Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 112 Campur Tangan Malaikat?


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


“What, are you crazy!”


Alan Sudah mengira bakal disuguhi lontaran kalimat itu. Dia sendiri juga merasa apa yang direncanakan pamannya juga sedikit gila. Meminta bantuan kakak angkatnya yang berusia seumuran dengan Yashna untuk pura-pura menjadi gebetannya. Astaga! Alan sendiri juga merasa merinding membayangkan itu.


Seorang wanita cantik dengan gaya busana feminin memperlihatkan pundaknya yang mulus terbuka. Gaun hijau pupus selutut terlihat sangat cocok dengan warna kulit seputih gading hingga membuatnya sangat memesona. Wanita yang kini sudah hampir menginjak usia tiga puluh tahun itu sedang duduk di meja makan. Ia terperangah saat adiknya membicarakan sebuah ide konyol padanya. Wanita itu merupakan anak ke dua Agra Tanusa, kakak dari Kartika Ratu.


“Almost crazy," sahut Alan sambil mengedikkan bahunya.


”Ya, Tuhan. Tidak bertemu lima bulan dan lihatlah—kau terlihat sangat menawan. Tapi, kenapa malah otakmu menjadi tidak waras?" celoteh wanita bernama Julia Tanusa itu menggelengkan kepala, memberikan tatapan serius kepada sang adik.


“Ayolah! Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta. Asalkan kamu mau membantuku. Please, Julia. Tidak ada yang bisa membantu sesempurna dirimu." Alan berkeras dan tidak ingin mundur begitu saja.


”God!“ Wanita itu masih menggeleng tidak percaya.


”Tolong, aku harus mendapatkan hati Yashna atau ....“ Alan menggunakan jurus andalannya, memandang kakaknya dengan mata mengiba dan wajah polos tampan dan itu tidak pernah gagal. Setidaknya, belum. ”Atau aku akan menyesal seumur hidup.“


"Yashna Andara Bumi,” gumam Julia.


“Ternyata kamu masih ingat namanya,” sambung Alan merasa senang.


”Alasanmu harus masuk akal!“


”Hehe ... tentu saja. Lagi pula, aku yang akan menghubungi Erick dan menjelaskan semuanya.“ Alan berucap serius, matanya menyatakan antusias yang menyala dan itu sangat menyenangkan untuk dilihat.


Julia tahu bagaimana pria itu sejak kecil sangatlah tertutup. Ia pandai menyembunyikan apa yang ada di dalam hatinya dan sangat menghindari meminta bantuan. Ia mencoba untuk mandiri dan menyenangkan semua orang. Julia tahu, Alan akan tumbuh menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Seperti ayahnya yang mencoba melawan dunia untuk menikahi ibunya. Namun, kekuatan kakeknya terlalu kuat hingga sanggup memisahkan sepasang kekasih itu tanpa belas kasih meskipun jelas Kartika saat itu telah mengandung anak Aswa Tama. Harta dan kekuasaan membutakan segalanya. Itu sepenggal cerita yang ibu dan ayahnya ceritakan tentang asal usul Alan si Bocah Tampan yang kesepian.


”Baiklah. Aku penasaran, wanita itu seperti apa sampai kau rela datang ke sini dan berlutut di depanku,“ ejek Julia bermaksud menggoda.


”Ishh! Tidak perlu hiperbola!“ Alan mengerang kesal.


”Aku yakin, ayah dan kakak akan terkejut dengan ide gila kita." Wanita itu terkekeh seraya bangkit dari kursi. Ia berjalan ke arah wastafel dan mulai mencuci tangannya. "Kau tidak sarapan, Anak Ganteng?"


“Kurasa tidak. Aku baru datang dari rumah paman Wisnu dan well, dia yang memberikan ide gila itu,” ungkap Alan sambil tersenyum.


“Ok, pria tampan yang sulit ditaklukkan,” komentarnya sambil menyelidik ke arah mata Alan yang menatapnya tajam.


Julia langsung tertawa. Siapa yang tidak mengenali pria tampan nan mempesona itu. Wisnu Tama, adik dari Aswa Tama yang malang. Saat itu ia cukup tahu, idola para wanita itu sangat dingin tidak tersentuh dan yang mencengangkan pria itu tidak pernah menoleh selain hanya untuk bekerja menjaga keluarga Aditya sepanjang ingatannya.


“Dia sudah menikah!” Alan akan mengutuk kakaknya kalau sampai berani berbuat hal gila juga karena fantasi para wanita sosialita yang ingin mendapatkan pria seperti pamannya.


“Iya, aku tahu. Kau pikir aku kurang update berita?” sungut wanita itu sambil mengeringkan tangannya. Tampak kukunya ter-manicure dengan sangat baik.


“Istrinya sangat lembut, ramah, dan menyenangkan,” puji Alan bangga.


“Ya, ya, ya! Semua orang menceritakan istri Wisnu yang dinikahi mendadak itu, astaga!”


Alan hanya tertawa. Sungguh, pesona pamannya luar biasa hingga namanya masih saja jadi santapan hangat para wanita.


