
Almira memakai kemejanya dengan tergesa, sambil menatap ke arah cermin ia merapikan krah bajunya dan membuat gerakan mengatupkan bibirnya yang terlihat merah cerry.
Pagi ini dia akan bertemu Ihsan yang sudah menawarkan pekerjaan untuknya. Ia merasa sangat bersemangat sekali. Memakai rok span sebawah lutut dan kemeja putih mengingatkannya saat melamar kerja di Minimarket. Almira tersenyum sendiri melihat penampilannya.
Almira keluar dari kamar ganti di kamar mandinya dengan langkah yang riang, bahkan saat berpapasan dengan suaminya pun dia tidak menyadarinya sama sekali. Wisnu menghembus napas sembari menggelengkan kepalanya melihat istrinya sudah mengabaikannya.
Dengan langkah cepat dia meraih pundak Almira dan menariknya cepat hingga membentur tubuhnya. Wajah terkejut istrinya terlihat jelas, mata membelalak dan bibir menganga dengan nafas yang dia tahan. Wisnu tersenyum tipis melihat reaksi alami itu.
“Mas Inu?!" decak Almira memukul kesal lengan Wisnu. Ia segera bergerak melepaskan diri, bibirnya mencebik merapikan kembali pakaiannya.
“Hapus itu lipstikmu, kamu mau wawancara apa mau berkencan?” protes Wisnu meraih dagu Almira dan memindai riasan istrinya, terdengar hembusan nafasnya tanda tak suka.
Almira mengibas tangan Wisnu dengan bibir cemberut. Bagaimana mungkin dia tidak mendapatkan pujian malah sebuah protes pada penampilannya. Almira menjadi kesal sendiri.
“Ini cuma tipis, Mas,” protes Almira memandang cermin, memandang wajahnya yang memang memakai riasan senatural mungkin, ia melirik kesal ke arah suaminya.
“Tidak perlu berdandan kamu sudah cantik, kamu tidak tahu?” lontar Wisna masih betah menatap.
“Siapa yang bilang? Bohong kalau wanita itu lebih cantik pas tidak dandan,” sahut Almira merengut menatap ke arah cermin lagi.
“Kamu mau mengatai suamimu ini pembohong, begitu?”
Almira menoleh cepat ke arah suaminya saat suara ketus terlontar dari bibirnya. Almira mengibaskan jemari tangannya cepat, ia tidak mau sampai kemarahan suaminya berimbas pada ijinnya untuk bekerja dicabut.
“B-bukan begitu, siapa yang mengatakan Mas Inu pembohong?” ucap Almira sembari tertawa garing ke arah Wisnu.
“Hapus atau -”
“Yahh ... ini tipis banget 'loh, cek aja kalau tidak percaya," rengek Almira meraih lengan Wisnu yang membalik badannya meraih tisu dari wadah. Dalam hatinya ia ingin sekali menanggapi istrinya dengan tawa, tapi urung demi menjaga kewibawaanya sebagai suami.
“Sini aku cek,” lontarnya meraih dagu Almira dan mengelap bibirnya dari lisptik yang menurutnya terlalu berlebihan.
Pagi ini Wisnu mendapatkan pemandangan berbeda dari istrinya, nalurinya sebagai pria merasakan akan ada pria lain yang akan melirik istrinya, situasi yang sangat dihindarinya.
Ia memandang lekat Almira, setelah puas memandang sungut kekesalannya ia mencium lembut bibirnya. Mendorong tubuhnya yang hanya menurut dan membalas ciumannya hingga punggungnya membentur tembok. Wisnu merasakan istrinya sangat manis dalam melayani ciumannya pagi ini, ia menyukainya.
“Kamu tahu, kalau kamu hanya boleh merias diri di hadapan suamimu saja?” ucap Wisnu mengingatkan.
“Iya,” jawab Almira mengangguk dan melirik sekilas wajah Wisnu.
__ADS_1
“Dia sebenarnya marah apa tidak? Membuatku bingung,” batin Almira merasa dipermainkan.
Gadis berusia dua puluh dua tahun itu segera mengelap bibirnya dengan tisu di tangan Wisnu. Lambat laun Almira merasa kalau suaminya ini banyak aturan, banyak hal yang dengan tegas ia tunjukkan antara suka dan tidak dengan cara yang aneh, masih dengan wajah cemberut ia merapikan lagi riasannya.
“Ingat, dandan sewajarnya saja, seperti biasanya aku melihatmu merias diri. Kamu sudah cantik sekali, ok,” ucap Wisnu mengusap lembut rambut Almira hingga istrinya segera mengangguk mengerti.
“Sekarang tersenyum, kamu cantik kalau tersenyum,” hibur Wisnu mendekatkan wajahnya. Mau tak mau Almira melengkungkan bibirnya, ia tersenyum ke arah suaminya.
“Tapi ingat, senyumannya cuma buat aku. Awas ya, kalau sampai ketahuan memberi senyuman kepada pria lain, ijinmu bekerja akan aku cabut,” ancam Wisnu menyentil hidung Almira. Wisnu bisa mendengar gumaman dari Almira yang membuatnya tersenyum.
