
Almira berjalan lemas ke arah ruangan Wisnu. Papan nama jelas menandakan suaminya itu memang bukan karyawan bersih-bersih seperti apa yang dia duga. Benar saja, ia hanya tidak mau berdebat, tapi tetap saja rasa curiganya tetap saja benar. Sambil membuka pintu ia memandang Ihsan yang fokus pada layar ponselny.
“Haruskah aku masuk?" tanya Almira menahan langkahnya di ambang pintu.
”Tentu saja, bukankah kamu harus memarahinya karena sejak awal membohongimu soal pekerjaannya?" jawab Ihsan tanpa menoleh.
“Lalu, kamu? Apa akan masuk juga untuk membantuku?" tanya Almira memandang raut wajah Ihsan yang nampak serius.
”Apa aku nyamuk? Harus melihat pertempuran antara suami dan istri saat berdebat?" ejeknya mendorong Almira dan menutup pintunya cepat.
Almira hanya bisa berdecak sendiri di depan pintu. Ia lalu menoleh ke arah Wisnu yang memandangnya dengan berkacak pinggang di meja kerjanya. Sambil berjalan Almira menunduk kepala menghadapinya.
“Untuk apa kamu masuk ke dalam ruangan Johan?" tanyanya lebih kepada menahan amarah.
”Dia ayah dari Delia, aku mengenalnya dengan baik, lebih baik daripada mengenalmu," jawab Almira masih menunduk.
Ia harusnya yang marah, kenapa pula suaminya itu berbohong soal pekerjaan. Tapi sepertinya ia harus menahan diri karena pria itu sedang marah.
“Terus?" tanya Wisnu duduk di meja kerjanya. Ia memandang Almira dengan wajah cemas.
Almira menunduk, ia merasa sangat bingung. Ada hal yang ingin ia ucapkan tapi sangat berat untuk dia keluarkan. Ia mengingat hari-hari selama menjalani hidupnya bersama Wisnu. Pria yang ternyata penyelamatnya itu.
”Yang kalian bicarakan apa?" tanya Wisnu merasa sangat penasaran. Ia menunggu hal ini sayang sekali ia terlambat datang dan mendengar pembicaraan istri bersama pria penting di jajaran yang punya jabatan penting di Hotelnya itu.
“Masalah kami," jawab Almira pelan.
”Kamu punya masalah dengan GM kami?" tegas Wisnu memandang Almira. Ia segera berdiri dan mendekati Almira. Dengan helaan nafas ia segera memeluk tubuh Almira dan mengusap pundaknya lembut.
“Maafkan Almira menyeret Mas Inu ke dalam masalah ini," ungkap Almira menunduk dan membalas pelukan Wisnu.
Wisnu segera menyadari, pasti Johan sudah mengakui sesuatu kepada istrinya. Dugaannya pasti tidak meleset. Sambil menepuk punggung Almira Wisnu merekatkan pelukannya.
”Kamu tidak apa-apa?" tanya Wisnu melepas pelukannya dan menangkup kedua sisi wajah Almira. Almira memandang Wisnu dengan canggung dan perasaan bersalah.
__ADS_1
“Maafkan aku, Mas. Selama ini membencimu dan pernah bicara jahat. Aku tidak tahu kalau ternyata Mas Inu malah jadi korbanku," ungkap Almira merasa bersalah.
Wisnu tersenyum dan mengecup keningnya pelan. Ia tidak menyangka semudah itu Almira mengucapkan kata maaf kepadanya. Nyatanya mereka berdua memang harus saling meminta maaf.
”Mas, kenapa dari awal tidak jujur dengan Almira tentang masalah ini?" tanya Almira merasa heran.
“Bukankah itu lebih menyakitkan untukmu? Aku bisa gunakan hal itu untuk lepas dari tanggung jawabku, tapi kamu bagaimana? Kamu korban paling terluka di sini," terang Wisnu segera diberi anggukan oleh Almira.
”Jadi, aku akan jadi istri tua bangka itu kalau Mas Inu tidak menggantikannya?" tebak Almira merengut.
