
Satu minggu sudah berlalu.
Taman Balekambang, Solo. Salah satu kawasan wisata terpadu di kota Bengawan. Dulu saat Yashna masih kecil, ia hidup bersama neneknya berada di kota ini. Sebelum akhirnya pindah ke kota di mana Isna berada dan juga kepindahannya ke Australia selama dua tahun, pembangunan taman ini belum sebagus sekarang ini. Ia sendiri sempat dibuat terkesima dengan perubahan yang ada. Dulu tempat ini sempat ditutup sebelum akhirnya direnovasi total dan dibuka lagi untuk umum oleh pemerintah kota Solo pada masa itu.
Taman ini dibangun pada tahun 1921 dan merupakan peninggalan K.G.P.A.A Mangkunagara VII. Bangunan di taman tersebut memadukan konsep Jawa dan Eropa. Salah satu hal yang membuat Yashna semakin kagum adalah karena semua pengunjung bisa masuk tanpa dipungut biaya alias gratis.
Saat ini Yashna sedang duduk di pinggiran Taman Partini yang berada di bagian barat. Taman ini berfungsi sebagai penampung air atau berbentuk kolam. Perempuan itu menatap beberapa pengunjung yang sedang memancing, ada pula yang naik perahu dan bebek kayuh. Ia mengingat bagaimana Abiyu, adiknya kala itu sangat bersemangat bila menaikinya.
“Yashna, acara kita sudah dimulai,” panggil Aris menepuk pundak Yashna yang sedang melamun.
“Eh, iya.”
“Di sini jangan suka melamun. Nggak boleh,” tegur Aris dengan serius, ia berharap wanita itu bisa menghilangkan kebiasaan buruknya.
“Nggak melamun, cuma ... ingat jaman kecil dulu,” sanggah Yashna kini bangkit dari duduk kemudian berjalan beriringan dengan Aris menuju ke arah acara yang mereka selenggarakan di tempat ini bersama kumpulan komunitas lain. Beberapa panitia relawan tampak sudah siap bersama beberapa penampilan anak bimbingan mereka dalam pentas menari.
Yashna pun ikut bergabung, duduk di bagian luar bawah panggung bersama puluhan penggiat seni yang lain, saling bercengkerama menyalurkan ide untuk pengembangan lebih lanjut di sela menonton pertunjukan hasil dari bimbingan mereka selama ini.
“Konsepnya keren, deh. Donaturnya dari mana aja?” bisik Yashna kepada Setyo, sang Ketua yang merancang acara minggu ini.
Pihak penyelenggara merasa puas karena promosi selama dua minggu ini terlihat sukses dengan antusiasme warga yang datang hingga taman dipadati banyak pengunjung.
"Ada banyak, dari dinas pendidikan dan pariwasata kota Solo juga mendukung,“ jawab pria satu tahun lebih tua dari Yashna itu pun sambil tersenyum puas.
”Semoga the next aku juga bisa andil dalam pendanaan,“ sahut Yashna seraya menatap persembahan alat musik tradisional yang sedang di mainkan para anak usia lima sampai sebelas tahun di atas panggung. Penampilan mereka berhasil memukau pada penonton dan mendapatkan standing applaus.
”Aamiin!“ sambut Aris, Setya, dan yang lainnya secara serempak. Mereka pun bertepuk tangan sambil tertawa bersama untuk menyambut peserta lain.
”Yash, ikut aku!"
Sebuah tarikan dari arah belakang mengagetkan Yashna. Ia pun segera menoleh ketika lengannya diangkat dengan paksa.
“Eh, tenang, Brow!" Setyo yang duduk di samping Yashna pun bereaksi.
”Kamu itu yang harusnya tenang!“ balas Alan dengan tidak sabaran.
”Nggak apa-apa, kok. Kalian lanjutin acaranya, ya,“ pamit Yashna segera berdiri, ia menahan Setyo, Aris, dan yang lainnya yang ikut berdiri menghadapi Alan.
”Kamu nggak apa-apa?“ tanya Setyo merasa bingung. Aris hanya melambaikan tangan memahami Yashna sedang bersama pacarnya.
”Aku pamit duluan, ya. Nanti aku telpon kalau urusanku sudah selesai,“ potong Yashna melambaikan tangan sementara tangannya terus ditarik Alan untuk meninggalkan area keramaian itu.
Selama perjalanan ke tempat parkir Yashna hanya diam, ia membiarkan Alan menarik tangannya hingga sampai di mobil dan masuk dengan sikap tenang. Wajah membatu yang ditampakkan Alan sudah menggambarkan bagaimana hati pria itu saat ini. Yashna tidak akan banyak memberontak, meladeni kemarahan Alan tidak semudah yang terlihat.
