Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 92 Bukan Membalas, Hanya Meniru


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Sore ini cuaca kota Solo lebih sejuk dari kemarin. Yashna dan teman-teman yang tergabung dalam relawan kini mengajarkan anak-anak tentang melukis dan bagaimana cara membuat aneka seni melipat kertas di sebuah taman yang berlokasi di Jebres. Banyak anak yang terlihat sangat antusias. Untuk umum tentunya dan siapa pun boleh berpartisipasi secara gratis.


Kegiatan rutin kerap dilakukan di lokasi ini. Dibangun dengan struktur yang megah untuk kepentingan umum khususnya menjadi ruang terbuka bagi masyarakat dan sebagai salah satu sarana edukasi gratis,aman,dan nyaman untuk anak-anak.


Yashna duduk bersila mengamati betapa cerianya anak-anak dalam melukis. Sebuah impian dan cita-cita menggantung asa murni dari hati pelukisnya.


“Pokoknya gambar apa yang ada di benak kalian. Sebuah impian yang kelak kalau sudah dewasa kita bisa menggapainya,” ucap Aris, salah satu pengurus dan relawan di komunitas Para Pemimpi.


“Kalau tidak ada biaya?” tanya salah satu anak yang menjadi peserta dengan mata polosnya.


“Jangan pikirkan biayanya. Tuhan tidak pernah membatasi apa yang kita inginkan, meskipun kelak kita hanya akan mendapatkan apa yang kita butuhkan.” Aris menjawab dengan penuh kelembutan.


“Yang penting bermimpilah dulu, Sayang. Karena dari mimpi tersebut kita baru bisa mencari jalan untuk ke sana,” timpal.


Semua anak yang ikut berpartisipasi dalam acara rutin dilakukan di sebuah tempat bernama Taman Cerdas Jebres itu menatap Yashna dengan serius. Tangan mereka berhenti bergerak saat kebingungannya mulai melanda, apa yang menjadi impian saat keadaan terkadang tidak mendukung untuk mewujudkannya.


“Gampangnya gini, kita memiliki impian untuk ke pasar. Tujuan kita pasar, kan? Kalau kita tidak punya impian ke pasar apakah kita akan sampai pasar?”


“Enggak!" jawab anak-anak serempak.


”Maka gambar, apa impian kalian. Mau jadi polisi, guru, pengusaha, mau jadi pelukis, penjahit, atau pilot, boleh ... ingat, kita boleh banyak bermimpi, karena bisa saja satu diantaranya dikabulkan oleh Tuhan dengan caranya yang luar biasa,“ terang Yashna diberi tepukan tangan semua relawan yang ikut dalam kegiatan kali ini.


”Ayo, dong semangat!" teriak salah satu anggota segera diberi tepukan tangan serempak.


“Ayo, tuangkan apa yang ada di hati dan pikiran masing-masing ke dalam kertas yang ada di hadapan kalian itu ... bebas, ok?” Aris mulai menepuk-nepuk tangannya untuk memberi semangat.


“Baik, Kak.”


Taman Cerdas Jebres menjadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi setiap hari. Yashna menjadi salah satu dari relawan yang mengisi acara di sana setelah beberapa kali bertemu dengan Aris, pria asli Solo yang tinggal di sekitar taman. Banyak hal yang menggerakkan hatinya hingga perempuan itu bersedia bergabung setelah Aris beberapa kali mengajaknya mengisi kegiatan bersama teman kuliahnya.


Alan? Ya, Yashna tidak pernah melupakan laki-laki yang selalu dianggapnya berandalan tengik. Memperlakukannya seperti seseorang yang sangat berarti kemudian menghempaskan saat itu juga.


“Jadi, seperti ini ya kegiatan komunitas itu?” tanya Yashna sambil berjalan.


“Iya, banyak kegiatan positif yang kami lakukan di tempat ini. Kami malah berencana untuk menjadikan taman ini sebagai Homebase. Banyak kok relawan dari berbagai kalangan masuk, meski harus melalui seleksi agar tujuan kami membentuk komunitas ini sejalan dan selaras demi kemajuan pendidikan minat dan bakat khususnya untuk anak-anak dengan ekonomi orang tua yang bisa dikatakan kurang mampu.” Aris mengucapkannya seraya berhenti di sebuah patung besar berujud manusia purba. Ia menoleh ke arah Yashna dengan seulas senyuman.


“Kamu tahu dia siapa?” tanyanya kemudian karena Yashna hanya diam saja.


