Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 62 Kabar Bahagia


__ADS_3

Wisnu dan Almira meninggalkan hotel menuju rumahnya. Perjalanan selama setengah jam mereka lewati dengan saling terdiam. Wisnu memikirkan semua yang Almira ucapkan dalam diam.


Sejak kecil dia hidup sebatang kara tanpa orang tua. Satu-satunya yang ia sebut sebagai orang tua hanyalah seorang Senopati Arka, pria misterius dan tertutup. Sedikit banyak itu yang membuatnya meniru setiap apa yang ada di dalam kehidupannya sampai sekarang.


Jangan mempercayai semua orang secara berlebihan, apa yang tampak tidak semua seperti kenyataannya. Apa yang terlihat tidak seluruhnya adalah fakta.


Sebuah penggalan nasehat yang selalu terngiang di kepala Wisnu hingga saat ini.


Wisnu memandang istrinya dengan rasa gundah. Sifat dan kebiasaan yang mulai dia rubah sedikit demi sedikit demi wanita di sampingnya ini. Wisnu menyadari bahwa keterbukaan masih selalu menjadi momok menakutkan dari hidupnya. Semua orang pasti akan mengolok apa yang aneh dalam dirinya, tapi mungkin saja saat orang itu menjadi dirinya pasti akan tetap sama saja.


“Benarkah aku harus mulai membuka diri?” batinnya bingung.


Rasa malu pada dunia atas kejahatan kedua orang tuanya, merasa ditinggalkan teman-teman dan rasa dihianati oleh kakaknya yang ia sayangi. Selalu menjadi trauma tersendiri dalam hidupnya yang keras sejak usia belia. Wisnu mengepalkan jemari di stir kemudinya.


“Maaf, Mas,” ucap Almira menoleh ke arah suaminya.


Wisnu segera mengalihkan pandangannya sejenak kepada istrinya yang tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


“Aku juga minta maaf,” sahut Wisnu merasa juga harus mengatakan hal yang sama.


Mereka kemudian terdiam saat Wisnu kembali fokus karena mobil yang dia kemudikan sudah memasuki gerbang rumahnya yang terbuka. Almira sengaja membiarkan suaminya fokus memarkirkan kendaraannya terlebih dahulu.


Almira sengaja menunggu sampai Wisnu membukakan pintu mobil untuknya, ia sedang mengetes apakah suaminya masih marah atau tidak.


“Turun dulu ya? Setelah sarapan aku akan membuat janji dengan dokter Syifa,” ucap Wisnu membuka pintu.


Almira mengangguk dan turun dari mobil. Langkahnya sangat pelan hingga Wisnu selesai menutup pintu kembali dan berjalan mengiringinya masuk ke dalam rumah.


Almira sesekali menatap dari arah samping wajah suaminya yang tenang. Sebenarnya dirinya sangat bersyukur saat cita-citanya memiliki suami seperti Wisnu bisa terwujud. Laki-laki tenang dan bertanggung jawab.


Tapi sebagai manusia semua sifat pasti ada kurangnya, yaitu sifat tertutup yang ada dalam diri suaminya. Almira sempat membenci sifat itu, tapi sungguh bila dia mencari kesempurnaan bukankah sama saja dia sedang mengharapkan seorang malaikat dan bukan seorang teman hidup?


Almira menghela nafasnya. Wisnu yang mendengar segera menoleh dan mengamati raut wajah lelah istrinya.


“Mau aku gendong?” tawarnya dengan wajah sangat cemas.


“Aku bukan bayi,” sahut Almira tersenyum.


“Tapi kamu bawa calon bayiku,” jawab Wisnu ikut mengembangkan senyuman.


“Jadi Mas Inu tidak sedang marah?” tanya Almira berhenti melangkah saat Wisnu membuka kunci rumah dan membukakan pintu untuknya.


“Apa aku selalu terlihat marah?” tanya Wisnu tampak mengernyit.


Almira menggeleng pelan dan masuk ke dalam rumah.


Wisnu masih menggandeng tangan Almira dan membawanya langsung ke dapur. Ia sengaja ingin memasak untuk sarapan dan tidak membiarkan Almira pergi ke kamar, karena dia hafal betul wanita satu ini akan segera tidur saat sudah ada bantal di dalam pelukannya. Ia tidak mau istrinya melewatkan sarapan pagi.