”Kita mau ke mana?“
Setelah lama terdiam akhirnya Yashna memulai pembicaraan. Ia tidak menyangka Alan akan menariknya dari sebuah acara penggalangan dana untuk anak putus sekolah yang diadakan di area Taman Balekambang. Acara pentas seni musik dan tari tradisional yang dihadiri oleh banyak kalangan masyarakat umum tentunya. Sebenarnya ia cukup kesal, tetapi demi menjaga agar tidak sampai menimbulkan keributan, ia pun memilih untuk menuruti saja kemauan Alan.
”Bisa nggak kamu berhenti buat aku merasa buruk, Yash?“
Yashna bergeming, tidak menanggapi permintaan Alan. Ia jadi ingat, berapa kali meminta pengertian pemuda itu agar mengurangi aktivitas bersama temannya yang hanya menghambat waktu kuliah. Namun, yang didapat hanya janji palsu tak berkesudahan.
”Kayaknya kita jadi terlibat semacam toxic relationship, ya, nggak, sih?“ lontar Yashna kemudian.
”Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti.“
”Kamu masih muda, Alan. Dunia kamu masih panjang dan kupikir setelah di sini cukup lama, aku jadi sadar mungkin benar kalau aku yang egois dengan melarang kamu jalan sama teman-teman kamu,“ ungkap Yashna sembari membuang muka, menatap jendela mobil yang kini tengah membawanya entah ke mana.
”Pokoknya yang penting, jangan pernah ngajak putus, karena nggak ada kamusnya aku putus sama kamu!“
”Kamu nggak bahagia.“.
__ADS_1
”Siapa yang bilang? Nggak ada kamu justru aku nggak bahagia. Please, Yashna ... kita mulai lagi dari awal, ya. Aku nggak apa-apa tinggal lagi di sini. Aku sudah mulai mengurus semuanya.“
Yashna menarik napas dalam. Seratusan kali mungkin ia mengingatnya. Setiap ada masalah, Alan selalu mengajak untuk memulai dari awal, ia sampai bosan mendengar permintaan itu keluar lagi dari mulutnya.
”Kapan akhirnya? Memulai terus ... kalau kamu nggak bisa mengurangi jadwal pergi sama teman-teman kamu, ya sudah. Kita tidak usah jalan lagi, Alan. Aku akan cari kehidupan yang baru.“
Kepala Yashna terantuk keras ke bagian sandaran kursi. Perempuan itu menggeleng seraya memejamkan mata sejenak sebelum menatap tajam ke arah pria menyebalkan di sampingnya dengan emosi memuncak.
”Kamu mau bikin aku mati?!“ teriaknya tidak peduli kalau saat ini Alan juga tengah marah padanya.
”Iya, kamu yang mati duluan!“ sahutnya seraya menatap ke depan. ”Setelah itu aku nyusul,“ tambahnya kemudian dengan suara menahan kesal.
Alan mengerem secara mendadak. Tidak peduli kalau apa yang dilakukannya dapat mengancam jiwa. Pengendara yang ada di belakangnya hanya bisa mengumpat dan menglakson beberapa kali mobilnya yang masih berhenti di tengah jalan. Napas pria itu memburu dengan wajah mengeras.
”Cepet jalan, jangan bikin ulah!“ Yashna melirik sejenak ke arah Alan yang kini mulai menjalankan kendaraannya lagi.
”Kamu yang memulai.“
”Kamu yang memancing,“ balas Yashna dengan sungutan kesal.
”Kita akan cari jalan keluar, please.“
Yashna memilih tidak mendebat lagi, sungguh sulit rasanya berbicara dengan Alan yang meledak-ledak saat emosi. Kartika terkadang hanya bisa menepuk pundaknya untuk menyemangati bila muncul masalah yang melibatkan Alan.
Mobil melewati sebuah jalanan kota yang lurus dan lebar, sebelah kanan terlihat GOR kebanggaan warga kota Solo, Gelora Manahan. Sering menjadi tempat diselenggarakannya pertandingan final liga Indonesia karena sudah memiliki fasilitas standard internasional. Beberapa kali mengalami renovasi karena rusak akibat ulah anarkis para supporter sepakbola kalau tim kesayangannya kalah. Kini stadion ini sudah berdiri megah, siap menjamu pertandingan sekelas piala dunia sekalipun.
”Kapan-kapan ajak aku ke sini buat nonton atraksi para motor freestyler, ya?“ ucap Alan kemudian.
”Males banget,“ jawab Yashna pelan.
”Bukannya kamu setiap sore sering datang ke sini untuk nonton atraksinya para cowok muda yang ganteng saat menggeber motor kesayangan?“ sindir Alan dengan wajah kesal. Ia mengecek foto unggahan Yashna dari media sosial mengunakan akun sang ibu.
