Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 103 Riak Rasa


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Cuaca cerah dengan langit kebiruan berhias anakan awan yang menggantung di awang-awang. Sungguh perjalanan yang sangat memanjakan mata dengan pemandangan alam yang masih virgin dan memesona. Belum tersentuh pembangunan gedung pencakar langit layaknya kota besar. Namun, jajaran bukit nan kokoh menjulang terlihat elegan nan eksotis.


Alan terus memacu kendaraannya menuju ke arah Kota Pacitan melalui rute Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri. Melewati jalan berkelok yang mampu membuat perut yang kelaparan bakal dikocok habis. Jalan berliku penuh dengan tikungan tajam, menurun, dan menanjak tiada henti. Sangat memacu adrenalin dan membutuhkan kecakapan dalam mengendalikan setir kemudi.


“Tuh ada di dalam dash board,” tunjuk Alan dengan dagunya.


Kali ini ia tidak bisa sering mengalihkan pandangan dari jalanan mengingat betapa bahayanya bila sampai kehilangan fokus dan mereka bisa saja celaka.


“Apaan?” tanya Yashna bingung, ia tidak mengerti apa yang ingin disampaikan Alan. Kepalanya pusing, perutnya jujur saja bergolak, sedangkan jalanan masih saja berliku hingga terpaksa sejak memasuki kawasan Baturetno, ia hanya diam membisu.


“Ada kantong plastik,” sahut Alan tersenyum. “Kalau perut kamu mual.”


“Nggak, aku lebih butuh udara segar,” tolak Yashna dengan tatapan memohon.


“Ok, give me one minutes.” Alan mencoba untuk mencari tempat yang aman untuk menghentikan kendaraan.


Wajah Yashna sangat pucat. Ia bahkan harus menelan ludah berkali-kali hanya untuk menenangkan rasa mual yang menderanya. Ia tidak menyangka akan mengalami hari buruk seperti hari ini.


“Jangan malu, lokasi ini memang membawa keunikan tersendiri dengan banyaknya orang mengalami mabuk darat ketika melewatinya,” goda Alan tersenyum.


“Ihsan saja kapok jalan bareng aku,” ocehnya tertawa saat mengenang momen kedatangannya bersama Ihsan untuk menghadiri ijab qobul Wisnu.


Saat itu ia cukup penasaran dengan ocehan Ihsan mengenai jalan berliku, rute yang kini sedang dilaluinya. Ihsan menceritakan betapa indah dan eksotis pemandangan di sepanjang jalan menuju kota Pacitan. Ia pun kemudian banyak menonton konten di YouTube untuk mengobati jiwa penasarannya lalu menawarkan untuk menyetir. Tanpa diduga asisten Wisnu itu mabuk parah saat itu karena ulahnya yang menyetir dengan ugal-ugalan. Tidak pantas ditiru dan kali ini ia pun menyadari banyak hal yang membuat Yashna semakin tidak menyukai tindakannya karena kurangnya memikirkan sebab akibat.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Alan cemas.


Pria itu menghentikan tawa begitu menyadari bahwa perempuan yang duduk di sampingnya tidak menyahut sama sekali, hanya diam dengan wajah menghadap ke arah jendela mobil.


“Sorry, tahan, ya. Aku berhenti di depan sana.”


Yashna tidak menyahut. Badannya rasanya sudah gemetar kedinginan. Gelenyar rasa tidak nyaman sangat mendominasi hingga ingin rasanya ia menutup mulut Alan yang terus saja mengoceh tidak keruan.


Setelah mendapatkan tempat parkir yang lega, Alan pun menghentikan laju kendaraan kemudian membantu Yashna melepaskan safety belt. Tanpa menunggu lama, perempuan berwajah cantik itu segera turun. Berjalan menjauhi mobil menuju ke arah semak-semak dan berjongkok di sana. Ia tidak sanggup lagi menahan mual lebih lama lagi. Rasanya ia ingin kembali ke Solo dan istirahat di kamarnya. Sungguh, ia merasa malu.


“Kamu nggak apa-apa, 'kan?” tanya Alan kini sudah berada di belakangnya.


