
🧚🧚🧚
Meja yang berada di ruangan itu tampak berserakan, terdapat beberapa aneka snack merk jaman dulu tergeletak bersama bungkus-bungkus yang telah kosong. Akan sangat sulit menemukannya kalau tidak sering-sering membelinya ke pasar atau warung kelontong yang berada di perkampungan. Wisnu sendiri yang merasakannya demi bisa memuaskan keinginan istri tercintanya yang kini tengah mengandung anaknya.
Almira bersandar manja di pelukan suaminya di ruangan tengah tempat TV berada. Mereka berdua duduk malas-malasan di sofa dengan posisi Almira membelakangi Wisnu dengan bersandar di dada bidangnya. Bibir wanita berusia dua puluh dua tahun itu tidak henti-hentinya mengunyah makanan ringan itu seraya mendengarkan cerita dari suaminya. TV yang menyala tentu saja hanya pemanis suasana saja, nyatanya konten acaranya tidak mereka simak dengan seksama.
Wisnu menceritakan apa yang dilakukannya di masa itu.
"Masa sih!" seru Almira berjingkat dari posisinya dan menoleh ke belakang menatap Wisnu, suaminya tentu saja hanya bisa menahan tawa dan mengangguk malu.
"Keren, judulnya menunggu sang wanita pujaan di depan portal kereta api setiap sore selama berminggu-minggu, woahh ... aku sampai pengin mencium orangnya," puji Almira lagi sambil tertawa, wanita itu sangat bahagia sudah berhasil menggoda suaminya hingga wajahnya memerah karena menahan malu dan tawa geli kekonyolannya saat itu.
"Aku memang melakukannya," tegas Wisnu seraya mendekatkan wajahnya kepada sang istri, tentu saja Almira segera bergerak memutar tubuhnya seraya mengalungkan kedua tangannya ke area leher suaminya, mereka memandang satu sama lain kemudian tertawa geli bersama.
Wisnu mengusap lembut rambut Almira seraya memandangi wajah cantik itu dengan senyuman bahagia.
"Aku tidak menyangka, Mas Inu melakukan itu," ucap Almira masih memandang suaminya seraya mengecup bibirnya dengan lembut.
Wisnu dan Almira sejenak saling memejamkan mata, apa yang Almira mulai segera dibalas suaminya dengan sambutan ciuman yang sama-sama lembut dan penuh perasaan. Saling mengecup menyalurkan dan menegaskan bahwa mereka saat ini benar-benar saling menyayangi, mencintai dan akan menjaga satu sama lain.
Ciuman lembut itu berhenti saat Almira menarik dirinya dengan mengatur napasnya yang tidak beraturan. Selalu saja, ciuman yang sejatinya hanya untuk mengekpresikan rasa cinta akan terbalas dengan ciuman menuntut lebih dari suaminya.
"Nanti," bisik Almira tersenyum.
Wisnu menangkap kedua sisi wajah Almira dan tersenyum sendiri, pria itu bahkan harus menunduk agar wajahnya yang merona tidak terlihat jelas oleh istrinya.
"Aku sangat bersyukur, memilikimu," ungkapnya kemudian setelah kembali menatap lekat Almira.
"Aku juga," balas Almira membalas senyuman suaminya.
"Kamu tahu, aku hampir menemukanmu di kedai nasi goreng yang berada di Jalan RM. Said sore itu," ungkap Wisnu kembali memulai cerita masa lalunya.
__ADS_1
Kening Almira berkerut dengan sorotan mata berbinar, senyumnya mengembang seolah tidak sabar untuk mendengar lebih lanjut cerita dari suami tampannya itu. Rasanya sudah seperti dibawa melayang tinggi saat masa itu ternyata si patung hidup begitu penasaran dengan sosoknya.
"Impas ya, kita satu banding satu, ya, berarti," goda Almira seraya terkekeh, hingga tubuhnya dengan cepat di tarik Wisnu dan duduk di pangkuan pria itu. Suaminya memutar tubuh Almira hingga posisi duduk membelakanginya dan memeluk gemas dari arah belakang.
Cup.
Wisnu mencium leher bagian belakang Almira setelah menyibak rambutnya ke bagian samping dan mengurai ke bagian depan melewati pundak yang selalu di sukai Wisnu. Almira merinding sendiri dibuatnya, rasa geli segera menjalari tubuhnya.
"Ayo ceritakan lagi," pinta Almira segera menyandarkan bahunya ke dada bidang suaminya, kembali ia merasakan kenyamanan berada di pelukan itu. Kedua tangan mereka saling terpaut saat Wisnu mengusap lembut perut Almira yang kini sudah mulai berisi. Almira merasakan kebahagiaan suaminya menyambut buah hati mereka yang kini tumbuh di dalam rahimnya.
