
Hari sudah berganti pagi, Wisnu menyibak selimutnya dan melemparkannya hingga teronggok begitu saja. Meraih air putih disampingnya, dirinya segera meneguk membuang rasa pahit di lidahnya.
Berjalan perlahan ke kamar mandi dengan perasan ngeri sendiri.
“Astaga, kenapa aku jadi penakut,” keluhnya sambil membasuh mukanya dan bercermin.
“Wisnu junior sedang terluka,” candanya pada diri sendiri. “Harusnya aku menikah dulu ya, biar bisa dirawat istriku,” ocehnya lagi sambil meraih handuk dan membersihkan dirinya di kamar mandi.
Terbiasa hidup sendiri sungguh merupakan pengalaman berharga baginya, apapun bisa dia kerjakan tanpa merepotkan siapapun termasuk mengurus dirinya sendiri.
Sambil merapikan kemeja yang dia kenakan dirinya meraih ponsel di depan meja riasnya. Memandang nama Ihsan sedang memanggil, dengan wajah penuh senyum segera mengangkat panggilan dan menyalakan loadspeakernya.
“Pagi, Pak Wisnu. Nanti sore kita jadi kencan?” kelakar Ihsan membuat Wisnu berdecak.
“Ck ck ck! Kau salah makan apa?” sahut Wisnu sambil menyisir rambutnya.
“Mungkin karena saya sudah merindukan Anda, Pak,” jawab Ihsan menggoda.
“Bilang saja kau senang aku tidak datang ke kantor. Alasan saja,” balas Wisnu mencibir.
“Benar, Pak. Ehh … tidak benar, hahaha,” jawab Ihsan tertawa.
“Laporkan apapun kagiatan hari ini, aku akan pergi menemui kakakku sendirian. Ternyata apa yang kau lontarkan padaku tidak terbukti. Dasar!” omel Wisnu merasa dikerjain. Nyatanya tidak ada rasa sakit yang menyiksanya.
“Itu karena dokter Juna the best, Pak.”
“Bukannya aku yang hebat? Bisa-bisanya memuji orang yang tidak menggajimu, lanjutkan pekerjaanmu dan ingat, jangan sampai apa yang aku lakukan bocor ke kantor termasuk masalah ini,” pinta Wisnu dengan nada bicara tegas.
“Tenang saja, Pak. Hati-hati saat bepergian,” ucap Ihsan segera diberi deheman Wisnu dan menutup sambungan teleponnya.
Wisnu tidak mau banyak membuang waktunya. Menemui kakaknya dan mengajak Alan menemaninya menemui orang tua Almira di hari pernikahannya nanti.
Menikahinya, mungkin itu yang akan menenangkan kecemasan dan rasa bersalah yang menghimpit harinya setelah malam itu.
Aneh memang, tapi Wisnu benar-benar merasakannya.
Mobil yang terparkir di halaman rumah segera dia nyalakan mesinnya, memanasi sejenak kemudian Wisnu segera menjalankan mobilnya.
Hari ini dirinya akan pergi mengunjungi kakaknya di penjara karena kesalahan fatal masa lalunya. Entahlah sampai berapa tahun sehingga dia bisa menghirup kebebasan.
Wisnu terpaksa menyewa sopir ditengah perjalanannya karena merasa kelelahan dengan menempuh jarak 5 jam dari kota tempat tinggalnya. Wisnu dengan sengaja memilih transportasi darat daripada naik pesawat. Merasa ingin menikmati perjalanan panjang yang jarang sekali dia lakukan beberapa tahun belakangan ini.
“Kalau sudah sampai, kau bangunkan aku, ya?” perintah Wisnu pada supir sewaannya.
“Baik, Pak. Silahkan istirahat.”
Supir itu menjawab dengan suara sopan, Wisnu mengangguk dan segera memejamkan matanya menikmati perjalanan ini.
__ADS_1
Membayangkan bahwa kakaknya akan terkejut dengan kedatangannya kali ini setelah dua tahun lebih berlalu sejak kakaknya itu menyerahkan diri ke polisi dan mengakui kesalahannya.
*
Hingga panas siang hari yang menyengat sudah mulai menampakkan redupnya, sorotnya menandakan waktu juga sudah menuju sore hari, sengatan udaranya mulai berkurang dan mendingin.
Wisnu membuka matanya, menoleh ke arah jendela kaca mobilnya, menikmati keindahan kota kecil dimana kakaknya dipenjara.
Mobilnya berhenti di depan gerbang tinggi berwarna biru, Wisnu segera turun dari mobil dan menyuruh supirnya menunggu dengan mencari tempat untuk parkir, penjaga pintu segera menghampirinya dan meminta kartu identitasnya. Setelah mendapatkan ijin Wisnu segera diantar memasuki bangunan dalam penjara.
Diarahkan untuk memasuki ruang khusus untuk keluarga saat melakukan kunjungan, Wisnu duduk menunggu dengan sejuta perasaan dihati. Dirinya menunduk dalam dengan hati berdebar.
“Wisnu,” panggil suara laki-laki membuat Wisnu segera mendongak. Terlihat wajah pria itu gugup memandang dirinya dari bilik yang dibatasi kaca bagian tengah, memisahkan mereka berdua.
“Kak Aswa,” sahut Wisnu dengan suara getir, dadanya sedikit sesak karena menahan diri dari ledakan rasa haru bercampur sedih dan marah. Melebur jadi satu.
