengan calon istri mantan pacarnya?
”Sangat memalukan!“ decaknya sepanjang perjalanan.
”Kalau dari tadi kamu ngomong, membantu memilih, pasti kita akan cepat selesai,“ cibir Alan mendengus.
”Ya salah sendiri tidak tanya pendapatku?“ Yashna masih saja tidak mau mengalah.
”Ya sudah, kamu mau barang yang bagaimana? Julia sudah memasrahkan bagian suvenir ini padamu.“
”Padaku? Yang benar saja!“ Yashna menyipitkan matanya seraya berhenti melangkah. Kini, ia mengamati penampilan Alan dari kepala sampai kaki lalu menggeleng pelan.
”Apa-apaan ini? Tatapan matamu mengisyaratkan sebuah kriminalitas.“
Yashna tertawa terpekik, sebelum akhirnya mendorong badan Alan jauh-jauh. Rasanya kemarahannya bisa tiba-tiba menguap dengan celotehan Alan yang kadangkala di luar akal sehat.
”Iya, akan kucubiti tubuhmu, sana lapor ibumu, dasar bocah!“ decak Yashna melirik sinis lalu berjalan lagi untuk melanjutkan berburu suvenir.
Alan hanya tertawa, tidak melanjutkan leluconnya. Ia berjalan mengikuti Yashna yang kini mulai mencarikan beberapa referensi yang mungkin saja disukai Julia.
__ADS_1
Alan terpaku, hanya mengangguk setuju. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Kesenduan dari sudut mata Yashna tidak bisa membohongi bagaimana perasaannya. Meskipun Alan tahu kalau si keras kepala itu tidak akan pernah menunjukan kelemahan itu. Ya, sesuatu yang sebenarnya diinginkan Alan untuk tempat berbagi.
***
”Oh, aku lapar.“ Tampak Yashna sudah duduk di restoran serba sambal bersama Alan. Membuka jaketnya dan melipatnya lalu menyimpan di samping tempatnya duduk berselonjor kaki.
”Udang goreng tepung seperti biasa?“
”Hm, sambalnya level Professor,“ sahut Yashna santai. ”Kamu apa? Cha kangkung sama jamur?“ timpal Yashna tanpa sadar.
”Iya.“ Alan tersenyum mengangguk. ”Betapa kita pandai berhemat ketika tinggal di Australia, ya?“ kenang Alan tertawa ringan.
”Iya, masa lalu kadang hanya bagian menyakitkan yang diingat.“
”Padahal yang indah lebih banyak. Ya, 'kan?“
Yashna hanya bisa menatap wajah Alan lebih lama dari biasanya. Benar apa yang diucapkan pria di hadapannya. Apa yang pernah dilakukan bersama dalam keindahan luntur begitu saja hanya karena ketidakcocokan yang sepele.
”Selamat, ya. Aku harap kamu bahagia.“ Yashna mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum tulus.
”Kau juga. Apa arti bahagia kalau kau sendiri tidak bahagia.“ Alan membalas senyuman itu dengan tulus.
”Ya, kita berdua harus bahagia.“
”Khawatirkan saja gaun mempelai wanitamu, kenapa malah mengkhawatirkan gaun pengiringnya? Dasar!“
Alan hanya tersenyum simpul, tidak memberikan tanggapan ucapan itu dan memilih untuk menuju ke bangku pemesanan.
Yashna mengembuskan napas sebelum akhirnya merangkus wajahnya dengan satu jemari tangan. Tidak ada yang bisa dilakukan selain hanya menghadapinya. Sejak kecil dia hidup dalam kesulitan, harapan masa depan kosong. Menjadi pencopet yang berakhir mengenaskan dihajar sesama pencopet bila tidak mau bagi setoran. Ia pernah melaluinya. Dibuang sejak lahir, dan tidak mengenal dengan baik kedua orang tuanya. Tidak, Yashna memutuskan untuk menerima seperti apa pun itu kenyataannya.
”Kamu layak dapat orang yang lebih baik, Al,“ batinnya meyakinkan.
”Aku tadi tambah beberapa menu,“ ucap Alan tanpa Yashna sadari sudah berapa di hadapannya.
”Oh, terserah kamu saja. Yang bayar juga siapa,“ dengus Yashna.
