Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 37 Kenyataan Yang harus dihadapi


__ADS_3

Matahari sudah nampak kembali ke peraduan, sorot jingga masih terpancar menghiasi langit kota saat Wisnu dan Ihsan memutuskan untuk kembali pulang.


Wisnu seperti biasa, termenung dengan gelayutan pikirannya. Ucapan Depe, raut wajah terkejut wanita itu masih menari indah dalam benaknya.


Wisnu begitu penasaran, apa yang sebenarnya terjadi antara Depe dan Almira. Wisnu merasa kedua wanita itu menyimpan siratan bahasa tubuh yang tidak beres.


Wisnu merasa bahwa titipan salam yang wanita itu berikan untuk istrinya seolah menyiratkan sebuah kemarahan, bukan ucapan tulus dari orang yang pernah saling mengenal baik satu sama lain.


Wisnu menghembus napas hingga terdengar kasar, Ihsan menatap dengan telisik pikiran yang juga menari-nari. Berharap Bosnya mau membagi pemikirannya yang mungkin saja sama dengan apa yang dia pikirkan.


“Almira tadi menelponmu?” tanya Wisnu tanpa menoleh.


“Iya, Pak.”


“Menanyakan Dhepe juga?” tanya Wisnu memastikan.


“Benar, Pak. Apa ada masalah?” jawab Ihsan merasa khawatir.


Ihsan menatap Wisnu sekilas dan fokus kembali menyetir.


“Tidak ada,” jawab Wisnu singkat.


Wisnu tersenyum samar, masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Dia menunggu situasi akan menjadi apa nantinya. Sangat menarik saat satu diantara lainnya saling bertautan.


“Tambah kecepatan mobilmu, Ira sudah menungguku di rumah. Besok beri rekomendasi dia untuk bekerja menjadi salah satu staf kantor kita. Aku ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya, runutan masalah yang aku rasa benangnya terlalu kusut.”


Ihsan terperangah mendapat perintah dari Wisnu, dirinya masih bingung dengan rencana yang tersusun tiba-tiba dari Bosnya. Ihsan segera mengiyakan dengan rasa penasaran yang memuncak. Jiwa keponya meronta.


“Ingat, jangan sampai Ira tahu apa posisi jabatanku di kantor. Aku hanya karyawan biasa di matanya,” pesan Wisnu dengan nada datar, matanya berkilat saat menyampaikannya.


Ihsan kembali mengiyakan perintah Wisnu, kalau dirasa bosnya itu sudah tenang, baru akan dia pertanyakan semuanya.


“Bagian mana yang cocok untuk Almira, Pak?” tanya Ihsan melirik Wisnu yang masih diam menatap jalanan.


“Terserah saja, yang penting jangan sering bertemu denganku.”


“Baik, Pak.”


“Tempatkan dia di Lobby, tempat yang tidak sering aku datangi. Dengan begitu aku tidak akan berani menculiknya dan membawa ke kamarku, benar 'kan?” ucap Wisnu sambil menampilkan tawanya karena pikiran konyol yang sempat terlintas.


“Astaga, mesum juga Anda ternyata,” komentar Ihsan sambil mencibir kelakuan bosnya.


“Tanggal lima gajimu tinggal separuh, kamu jangan kaget ya?” balas Wisnu memiringkan kepalanya sembari memberi decakan ringan terhadap lototan mata Ihsan ke arahnya.


“Mengatai Bosnya mesum, melanggar aturan bab apa Ihsan?” tambahnya dengan suara menggoda.


Ihsan menelan salivanya, keringatnya menetes ke dahi dan dia usap dengan lengannya.


“Menyalahi Etika, Pak. Tidak ada akhlak,” sahutnya melipat bibirnya menahan malu.


“Bagus, laporkan padaku kelakuan tak beretika yang terjadi di kantor, gajimu akan aku tambahi separuhnya,” perintah Wisnu dengan gayanya yang tampan, Ihsan berdecak dengan desisannya.


