Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 54 Ajakan Kencan


__ADS_3

Suasana pantry begitu riuh, Almira sendiri ikut tertawa melihat kegaduhan akibat ulah suaminya sendiri. Sebenarnya dia cukup aneh dengan sikap hormat yang ditunjukkan semua rekan kerjanya terhadap sosok pria kaku itu, tapi dia tidak mau terlalu ambil pusing masalah ini. Baginya apapun yang dikatakan suaminya akan dia terima selama itu bukan hal yang kelak akan menyakitinya.


"Nah, kena!" seru Nino bersorak mengambil ikan dari lantai dan berlari cepat meletakkan ikat sial itu kembali ke dalam bak penampungan.


Semua orang memuji anak muda itu. Mereka semua merasa lega sudah terbebas dari perintah bosnya.


“Ihsan, karyawan mu yang ini layak untuk mendapatkan bonus,” soloroh Wisnu sambil menepuk pundak asistennya.


“Waah, tahu bakal dapat bonus aku tadi yang menangkap ikannya,” keluh salah seorang karyawan membuat yang lainnya terkekeh.


Ihsan hanya bisa tertawa menanggapi.


“Kembali bekerja!" perintah Wisnu menepuk kedua tangannya kepada seluruh karyawan di sana.


Semua orang bubar dan kembali ke pos masing-masing. Mulai melakukan aktifitas sebagaimana mestinya.


Almira menatap bingung kecanggungan yang terjadi di pantry. Bahkan beberapa chef dan para karyawan resto tampak bekerja penuh tekanan. Almira masih duduk menyimak kesibukan mereka.


Almira segera mengecek tas yang teronggok di meja saat bunyi notif ponselnya berbunyi. Pesan notif khusus saat mendapat pesan dari suaminya. Sambil membuka pesan ia menatap Wisnu yang tersenyum ke arahnya.


“Kamu pulang jam berapa? Biar aku antar.” Bunyi dari pesan yang dikirim suaminya.


Sambil menghembus napas Almira membalas pesannya segera.


“Kata pak Ihsan setengah jam lagi,” balas Almira mengetik pesan dan mengirim kepada Wisnu.


Mereka saling menatap dan saling menunduk menahan senyuman.


Bagaimana mungkin mereka berdua bisa satu tempat kerja, Almira merasa ini sebuah hal yang membuatnya senang sekaligus malu sendiri. Impiannya yang tidak bisa dia dapatkan saat bersama Bagus, pria kaya adik dari Dhepe itu sanggup membuatnya minder saat harus mengenal teman glamournya selevel dengan keluarganya. Saat memandang Wisnu selalu saja rasa bersalah kepada Dhepe timbul menyiksa batinnya.


“Melamun lagi.”


Bunyi notifikasi pesan masuk kembali membuyarkan pandangan kosong Almira. Dengan kikuk Almira kembali membalas tatapan Wisnu yang seakan memprotes kebiasaannya itu. Almira menggeleng ke arah suaminya, tanpa membalas pesan ia segera memasukkan ponselnya di tas dan beranjak dari tempat duduk dan berjalan mendekat ke arah Ihsan untuk berpamitan.


“Saya pamit dulu semuanya, besok saya akan mulai bekerja, mohon bimbingannya,” pamit Almira dengan suara lantang.


“Hati-hati ya? Besok aku tunggu kerja sama kita,” jawab Nino bersemangat.


“Huuu … Nino …!” goda mereka serempak menatap pria yang biasanya terkenal cuek dan pendiam itu bisa juga menggoda. Pria yang menjadi pemuja rahasia wanita cantik yang sering nongkrong di kafe miliknya, yang berada di sebelah Hotel bernama Qiara Allenta itu melemparkan senyuman manis ke arah rekan-rekannya.


“Kenapa? Memangnya aku salah?” tantangnya menatap rekannya dengan gaya dagu terangkat. Wajah tampannya semakin indah terpancar. Almira membalas senyuman juga.


“Sudah menyerah kamu dengan hatimu?” tepuk Ihsan pada pundak pria yang kini mencibirkan senyuman ke arah Ihsan.


“Aku mungkin akan menyerah dan akan mulai mengejar mu,” godanya membuat Ihsan berdecih dan mendorong pundak pria setinggi 186 sentimeter itu karena merasa risih.


“Cih! Gila,” decih Ihsan diberi tawa Nino.


“Sudah saatnya kamu kembali ke kafe milikmu itu. Berhenti main-main di sini,” ucap Ihsan menasihati temannya itu.


“Iya, astaga,” sahut Nino merasa terharu juga karena Ihsan sangat peduli padanya.


Almira masih berdiri tertawa melihat kekompakan Ihsan dan Nino.