Almira mengangguk cepat agar masalah ini cepat berakhir, ia tidak mau terlambat datang hanya gara-gara perdebatan kecil itu. Sambil berjinjit ia mengecup pipi suaminya, segera mundur setelah ia menyunggingkan senyuman ke arah pria tampan itu.
“Siap laksanakan, Tuan Wisnu,” goda Almira seraya membalik badan menuju luar kamar mandi.
Wisnu tertawa sendiri melihat tingkahnya pagi ini, kelakuan anehnya hanya untuk memberi ancaman kepada istrinya. Ia menunduk beberapa kali agar tidak tertawa terpingkal mengingat sikap konyolnya.
“Astaga, sejak kapan aku menjadi tipe pengekang dan cemburuan? Krisna pasti sudah menulari virus memalukannya. Ish!” decaknya pada sikapnya sendiri.
Wisnu melangkah menyusul ke luar kamar mandi sambil bersiul riang.
Mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang sudah kosong, ia menduga pasti Almira sedang menyiapkan sarapan untuknya. Sembari kembali ia menatap layar ponselnya dia keluar kamar.
Nama Ihsan terpampang di layar memanggilnya, Wisnu mengangkatnya sembari berjalan cepat menuruni tangga. Menatap Almira yang sedang menyiapkan roti bakar di atas meja makan juga.menoleh sambil tersenyum ketika menyadari suaminya datang bergabung dengannya.
“Ihsan, dia tanya apa kamu jadi menerima tawarannya,” jawab Wisnu bersikap sangat tenang.
“Benarkah? Aku makin semangat,” seru riang Almira tersenyum lebar.
Wisnu hanya menatap dengan sunggingan senyum tipis.
Mereka berdua berangkat bersama-sama, menyibak jalanan padat kota pada jam sibuk. Wisnu merasa sedikit khawatir mengenai keputusannya membawa Almira masuk ke dalam lingkungan pekerjaannya, tapi dia merasa sangat penasaran dengan reaksi orang di Kantornya bila melihat Almira bekerja di sana.
Wisnu memarkir kendaraannya setelah sampai, melihat kegugupan Almira dengan hembusan nafas. Ia sentuh ujung kepalanya mencoba untuk menenangkannya, Almira menanggapinya dengan senyuman.
“Mau aku cium agar kamu bisa tenang?” tawar Wisnu diberi gelengan cepat istrinya.
“Jangan menggodaku,” sungut Almira malu, “Aku pergi duluan ya,” pamit Almira membuka mobil dan meninggalkan Wisnu dengan lambaian tangannya.
Wisnu membalas melambai tangan, menatap kepergian Almira dengan menghembus nafas dan menyandarjan punggungnya di sandarann kursi mobilnya.
__ADS_1
“Ayo Wisnu, keputusanmu baik,” ucapnya menyemangati diri sendiri.
Wisnu turun dari mobilnya dan memilih jalur khusus untuk mengakses kantornya daripada mengikuti Almira ke dalam lobby Hotel. Ia yakin Ihasan pasti sudah menunggu Almira di sana.
Wisnu sebisa mungkin masih belum mau jujur dengan posisi pekerjaannya di tempat ini, karena pada saat itu ia sedang menguji istrinya dalam hal pekerjaan mengingat posisi jabatan Bagus yang mapan. Ia ingin melihat bagaimana Almira memandang dirinya sebagai pria biasa saja.
Wisnu berjalan cepat masuk ke dalam ruangannya, menutupnya perlahan dan membalik badan dengan tatapan terkejut saat melihat Delia sudah duduk di kursinya dengan senyum tersungging bersama sapaan manisnya. Wisnu menghela napas dan mematung di depan pintu.
“Pak Wisnu, selamat pagi,” sapanya sambil berdiri dan berjalan mendekat.
Wisnu masih diam menatap langkah Delia mendekatinya. Wisnu masih tidak habis pikir dengan apa yang Delia lakukan di dalam kantornya. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi untuk melemparkan perempuan itu keluar dari dalam ruangan itu.
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Wisnu bersikao sangat tenang, bahkan wajahnya yang dingin sanggup membuat Delia merasa malu sendiri.
“Apa ayahku tidak memberitahumu tentang pekerjaanku saat ini?” tanya Delia berdiri di hadapan Wisnu.
“Rencana apa yang tengah kamu susun, Johan? Aku merasa penasaran. Sayang sekali umpan yang kamu berikan jauh dari tipe idealku. Kamu hanya akan lelah, Delia,” batin Wisnu masih terdiam memandang.
Bersambung
Ketika riak air terpercik dan kita harus basah karenanya.
Ketika gelombang air melanda dan kita harus sesaat tergulung dan terhempas bersamanya
Ketika arus air menerjang dan kita harus terseret ke arahnya.
Tidak masalah seberapa besar ujian datang menghampiri, asal kita tahu kemana arah jalan untuk pulang. Tempat yang selalu menantimu untuk kembali.
*
Jangan meremehkan diamku.
Jangan remehkan sikap tenangku.
Bahkan saat seekor bebek dalam ketenangan dia berenang ke arahmu.
Kamu tidak bisa menebak, berapa jumlah kayuhan kaki dan tenaga dari usahanya agar ia bisa segera mencapai tempatmu.
**
__ADS_1
Terimakasih semuanyaa.
Salam love ~ Syala Yaya🌹🌹