Yashna menatap ke arah patung besar berwujud manusia setengah kera, berdiri dengan posisi sedikit bungkuk yang ada di hadapannya.


“Kembaran kamu,” sahut Yashna sukses membuat Aris tertawa.


“Itu Pitecantropus, salah satu manusia purba yang ditemukan ada di Indonesia,” jawabnya seraya menengadahkan kepala menatap patung raksasa tersebut.


“Kamu tahu siapa yang ada di sana?” tunjuk Yashna seraya berjalan lagi, meninggalkan Aris yang kini segera berlari kecil mengusulnya.


Taman yang dibangun di atas tanah seluas tiga setengah hektar ini memang memiliki fasilitas sangat lengkap. Aneka permainan untuk anak-anak sangat memanjakan siapa pun yang berkunjung ke tempat ini. Ditambah beberapa sudut diberikan beberapa papan yang isinya tentang ilmu pengetahuan. Yashna sangat menyukai tempat ini sejak pertama kakinya memijak.


“Dia bapakku, loh,” ucap Yahsna menoleh ke arah Aris dengan senyum lesung pipit yang menghiasi wajahnya.


“Ki Hajar Dewantoro, salah satu pahlawan pendidikan di Indonesia,” jawab pria berusia lebih muda tiga tahun itu menyahut sambil terkekeh.


Yashna menarik napas dalam. Menundukkan kepala sejenak untuk mengatur ingatan maupun prasangka tidak mendasar yang kerap ia layangkan untuk Alan. Apa ia terlalu berlebihan? Hanya teman, apakah pria dan wanita itu mungkin padahal sering pergi bersama? Yashna mulai pusing.


“Jadi, cowok yang kemarin itu pacar kamu? Eh, calon suami kamu?”


Aris menyelisik kehidupan misterius Yashna yang tertutup. Ia sangat tertarik dengan sangat cepatnya perempuan itu dalam hal berinteraksi dengan anak-anak dalam setiap kegiatan bahkan dari hati ke hati. Sebagai salah satu relawan yang lama berkecimpung dalam dunia psykologi anak, ia merasa Yashna memiliki pengalaman berharga mengatasi rasa pesimisme dalam diri setiap anak yang ada di dalam kegiatan mengajar.


“Kamu percaya?” lontar Yashna malah ditanggapi tawa oleh pria itu. Baginya, apa yang terjadi kemarin mudah dibaca. Yashna dan laki-laki muda itu saling mencintai tetapi ego masih menjadi halangan.


“Aku rasa akan jadi musyrik kalau percaya sama kamu,” balasnya tersenyum.

__ADS_1


Yashna menanggapi dengan sambil lalu, ia pun memilih untuk berjalan lagi untuk mengambil ranselnya dan pulang. Aris yang menyadari bahwa sejak awal bertemu dengannya Yashna masih saja bersikap dingin segera mengekori langkah perempuan itu.


“Sepertinya pria yang kemarin lebih muda darimu, ya,” tebak Aris, tetapi Yashna tidak mau berkomentar.


“Dia sangat menyukaimu, tetapi kamu takut salah mengartikan rasa suka itu." Aris mulai menebak.


”Jangan asal ngomong!“ sergah Yashna merasa pria itu banyak bicara.


”Kami bisa membedakan mana yang sekedar suka sama yang mencintai dengan hati,“ ucap Aris lagi membuat Yashna menghela napas dalam.


”Pria itu bahkan memberi stempel kepemilikan padamu, 'Aku calon suaminya', kamu pikir apa kalau bukan cinta?“ lontarnya lagi masih berjalan mengikuti langkah Yashna.


”Panas, cemburu.“ Pria itu masih mengoceh.


Yashna meraih ransel dari kursi yang ada di balai tempat panitia melakukan kegiatannya di taman ini dan berjalan lagi. Sungguh, ucapan Aris sangat menyebalkan.


”Apa yang dipikirkan seorang laki-laki untuk bisa mengatakan bahwa ia mencintai dan ingin hidup bersama?“ tanya Yashna kemudian sembari menoleh ke arah Aris yang menatapnya datar.


”Keyakinan,“ jawab Aris.


Yashna yang tidak puas dengan jawaban memutuskan untuk pergi saja. Rasanya ia belum bisa merasakan keamanan bahwa kelak ia bisa bertahan dengan Alan yang baginya belum mampu mengimbangi apa yang ada di dalam pikirannya.


”Apa yang membuatmu ragu padanya?“


”Jalan pikirannya,“ jawab Yashna dengan tegas.