Wisnu hanya menanggapinya sambil lalu. Kembali merancang apa yang menjadi uneg-unegnya, merasa ada hal selain pertemuan menyesakkan itu sebagai alasan kenapa Almira masih memegang kuat hatinya, sehingga Wisnu merasa kesulitan masuk ke dalam hidupnya.


Wisnu memandang jalanan yang sudah mengarah ke rumahnya, turun di luar gerbang tinggi menjulang dan menyuruh Ihsan membawa pulang mobilnya.


“Permisi, Pak,” pamit Ihsan memadang Wisnu yang sedang menutup pintu mobilnya, melongok sebentar di jendela kaca dan mengangguk dengan tangan kanan memukul atap mobilnya pelan sebagai isyarat agar Ihsan cepat pulang.


Setelah mengetik tombol sandi dan gerbangnya terbuka perlahan Wisnu segera memasuki halaman rumah, memandang rumahnya dengan langkah lebar. Dirinya merasa sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam rumah.


Suasana rumahnya nampak lengang, terlihat Almira menatapnya dari lantai atas memegang pagar besi ukiran sebagai pembatas.


“Mas Inu sudah pulang,” sapa Almira menjauhi pagar pembatas dan berjalan hendak menuruni tangga menyambut kepulangan Wisnu.


Sejenak Wisnu berhenti melangkah dan memandang gerak lincah Almira menuruni tangga. Tampak rambutnya bergerak seirama dengan garis wajahnya yang ayu. Wisnu tersenyum tipis dengan perasaannya. Dia sangat menyukai gaya alami istrinya itu.


“Naik apa, aku tidak mendengar suara mobil?” tanya Almira berhenti melangkah ketika sudah mencapai anak tangga barisan terakhir, jemari tangan kanannya memainkan pegangan anak tangga sambil berdiri dengan sikapnya yang canggung.


“Mobil, Ihsan membawa mobilnya untuk pulang,” jawab Wisnu masih bergeming dari tempatnya memijak kaki, memandang istrinya yang cantik berdiri salah tingkah di anak tangga dengan lipatan bibir manggut-manggut mengerti.


“Sudah makan?” tanya Almira melangkah turun memandang kaku sambil merubah jalannya membelok ke arah dapur, melewati Wisnu seolah mencoba membuat jarak diantara keduanya.


“Belum,” jawab Wisnu memutar arah mana saja Almira melangkah kaki, ingin rasanya dia langsung mempertanyakan apa yang ada dipikirannya tapi sepertinya harus dia tahan dulu, mencari momen yang lebih pas.

__ADS_1


“Silahkan mandi dulu, Mas Inu. Shalat lalu kesini lagi. Akan aku siapkan makan malamnya,” ucap Almira membalik badan dan menoleh kearah Wisnu yang memang menatapnya dari tadi.


“Hm,” jawab Wisnu mengangguk.


Wisnu menundukkan pandangannya dan berjalan ke arah tangga, menghela napasnya sambil sesekali menoleh lagi ke arah Almira yang kini sedang menunduk kepala membuka kulkas, yang terlihat hanya badan separuhnya saja karena terhalang pintu.


“Bagaimana caraku bertanya padanya? Apa dia akan tersinggung kalau aku menceritakan tentang Dhepe padanya?” guman Wisnu mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.


Wisnu berjalan melewati lorong pemisah kamar-kamar dan membuka pintu kamarnya. Memasuki kamar rapi dengan sprei baru dan aroma buah jeruk yang menyeruak indra penciuman Wisnu.


“Aneh, kenapa dia suka sekali aroma buah? Aku rasa lebih fresh juga.”


Wisnu tersenyum mengomentari perubahan suasana juga aroma kamarnya, menurutnya menjadi lebih segar.