Wisnu menatap interaksi mereka bertiga dengan hembusan napas. Ia merasa mereka semua sudah mengabaikan keberadaannya. Langkah lebarnya segera memangkas jarak dan berdiri di tengah-tengah mereka bertiga. Nino dan Ihsan mundur gelagapan memandang sikap aneh yang tiba-tiba ditunjukkan bosnya.


"Kalian berdua ini mesra sekali," ledek Wisnu.


Ihsan mendorong Nino sekuat tenaga hingga pria muda itu terhuyung penuh tawa.


“Jadi Pak Wisnu berada di sini?” ucap Delia melangkah elegan masuk ke dalam pantry.


Semua mata kini tertuju kepada Delia yang dengan anggun melempar senyuman saat memasuki ruangan kebanggaan para chef itu dan menunduk menyapa mereka semua.


Wisnu hanya memandang datar kedatangannya.


“Kamu tidak mengambilkan minuman tapi malah menghilang,” sindir Ihsan memandang Delia dengan wajah menunjukkan sikap tidak senang. Kehadirannya selalu hanya membuat masalah baru.


“Apa kamu pikir pekerjaanku mengambilkan kamu minuman?” jawabnya menunjukkan senyuman miring, tidak lupa ia memandang Almira dengan sorot mata tidak bersahabat.


Almira hanya diam mengalihkan pandangannya. Sambil membenarkan tali tas di pundaknya.


“Tugasku di sini melayani Pak Wisnu," ucapnya terdengar menyebalkan.


Almira seketika memandang Delia dengan dengan tatapan mata terkejut, wajahnya jelas bertanya-tanya arti dari ucapan wanita itu barusan.


“Berhenti berbicara macam-macam,” sahut Wisnu dengan suara datar tanpa ekspresi. Almira hanya bisa menatapnya penuh kekebalan.


“Saya permisi dulu ya?” pamit Almira kemudian.


Ihsan dan Nino segera mengangguk cepat.


Almira melangkah cepat meninggalkan pantry tanpa menoleh lagi ke belakang meninggalkan resto. Ia sengaja melakukannya agar tidak diganggu suaminya dan membuat runyam pekerjaannya.


Gelagat suaminya jelas nantinya saat di rumah akan banyak protes, akan ada perdebatan juga mengenai yang terjadi di pantry. Dalam hati ia kesal sendiri.


Almira berjalan keluar parkiran memilih menunggu bus kota di halte yang berada di depan hotel. Sambil mengamati lalu lalang kendaraan di sekitarnya dengan wajah ditekuk penuh tekanan.

__ADS_1


“Wah, kelihatan sekali pasti hatimu saat ini sedang senang,” bisik Wisnu di telinga Almira.


Almira segera memutar tubuhnya dengan mata membelalak terkejut. Wisnu bersedekap tangan memasang senyuman sinis, dengan cepat Almira memberinya balasan sikap malas.


“Mas Inu kenapa di sini,” ucap Almira mundur selangkah.


“Jadi kamu senang dengan pekerjaan barumu?” tanya Wisnu masih berdiri memandang.


“Lalu bagaimana denganmu? Senangnya dilayani wanita cantik,” sindir Almira bersungut membuang muka. Ia masih merasa kesal dengan sikap santai suaminya dalam meladeni sikap centil Delia terhadapnya.


"Senangnya digoda pria muda dan tampan," balas Wisnu bersedekap tangan.


“Apa! Aku cuma menganggapnya rekan kerja,” sahut Almira tidak mau disamakan dengan sikap Delia.


Wisnu melangkah mundur dan duduk di kursi tunggu, memandang punggung Almira dengan senyuman. Wanita itu jelas sedang cemburu, ia merasa senang sendiri dalam hati.


"Kamu merasa khawatir?" tanya Wisnu setelah kebisuan yang tercipta.


Almira menoleh ke arah suaminya tanpa berkata apa-apa. Dia merasa bingung saat banyak pertanyaan nyatanya dia pendam sendiri.


"Kamu jangan khawatir ya, hanya kamu yang sanggup membuatku berpaling dari apapun. Wanita yang sanggup mengisi penuh perasaanku cuma kamu," ungkap Wisnu memandang dalam Almira.


Almira hanya tersenyum sinis menanggapi. Omong kosong baginya.


“Berapa banyak wanita yang kamu gombali?” ucap Almira kesal.


Dia membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan Wisnu, mengabaikan panggilan nama berulang kali dari suaminya. Ia merasa teramat marah tanpa sebab.


Wisnu berdecak sendiri dan mengejar istrinya yang sudah berjalan jauh menyusuri trotoar. Sambil berlari dia meraih pundak istrinya agar memperlambat langkahnya.