”Seperti?“


”Merasa baik-baik saja setelah hari esok berjalan. Apa kamu pikir apa yang terjadi kemarin tidak akan ada pengaruhnya dengan apa yang terjadi hari ini, besok, nanti, dan seterusnya?“ cerocos Yashna mengeluarkan apa yang ada di hatinya selama ini.


”Apa kamu sudah belajar memahami?“


”Apa maksudmu?“ desis Yashna yang kesal karena sepertinya Aris akan membela berandalan tengik itu.


”Memahami perasaanmu sendiri? Kadang kala kamu tertipu dengan cara kerja otak, Yashna. Terlalu banyak ketakutan, kekhawatiran, dan rasa kurang percaya diri hingga kamu terperosok dalam prasangka tidak baik, jatuhnya kamu merasa yang salah itu dia bukan pada dirimu sendiri.“


”Aku kuliah di jurusan psykologi, Yashna. Aku tahu, laki-laki itu menerimamu apa adanya, hanya kamu yang malah tidak menerima dirimu sendiri agar masuk ke dalam kehidupan pacarmu sehingga ... kamu merasa tidak pantas untuknya yang masuk ke dalam pikiran alam bawah sadarmu,“ jelas Aris dengan suara nyaris sama, tidak ada emosi saat mendebat apa yang bergolak di dalam hati Yashna.


”Kamu berpikir kalau pacar kamu akan meninggalkan kamu? Menilaimu sama seperti orang lain? Ayolah, justru dirimu sendiri yang menilai buruk, kamu menilai apa yang ada di dirimu buruk, jadi kamu tidak akan puas meski orang yang kamu cintai itu sudah melakukan banyak hal ke kamu.“


”Diam! Kamu nggak tahu apa-apa, jadinya pinter kalau ngomong teori. Sekolah yang bener, biar nggak jadi paranormal sok tahu.“ Yashna yang merasa tertohok pun bereaksi dengan kekesalan.


”Coba deh, pikiran kamu lurusin dulu, kasihan 'kan, kalau misalnya aku suka dan tulus sama kamu, cuma karena kamu mikirnya jelek mulu sama aku, jadinya kita nggak jodoh?“ lontar Aris gemas.


”Apa kamu bilang!" Wajah Yashna tampak meradang.


“Umpama ... cuma sekedar contoh.” Pria itu segera melepaskan tawa ketika mulut Yashna terlihat komat-kamit menggerutu.


****


Yashna sampai di Indekos tepat jam enam sore, mendapati seorang pria duduk di teras depan kamarnya sedang duduk santai dengan mata terpejam. Yashna pun tidak mau membangunkan dan memilih untuk masuk ke dalam kamar.


“Yash?” panggil Alan pelan. Namun, Yashna masih bisa mendengar panggilan itu, sangat pelan hingga ia merasa kalau bukan Alan slengekan yang dikenalnya selama dua tahun ini yang sedang menunggunya.


Yashna keluar lagi dari kamar setelah selesai mandi. Rumah yang dibagi menjadi beberapa sekat untuk disewa perkamar itu memiliki tiga buah kamar mandi di bagian belakang. Yashna menempati kamar nomer tiga yang ada di dalam rumah.


“Dari jam berapa kamu di sini?” tanya Yashna kini sudah duduk di seberang Alan yang tampak kusut.


“Jam dua,” sahutnya pelan.


“Kenapa nggak pulang?”


“Sebelum ketemu kamu? Sama saja aku nimbun penyakit,” jawabnya dengan suara nyaris dingin.

__ADS_1


“Aku nggak buka ponsel seharian, sibuk.”


“Wah, sekarang sibuk, ya?” sindir Alan seraya menegakkan tubuhnya agar bisa sedikit lebih dekat dengan Yashna yang terhalang sebuah meja berbahan kayu kecil.


“Ya, bukan cuma kamu aja 'kan yang boleh sibuk?” balasnya tak acuh.


“Kamu balas aku ketika ada di Australia? Begitu, Yashna?” Tarikan suara dan tatapan tajam Alan kini mengarah pada perempuan itu.


Sejak dari awal, pertemuan pertama tidak sengaja di taman membuat Alan tidak mampu menahan desakan perasannya. Ia menyukai, sangat menyukai, bukan ... bahkan Alan bisa gila bisa tidak bertemu dengan wanita yang belum bisa memberikan sepenuhnya hati untuknya itu.


Kini pandangan mata itu beradu, Yashna seperti biasa mampu bersikap tenang dan memilih untuk mengalihkan pandangan setelahnya.


