Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 109 Memainkan Hati


__ADS_3

Yashna memainkan gantungan kunci berupa bintang laut dengan tatapan kosong ke arah lalu lintas di jalan raya yang berada di bawahnya. Saat ini ia berada di balkon lantai paling atas kantor Alan. Ada pertemuan penting antara Alan dengan rekan bisnisnya, ia tidak paham dan tidak ingin mengganggu konsentrasi pria itu kalau buru-buru pamitan. Ia masih hafal bagaimana sifat Alan dan itu yang membuatnya cukup terkejut. Bagaimana mungkin ia benar-benar terjebak lagi?


Ragu-ragu ia menatap lekat barang mungil yang berada di genggaman tangannya. Sebuah barang sederhana, tetapi cukup membawa rasa mendalam. Itu cukup membawa kesal dalam diri Yashna, bagian dari dirinya tidak bisa lepas dari pria itu.


“Betapa lemahnya aku,” gumamnya dengan kepala menunduk.


Alan masih sangat muda. Banyak hal yang sebenarnya tanpa ia sadari bahwa anak nakal itu sangat jujur dalam segala hal. Tidak ada yang tidak ia pahami dari Alan. Ia mengenalnya dengan baik, bahkan lebih baik dari sekadar mengenal dirinya sendiri. Pria itu tidak pernah berbohong. Kata rindu yang meluncur bagai busur panah yang berhasil menancap dalam relung hatinya. Ia juga merindukan pria muda itu. Rasanya ingin mengumpat. Impiannya menikah dengan pria dewasa dengan usia setara akibat kekesalan pada apa yang dijalaninya bersama Alan selama ini. Akankah harapannya hanya akan menjadi angan semata? Yashna mengembus napas.


“Maaf, ya. Aku pasti membuatmu jenuh.”


Alan datang dengan membawa dua gelas kopi yang Yashna tahu kalau Alan pasti baru saja keluar dari kantor untuk membelinya. Kedai kopi tersebut berada di seberang kantornya.


Yashna menoleh, melepaskan gantungan kunci yang dibawanya hingga jatuh ke lantai karena kedatangan pria itu mengejutkan wanita itu dari lamunan.


“Itu—” Alan tertegun menatap barang kecil itu dengan wajah memerah.


“Oh, iya.” Yashna dengan gugup mengambil barang itu lalu memasukkan lagi ke dalam ranselnya.


“Kamu masih menyimpannya,” komentar pria itu dengan hati yang diliputi rasa tidak menentu.


“Iya.”


Alan menghirup napas panjang, mengembuskan perlahan dengan dentuman jantung yang ingin rasanya meledak. Ia bingung, sebenarnya apa yang terjadi hingga bisa berubah menjadi seperti sekarang. Hubungannya dengan wanita yang selalu menjadi paling utama dari apa pun yang dilakukannya menjadi memburuk entah mengapa. Pria itu meletakan dua gelas kopi tersebut ke atas meja lalu duduk di kursi berseberangan dengan Yashna tanpa bersuara.


“Aku pulang saja, ya. Mood kamu sepertinya sedang tidak baik,” ucap Yashna merasakan atmosfer mulai memanas.


“Sebenarnya apa yang membuat kamu jadi seperti ini, Yash? Apa?” desak pria itu dengan suara putus asa.

__ADS_1


“Kamu sendiri, Alan.”


“Bullshit! Kamu melemparkan masalah padaku padahal bukan itu masalahnya!” bentak pria itu karena tidak sabar.


Yashna tersenyum samar. Ia kaget ketika apa yang dipendam Alan akhirnya bisa meledak juga, tetapi senang karena itu yang diharapkannya.


“Aku ingin menikah dengan pria yang memiliki usia yang sama denganku, Alan. Hanya itu.”


Alan terdiam, menatap Yashna dengan teliti hingga membuat perempuan itu harus berkali-kali mengubah posisi duduk karena gugup. Sebenarnya Yashna cukup khawatir apa yang dikatakannya tidak terlihat serius, tetapi setelah melihat bahwa Alan tidak menanggapinya, itu artinya pria itu paham.


“Kalau jodohmu aku, bagaimana?”


Yashna yang mengalihkan pandangannya kembali ke arah pemandangan indah bangunan yang berada di seberang sana seketika menoleh ke arah alan. Bola matanya membulat tidak percaya dengan kalimat yang terlontar dari mulut laki-laki itu.