"Kamu marah kenapa? Astaga soal Delia tadi tolong abaikan saja," pinta Wisnu menahan langkah Almira yang mengibas tangannya.


“Siapa sih aku? Bahkan mungkin saja Ihsan dan Delia juga siapa saja rekan kerjamu tahu siapa kamu. Aku siapa, tidak tahu sama sekali tentangmu.”


“Maksudmu apa? Kenapa malah membawa hal yang tidak ada kaitannya dengan kita?” tanya Wisnu merasa Almira menunjukkan kemarahan pada hal yang sama sekali tidak ia mengerti.


Wisnu menghentikan langkah Almira dengan berdiri menghalangi langkahnya. Almira terpaksa berhenti melangkah, memandang Wisnu masih menahan kemarahan.


“Bicara jelas, jangan pake emosi. Aku akan menjawab semua pertanyaan mu,” bujuk Wisnu menundukkan badannya dan menatap kedua pasang mata Almira, mencoba sekali lagi menahan kekesalan yang belum juga dia pahami sebabnya.


Almira menghembus napas dan menunduk menghindari tatapan mata suaminya. Kerjapan matanya jelas menampakkan emosi yang mulai mereda, Wisnu merasa lega.


“Mau aku ajak kamu ke kafe Nino?” tawar Wisnu memegang pundak Almira mencoba merayunya agar berhenti marah.


“Dimana?” tanya Almira tertarik juga.


Almira menoleh ke arah samping dan melihat bangunan dengan papan nama Qino Coffe berada. Almira membalik badannya menghadap ke sana. Tanpa minta persetujuan darinya Wisnu menggandeng jemari tangannya, menariknya lembut agar mengikutinya masuk ke dalam sana.


“Mau kemana?” tanya Almira berjalan mengikuti langkah Wisnu.


“Mentraktirmu minum coklat hangat,” jawab Wisnu tersenyum menoleh.


“Kenapa harus coklat? Kenapa bukan eskrim?” komentar Almira merasa aneh dengan pilihan menu Wisnu untuknya.


Wisnu hanya tersenyum mengabaikan protes Almira. Ia menarik handle pintu kafe dengan tangan kirinya, tangan kanannya masih menggandeng jemari tangan istrinya. Almira hanya bisa terdiam menurut saja. Mengikuti gerak langkah Wisnu membawanya duduk di kursi yang masih kosong.


“Kamu belum tahu kalau Nino selalu mentraktir gadis pujaannya dengan coklat hangat selama lebih dari lima tahun?” ungkap Wisnu sambil menarik buku menu di meja, Almira mengerucutkan bibirnya ke arah Wisnu.


Wisnu segera menepuk kepala Almira dengan kertas brosur menu karena merasa cemas. Almira mengibas tangan dalam menanggapi kelakuan suaminya.


“Cerita hidupmu saja aku tidak tahu, bagaimana aku tahu cerita hidup orang yang baru aku kenal selama satu jam?” sindir Almira dengan gaya kesalnya.


Wisnu segera tersenyum mengakui. Sambil melambai tangan kepada pelayan kafe ia mengulum senyuman geli sendiri.


Wisnu mengakui, Almira memang belum tahu apa-apa mengenai dirinya saat ini. Ia menjadi merasa bersalah sudah bersikap kurang terbuka terhadap istrinya sendiri.


“Kami memesan dua coklat hangat,” ucap Wisnu saat pelayan menghampiri mejanya.


“Baik, Pak,” jawab pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan meja Wisnu dan Almira.


Wisnu memandang wajah cantik istrinya, wajah cerah yang sejak kedatangannya ke kafe ini masih betah memandang seluruh dalam kafe. Bahkan terlihat sekali istrinya itu merasa nyaman berada di dalam kafe.


“Kamu suka?” tanya Wisnu ikut mengamati keadaan sekitarnya. Belum terlalu ramai tapi sangat menyenangkan.


“Suka, aku juga suka nongkrong di kafe lama-lama,” jawab Almira menoleh Wisnu dengan senyuman.


Pandangan mereka teralihkan saat pelayan datang membawa minuman pesanan mereka berdua.


“Terimakasih,” sambut Almira menerima minumannya dengan senang hati.


“Sama-sama, mari silahkan dinikmati,” jawab pelayan itu tersenyum dan segera meninggalkan mereka berdua.


“Kamu suka nongkrong pasti bersama pacarmu, ya?” tanya Wisnu lagi dengan batin kesal sendiri.


“Tentu saja, memangnya enak nongkrong sendirian,” sahut Almira menyindir sikap suaminya. Sambil menyesap sajian coklat hangatnya ia begitu menikmati rasanya.


“Halah, sok keren. Bukankah biasanya kamu nongkrong di kafe karena numpang Wi-Fi gratisan ya, ngaku saja,” ejek Wisnu mengomentari gaya istrinya.

