
Hai, pembaca yang aku sayangi. Aku rinduuuu
Kangen menyapa hingga aku putuskan untuk menulis extra part lagi, ya. Semoga suka 🤗
🌻🌻🌻🌻
Matahari sudah berada di ufuk timur kala Wisnu dan Almira beranjak keluar dari ruang santai, saling bercanda dan melempar tawa saat memasuki dapur. Sedikit terkejut dengan pemandangan dapurnya yang berubah berantakan. Ternyata ibunya sudah membongkar isi kulkas dan memasak aneka hidangan di sana.
"Penganten lawas jam segini baru bangun?" goda sang ibu melempar tawa lirih.
Wisnu dan Almira sontak saling sikut dengan mata saling melirik menyalahkan. Mereka malah mencuri rutinitas pagi dengan bermesraan hingga lupa kewajiban menjamu orang tua yang datang dari desa.
"Maaf, Bu."
Almira segera mendorong pelan suaminya dengan sedikit membubuhkan cubitan agar menggeser tubuhnya ke samping. Ia melewati suaminya dengan tawa renyah tertahan. Wisnu hanya bisa menghalau jemari lentik istrinya dan menahan diri agar tidak mengaduh keras dan mempermalukannya di hadapan ibu mertua.
"Mandi dulu, gih. Nanti kita sarapan bareng," ucap Almira kepada suaminya. Ia kini sudah berdiri di samping ibunya untuk membantu memasak.
"Siap, Nyonya," jawab iseng Wisnu hingga membuat Almira menatap dengan mata menyipit ke arah Wisnu karena malu, wajahnya merah padam.
"Biyuhh, sudah pagi, loh," ledek Halimah, ibu Almira terkekeh.
Almira segera tersenyum dan fokus melanjutkan meracik bahan masakan yang belum dipotong ibunya.
"Ira kangen sama masakan ibu," ungkap Almira sambil memotong sayuran.
"Kangen juga dengan keramaian rumah kalau ada kamu dan Ersa yang bertengkar," sahut ibunya membuat Almira tertawa.
Iya, dia mengingat kembali. Begitu indahnya sebuah ikatan saudara, dekat bertengkar tapi kalau sudah pisah rasa rindu hadir menyentak kalbu, ingin bertemu. Almira tersenyum seraya menoleh ke arah Ersa yang terlihat turun tangga dari lantai atas dengan wajah bugar sehabis mandi.
Terlihat suaminya, Wisnu juga berpapasan dengan Ersa di tangga karena hendak ke kamarnya. Almira hanya bisa mengembus napas, memandang dua orang yang sangat disayanginya setelah ibu dan bapaknya.
"Katanya kamu sudah 'isi', ya?" tanya Halimah membuat Almira memalingkan wajahnya dari arah ruang tamu dan beralih menatap ibunya.
"Iya, Bu." Almira menjawab singkat. Ia sedikit tidak nyaman membicarakannya. Wanita itu menunduk malu-malu.
"Alhamdulillah," ucap syukur Halimah meraih pundak anaknya.
"Apa terlalu cepat ya, Bu?" tanya Almira dengan suara pelan, ia menyadari pernikahan baru sebulan, tapi dirinya sudah hamil.
"Allah, kalau mau kasih rezeki, kapan aja nggak ada yang bisa menghalangi. Lagipula malah bagus, sepertinya Wisnu sendirian tanpa keluarga. Dengan lahirnya anak kalian berdua malah akan membuatnya bahagia," jawab Halimah memegang pundak anaknya.
"Mas Inu sangat bahagia, Bu. Cuma, Ira pengin lanjut kuliah yang kececer," sahut Almira menunduk.
"Tugas kamu menjadi istri, sudah sepatutnya kamu bersyukur. Untuk apa kamu mengejar sesuatu yang mungkin saja tidak menjadi nasibmu? Bukankah menjadi istri yang baik di dalam rumah tangga sudah merupakan tempat menimba ilmu dan pahalanya yang nggak akan ada habisnya?"
Ucapan Halimah membuat Almira menunduk. Batinnya membernarkan semua yang terlontar dari ibunya, perasaannya kini malah lebih tenang. Benar juga, kenapa harus pusing memikirkan gelar, kalau nantinya panggilan sebagai istri dan ibu lebih sering didengarnya.
"Sudah mateng belum?" Suara pak Ramlan mengalihkan perhatian ibu dan anak itu.