”Iya, memang keren mereka. Masih muda banyak prestasi pula.“
”Kenapa kalau aku yang main motor kamu malah ngambeg, harusnya 'kan, bangga juga,“ kesal Alan. Merasa apa yang ia lakukan ketika berada di Australia dengan Genk-nya sama persis dengan apa yang Yashna lihat di Stadion itu. Namun, yang terjadi malah justru menyulut pertengkaran.
”Beda, dong.“
”Bagian, buat siapa kamu melakukannya,“ sahut Yashna membungkam Alan untuk mendebat lagi.
Salah, tiba-tiba perasannya menjadi tidak enak. Ia menatap sekilas ke arah Yashna dengan jantung terhunjam. Sakit, tiba-tiba ia merasakan sakit saat Yashna mengatakannya. Ia pun memilih diam dengan pikirannya yang mulai terbuka.
”Inikah masalahnya, kenapa kamu menolak mencintaiku, Yashna?“ batinnya teramat merasa malu dengan kebuntuan otaknya.
Perjalanan kini sudah mulai berakhir. Mobil yang dikendarai Alan sudah memasuki sebuah perumahan elite. Tampak rumah berjajar dengan gerbang tinggi yang mengelilingi. Mereka saat ini memasuki kawasan perumahan Fajar Indah Solo. Yashna segera memutar kepala menatap Alan yang terlihat fokus jauh ke depan, mengatur kecepatan saat memasuki gerbang selama datang.
”Jangan katakan kamu mau mengunjungi Wisnu,“ ucap Yashna pelan.
”Aku sudah frustrasi gara-gara ngadepin kamu, aku butuh masukannya,“ jawabnya tanpa menoleh.
Yashna menghela napas dalam. Alangkah malunya kalau Wisnu sampai tahu bahkan sampai kini ia masih kesulitan untuk mengatur tingkah polah keponakannya itu. Ia pun mulai gelisah.
”Jangan mengadu. Nggak usah bawa Wisnu,“ pinta Yashna pelan.
Tidak disangka Alan malah memberikan sunggingan senyum samar. Ia memang sengaja melakukannya. Ia akan membuat Yashna kembali menjadi wanitanya yang tidak memberontak lagi. Ia tidak sanggup kalau sampai wanita itu lepas dari kehidupannya hanya karena keegoisan yang kadang tanpa disadarinya terjadi begitu saja.
”Aku hanya ingin menjenguk bibi ipar, sebentar lagi paman Wisnu bakal punya bayi,“ ungkap Alan dengan suara mulai melunak.
”Ya, aku tahu.“
”Mereka sangat bahagia.“
”Sudah tentu, suami Almira 'kan, tipe pria yang nggak slengek'an tukang tebar pesona yang bisa menjaga hati perempuan,“ lontar Yashna kembali membuat Alan mendengus.
”Ya, ya, aku ngaku. Selama ini nggak bisa jaga perasaan kamu.“ Alan segera melirik kesal dengan senyuman kemenangan di wajah Yashna. Entah kenapa, ia malah suka.
”Baru nyadar!“ ketus Yashna mencibir.
”Seneng kamu!“ sindir Alan membalas kemudian. Hatinya menghangat saat wajah Yashna tidak lagi menunjukkan genderang perang.
”B aja. Alias biasa aja. Kayaknya aku terlalu tua untuk baper sama rayuan nggak mutu kayak gitu,“ sanggah Yashna dengan gaya bicara santai, Alan kembali mengangguk, setidaknya ketegangan mereka berdua sedikit cair.
__ADS_1
”Kadang aku mikir gini. Bagaimana kalau seandainya kita udah nikah, terus kita kayak suami istri -“.
”Stop! Nggak pantes anak kecil ngomongin suami istri. Sttt! Nyetir yang bener, aku mau dandan sebentar, mau ketemu mantan idola biar wajahku nggak serem kayak habis putus cinta.“ Yashna memotong ucapan Alan sembari mengambil bedak dan lipstik dari dalam tas, Alan hanya bisa menatap sambil menggelengkan kepala.
”Demi dia kamu dandan?“ decak pria itu.
”Kenapa? Kamu di Apartemen sama aku juga kusut, udah kayak gombal markasnya tikus clurut. Tapi beda kalau mau jalan sama temen cewekmu, langsung dandan keren sok ganteng, sok imut, kayak udah lupa daratan. Untung aja depan Apartemen bukan lautan, bisa tenggelam 'kan, nggak asik,“ debat Yashna sengit.
”Ok, ok, ya ampun. Salah terus!"
Alan pun hanya bisa geram sendiri dalam hati. Di kotanya Yashna bahkan mengobrak-abrik kesalahannya selama di Australia. Ia menjadi semakin malu untuk mengakui. Tangannya mencengkram erat setir kemudi, berusaha untuk tidak mengatakan apa-apa lagi.