__ADS_1


“Kok tahu? Pengalaman pribadimu, ya?” balas Almira tertawa.


“Aku? Wi-Fi gratisan. Astaga, tidak mungkin,” sanggahnya cepat.


“Hidupmu pasti sangat membosankan,” komentar Almira sambil mengambil ponsel dari dalam tasnya saat bunyi panggilan terdengar.


Wisnu hanya bisa menyadarkan punggungnya dan bersedekap tangan memandang Almira yang sibuk mengecek ponselnya.


“Kalau begitu kenapa kamu tidak mencoba membuat hidupku berwarna?” sahut Wisnu dengan suara datar.


“Bagaimana caranya?” tanya Almira masih mengecek siapa yang menelepon.


“Bagaimana kalau hari ini kita tidak pulang ke rumah?” tawar Wisnu memberi ide.


“Kita tidur di jalanan, begitu maksudmu,” sahut Almira menertawai ide aneh suaminya.


Wisnu berdecak memandang Almira, pikirannya selalu membuat geram sendiri. Sambil menegakkan tubuhnya dia memaku tangan ingin menjelaskan idenya.


“Kita berkencan seharian ini. Kita jalan-jalan ke Mall, nonton bioskop, makan malam di restoran dan menginap di hotel tempat kita bekerja, bagaimana?” ucapnya dengan binar mata berharap Almira menyetujui ajakan kencannya hari ini.


“Iya, aku mau, tapi ... sebentar ya, aku angkat telpon dulu. Dari pak Ihsan,” jawab Almira mengisyaratkan jari telunjuknya ke arah Wisnu agar diam dulu.


“Kenapa Ihsan menelepon mu?” tanya Wisnu menghembus napas protes.


Almira mengabaikan pertanyaan suaminya dan segera mengangkat panggilan.


“Iya, Pak Ihsan,” jawabnya terbata.


Mendengar nama Ihsan membuat Wisnu geram sendiri, pasti asisten somplak itu akan mengganggu rencana kencannya bersama Almira.


“Begitu ya? Baiklah ... akan aku sampaikan,” jawab Almira mengangguk dan menutup panggilan.


Almira menoleh cepat ke arah Wisnu. Memandangnya dengan perubahan wajah yang berubah seketika.


“Kenapa? Ada apa?” tanya Wisnu gemas sendiri.


“Kamu harus balik ke Hotel. Pak Ihsan memanggilmu.”


“Lalu kencan kita?” tanya Wisnu berharap.


“Kencan apa? Pekerjaanmu lebih penting. Sana pergi,” usir Almira mengibaskan jemari ke arah Wisnu.


“Ihsan benar-benar tidak peka,” gumam Wisnu kesal sendiri.


Wisnu beranjak dari tempat duduknya hendak melangkah pergi. Almira tersenyum geli memandang kekesalan di wajah suaminya karena gagal berkencan dengannya. Sudah mirip anak ABG yang disuruh pulang emak pas lagi asyik-asyiknya apel pacar.


“Tidak perlu kesal begitu. Nanti sore aku jemput kamu ke tempatmu kerja, bagaimana?” tawar Almira membuat Wisnu memandang terkejut.


“Kita kencan setelah kamu selesai bekerja,” ajak Almira tersenyum kembali menikmati coklatnya.


“Kamu janji?” sahut Wisnu berubah cerah. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa senang.


“Aku janji. Sudah sana kembalilah bekerja.”


“Aku pergi dulu kalau begitu." pamit Wisnu tersenyum.


Almira melambaikan tangannya ke arah Wisnu. Memandang langkah kaki suaminya membalik badan.


“Mas Inu,” panggil Almira cepat membuat Wisnu menoleh ke arahnya cepat.


“Terimakasih ya, coklat hangatnya benar-benar enak.”


Wisnu mengangguk cepat dan kembali menoleh ke arah jalan menuju ke luar kafe dengan mengulum senyuman senang.


Bersambung


Satu sikap manis yang kamu ciptakan mampu meluluhkan perasaanku.


Semua perhatian kecil yang tidak pernah aku duga mampu membuatku tersipu dengan sikapmu.


Sayang, terimakasih.


Pujian Ku bukan untuk menyenangkan mu, tapi sebagai penghargaan bahwa apa yang kamu lakukan sangat berarti bagiku. (Wisnu&Almira)


By. Syala Yaya.


Bersambung.


Terimakasih semuanya masih setia bersama Wisnu dan Almira 🙏😘😘😘😘


Mampir juga ya di novel karya sahabat baikku


Kak Aldekha Depe dijamin baper parah pokoknya ❤️



Salam Cinta dariku ~ @Syalayaya

__ADS_1


__ADS_2