”Aku yang traktir. Lagipula terima kasih sudah menemaniku seharian ini. Aku sangat terbantu.“
”Aku membantu Julia, bukan kamu. Percaya diri kamu tinggi sekali, Alan!“ elak Yashna dengan bibir mendesis.
”Iya, tinggal jawab iya, kenapa susah sekali, sih?“
”Ya, suka-suka aku jawab apa. Ck!“
Alan menatap wajah Yashna dengan pandangan menilai, lalu menggeleng tidak percaya. Mendapatkan serangan seperti itu, Yashna hanya bisa menanggapi dengan kibasan tangan seolah sedang kegerahan.
__ADS_1
”Iya, iya!“ seru Yashna hingga akhirnya mereka berdua tertawa bersamaan. Saling melengos karena malu.
Mereka makan dengan lahap seperti orang kelaparan. Tidak ada yang coba mereka tutupi. Apa adanya tidak dibuat-buat. Dan itulah yang selalu Alan jadikan pondasi awal bahwa setelah pernikahan pun tidak akan ada yang berubah dari Yashna. Dia tetap si ketus yang keras kepala dan dirinya sendiri yang tidak mundur meskipun sulit jalan yang dilalui. Keoptimisan bahwa apa pun usaha layak dicoba.
Alan mengantarkan pulang Yashna. Tidak ada penolakan karena dia yakin wanita itu sudah lelah. Sengaja memutar seharian tanpa tujuan hanya agar bisa mengobrol dan bertengkar lebih tepatnya. Sesuatu yang tidak Alan lakukan saat keduanya masih resmi pacaran. Alan lebih suka pergi bersama teman, membatalkan janji dengan Yashna semaunya. Begitu mengingat betapa umpatan kata bocah sering dilontarkan padanya tidak keliru. Kini, ia akan memperbaiki kesalahannya.
”Besok kamu a—“
”Aku ada acara,“ serobot Yashna cepat. Ia turun dari mobil disusul Alan.
”Kalau malam?“
”Aku tidur.“ Yashna melangkah menuju teras dan mulai merogoh tasnya untuk menemukan kunci rumah. Rasanya ingin mengumpat saat barang kecil itu tidak juga ditemukan.
”Aku tahu kalau malam kamu tidur.“
”Ya, udah. Kenapa tanya?“ Yashna yang sudah menemukan kuncinya pun membalik badan menghadap Alan sambil menghela napas panjang.
”Oke, aku pulang, ya. Jaga kesehatan.“
”Tidak perlu memberiku tatapan kasihan. Aku pasti akan dapat penggantimu yang lebih baik lagi.“
”Kamu yakin?“
”Iya, seyakin kamu juga sudah mendapatkan penggantiku,“ jawab Yashna mengulas senyum sambil membalikkan badan, membuka pintu dan menutupnya pelan.
”Tapi, aku yakin, cari orang sepertiku susah, Yashna,“ ucap Alan sambil mengetuk pintu.
Satu—dua—tiga kali Alan mengetuk pintu rumah Yashna. Empat—lima—enam—tujuh.
”Sekali lagi kamu mengetuk pintu, nyawamu melayang!“ teriak Yashna dari dalam. Alan pun berlari kecil menghindar karena terdengar pintu terbuka, sapu bergagang panjang pun tampak dibawa Yashna saat keluar dari rumah.
”Jangan menangis. Aku hanya memastikan kamu tidak masuk rumah untuk menangis sepuasnya,“ bisik Alan dalam hati, berjalan lebih cepat, menggapai mobilnya. Rasanya tidak sabar menanti hari mendebarkan itu. Sudah ia persiapkan detail terkecilnya. Mungkin akan jadi neraka kalau apa yang dilakukannya ternyata berbuah penolakan.
****
”Satu—dua—tiga dalam awal perkenalan cinta (saling tertarik dalam tiga detik pertama perjumpaan)
Empat—lima—enam entah bagaimana ujungnya nanti (saat sifat dan perbedaan mulai datang menunjukkan aslinya)
Kuharap akan ada angka tujuh—delapan—sembilan, langkah menuju kesempurnaan (saat semua masalah bisa dihadapi dan bertahan sampai sejauh ini)
Kini hanya satu lagi yang harus kulewati untuk menggapaimu di altar nanti. Restu Tuhan ada untuk kita.”
(Kalandra Tama)
__ADS_1