Tubuh Yashna sempat terpaku saat tangan kokoh tetapi cukup lembut memijat tengkuknya untuk membantu menenangkan rasa pening akibat mabuk. Yashna bergerak canggung dari tempatnya, diikuti Alan yang segera meraih pundaknya untuk diajak berjalan menjauhi area tersebut.


“Kalau nggak enak badan ngomong. Kita 'kan bisa berhenti dulu sampai kamu merasa baikan,” omel Alan memapah Yashna kembali ke arah mobil.


“Ini kedua kalinya aku mabuk,” ungkap Yashna.


“Oya?”


“Saat mengalami turbulensi, sama ini,” jawab perempuan itu tersenyum kecut.


“Kita istirahat di sini dulu. Sampai kamu baikan,” ajak Alan meraih kedua pundak Yashna agar berdiri menghadap ke arahnya. Yashna berdeham untuk membuang rasa pengar di hidung dan tenggorokannya.


Lebih ramah. Alan merasa Yashna lebih melunak meksipun ia tahu bahwa saat ini perempuan itu masih saja menilai dan meragukan apa yang dilakukannya. Namun, ia cukup senang saat wanitanya sudah bersikap lebih manusiawi terhadap bentuk kepeduliannya.


“Kita jalan aja, nanti kesorean dan baliknya Solo malam,” tolak Yashna melengos. Perempuan itu pun kembali memasuki mobil, memasang safety belt kemudian memejamkan mata.


Alan pun mengembus napas panjang, kemudian mengangguk mengikuti Yashna lalu mengemudikan kendaraannya lagi untuk melanjutkan perjalanan. Sesekali ia melirik ke arah Yashna. Ia merasakan jatuh cinta berkali-kali hingga rasanya sukar dijelaskan akal sehat. Lekukan wajah cantik memesona meski ia hanya bersikap sewajarnya tanpa dibuat-buat.

__ADS_1


Tatapan matanya sangat mirip sekali dengan Isna. Ia paham bahwa keduanya memiliki darah yang sama. Itulah kenapa sifat Yashna dan Isna begitu serupa. Bisa sangat manis, tetapi pada satu waktu bisa berubah buas dan siap melepaskan kapan saja apa yang digenggam meski itu harus memendam rasa sakit. Itulah ketakutan nyata bagi Alan. Ditinggalkan, sama seperti yang dilakukan oleh orang tuanya dulu. Meskipun ia paham bahwa situasi yang memaksanya, tetapi traumatis dicampakkan tetap saja sudah mendarah daging bagi kehidupan Alan.


“Aku sayang kamu, Yashna,” ucap Alan tanpa sadar, meluncur begitu saja dari bibirnya.


Yashna sebenarnya mendengar ucapan lirih itu, tetapi hanya bisa menelan ludah, pura-pura tidak mendengar. Ia memahami bahwa ucapan Alan bukanlah bualan di mulut saja. Namun, sebelum melihat Alan berubah menjadi sosok yang lebih tenang dan tidak bagi meledak-ledak, ia akan tetap membangun tembok tinggi bagi hubungan mereka berdua.


“Setyo katanya ingin serius kenal kamu seutuhnya, Yash.”


Ucapan Aris di sela acara tanam bibit beberapa jam yang lalu masih segar dalam ingatan. Pria yang sudah dewasa, gagal menikah karena tidak segera melamar kekasihnya sehingga harus puas menjadi adik ipar sang pujaan hati sebenarnya miris juga. Kisah cinta yang tidak berakhir dengan baik hingga pria itu trauma untuk memulai hubungan pacaran.


“Kita akan segera sampai. Tenang, ya. Aku kerokin kalau mau,” canda Alan membuka percakapan dengan banyolan khasnya.


“Sejak kapan kamu doyan kerokan?” balas Yashna membuka mata, menegakkan tubuhnya kemudian minum air putih yang berada di sampingnya untuk mengurangi rasa pahit di mulut.


“Sejak aku intip kamu dikerokin sama bunda,” ungkap Alan menahan tawa.


“Wah! Lama-lama aku pengen jitak isi otak kamu, deh!” rutuk Yashna merasa sangat malu.


“Bagian punggung doang, astaga! Galaknya!”


“Wah, tidak bisa kupercaya!” decak Yashna geram.


“Setelah bulan ini kita break, aku urus wisudaku di Australia ... kita memulai hubungan kita lagi, ya?” pinta Alan penuh kesungguhan.