“Kau, mengunjungiku?” ucapnya seakan tidak percaya bahwa pria dihadapannya ini Wisnu, adik yang hampir dia bunuh dimasa kecilnya.
“Iya, aku mengunjungimu,” jawab Wisnu duduk menghadap kakaknya.
Aswa tama menunduk dengan badan bergetar, terdengar isakan tangisnya yang dalam, dia menahannya agar tidak membuat suara yang akan membuat penjaga datang mengawasinya.
“Maafkan kakak, Wisnu,” ucapnya dengan suara parau.
Wisnu diam hanya menyimak. Mereka seolah masuk dalam pikiran masing-masing tanpa bisa terucap sepatah kata.
“Aku ke sini berniat memberitahukan sesuatu,” ucap Wisnu kemudian, berusaha menahan diri agar tidak begitu saja terpengaruh pada suasana haru. Rasa sakit akibat ulah kakak ataupun orangtuanya tidak akan semudah itu dia lupakan.
“Kau bahagia?” tanya Aswa Tama memandang Wisnu dengan suara menguatkan dirinya.
“Iya, aku hanya mau menyampaikan itu saja,” ucap Wisnu membuat Aswa menunduk dalam penyesalan.
“Aku sudah menghubungi Alan agar menyusulku kemari,” papar Wisnu membuat Aswa terkejut sekaligus senang.
Tidak berselang lama, keponakannya Alan membuka pintu, penjaga datang memberintahu bahwa waktunya berkunjung sudah habis dan digantikan Alan, anak Aswa Tama yang belum pernah bertemu sama sekali dengan ayahnya.
Inilah kenapa aku ingin menikah, sebuah kesalahan akan menjadi kesalahan berulang bila tidak diluruskan. Apabila Ira sampai mengandung anakku seperti yang Kartika alami, aku akan menyesal seperti Aswa ketika tidak mengenal sama sekali anaknya sendiri.
Wisnu mematung menatap Alan dan Aswa, pertemuan penuh haru di depan matanya.
“Aku sudah menepati janjiku, untuk meminta ijin atau memberi tahumu saat aku akan menikah,” seloroh Wisnu sebelum pergi dari dalam sana.
Aswa mengangguk senang, tanpa penjelasan apapun dirinya tahu Wisnu sudah memaafkan kesalahannya.
“Aku akan mewakili ayahku untuk menemani hari bahagiamu, Paman,” imbuh Alan diberi senyuman Wisnu.
Dengan beban pikiran berkurang, Wisnu pergi dari sana. Bisa melihat kakaknya sehat sudah membuatnya lega.
__ADS_1
Kini saatnya menyelesaikan beban terberatnya, menepati janjinya malam itu. Menjaga orang yang sudah menyelamatkan dirinya malam itu dengan hidupnya, yaitu Almira sebagai istrinya dan Ihsan sebagai saudaranya.
Dengan langkah penuh keyakinan dirinya melangkah meninggalkan gedung penjara dan naik kembali ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari Gedung Lembaga Pemasyarakatan dirinya berkunjung.
Disepanjang perjalanan Wisnu memegang ponsel dengan tangan kirinya. Memandang nama yang terpampang di layar. Dengan menghembus napas meyakinkan diri, dia memanggil kontak itu.
“Hallo,” sapa Almira dengan suara terdengar malas bagi Wisnu.
“Tiga hari lagi kita menikah, siapkan dirimu dan jangan mempermalukanku,” ucap Wisnu dengan nada suara tidak seperti biasanya.
“Tapi-”
“Aku menerima syaratmu, semuanya. Jadi kau tidak perlu menghawatirkan apapun nantinya, aku menghormatimu dan tolong hormati aku juga untuk menepati janjiku,” sela Wisnu tidak mau mendengar alasan klasik Almira lagi.
“Baiklah, kau tidak akan mengingkarinya, kan?” lontar Almira membuat Wisnu berdecak tawa.
“Kau pikir kalau bukan karena aku pria tidak ingkar janji, apa alasanku untuk menikahimu?” balas Wisnu membuat Almira tidak bisa menjawab.
“Baiklah, kita sepakat. Tapi jangan sampai orang tuaku tahu,” pesan Almira dengan nada ragu.
“Aku tutup, sampai jumpa 3 hari lagi, di akad nikah kita. Jangan lupa juga ….”
Sejenak sambungan telepon mereka seakan hening, Wisnu dan Almira terdiam.
“Lupa apa?” tanya Almira tidak kuat menunggu lagi lanjutan ucapan dari Wisnu untuknya.
“Jadilah istri yang sholehah,” lontar Wisnu menggoda seraya diikuti tawa yang pecah.
“Isk!” decak Almira merasa Wisnu selalu membuatnya menahan kesal bercampur tawa yang tertahan.
Menggodamu, mungkin akan jadi hal menyenangkan untukku.
Saat semua hal membelenggu hariku dengan kesibukan.
Bersamamu semoga bisa menghilangkan letihku.
Akan aku tunggu hingga ketukan rasa sayangku akan bisa mengubah cara pandangmu terhadapku. (Wisnu-Almira)
Bersambung …
Kira-kira apa syarat Almira menerima lamaran Wisnu yaa?? Nantikan ketegangan dan kelucuan kisah rumah tangga mereka ya.
Baca juga dong novelku yang sudah tamat, biar kalian nggak bingung dengan kisah Wisnu dimasa lalu.
Baca juga karya Tamat dari kak MeChan yang mengharu biru, jangan lupa siapkan tisu.
__ADS_1
Salam segalanya dariku ~Syala Yaya🌷🌷