“Masak apa?” tanya Almira duduk di kursi.


“Yang ada di kulkas apa saja?” tanya Wisnu membukanya dan tampak kosong.


Ia menoleh sambil mengedipkan matanya kepada Almira. Almira tertawa lepas. Mereka segera menghembus nafas bersamaan.


“Hanya ada telur dan daun bawang, astaga apa jatah bulanan istriku kurang ya?” ledek Wisnu segera membuat Almira menutup bibirnya dengan jemari tangan karena malu.


“Kurang,” jawab Almira sembari tertawa.


Wisnu segera meraih telur dan daun bawang dari dalam kulkas dan mengeluarkannya. Berjalan menuju ke tempat cucian.


“Masa kita cuma sarapan telur?”


“Kita tambah mie rebus,” celetuk Almira segera diberi hembusan nafas Wisnu.


Pria itu selalu menekankan sarapan sehat, tentu saja bagi wanita desa seperti dirinya yang penting makan kenyang.


“Bukan aku yang minta,” tambah Almira nyengir.


“Ishh! Kalau hasilnya positif akan aku bawa kamu kemanapun kamu mau, tapi kalau negatif dan kamu mencoba jail awas ya terima hukumanmu,” lontar Wisnu dengan wajah menantang.


“Siap, Bang! Hukuman sampai positif juga tidak masalah,” jawab Almira tersenyum.


“Wah, benar-benar sosok Almira yang baru. Baiklah, kita cicil dulu hukumanmu sekarang,” celetuk Wisnu menggoda membuat Almira memukul meja dengan deheman protes.


“Mulai … mulai … Wisnu mulai lagi,” lontar Almira membuat Wisnu tertawa sembari mencuci daun bawang dan mengambil stok mie di dalam lemari penyimpanan.


Almira tersenyum senang, sepertinya ia akan selalu menang kali ini. Wisnu sesekali menatap raut wajah Almira dan saling melempar tawa geli bersama.


“Aku tidak sabar bertemu dokter,” celetuk Wisnu membuat Almira malah tersenyum mencibir.

__ADS_1


Ia tidak menyangka suaminya akan sesenang ini. Almira diam-diam mengelus perutnya sendiri dengan rasa yang masih saja sukar dia pahami. Wisnu segera mengalihkan pandangannya ke panci dan mulai mengisi air dan menyalakan kompor.


“Aku akan mengajakmu berkunjung ke tempat orang tuaku berada,” ucap Wisnu membuat Almira seketika tegas menatap.


Ia mulai melihat raut wajah serius seorang Wisnu. Almira kembali melihat sorot mata sendu dan wajah menampakkan tekanan berat di sana, entah tarikan dari mana Almira segera berdiri dan menghampiri suaminya. Ia reflek memeluk pinggang suaminya hingga Wisnu terpaku bingung tidak bergerak dari tempatnya.


“Percayalah padaku, Sayang. Aku akan menerima semua yang ada seperti kamu menerima setiap kekurangan yang terlihat nyata dari awal kamu mengenalku,” ucap Almira mendongak menatap suaminya.


“Mengerikan sekalipun?” ucap Wisnu tanpa membalas pelukan itu.


Almira mengangguk pasti. “Mengerikan sekalipun. Karena aku mulai belajar memahamimu.”


“Maksudmu? Memahamiku?” tanya Wisnu merasa ingin tahu dengan apa yang ada dipikiran istrinya.


“Iya, aku mencintaimu,” ungkap Almira membuat pipi Wisnu berkedut.


Wajah pria itu mengernyit menatap Almira yang segera melepas pelukannya dan mundur dengan memutar tubuhnya karena malu.


“Stop di situ! Selesaikan masakannya dan jangan biarkan anakmu menunggu,” goda Almira menoleh sejenak dan berjalan lagi menjauhi Wisnu berdiri.


“Dasar, modus pandai merayu,” balas Wisnu menyunggingkan senyuman.


Hati pria itu jelas senang, entah mengapa perasaannya menjadi berbunga-bunga saat mendapat pengakuan langka dari istrinya itu.


“Dan terlihat sekali kamu suka,” balik Almira disertai derai tawa keduanya.