“Jawab? Kalau aku ini ternyata jodohmu, kamu mau melawan kuasa Tuhan?” Cengiran menyebalkan dari pria itu berhasil membuat Yashna sebal.


Tawa kecil seperti biasa keluar dari bibir lelaki itu. Alan kini merasa berada di atas Yashna, ia tahu wanita yang selalu menjadi lagu indah di dalam hatinya itu tidak mampu menjawab pertanyaannya.


“Kami belum pada tahap itu, bod*h!” sungut Yashna merasa kalah dalam perdebatan ini. Ia segera menunduk, mengamati jemari tangannya yang kini menerima segelas kopi yang disodorkan Alan padanya.


“Kalau kita bertanding bagaimana?”


Yashna mengangkat wajahnya, tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam benak laki-laki itu.


"Maksudnya?"


“Aku akan mencoba melupakan kamu. Sungguh, aku kesepian. Ingin menikah dengan kamu, membina keluarga kecil, dan memiliki beberapa anak tentu saja.” Tampak Alan tersenyum lembut saat mengucapkan kalimat itu, ia masih menatap lekat ke arah Yashna dengan harapan wanitanya akan menyimak apa yang ingin diucapkannya.

__ADS_1


“Selama dua bulan ini ada satu wanita yang kutemui dan dia sangat mirip denganmu. Aku rasa kalau kamu tidak ada lagi cinta dan harapan masa depan kita tidak lagi sejalan, aku berencana untuk menikah dengannya.”


Yashna membeku, setengah hatinya runtuh seketika. Tenggorokannya tercekat, rasanya ia ingin mati saja.


“Tentu saja, aku hanya mencintaimu. Tapi, kalau apa yang aku rasakan ini terus saja hanya menyiksa karena kamu tidak menempatkan hatiku di dalam hatimu, untuk apa aku terus memaksa. Silakan cari lelaki yang usianya sama denganmu, karena mustahil bagiku untuk mengabulkan keinginan itu. Hanya saja, kalau kamu berubah pikiran, aku siap jadi rumahmu pulang kapan saja,” ucap pria itu datar.


Yashna mengumpat dalam hati, rasanya sangat hancur ketika pria itu benar-benar mengatakan apa yang ditakutinya selama ini. Sambil mengembus napas, ia mencoba untuk mengatur dirinya agar tidak terlihat goyah. Ya, selama ini ia sudah membayangkan hal seperti ini terjadi.


“Kamu akan mempermainkan hatinya?!” sengak Yashna dengan wajah memerah.


“Itu urusanku. Lagi pula, ia sangat tertarik denganku, jadi aku tinggal menata hatiku saja dan sepertinya itu cukup mudah daripada menghabiskan waktu untuk menunggu kamu yang tidak ada hati sama sekali untukku,” tukas Alan tersenyum tipis kemudian menyesap minumannya masih dengan memandang ekspresi Yashna yang diyakininya terguncang.


“Baiklah, semoga kamu bahagia dengannya. Aku pamit kalau begitu.”


“Hm, terima kasih.”


Yashna beranjak dari tempatnya, menganggukkan kepalanya dengan canggung lalu melangkah melewati Alan. Perasannya sangat kacau, dan itu menjengkelkan baginya. Ia merasa sangat kesal karena merasakan ketidak-relaan itu.


Alan menggeram dalam hati, napasnya tersengal kala mendapatkan ucapan selamat yang jelas tidak dia harapkan. Ia pun ikut bangkit dari tempatnya dan segera menyusul langkah Yashna, menariknya dengan kasar, dan menempatkan wanita itu pada permukaan dinding hingga posisi mereka saling berhadapan.


Bola mata Yashna melebar, ia sangat terkejut dengan tindakan pria itu padanya. Ia tidak bisa bergerak dari tempatnya, tubuh Alan yang tinggi kokoh menghimpitnya dengan tatapan penuh kemarahan. Ia merasa sikap Alan membingungkan.


“Ada apa?” tanya Yashna gugup.


Alan tidak menjawab. Ia memiringkan kepalanya, memejamkan mata, dan mulai mereguk manisnya bibir dari wanita yang selalu berhasil membuatnya kalah dalam hal perasaan.


****

__ADS_1


'Hanya satu yang ingin kudengar dari bibirmu. Katakan bahwa kamu cemburu dan tidak rela aku meninggalkanmu.'


(Kalandra Tama)


__ADS_2