"Saat itu aku ingat sama plat nomor motormu," ungkap Wisnu masih sambil mengusap perut Almira dan menyibak piyama bagian atasan yang di kenakan istrinya.
"Terus?" tanya Almira berusaha mengingat kembali masa itu dengan perasaan geli sendiri. Baginya itu sangat lucu dan menyenangkan.
"Ya, aku segera memutar balik mobilku dan parkir tepat di sebelah motormu," jawabnya sukses membuat Almira hampir merubah posisinya duduk, dengan cepat pula Wisnu menahannya dengan mempererat pelukan itu agar Almira menghentikan niatnya.
"Lalu?" tanya Almira lagi seraya menurut duduk kembali di pangkuan suaminya dengan menyamankan kembali posisinya.
"Aku saat itu sangat bahagia, bayanganku saat itu kamu duduk di dalam warung tenda kaki lima itu sambil duduk bersila menyesap es teh dan makan kerupuk sambil menunggu nasi goreng pesananmu matang," ungkap Wisnu menundukkan kepalanya seraya mengecup rambut wangi istrinya. Terdengar helaan napasnya.
Terdengar suara tawa yang ditahan suaminya, terdengar jelas karena wajah suaminya membenam di ceruk lehernya.
"Aku kembali menjadi patung hidup," jawabnya tertawa geli sendiri.
"Hei, apa maksudmu?" tanya Almira merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi saat itu, sore itu, di kedai nasi goreng itu. Sungguh kata-kata menjadi patung hidup sangat mengusik jiwa penasarannya.
"Kamu masih ingin mendengar ceritaku?" goda Wisnu sedikit merenggangkan pelukannya dan membiarkan Almira menoleh ke arahnya.
"Tentu saja, nanggung, jangan membuatku penasaran," pinta Almira tersenyum lebar ke arah Wisnu.
"Baiklah, setelah satu ronde aku lanjutkan lagi," jawabnya seraya menggeser tubuh Almira hingga jatuh terduduk di kursi. Almira mengernyitkan dahinya merasa bingung sendiri.
__ADS_1
Wisnu berjalan meninggalkan Almira yang masih menatapnya bingung, menatap punggung dan langkah suaminya berjalan ke arah pintu.
"Kamu mau ke mana?"
"Mengamankan lokasi," jawab Wisnu memutar anak kunci dua kali.
Terdengar suara pintu dikunci, Wisnu segera memutar tubuhnya dan berjalan kembali menghampiri Almira yang masih bengong memandang langkahnya, Wisnu bahkan harus melemparkan tawa saat melihat ekspresi polos dari istrinya saat bersitatap dengannya. Ia sudah tidak sabar menghabiskan kepolosan itu.
Wisnu berdiri tepat di hadapan Almira, memandang sejenak wajah putih dengan bibir merah cherry itu dengan sunggingan senyum.
"Apa?" tanya Almira memandang dengan kepala mendongak, ekspresinya benar-benar sangat menyenangkan bagi seorang Wisnu.
"Kita bercinta dulu, nanti ceritanya aku lanjutkan," bisik Wisnu seraya menekuk lututnya dan mendorong lembut pundak Almira hingga mau tak mau tubuh itu pun terbaring di atas sofa.
Wisnu segera merebahkan tubuhnya ke atas tubuh istrinya dan terasa sangat nyaman. Kursi sofa yang lebar untuk menampung keduanya hingga dengan leluasa Wisnu mereguk apa yang selalu diinginkannya.
❤️❤️
Kini, rasa syukur akan selalu aku panjatkan. Tidak ada kesempurnaan dari diri dan hidupku, karena tentu saja kamulah pelengkapnya hingga rasa utuh menyatu dalam hidup kita.
Aku tidak akan membenci alur hidup yang digariskan untukku lagi, setelah aku menyadari bahwa di ujung rasa syukur, menerima dan menjalani apa yang seharusnya dengan sikap tanggung jawab serta komitmen, maka akan aku temukan sebuah hikmah yang terpendam di dalam kisah itu. (WISNU & ALMIRA)
By, Syala Yaya 🌻🌻
❤️❤️
Terima kasih semuanyaa ...
__ADS_1
Sambil menunggu novel ketiga publish, aku kasih bonchap Wisnu Almira yaa ... semoga suka.
Salam cinta dan persahabatan dariku Syala Yaya ❤️❤️❤️