“Kamu mau kemana?” tanya Wisnu melihat Almira berjalan menuju luar dapur.


“Ke kamar sebentar. Aku akan segera kembali.”


Almira segera berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Tidak lupa dia menutup pintunya dan mencari barang yang dia beli beberapa minggu yang lalu di laci. Setelah ketemu dia segera masuk ke kamar mandi dan membaca teliti cara pemakaiannya.


“Kenapa aku merasa deg-degan? kalau benar positif aku harus senang apa tidak?” gumamnya sambil mulai berjalan mencari wadah kecil penampung air seni.


Almira tidak peduli walau tertera tulisan bahwa tes hamil saat bangun tidur lebih akurat. Ia merasa sudah sangat penasaran.


Almira duduk di kloset. Memandang tes pack yang ada di sampingnya. Melihat perubahan garis warna merah yang membuat jantungnya berdegup kencang.


Terlihat dua garis jelas sebagai hasilnya.


“Ahhh ….”


“Sayang, maafkan ibumu. Masih memiliki hati jahat yang terbesit dengan kehadiranmu. Tapi kenapa kamu tidak menunggu hingga bulan depan saja?” keluhnya dengan hati campur aduk.


Almira meletakkan alat berwarna putih pipih itu ke atas kloset dan keluar dari kamar mandi dengan tubuh lesu.


“Hoekk! Ehmm!”


Almira kembali ke kamar mandi dan menunduk ke kloset dengan meraih tes pack itu kembali dalam genggaman tangannya. Ia merasa sangat mual dan hati merasa tidak nyaman.


Beberapa kali ia harus memuntahkan cairan yang sangat pahit dari mulutnya. Sambil berpegangan dinding ia keluar dari kamar mandi dan meringkuk di kasurnya dengan mata terpejam.


“Aku benar-benar hamil, ahh …,” keluhnya.


“Kalau aku hitung sendiri, aku hamil mungkin sekitar 7 minggu? Bagaimana reaksi bapakku kalau beliau tahu, apa aku akan dihajar karena aku baru menikah sebulan, aku bingung?” Almira memukul kesal bantal di sampingnya.


“Sayang, mie rebus kamu sudah matang,” ucap Wisnu menutup pintu dengan tubuh belakangnya dengan tangan membawa nampan berisi semangkuk mie.


Almira segera menoleh dengan wajah terkejut. Ia segera mengusap air matanya dan menyembunyikan alat tes kehamilannya di bawah bantal.


“Iya, baunya enak,” sahut Almira tersenyum segera duduk dimana Wisnu meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.


“Mau aku suapin?” tanya Wisnu segera menyeret kursi lipat di pojokan dan membawanya ke tepi ranjang dan duduk di sana menghadap istrinya.


“Boleh,” sahut Almira menatap suaminya yang sambil tersenyum mulai mengambil mangkuk dan garpu.


“Harusnya kamu makan bubur, tapi malah mie rebus,” komentar Wisnu segera diberi raut wajah merengut Almira.


“Baiklah. Makan dulu dan kita tidur sebentar. kita akan menemui dokter nanti sore,” ucap Wisnu kemudian.


Almira hanya mengangguk dan mulai menatap semangkuk mie yang terus saja di aduk oleh suaminya.


“Sampai kapan kamu akan mengaduk mienya?” komentar Almira merasa tidak sabar.


Wisnu tersenyum memandang.


“Aku kira kamu bakal hilang selera setelah aku mengaduknya,” goda Wisnu mulai menyendok kuah dan menyodorkan pada Almira.


Sambil merengut Almira membuka mulut dan menyicip kuahnya.

__ADS_1


“Enak tidak?” tanya Wisnu memastikan rasanya.


“Tentu saja enak. Bukankah bumbunya dibuat di pabrik,” seloroh Almira segera diusap pucuk kepalanya oleh Wisnu.


“Istri polos ku yang pintar,” puji Wisnu sambil tersenyum.


“Ada kok yang mengatakan aku ini istri bodoh dan bukan cuma lugu dan polos,” gerutu Almira mendengkus kesal.


“Oya? hahaha ... biarkan saja, bukankah kita hidup memang ada yang suka ada yang tidak. Kita cuma manusia dimana baik dan buruk tetap akan ada. Tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan milik siapa?” nasehat Wisnu kepada istrinya.