Kedua wanita yang kini kembali asyik memasak itu melemparkan gelengan kepala kepada pria itu. Sambil merapikan sarungnya, pak Ramlan duduk di kursi meja makan.
"Bahas apa? Masih pagi kok sudah berdebat?" tanya sang ayah seraya membuka tudung saji, sudah ada beberapa masakan di sana. Harum masakan itu mampu membuat perut pak Ramlan keroncongan.
__ADS_1
"Ini, Ira sudah mau kasih kita cucu," jawab Halimah tersenyum. Ia segera mendekat ke arah suaminya untuk meletakkan sajian masakan yang sudah matang.
"Alhamdulillah, bapak seneng. Rezeki luar biasa yang akan diterima keluarga bapak. Semoga sehat selalu ya, Nak," ucap pak Ramlan membuat Almira mengangguk canggung.
Ia merasa sangat senang, orang tuanya menyambut calon cucu mereka tanpa menanyakan apa pun, termasuk berapa minggu dan seterusnya. Yang ada hanya bersyukur. Almira jadi ingin sekali memeluk suaminya.
"Kenapa aku jadi suka sekali memeluk mas Inu, ya? Rasanya pengen meluk terus," batin Almira seraya mengatupkan bibirnya rapat. Ia tidak mau kalau tiba-tiba meledakkan tawa sendiri yang bakal membuat malu karena terlihat aneh.
"Ira, panggil suamimu. Kita sarapan," pinta Halimah mengalihkan pikiran Almira. Perempuan itu mengangguk dan bergegas menuju ke tangga. Ingin segera menuju ke lantai atas dan bertemu dengan suaminya. Rasanya bayangan nyaman dipeluk suaminya membuatnya tidak sabar untuk melakukannya.
"Mas Inu?" panggil Almira seraya membuka pintu kamarnya.
"Hem?" jawab Wisnu menoleh, saat ini dirinya sedang mengenakan kemeja kerjanya di depan cermin.
"Maaf belum sempat menyiapkan pakaian kerja mas Inu," ucap Almira seraya mendekat.
Wisnu memutar tubuhnya dari cermin kini menghadap ke arah Almira yang berjalan pelan ke arahnya. Ia tersenyum saat melihat binar wajah istrinya terpancar untuknya.
"Minta peluk semenit," pinta Almira segera mengalungkan kedua tangannya di pinggang sang suami. Wisnu segera diam dengan kening mengernyit heran dengan kelakuan istrinya lagi ini.
"Kenapa, Sayang?" tanya Wisnu membalas pelukan hangat dari Almira.
"Tambah durasi dua menit," sahut Almira tidak menjawab pertanyaan Wisnu karena dia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin memeluk suaminya.
"Kenapa cuma dua menit, sekalian lima menit juga tidak apa-apa," balas Wisnu mengecup pucuk kepala Almira dengan gemas.
"Pelukan Mas Inu rasanya nyaman," puji Almira membuat wajah Wisnu memerah saking senangnya, ia merasa pagi-pagi istrinya itu sudah berhasil menggodanya.
"Bukankah sudah nyaman sedari dulu?"
"Mau minta apa? Nanti pulang kerja mas Inu belikan?" tanya Wisnu yang merasa tingkah Almira ini mungkin saja pengaruh dari hormon kehamilan yang sedang dialaminya.
Almira melepas perlahan pelukannya. Ia berdiri masih mengalungkan kedua jemari tangannya di bagian pinggang suaminya. Ia tersenyum manis ke arahnya.
"Aku mau ikut mas Inu ke kantor," ucap perempuan itu masih tersenyum.
"Ikut ke kantor?" ulang Wisnu bermaksud menjelaskan keinginan dari istrinya dengan wajah bingung.
"Heem," jawab singkat Almira sambil mengangguk.
"Ikut kerja mas Inu?" ucap Wisnu sekali lagi.
"Iya, Ira akan mandi cepat, dan ikut mas Inu ke kantor. Ira nggak mau lama-lama pisah dari Mas," jawab Almira segera melepas pelukannya dan beralih mengambil handuk yang tersampir di kursi rias dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Itu handuk basah, kenapa memakai itu?" protes Wisnu karena merasa Almira yang tidak pernah mau berbagai apa pun dengannya termasuk handuk tiba-tiba memakainya.
"Aku suka bekas mas Inu," goda Almira sambil menutup pintu.