Sebuah perubahan kecil yang membuatnya bersyukur. Setidaknya istrinya sudah merasa nyaman dan merasa sudah seperti mengurus rumah sendiri. Wisnu merasa senang.


Pria tampan berbadan tegap itu membuka lemari bajunya, memilih pakaian ganti yang lebih santai, setelah menemukan pakaian yang dia cari karena tertata lebih rapi dari biasanya diapun memasuki kamar mandi dan meletakkan pakaian gantinya pada tempatnya.


Shower menyala dengan semuran air hangat. Wisnu memcoba dengan kebiasaan baru, mulai meletakkan pakaian kotornya di bak daripada biasanya melemparnya asal. Dia akan mencoba meringankan pekerjaan Almira, istrinya cantiknya.


Hanya butuh Tiga puluh menit Wisnu sudah siap makan, setelah menunaikan kewajibannya diapun bergegas turun dari lantai atas dan menyusul Almira yang masih sibuk di dapur.


Wisnu memandang dengan rasa sayang dan kekaguman atas sikap Almira yang sudah berusaha melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik. Wisnu duduk di kursi masih memandang punggung wanita yang kini tengah sibuk memasak untuknya.


“Kamu sudah selesai, Mas. Sebentar ya, tinggal matengin aja,” ujar Almira menoleh sekilas ke arah Wisnu dengan senyum tersungging manis.


Menyadari suaminya sudah duduk di meja makan menunggunya. Jantungnya berdebar lebih kencang, dirinya takut melakukan kesalahan.


“Kamu masak apa, apa ada yang bisa aku bantu?” tanya Wisnu hendak berdiri dengan suara kursi terserak ke belakang.


Almira segera menoleh lagi dengan jemari mengibas tanda tidak perlu bantuan apapun. Dirinya sudah selesai memasak dan membereskan peralatannya ke dalam bak cucian yang berada di sebelahnya.


“Duduk saja, Mas. Nanti bantu Ira menghabiskannya saja,” jawab Almira dengan suara nampak ceria.


Wisnu mengernyit heran, ketika dia tinggalkan siang tadi terasa sekali tekanan itu menggantung di wajah istrinya, kecanggungan saat menyanbut dirinya pulang, dan sekarang pemandangan keceriaan yang nampak jelas nampak terpancar di sorot mata istrinya itu. Walau bingung tapi Wisnu merasa sangat senang.


“Aku suka aroma baru kamar kita,” lontar Wisnu membuat Almira menoleh lagi sekilas. “Aroma jeruk,” tambah Wisnu berusaha menunjukkan dukungannya pada Almira dalam perubahan suasana rumahnya.


Almira masih berkutat memindah masakannya dari wajan ke dalam mangkuk saji. Menata rapi dan segera dia bawa ke meja makan di sebelah dapurnya. Wisnu antusias mencium aroma masakannya yang berhasil menggugah seleranya.


“Suka, aku merasa suasananya berbeda, kamarku menjadi rapi dan nyaman,” jawab Wisnu dengan senyuman wajah yang terpancar.


Almira menanggapi dengan anggukan canggung, tangannya bergerak cepat mengambilkan Wisnu nasi ke dalam piring dan menambahkan lauk juga di atasnya.


Wisnu menerimanya dengan senang hati, perhatian dan juga cara Almira melayaninya, Wisnu sangat menyukainya. Sama persis seperti apa yang orang tuanya ajarkan di rumah.


Wisnu merasa Almira akan menjadi sosok istri sekaligus ibu yang baik untuk anaknya kelak. Wisnu geli sendiri membayangkan saat dirinya bisa menggendong anaknya sendiri kelak. Dia merasa tidak sabar menanti kabar itu, dalam diam dia berdo'a.


“Dimakan, Mas. Kenapa malah cuma dilihatin? Maaf baru belajar masak, jadi tidak bisa menjamin rasanya sesuai selera Mas Inu,” ujar Almira melirik ke arah piring Wisnu yang nampak belum tersentuh sendoknya.