“Kesempurnaan hanya milik Allah,” jawab Almira tersenyum senang.


“Bagus. Habiskan makanannya dan kamu istirahat setelah ini,” ucap Wisnu segera diberi anggukan kepala istrinya.


***


Tepatnya jam dua siang Wisnu dan Almira melakukan kunjungan ke tempat dokter pribadi keluarga Krisna. Ia sengaja ingin bertemu dengan dokter kepercayaannya itu demi menjaga apa yang Almira takutkan.


Tanpa menunggu lama akhirnya keduanya segera dipersilahkan masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


“Wisnu,” sapa Dokter Syifa mengulurkan jemari tangannya menyambut hangat kedatangan seorang pria muda yang dia kenal sebagai pengawal kesayangan nona Isna itu.


“Dokter,” jawab Wisnu menyambut. Tidak lupa ia perkenalkan juga Almira sebagai istrinya.


“Pantas saja kamu tambah tampan, ternyata ada wanita cantik yang mengurusmu dengan baik," goda Syifa memandang Almira dengan senyuman.


“Dari dulu aku tampan,” balas Wisnu dengan seulas senyum tercipta. Syifa segera manggut-manggut.


“Jadi, kalian akan melakukan pemeriksaan?” tanya Syifa.


“Benar, Dok,” jawab Almira gugup.


“Baiklah, silahkan Anda berbaring di sana,” ucap Syifa kepada Almira.


“Baik, Dok,” jawab Almira menoleh ke arah Wisnu yang segera diberi anggukan.


Wisnu mengikuti Almira menuju ranjang yang berada di pojok ruangan, ia juga membantu istrinya merebahkan diri dan segera di susul perawat yang membantu dokter Syifa memeriksa.


“Okey, suster tensinya bagaimana?” tanya Syifa kepada perawat yang sedang mengecek tensi Almira.


“90/70, Dokter,” jawab perawat itu sambil merapikan alat pengecek tensi digital dan menaruh kembali ke tempatnya.


“Okey, terimakasih, Suster,” tolehnya ke arah Almira dan mengecek kedua bola mata Almira masih sambil tersenyum.


“Kita akan tes lab ya supaya lebih akurat hasilnya?” ucap dokter Syifa meraih stetoskop dan mulai memeriksa Almira.


“Baik, Dok.” Almira merasa sangat gugup.


Almira menjalani pemeriksaan yang menyenangkan. Dokter itu tidak begitu memperdulikan jarak pernikahan dan usaha kehamilan Almira. Hingga momen yang ditunggu Wisnu tiba.


“Tuan Wisnu, selamat ya. Istri anda positif sedang mengandung," ucap Syifa mengulurkan jemari tangannya.


“Terimakasih, Dokter Syifa,” jawab Wisnu tersenyum senang.


Ia tidak bisa menyembunyikan rona bahagia dari raut wajahnya. Sambil menengadahkan tangan disertai usapan syukur dia segera mencium kening Almira.


“Terimakasih, Almira,” bisiknya sayang.


Almira mengangguk dengan lelehan air mata meminta dukungan.


“Usia janin tujuh minggu dua hari ya,” terang Syifa meletakkan peralatan USG dan berjalan ke arah kursinya.


“Iya, Dokter,” jawab Wisnu masih memandang Almira dan menggenggam jemari tangannya.


“Sebentar lagi Bapak dan Ibu bakal punya cucu," ucap Wisnu segera diberi anggukan kepala Almira.


“Setelah ini kita berkunjung ke rumah ibu mertua,” pinta Almira.


“Tentu saja,” jawab Wisnu mengangguk.


Bersambung.


Kita boleh dengarkan setiap ucapan orang, saring dan pisahkan dengan ampasnya. Mana yang baik simpan rapi sebagai nasehat bijak untuk pegangan hari selanjutnya. Mana yang buruk buang jauh sebagai pengingat dan bukan sebagai hambatan untuk berkembang. By. Syala yaya


Bersambung.


Terimakasih untuk dukungannya ya teman-temanku semuaaa.


Salam sayang dan terimakasih dariku atas dukungannya❤️🥰🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2