"Kenapa harus ikut ke kantor? Aku 'kan tidak enak kalau kamu mondar-mandir di sana?" lontar Wisnu segera kembali mengancingkan pakaiannya dan menatap kembali ke cermin. Hatinya berbunga-bunga karena istrinya kini berubah manis.
"Mau mengawasimu. Awas macam-macam sama karyawan cantik. Apalagi kamu bos di sana. Lirik sedikit, aku lempar cangkir!" teriak Almira dari dalam kamar mandi membuat Wisnu menoleh ke arah pintunya.
"Kejam sekali?" balas Wisnu tersenyum.
__ADS_1
"Pokoknya aku mau radius kita nanti cuma setengah meter," ucap Almira lagi membuat Wisnu menahan gelak tawa. Merasa Almira malah lucu dan menggemaskan sikapnya saat hamil.
"Terserah, satu sentimeter juga tidak masalah," jawab Wisnu menahan tawa.
"Mas Inu," panggil Almira lagi saat Wisnu sudah memakai sepatu dan mengenakan jas juga dasi. Kini semua sudah lengkap tinggal menunggu Almira selesai mandi dan berdandan, ia tidak akan menolak keinginan istri ikut ke kantor, palingan satu jam dan perempuan itu akan bosan dan meminta pulang.
"Iya, ada apa?" sahut Wisnu duduk di tepian ranjang menjawab.
"Bantuin gosok punggungku, dakinya kayaknya banyak, deh," pinta Almira membuat Wisnu terhenyak.
"Nanti pakaianku aku basah, Sayang. Aku sudah siap tinggal berangkat," jawab Wisnu menatap kembali pintu kamar mandi.
"Ah, kesel. Ya udah aku nggak akan keluar kamar mandi sampai mas Inu pulang dari kerja."
"Weh, kok gitu?" Wisnu segera bangkit dan berjalan mendekati pintu kamar mandi.
"Bilang aja nggak mau bantu, biar Almira jelek dan bisa lirik karyawan cantik berbadan mulus!" teriak Almira dengan suara kesal.
"Ya nggak mungkin lah, Sayang. Ayo buruan keluar dan kita sarapan. Aku bantuin berpakaian, atau sisir rambut aja, bagaimana?" tawar Wisnu mencoba tidak membuat Almira merusak penampilannya yang sudah sempurna.
"Kalau nggak mau ya udah, biar aku di sini terus."
"Jangan marah dong, Dek Ira sayang. Nanti baju mas Inu basah semua," rayu Wisnu menempelkan tubuhnya ke daun pintu.
"Ya udah, pilih Ira apa baju?"
"Ya pilih Ira," sahut Wisnu cepat.
"Kalau gitu bantuin."
"Pilih baju," tukar Wisnu sambil melipat bibirnya menahan tawa.
"Ya udah mulai malam ini tidur saja sama baju, jangan gangguin Ira," balas Ira membuat Wisnu segera membuka pintu kamar mandi dan menutupnya rapat.
Ucapan Almira selalu ditepati wanita itu, Wisnu merasa harus mengalah saja, daripada ucapan itu berubah jadi tindakan ekstrim. Tidur hanya dengan baju sama saja mimpi buruk.
"Yang digosok sebelah mana?" Terdengar suara Wisnu dari dalam kamar mandi.
"Punggung, Mas, punggung!" jawab Almira kadung kesal.
"Enggak yang lain?" goda Wisnu.
"Mau aku semprot air biar basah sampai ke ubun-ubun!" sungut Almira berhasil membuat Wisnu tertawa.
'Aku bahagia, karena semua yang aku lakukan kini sudah terarah dan memiliki tujuan, yaitu kamu.' (Wisnu Tama) --Ketulusan Cinta Wisnu)--
Bersambung...
Masih menantikan kisah Almira yang membuat kesal dan menggemaskan? Kalau masih mau lanjut ngacunggggg, hehehehe.
Aku juga mau ngumumin novel fiktif aku yang baru ya, judulnya DINIKAHI TAIPAN TAMPAN (Versi istri keempat).
Jangan lupa mampir, tap favorit, berikan like dan komentar juga yaa. Semoga terhibur dengan kisah Vea Violin si istri keempat dan om Tomis Toma yang bakal dikemas ceritanya jadi gaje dan beda.
__ADS_1
Salam segalanya dari Syala Yaya 🌻🌻