“Eh, iya,” jawab Wisnu mengulas senyuman dan memandang piringnya dan mulai makan. “Terimakasih ya, aku benar-benar menyukai masakanmu,” puji Wisnu membuat Almira mengangguk malu.


“Mas Inu sudah hafal do'a sebelum makan?” tanya Almira melirik dengan lipatan bibirnya menahan tawa saat melihat suaminya menggeleng pelan.


“Masa belum hapal?” ledek Almira membuat Wisnu menggeleng lagi semakin membuat Almira menggelak tawanya. Wisnu ikut tertawa malu.


“Aku akan terus belajar dan menghafal do'a-do'a. Aku harap bisa segera menjadi imammu saat shalat,” ucap Wisnu dengan nada serius membuat Almira tersenyum mengangguk juga menunduk penuh senyuman.


“Lanjutkan makan, sudah dingin,” seloroh Almira segera memasukkan makanan kemulutnya dengan ekspresi wajah agak menahan rasa yang aneh, dirinya memandang Wisnu yang mengernyit heran.


“Kenapa, ada yang aneh?” tanya Wisnu mengincipi masakan dengan bibirnya mengecap rasa asin berlebih.


“Ini pasti tanda-tandanya kamu minta jatah sepertinya,” goda Wisnu membuat Almira semakin manunduk malu.


“Jatah apa?” protesnya dengan bibir mengerucut menahan rasa malunya untuk mengakui.


“Jatah membeli gula,” jawab Wisnu menyendok lagi makanannya dan mengunyahnya dengan riang, senyumnya makin terukir di wajahnya.


Almira bersemu menahan senyumnya, kembali menyendok juga dengan menambah nasinya agar menyamarkan rasa asin dilidah.


“Kalau nasinya ditambah, asinnya bisa berkurang,” jelas Almira membuat Wisnu meledak tawa.


Pria itu tidak mampu lagi menahan lagi rasa gemas pada sikap tidak mau sikap gengsi Almira mengakui.

__ADS_1


“Masakannya enak kok, besok masak lagi, ya?” puji Wisnu segera diberi anggukan Almira menyanggupi.


“Garamnya dikurangi, ya?” ledek Wisnu membuat bibir Almira mengerucut menanggapi ledekan itu. Wisnu segera menunduk dan kembali pada sikapnya makan.


Wisnu sangat menikmati makanannya, merasakan masakan rumahan yang enak dilidahnya, rasa asin berlebih terasa memudar saat menatap senyum manis yang terukir dihadapannya.


Sesekali dirinya masih melirik raut wajah Almira sambil meneguk air putih yang tersedia dimeja makan.


“Keadaan temanmu baik-baik saja?” tanya Almira masih menunduk, memakan makanannya hanya sekilas memandang Wisnu.


"Dhepe, maksud kamu?" tanya Wisnu meyakinkan siapa yang dimaksud Almira dengan sebutan teman.


“Iya, Mas Inu bilang dia temanmu, apa keadaanya sudah membaik?” sahut Almira menghentikan makan dan meminum air putih juga seteguk.


Wisnu bisa menyadari gelagat aneh Almira, rasa tidak nyaman amat kentara terlihat dari sorot matanya. Rasa penasarannya kembali hadir.


“Semua temanku bukankah menjadi temanmu juga 'kan? Kamu juga bilang dia kakaknya Bagus,” balas Wisnu dengan suara datar dan tenang.


Wisnu sebisa mungkin menutupi rasa penasarannya yang hadir, dia tidak mau berpikiran buruk tentang apapun.


“Iya, Mas.”


“Dia juga menitip salam untukmu,” ungkap Wisnu membuat Almira membelalakkan matanya, dirinya terlihat sekali bersusah payah menelan makanannya. Tenggorokannya terasa tercekat.