“Baik, balas semua kekecewaan yang kamu rasakan saat di Australia. Ok, nggak apa-apa, Yashna. Sampai kamu merasa lebih baik.”


Yashna tidak menanggapi, hanya menarik napas dalam sebelum menoleh lagi pada Alan.


“Jangan diam, aku suka kalau kamu mulai mendebat daripada didiamkan.”


“Aku akan melakukan apa yang kamu lakukan di sana. Agar aku bisa tahu bagaimana perasaanmu saat melakukannya,” ucap Yashna dengan suara tenang.


“Ok, aku akan melihatnya.”


“Apa kamu mampu?” cibir Yashna melengos.


Alan mengamati wajah Yashna dengan senyum terlepas. Ia tidak menyangka apa yang menurutnya biasa saja ternyata menimbulkan luka.


“Aku dan semua perempuan itu hanya teman, Yashna. Please, percaya sama aku,” ucapnya kemudian masih memandang lekat wanita yang tidak pernah ia duakan sama sekali selama ini.


“Aku tahu, makanya aku juga akan melakukan hal yang sama kayak kamu,” debat Yashna semakin membuat pusing Alan.


“Sebenarnya maumu apa, sih?!" geram Alan pada sikap Yashna yang belum juga memaafkan apa yang dilakukannya dulu.


”Mauku? Aku juga bisa berteman dengan banyak orang, memeluk, bercengkerama, jalan berdua, pergi ke luar kota, mengajak ke luar negeri pria yang aku sebut sebagai teman, Alan!" tegasnya dengan wajah menegang.


Alan terperangah. Lidahnya kelu dengan kerongkongan nyaris tercekat dengan ucapan Yashna yang menjungkirbalikkan perasannya.


“Aku akan melakukan itu, Alan. Atas nama pertemanan, jangan khawatir tentu saja, yang ada di hatiku cuma kamu, sama seperti apa yang kamu ucapkan selama ini.”


“Yashna, please ... aku mohon jangan.”


“Kenapa? Jangan khawatir, hati aku masih buat kamu, kok. Aku juga akan anggap semua laki-laki yang nantinya jalan sama aku cuma sebagai teman, kayak kamu,” sindir Yashna dengan mata nyalang saat memandang.


“Yash ....” Napas Alan memburu, bisa ia pastikan, wanitanya kini tengah berada pada batas akhir kesabaran.


“Jangan katakan kalau kita bakal putus, kamu bakal lihat aku mati kalau kamu tega melakukannya!”


Alan mengucapkan kalimat putus asa itu seraya bangkit dari kursi, menatap Yashna yang bahkan tidak mau memandangnya sama sekali. Ia pun segera mendekat, menundukkan tubuhnya agar bisa mencium ujung kepala wanita kesayangannya itu kemudian pergi dari sana.


Yashna menitikkan air mata sambil menunduk. Lega, lebih lega dari perasaan terpuruk selama menjalani kesabaran menghadapi kelakukan Alan. Ia terjebak dalam lingkaran cinta seorang anak muda egois. Satu sisi ia tahu Alan masih seorang anak muda yang digandrungi para wanita, tapi sikapnya yang egois dengan segala kenakalannya membuatnya dilema. Yashna tahu, Alan sangat mencintainya, tetapi rasanya cukup terluka dengan sifat Alan yang terlalu baik pada siapa pun khususnya para wanita muda yang kerap menyindirnya.


“Ah! Shit!” umpat Yashna seraya menggebrak meja.


***


"Bagai berada di persimpangan jalan. Aku bingung ke mana kaki ini harus melangkah. Bila cinta hanya mengungkung kebebasanmu, maka tolong lepaskan saja aku. Namun, bila kamu yakin bahagia akan melingkupi kehidupan kita nantinya, berhentilah membuatku dilema. Melepaskanmu ataupun memelukmu rasanya akan sama saja bila kamu tidak berubah, aku akan terluka.


(Yashna Andara Bumi)


****


Part Yashna dan Alan, ya, maaf bagi yang nggak suka. Hehhe


Ikuti terus ya, bagaimana cara Alan meyakinkan Yashna?

__ADS_1


Aku nggak bisa kasih konflik Wisnu dan Almira, dia udah layak bahagia, ya. Tunggu hingga part menuju kelahiran setelah pertemuan Alan dan Wisnu pada bab yang sudah selesai di tulis, up next🥰


Spesial aja untuk yang pada DM IG/FB kangen Mas Inu🥰🥰🥰, sudah kusiapkan extra part bab sampai Wisnu jadi Bapak, ya😂🙏


__ADS_2