“Iya, dan Mas Inu akan jadi menantu tirimu," bisik Wisnu membuat Almira memukul kesal dada bidang suaminya.
”Kok gitu?" protes Almira.
“Karena kalau tidak ada kamu, Delia akan masuk ke kamar hotelku dan merusak masa depanku," jelasnya lagi membuat Almira menghela nafas.
”Jadinya bagaimana kalau itu benar-benar terjadi?" goda Almira menggigit bibir bawahnya. Ia merasa malu saat menanyakannya.
“Jelas aku akan menculik Ibu Tiriku yang cantik ini dan membawa kabur jauh dari kota ini," jawabnya mencubit gemas pipi Almira.
Almira mendorong lembut tubuh Wisnu dan berjalan mengitari ruangan luas suaminya. Kini dirinya malu sendiri saat setiap hari marah-marah terhadap pria itu. Nyatanya di tempat kerjanya malah pria itu yang selalu marah-marah. Apalagi mengingat rayuan gombal suaminya, ia menutup bibirnya malu saat membayangkan. Pria kedudukan tinggi kenapa mau-mau saja menggoda dan merayunya.
“Jadi jabatan mu bersih-bersih ya?" tanya Almira masih berjalan mengelilingi ruangan rapi itu.
”Ira," panggil Wisnu seakan protes karena menggodanya.
“Lalu, Ihsan apa pekerjaannya?" tanya Almira lagi sambil membalik badan memandang Wisnu yang mulai berjalan mendekatinya. Mereka berhenti dengan jarak dua meter satu sama lain.
”Dia assisten pribadiku," jawab Wisnu jujur.
"Ok, baiklah. Berikan mobil mewah yang dia minta kemarin," perintah Almira membuat Wisnu membelalak.
“Apa maksudmu?" tanya Wisnu belum paham.
__ADS_1
Almira tertawa kecil, ia tidak menyangka saat ini ia sedang berhadapan dengan seorang CEO. Bahkan bisa menikahinya, bahkan saat ini sedang mengandung anaknya. Terbesit dalam pikiran, ia ingin sekali mengerjai pria tampan itu, tapi bagaimana caranya? Ia geli sendiri membayangkan.
”Karena aku sudah janji dengan Ihsan," jawab Almira tersenyum manis.
“Janji apa?" tanya Wisnu penasaran.
”Ya, kalau dia bisa menjauhkan kamu dan Delia, aku akan berikan mobil kesayanganmu," jawab Almira tertawa ringan.
“Kenapa aku yang jadi bangkrut?" protes Wisnu merasa kecolongan.
Almira tersenyum mendengarnya. Ia hanya diam tidak menjawab. Setelah mendengar semua kebenaran entah mengapa hatinya malah bersyukur. Setidaknya ia kini sudah berada di jalur yang benar. Ia sangat bahagia saat ini.
”Mas Inu, bagaimana kalau kita buat syukuran?" ucap Almira memberi ide.
“Untuk?"
”Mengumumkan kalau kita sudah menikah," terang Almira mengagetkan Wisnu.
Pria itu segera meraih pinggang Almira dan menatap lekat kerjapan bola mata istrinya. Ia tidak menyangka ajakan itu akan terlontar juga dari bibirnya. Hal yang sangat ia tunggu-tunggu selama ini. Pernikahan ini diakui oleh istrinya sendiri.
“Apa kamu yakin, aku boleh mengumumkannya?" tanya Wisnu lagi.
”Aku yakin. Aku tidak lagi punya pikiran kalau Mas adalah pria jahat. Anak ini bukan anak hasil kejahatan, tapi sebuah anugerah. Kita umumkan kalau kita sudah menikah dari bulan lalu. Ira akan jadi ibu rumah tangga saja dan tidak akan menyesal sama sekali," ungkap Almira dengan suara yakin.
“Baiklah, kita adakan Minggu depan acaranya, bagaimana?"
Almira mengangguk dan tersenyum.
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasih semuanyaaaa.
Follow IG @Syalayaya untuk info novel terbaruku yaa