“Ingat, bantuanku tidak gratis.” Cibiran perempuan itu terlihat menggoda sambil melangkah ke luar area meja makan.


Alan pun berjalan mengikuti kakaknya ke ruangan tengah. Melihat dua ekor kucing berjenis Munchkin berwarna kombinasi putih kuning keunguan berada di atas sofa malas, duduk menatapnya penuh keimutan dan itu sangat menjengkelkan bagi Alan. Ia pun segera meraih kedua kucing manis itu dan menggoyang-goyangkan dengan gemas.


“Namanya Kala dan Dara.” Julia tertawa saat mengucapkan dua nama itu.

__ADS_1


“Wah! Tidak bisa dipercaya!” Alan melepaskan dua kucing itu hingga keduanya sama-sama berlari dan guling-guling lucu di karpet tebal ruangan tengah.


“Pasangan yang cocok, dan kurasa mereka ketika sudah dewasa nanti bisa memberikan aku keturunan anak kucing yang lucu dan menggemaskan,” goda Julia tergelitik untuk tertawa.


“Makanya, jangan cuma kucing saja yang kamu bantu berjodoh. Adikmu juga.”


“Ck! Itu gampang. Berikan alamatnya padaku. Wanitamu, aku yang akan mengurusnya.”


“Akan aku transfer bayarannya,” kata Alan menunjukan bahwa dirinya tidak main-main dalam hal ini. Ia tidak ingin memperburuk keadaan, tetapi sebuah jalan untuk meraih kembali hati Yashna.


“Aku sudah cukup uang, dasar Bocah!”


“Lalu maumu apa?”


“Urus Kala sama Dara. Oya, itu kuambil dari nama kalian berdua,” ujar Julia sambil terkekeh geli melihat kembali tatapan Alan yang ingin memprotes pernyataan mengenai nama kucingnya. “Atau lupakan saja dengan—”


“Baiklah! Ok, aku setuju. Lagi pula kamu sudah kaya raya,” komentar Alan dengan bibir mengerut.


“Ok, kirimkan alamatnya padaku. Besok aku akan menemuinya.” Julia mengedipkan sebelah matanya kepada sang adik. Alan pun hanya bisa mendengus, membiarkan kakaknya mengambil alih posisi dan ia akan dengan senang hati mengikuti langkah kakaknya.


"Masalahnya aku belum tahu rumah tinggal Yashna yang ditinggali sekarang,“ ungkap Alan dengan wajah meredup.


”Oh My God!“ Julia melebarkan bola matanya sambil menelan ludah kasar.


”Dua bulan ini kubilang dia susah ditemui karena pindah kontrakan, Kakakku Sayang.“ Alan pun menggemeratakkan giginya.


”Fiuhhh!“ Julia menghela napas lemas. ”Ok, akan kucari tahu sendiri di mana dia tinggal. Kakakmu ini bisa diandalkan!“ ucapnya sombong.


”Sip! Aku janji akan jadi pendamping mempelai pria nanti saat kamu menikah.“


****


Yashna mengembalikan dan menyusun barang ke dalam rak di sebuah minimarket tempatnya bekerja. Ia dengan telaten mengganti daftar harga dengan yang baru beserta promo yang berlangsung hari ini.


Sebenarnya hari ini ia libur, tetapi memilih untuk bertukar sift temannya karena akan sangat menyebalkan kalau seharian hanya duduk merenung di rumah. Apa yang diucapkan Alan dan Almira begitu menyita pikirannya.


“Melepaskan atau mengejarnya?” gumam perempuan itu lirih.


Embusan napasnya terdengar berat. Impitan dada yang terasa mendominasi bentuk rasa cemburu dan tidak rela menyembul ke permukaan. Rasanya ia ingin menghambur dalam pelukan pria itu dan mengucapkan jangan menikah. Namun, Harga dirinya terlalu mahal untuk melakukannya. Setelah bertahan cukup lama, inikah akhirnya? Wanita itu mengesah sedih.


Ia tahu pada dasarnya ini semua bukan salah Alan. Sifatnya yang tertutup yang menjadi halangan atas segalanya. Menginginkan apa yang sebenarnya telah disajikan Alan, tetapi ia masih saja merasa kurang percaya.


Yashna melamun, kurang fokus saat bergerak meninggalkan tempatnya hingga tanpa sengaja menjatuhkan minuman yang kemasannya berbahan kaca hingga pecah. Air berwarna oranye segera menyebar ke lantai dan menggenang ke segala arah. Ia pun terkejut tidak terkira dan bergegas ke belakang untuk mengambil sapu dan pel untuk membersihkan semuanya.


“Ah, sial!” geramnya pada diri sendiri.


Kepala toko yang baru keluar dari ruangan khusus karyawan hanya bisa menggeleng, tetapi tidak berkomentar apa-apa. Sangat jarang Yashna melakukan kecerobohan dalam bekerja.


“Maaf!” seru Yashna segera berlari ke arah pintu belakang di mana peralatan kebersihan diletakkan.


