Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 14 Menyelami hati


__ADS_3

Selamat Membaca


Almira menenteng tas kantongnya dengan langkah pelan, sesekali melirik ke arah Wisnu yang berjalan mengiringinya dari samping. Sesekali dirinya mempercepat langkahnya agar menemukan ekspresi lain dari pria itu.


Dingin, datar, kaku, canggung, terkadang iseng.


Almira merasa sosok Wisnu sangat unik dan sulit ditebak.


Pada satu sisinya yang serius sanggup membuat nyalinya menciut. Di sisi isengnya ingin rasanya bisa memukulinya dengan kesal.


Almira masih berkutat dengan pikirannya sendiri, merasa bingung dengan apa yang membuat Wisnu harus ada di dalam hidupnya.


Keyakinan yang berbeda?


Haruskah ini semua membuat dirinya bisa menolak keras ajakan menikah?


Sungguh tidak adil rasanya.


Rasa cintanya untuk pria bernama Bagus, kenapa harus terjebak bersama pria kaku ini?


Pikiran Almira menari-nari tanpa ujung, pandangannya ke depan lurus hingga sebuah tarikan tangan membuatnya kembali tersadar dan menoleh.


“Rumahmu sudah lewat,” oceh pria kaku yang paling membuat Almira merasa kesal itu memberi isyarat dengan kepalanya.


Almira memandang ke sekelilingnya, benar saja dirinya tidak fokus hingga harus malu sudah kebablasan hingga sejauh ini.


“Kenapa baru memberi tahu sekarang?” balas Almira merasa kesal bercampur kesal dan segera membalik badannya ingin kembali.


Wisnu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah Almira lagi. Memandang kanan dan kiri, pemandangan pedesaan yang sangat asri dan asing baginya.


“Aku akan kembali ke kota hari ini,” ucap Wisnu sudah berjalan berjajar di samping Almira.


“Lalu?” tanya Almira tidak mau menoleh.


“Aku … akan kesini lagi, seminggu,” jawab Wisnu dengan suara hati-hati.


“Euhm … untuk apa?” pancing Almira membuat Wisnu menoleh dan mendekatkan dirinya ke arah Almira, dengan cepat gadis itu mendorong dan berjalan cepat.


“Apa syarat agar bisa menikahimu?” tanya Wisnu mirip seperti anak-anak yang bertanya karena benar-benar tidak mengerti.


Almira menggelengkan kepalanya merasa sangat konyol, bagaimana mungkin syarat menikah saja sampai tidak tahu. Dengan decakan kesal dia mengabaikan Wisnu.


Langkah keduanya harus terhenti saat ayahnya bersedekap tangan di halaman menatap dirinya dan Wisnu yang acak marut penuh lumpur.


“Kami kepleset, Pak,” ucap Almira diberi anggukan Wisnu mengamini.


“Ck! Kalian ini, bersihkan tubuh kalian sana. Bapak tunggu untuk sarapan,” seloroh ayahnya sambil melangkah mendekati Ihsan yang sedang mencuci mobil di samping rumahnya.


“Ini semua gara-gara kamu,” sungut Almira sambil memicingkan kedua matanya ke arah Wisnu.


Wisnu menampakkan senyuman tipis, merasa apa yang dirinya alami barusan sangat lucu dan konyol. Sebuah hiburan yang dia terima setelah bertahun-tahun harus bergulat bersama musuh, kali ini dia merasa musuhnya lain. Lebih menakutkan untuknya.


***


“Wisnu,” panggilan dari Halimah, ibu dari Almira membuat pria yang sedanga bercakap dengan Ihsan selepas sarapan itu menoleh.


Kini dirinya sedang di halaman, menemani Ihsan memanasi mesin mobilnya.

__ADS_1


“Iya, Bu,” jawab Wisnu segera mendekat.


Wisnu menatap raut wajah bijak dari calon mertuanya itu, memberikan senyuman seorang ibu yang sangat Wisnu rindukan seumur hidupnya.


“Ibu bisa bicara sebentar, Nak?” tanyanya dengan suara pelan dan lembut.


Wisnu mengangguk pelan, merasa sangat penasaran sekaligus gelisah.


“Kamu benar-benar memilih Almira sebagai istrimu?” tanya Ibu Halimah dengan suara kembali pelan.


Wisnu mengangguk. “Benar, Bu.”


“Kamu berasal dari orang berada, ibu tahu. Ibu khawatir, keluargamu tidak menerima sosok Almira sebagai gadis desa, Nak,” ucap ibu Halimah menunduk resah.


“Tidak akan terjadi,” jawab Wisnu dengan wajah serius.


“Baiklah, ibu hanya tidak mau anak ibu merasa dipinggirkan bila mendapat keluarga baru yang kaya,” gambah ibu Halimah lagi dengan suara resahnya.


Wisnu menunduk dalam, kehidupannya kembali bergulir kebelakang, masa lalu dimana karena kekayaan dan kekuasaan membelenggu dan menjauhkan dirinya dari cinta dan wanita.


“Keyakinan kami berbeda, Bu,” sahut suara Almira menimbrung.