Yashna bergeming, tidak membalas ataupun menanggapi ucapan Alan yang baginya masih perlu waktu untuk memantapkan hati. Ia merasa bingung, ketika telah mengenal Alan dengan baik hingga mengetahui segala keburukannya sekalipun. Ia malah dihadapkan pada niat baik yang Setyo tawarkan padanya. Ia merasa dilema ketika ingin mendapatkan pasangan hidup pria lebih tua darinya, nyatanya apa yang ada dalam diri Alan yang ia butuhkan. Banyolan yang sanggup mencerahkan hari suntuknya.


Mobil Alan kini bergerak memasuki sebuah gang lebih sempit daripada jalan raya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, kini mereka sudah sampai di desa tempat tinggal Almira. Sangat asri dengan pemandangan kanan kiri diapit hamparan pematang sawah. Padi yang mulai menguning, angin lebih kencang mengenakkan dahan pepohonan di sekeliling mereka.


“Dua ratus meter lagi kita sampai. Nanti aku kerokin, oke?” ucap Alan lagi menggoda.


“Pantas kamu nggak lulus-lulus. Huh, pikirannya mesum melulu!” decak Yashna mendelik kesal.


“Nggak ada hubungannya, kalik!” sanggah Alan mencibir.


“Tahu nggak? Orang yang mikirnya jorok mulu, kemampuan otaknya dalam berpikir jadi berkurang. Dodol!” rutuk Yashna mengembus napas.


“Dodol salak, dodol nanas, dodolit dodolit breettt ....” sahut Alan masih saja menggoda Yashna dengan candaan.


“Huh! Nyidam apa bunda Kartika waktu mengandung kamu, anaknya nggak ada serius-seriusnya.” Yashna terus saja mengomel. Alan yang mendengar hanya bisa tertawa, rasanya lebih baik mendengar kekesalan daripada didiamkan sepanjang jalan.


“Itu ... yang ada pohon mangga di halaman, rumah bibi Almira,” tunjuk Alan kini memutar setir kemudi dan mengarahkan kendaraannya untuk memasuki halaman rumah yang ditunjuknya.


Ia cukup terkesima melihat rumah Almira yang sudah direnovasi. Meskipun dulu sangat rapi, tapi kini bangunannya terlihat lebih modern dari saat terakhir kali datang. Rumah dengan dinding kayu jati sangat mendominasi.


“Turun, yuk,” ajaknya menatap Yashna yang balas menatapnya kemudian mengangguk.


“Kenapa? Malah bengong?”


“Kita datang dengan tangan kosong? Oh, Tuhan.” Perempuan itu menarik napas dalam-dalam. Hatinya diliputi rasa kesal bercampur malu. Namun, Alan tidak menanggapinya dan memilih untuk turun terlebih dulu.


Almira dan ibu Halimah segera keluar dari rumah di susul Ersa. Alan segera memutar arah menuju ke bagian belakang mobil untuk mengambil oleh-oleh yang sudah ia persiapkan dari Jakarta. Yashna yang baru saja turun dibuat terpaku. Pria itu bahkan sepuluh kali terlihat sudah berpikiran maju dan dewasa dari sebelumnya. Ia mendadak malu karena salah dalam menilai.


“Yashna, kamu datang!” panggil Almira tersenyum lebar.


Yashna pun mengalihkan pandangan ke arah mamah muda yang kini berjalan menuruni tangga teras rumah menuju ke arahnya.

__ADS_1


“Ersa, bantu kak Alan!” perintah Almira sambil menoleh sang adik.


Ersa dan Halimah kemudian bergerak menyusul langkah Alan dan mengambil alih barang bawaan dari pria itu meskipun tetap saja Alan masih membawa beberapa barang ke dalam rumah.


“Apa kabar?” tanya Almira menyambut pelukan Yashna masih dengan senyuman bahagia. “Alan udah ngomong mau ke sini, tapi nggak nyangka sama kamu,” ungkapnya sambil melepaskan pelukannya.


“Aku ke sini tanpa bawa apa-apa,” sahut Yashna dengan tatapan tidak nyaman.