“Kamu tidak apa-apa?” Pria itu memandang langkah Yashna.


“Tidak, Rud. Hanya harus ganti rugi.”


Pintu minimarket pun terbuka, seorang pelanggan cantik datang untuk membeli keperluan. Kepala toko pun berjalan ke arah kasir menggantikan Yashna yang sedang mengurus kekacauan yang ditimbulkannya tanpa menyadari sesuatu berbahaya akan terjadi hingga suara teriakan disambung gedebum mengejutkannya.

__ADS_1


“Oh, God!” pekik wanita itu saat terpeleset dan secara spontan tangannya meraih rak. Sayangnya, barang yang ia gunakan untuk pegangan tidak cukup kokoh. Akhirnya ia malah menjatuhkan barang yang tersusun di sana. Suara gaduh pun terdengar.


Brakkk!


“Yashna!” Kepala Toko yang menyadari ada pelanggan yang mengalami kecelakaan pun berlari ke arah wanita itu sambil memanggil Yashna dengan suara lantang.


“Ahh, sakit! Astaga, kakiku berdarah!” teriak wanita itu merasakan kakinya tertancap pecahan beling dari botol yang masih tercecer di lantai.


“Ya Allah, Anda tidak apa-apa?” tanya Rudi, Kepala Toko itu mendekat dengan wajah panik.


“Kakiku mengenai pecahan beling,” keluhnya kesakitan. Telapak tangannya pun tidak luput dari goresan pecahan. Tampak darah pun menetes dari sana dan terasa sangat perih.


“Anda bisa bergerak?” Kini Rudi mulai membantunya bangkit. Namun, jeritan wanita itu menghentikan langkahnya hingga terpaku di tempat. “Sepertinya kaki Anda terkilir.”


“Bagiamana bisa ada—” Wanita itu meradang saat menyadari bahwa ia berada di dalam genangan air bersama dengan beling di mana-mana.


“Maafkan saya,” ucap Yashna yang sudah datang dengan membawa peralatan kebersihan.


“Kau harus bertanggung jawab!” Wanita itu mendelik kesal “Oh, God! Sakit sekali!”


“I-iya, saya akan bertanggung jawab,” jawab Yashna segera duduk berjongkok untuk membantu wanita itu berdiri dan pindah dari tempat yang basah itu dibantu Rudi.


Yashna mengeluh dalam hati. Sangat sial rasanya ketika harusnya hari ini ia tenggelam bersama selimut lembut dan hangat di rumah, nyatanya ia malah memilih bekerja hingga melakukan tindakan ceroboh dan mengakibatkan seseorang terluka. Rasanya ia ingin menangis merutuki nasib.


“Nama kamu siapa?” tanya wanita itu sambil mengamati telapak tangannya yang sudah dipbati setelah tadinya terluka karena beberapa pecahan kaca yang menancap dan menggores.


Saat ini mereka sudah berada di sebuah klinik untuk mendapatkan pertolongan medis. Semua sudah selesai dan tinggal menunggu resep obat di depan apotek yang masih satu bangunan. Mereka berdua duduk berdampingan. Perasaan Yashna sangat kacau dan cemas.


“Yashna,” jawab Yashna menatap wanita itu penuh sesal. “Saya benar-benar minta maaf.”


“Ini luka kecil. Dulu saat usiaku lima belas tahun, kakiku ini malah pernah rerak. Setelah itu karirku sebagai penari latar di Australia hancur tidak tersisa,” ungkap wanita itu sambil tersenyum sayu.


“M-maaf. Saya—”


“Kenalkan, aku Julia Tanusa. Senang bisa kenalan denganmu, Yashna. Momen yang buruk, sih, sebenarnya,” ujarnya sambil mengedikkan bahu dan tersenyum.


Yashna hanya bisa menerima salam perkenalan itu dengan perasaan tidak enak. Wanita itu kini malah tidak bisa berjalan dalam beberapa hari untuk memulihkan otot yang terkilir akibat terjatuh.


“Oya, sebagai pertanggungjawaban, aku ingin tinggal satu rumah denganmu sampai aku sembuh, boleh, 'kan?”


Yashna membuka mulutnya, terkejut dengan permintaan wanita itu. Namun, ia menutup menutup mulutnya lagi sambil menelan ludah. Ia bingung harus menjawab apa.


“Kalau tidak mau, ya sudah.” Wajah wanita itu berubah masam.


“Oh, iya. Tentu ... tentu sudah menjadi tanggung jawab saya untuk merawat Anda sampai sembuh.”


“Bicara santai bisa, 'kan? Menyebut saya dan Anda ... rasanya seperti aku sudah tua saja. Usiaku belum genap tiga puluh,” omelnya dengan nada setengah tersinggung.


Yashna hanya bisa mengembus napas. Rasanya benar-benar mendapatkan dobel sial.


****


'Akan kubuka jalan buntu itu dengan cahaya. Aku bukan malaikat, tetapi cukup baik sebagai manusia yang mencintai dan menyayangi adiknya.'


(Julia Tanusa)

__ADS_1


__ADS_2