Ibu Halimah segera menoleh dan menatap Wisnu yang segera diberi anggukan pria itu mengucap sebenarnya.


“Beri kami waktu, Bu.”


Wisnu memandang Almira merasa tidak adil, dirinya sudah mengucapkan kata yang akan mengubah kehidupannya tapi kenapa bukan dukungan malah menjadikan ini alasan.


“Saya permisi, Bu. Sampaikan salam saya juga untuk bapak.”


Wisnu berpamitan langsung, mengatasi kekecewaannya dengan berlalu dari sana. Ibu Halimah segera menyusul langkah Wisnu dengan menarik tangan anak gadisnya itu agar ikut mengantarkan kepergian Wisnu.


“Saya akan kembali ke sini membawa keluarga saya, Bu,” lontar Wisnu sembari tersenyum ke arah Almira yang menatapnya dalam diam.


“Baiklah … pelan saja, kita bisa bicarakan pelan, menyangkut keyakinan itu tidak mudah,” jawab ibu Halimah menepuk pundak Wisnu seperti seorang ibu.


“Baik, Bu. Kami permisi,” pamit Wisnu beserta Ihsan sambil menunduk salam.


Ihsan segera menjalankan mobilnya meninggalkan halaman, meninggalkan desa itu. Desa dimana Wisnu menerima sebuah keluarga baru yang sudah indah merasuki relung hatinya.


Ihsan menoleh sekilas ke arah Wisnu yang membisu, memainkan jemarinya dipangkuan. Tidak bisa Ihsan tangkap apa yang sedang menjadi bahan pikiran pria berwajah datar yang menjadi bosnya itu.


“San, cari tahu wanita bernama Delia untukku,” ucap Wisnu tanpa menoleh, pandangannya masih lurus ke depan.


“Delia? Bukankah dia putri dari GM anda, Pak?” jawab Ihsan menoleh sekilas dan kembali ke arah jalanan.


“Bagus Indra?” tanya Wisnu sambil menoleh serius.


“Kekasih Almira selama lebih dari setahun ini,” jawab Ihsan tegas.


“Pekerjaan?”


“Seorang pengusaha muda, keluarganya kaya,” jawab Ihsan membeberkan informasi.


“Pelayan Bar malam itu, yang hampir menabrak Almira?” tanya Wisnu dengan nada semakin serius.


“Dia sudah mengundurkan diri, Pak,” jawab Ihsan segera diberi tatapan tajam Wisnu.

__ADS_1


“Kau melepaskannya begitu saja?” tanya Wisnu dengan gigi gemerutuk.


“Anda tahu 'kan, kekuasaan GM anda?” ucap Ihsan dengan raut wajah tenang.


Wisnu menghembus napasnya, merasa ingin sekali mencabik apa saja dihadapannya, tapi dia tahan.


“Anda tidak apa-apa?” tanya Ihsan merasa khawatir.


“Ehmm,” sahut Wisnu mengangguk.


Ihsan hanya bisa menoleh dengan rasa kesal, bos pelit omongan ini membuatnya mati penasaran. Wisnu yang menyadarinya hanya bisa tersenyum tipis dan merebehkan punggungnya dengan santai.


“Besok pesankan gaun pengantin, bawa Ira fitting, aku akan menyusul setelah menyelesaikan pekerjaan di Hotel,” ucap Wisnu memberi perintah dengan entengnya.


“Dia ketus dan galak, Pak,” keluh Ihsan menghembus napas.


“Culik,” jawab Wisnu membuat Ihsan membelalak tak percaya.


“Bisa-bisanya,” gerutu Ihsan merasa kesal.


“Gunakan kecerdasanmu untuk bekerja,” ejek Wisnu menahan kesal sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.


“Saya cerdas mengenai pekerjaan,” protes Ihsan membalas.


“Tapi payah soal wanita?” lontar Wisnu mengejek.


“Astaga, baru merasakan pertama bercinta saja sudah sombong,” adu Ihsan diberi kekehan lirih Wisnu.


Pria itu menggelengkan kepalanya, mengingat dirinya sudah diejek kelewatan.


“Mau dipecat kapan?” seloroh Wisnu membuat Ihsan melotot kaget.


“Waahhh … kejamnya,” desis Ihsan merasa konyol.


“Bawa besok Almira ke butik untuk fitting bagaimanapun caranya atau ….”


“Iya … iya,” jawab Ihsan mendengus.


“Bawakan aku benda bernama sarung,” lontar Wisnu membuat Ihsan memandang sedikit terkejut dan bingung.


“Untuk apa?” tanya Ihsan kemudian menjadi heran.


Biarkan perlahan rasaku mengikatmu. Mengisi kekosongan yang selalu hadir menyergap malamku. Dalam alur maju mundur rasa yang kau ciptakan, membawaku dalam dilema memperjuangkan. (Wisnu)


~Syala Yaya🌹🌹


Bersambung …


Hai teman, maaf ya update tidak tentu.


Berikan like komentarnya ya.


Baca juga karya teman-temanku sambil menunggu updateku.



__ADS_1


Salam segalanya dariku ~ Syala Yaya🌹🌹


__ADS_2