“Halah! Kayak sama siapa aja. Yuk, masuk.” Almira berjalan beriringan dengan langkah Yashna. Terlihat sangat bugar dan cantik meskipun baru saja melahirkan. “Mas Inu baru nanti sore pulangnya. Ini masih di Solo,” sambung wanita itu menatap Yashna.


“Dia pulang pergi Solo-Pacitan?” tanya Yashna terkejut.


“Iya. Dibilangin pulangnya seminggu sekali dia nggak mau. Nggak bisa pisah lama-lama sama anak.” Almira tertawa kecil saat mengatakannya.


“Bukan gitu, kamu itu salah! Dia nggak bisa lama-lama jauh sama kamu,” sahut Yashna ikut tertawa.


Yashna dan Almira masuk ke rumah dan ikut bergabung di ruang tamu. Tampak Alan sudah duduk di sana ditemani bu Halimah, sedangkan Ersa membuatkan minuman di dapur. Yashna dengan canggung duduk di kursi sebelah Alan. Mereka pun berbincang beberapa topik dan jujur saja, Alan sangat pandai dalam menyambut obrolan hingga rasanya sangat mengalir dan hangat.


“Sekar terbangun. Sebentar, ya?” Almira yang mendengar suara tangisan Sekar pun pamitan dan beranjak dari tempat duduk menuju ke kamar.


“Jadi ini yang Wisnu ceritakan tentang calon istri kamu?” tanya Halimah menatap Alan dan Yashna bergantian. “Cantiknya.”


“Iya,” jawab Alan membuat Yashna yang sedianya ingin berkelit harus menelan kalimat yang ingin diucapkannya. Perempuan itu menunduk malu karena dipuji berlebihan.


“Wisnu pernah cerita. Ada dua orang yang dianggapnya saudara. Dia masih berharap kalau dua orang itu akan bersatu dalam ikatan cinta.” Halimah menatap lekat dua pemuda di hadapannya. Alan dan Yashna menunduk dalam.


“Ah, paman bikin malu aja,” sahut Alan tertawa kecil.


Ersa pun ikut bergabung dengan membawa dua toples berisi makanan ringan juga empat cangkir teh hangat.


“Mbak Ira mana?” tanya perempuan berusia tujuh belas tahun itu seraya duduk di sebelah ibunya setelah meletakkan minuman ke atas meja. “Mari diminum, Kak Alan, Kak—”


“Yashna,” sahut Yashna memasang senyuman hangat, menjawab Ersa.


“Kakak cantik,” puji Ersa seperti biasanya, sering kagum dengan orang kota.


“Bisa aja,” sahut Yashna tersipu. Ersa pun tertawa kecil bersama Yashna.


“Ah, aku rumah budhe Inah dulu ya, Bu. Mas Setyo katanya hari ini pulang. Aku mau minta tolong buat benerin laptop. Error mulu, kesel,” pamit Ersa sambil mengetik, membalas pesan yang masuk dalam ponselnya. Gadis itu pun segera beranjak pergi meninggalkan ruang tamu.


“Hati-hati!” Halimah menatap langkah Ersa yang menjauh dan menghilang di balik pintu.


“Setyo?” sebut Alan seketika.


“Kamu kenal?” telisik Halimah memandang Alan yang kini memalingkan wajahnya ke arah lain. “Wah, kebetulan ... dia juga tinggal di Solo. Rumahnya agak jauh dari rumah Wisnu, sih,” jelas Halimah membawa kekesalan yang mendalam bagi Alan. Pria itu menatap tajam ke arah Yashna yang memilih diam saja.


“Kak Yashna, bantuin aku, dong,” panggil Almira melongok keluar dari kamarnya. Yashna yang merasa berada dalam situasi tidak nyaman pun segera beranjak dari kursi.


“Ok, aku datang.”


*****


'Riak rasa dalam menasbihkan cinta. Aku terombang-ambing dalam labirin dua cabang yang membawa dilema. Di antara pilihan yang sama sulitnya untuk diraih. Satu sudah sesuai kriteria. Namun, hati teguh pada apa yang berada di depan mata. Di manakah seharusnya aku beralih dengan benar. Kamu atau dia?'


(Yashna Andara Bumi)

__ADS_1


^_^


Semoga tidak bosan dan selalu menunggu kisah A&Y. Luv2, Terima kasih 🤗🙏


__ADS_2