“Kak Dhepe titip salam untukku?” tanya Almira tidak bisa menutupi rasa terkejut dari nada suara dan raut wajahnya, tanpa sadar dirinya meletakkan sendok dan garpunya hingga suara piring terdengar melenting.


Almira merasakan terkejut, bagaimana bisa kak Dhepe menitip salam lewat Wisnu. Dirinya merasakan kepanikan dengan kenyataan bahwa Dhepe akan tahu hubungannya dengan Wisnu. Dia merasa takut sebelum memperbaiki semuanya.


“Iya, Dhepe menyampaikan salamnya untukmu,” ulang Wisnu dengan nada suara hati-hati.


Wisnu memandang dengan sorot mata semakin heran, kenapa bisa Almira terkejut hanya karena sebuah titipan salam. Wisnu meyakini bahwa hubungan buruk keduanya yang membuat Almira bersikap begitu saat mendapatkan salam kabar dari Dhepe.


“Iya, bahkan dia memberi kita ucapan selamat atas pernikahan kita,” tambah Wisnu dengan suara tenang tapi berhasil membuat Almira tersentak lagi dan berdiri cepat dari duduknya. Kepanikan melandanya.


Mata Almira memutar arah pandangannya dengan bingung, dia segera membalik badan cepat menuju ke tempat mencuci piring dengan wajah penuh kecemasan.


Wisnu segera meletakkan sendoknya dan berdiri juga, menggeser kursinya dan berjalan mendekati Almira yang mematung memunggunginya. Dengan banyaknya pertanyaan yang terbesit dia memegang pundak istrinya dan memutar tubuhnya perlahan.


Nampak jelas mata Almira meremang, matanya berkaca-kaca, kesedihan nampak menghiasi wajah cantiknya.


Beberapa kali dia menunduk menyembunyikan wajah, tapi seketika itu juga tangan Wisnu meraih dagunya agar mendongak dan membalas pandang kepadanya, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.


“Maafkan aku, Mas. Aku sudah bersalah pada kalian, aku harus bagaimana? Hiks … aku harus berbuat apa untuk memperbaikinya?” isak Almira dengan wajah sedih, air matanya meleleh membasahi wajahnya. Dengan kaki lemas dia merosot jatuh ke lantai. Menekuk lututnya dan memeluk dengan kepala membenam di sana.


Wisnu memandang dengan helaan napas tubuh bergetar dihadapannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Tangannya lunglai jatuh ke samping, dengan perlahan dia juga menekuk lututnya dan berjongkok di depan istrinya. Menyentuh pucuk kepalanya, membiarkannya sejenak melepaskan rasa terdalam di dalam hatinya.


**


Ijinkah aku menguntai kata, rasa sayangku cintaku yang mulai kucoba salurkan untukmu.


Salah, rasa bersalah yang menyeruak mengisi penuh pikiranku.


Saat harusnya kau bersamanya tapi ternyata malah bersamaku.


Bukan inginku, sungguh bukan begitu.


Bukan harapku seperti ini walau jujur aku akui juga ada rasa syukurku berada disisimu.


Saat kesalahan pahit kita perlahan terasa manis ku kecap.


Karena aku yakin cinta itu adalah cerminan dari hati.


Bersambung …


Masih bersama Wisnu-Almira yaa.


Terimakasih untuk semangatnyaa ya, like komen yang masuk. Juga vote luar biasa dari kalian semuaa. Makasih banget.


Follow IGku dong teman-teman. @Syalayaya. Juga Fbku Syala yaya.


Masuk GCku dengan adanya jejak komentarmu di novelku, akan langsung di Acc adminku.


Aku juga sangat berterimakasih kalau kalian berkenan membantu aku untuk promoin novel-novelku di medsos kalian. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semuanya.

__ADS_1


Salam cinta dan persahabatan dariku ~ Syala yaya🌷🌷


__ADS_2