“Wah, rumahnya bagus,ya? Almira sangat beruntung.” Yashna kini sudah berada di depan tempat tinggal Wisnu. Mobil sudah berhenti di depan gerbang.
Tampak rumah dua lantai itu sangat asri dengan halaman luas, taman kecil indah dilengkapi kolam ikan yang terdapat pancuran terlihat dari luar gerbang tinggi yang mengelilinginya.
“Turun, gih. Kamu tekan tombol bel-nya," pinta Alan merasa kesal dengan binar mata yang Yashna tampakkan.
”Bagaimana rasanya jadi istri Wisnu, ya?" ocehnya seakan tidak peduli dengan bibir Alan yang terdengar menggertakkan rahang.
“Kayaknya nggak bakal, deh, kamu ngerasain. Mimpi saja jangan!”
“Kenapa?” sungut Yashna merasa puas terus saja mampu memanaskan hati Alan.
“Karena aku sudah lebih dulu cekik leher kamu sampai mati, ngerti!” rutuknya segera diberi cibiran Yashna.
“Wisnu, I am coming!" teriak Yashna sambil turun dengan sengaja mengabaikan kekasihnya dengan gaya genit.
Yashna turun dari mobil, menekan tombol bel beberapa kali hingga terlihat Wisnu keluar rumah. Ia pun melambaikan tangan ke arahnya, Wisnu menelengkan kepala ke arah Yashna untuk memastikan siapa yang datang.
"Paman! Buka pintu!" Teriakan dari arah gerbang tinggi tertutup bagian bawah akhirnya menghentikan langkah Wisnu untuk mendekat.
”Kenapa turun dari mobil?“ tanya Yashna tidak percaya Alan mengikutinya.
Pandangan pria tampan pemilik rumah itu kini beralih ke arah mereka. Mereka berdua segera memberi senyuman lebar dengan lambaian tangan ke arah Wisnu.
"Sialan! Bedebbah gila!" rutuk Wisnu menanggapi kedatangan mereka. Alan dan Yashna hanya bisa mendengus tidak percaya.
”Dia pasti kesal denganmu, persis seperti aku,“ kilah Yashna membuat Alan mendelik.
Wisnu memang kesal. Katanya keponakannya itu sudah lama kembali dari Australia, tetapi baru menampakkan batang hidungnya sekarang, rasanya Wisnu ingin sekali menghajarnya.
"Alan ganteng mengunjungimu, Tuan Banteng Kutub," sapa Yashna mencairkan suasana.
"Pergi, kalian! Aku sibuk," usir Wisnu melangkah menjauh, tidak jadi menghampiri gerbang.
"Whoi! Wah ... gila ini orang!" rutuk Yashna menghardik kelakuan konyol Wisnu, hal itu malah membuat Alan larut dalan gelak tawa.
”Pesonamu ambyar,“ ledeknya pada Yashna.
Pemuda yang kini sudah berusia dua puluh dua tahun itu tahu pasti pamannya sedang bercanda.
"Nggak ponakan, nggak paman, sintiing semua." Yashna mengembus napas.
Wanita itu pun segera bersedekap. Kini tangannya bergerak untuk meraih ponsel dari dalam tas ketika menyadari notifikasi berbunyi. Alan yang berdiri di sampingnya segera melirik nama yang kini tengah chating bersama kekasihnya.
”Ponselmu akan kusita!“ tegasnya meraih ponsel Yashna kemudian berbalik untuk kembali ke dalam mobil setelah pamannya membuka pintu gerbang dengan menggunakan remote control.
”Minggir! Aku mau lewat!" teriak Alan sambil menyalakan mesin. Yashna mundur tiga langkah untuk memberikan ruang bagi Alan untuk membawa mobilnya masuk halaman rumah Wisnu.
***
'Saat cinta sudah pada batas tidak mau melepaskan ego, entah cara apa yang bisa dilakukan untuk tetap mempertahankannya.'
(Kalandra Tama)
#Spesial part Yashna dan Alan ke rumah Wisnu ada di bab 87 terpotong ending, (bab kisah Yashna& Alan harusnya urutannya di up sebelum 87, tapi nggak apa2 ya, bakal ngalir setelah ini)
Selamat menikmati kisah ini. ada 2 Novelku diluar apk ini, silakan mampir jga yaaa🥰
❤️
Note. Sumber foto berasal dari Google, silakan mampir, ya kalau kapan-kapan kalian mengunjungi Kota Solo Berseri (The Spirit of Java) ini.🥰🥰 pokoknya selfi sepuasnya 🙏 yang penting "Jagalah Kebersihan, di manapun kita berada."
__ADS_1
See you the next Chapter -->