Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu
Bab 110 Terbawa Suasana


__ADS_3

Alan melepaskan bibirnya dan menyatukan kening mereka. Napas Yashna tersengal, mereka sama-sama terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Perasaan frustrasi yang tidak dimengerti. Yashna merasa sangat bingung serangan yang tidak diduganya ini.


Yashna mendorong tubuh Alan menjauh, lalu bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia terguncang dua kali.


“Aku bodoh karena tidak menamparnya sebelum pergi!” rutuknya seraya melepaskan sepatu dan melemparkan asal ke pojokan kamar. Hatinya diliputi rasa marah dan kehilangan.


Yashna sudah sampai di rumah kontrakan. Ia naik taksi dan mengabaikan biaya yang harus dia keluarkan karena ingin cepat-cepat meninggalkan kantor Alan. Ia sudah sesak napas dan ingin menangis.


“Brengs*k! Kenapa aku masih mencintainya!” teriak Yashna kesal sambil terisak.


Ia memeluk lututnya dan merosot di bawah kolong ranjang tidurnya. Ucapan Alan yang akan menikahi wanita lain mencabik-cabik hatinya. Yashna merasakan sakit lebih dari apa pun.


'Alan bilang padaku kalau sebenarnya dia cuma kasihan sama kamu, makanya dia nampung kamu bersama ibunya.'


'Sama-sama anak lahir di luar nikah, apa yang akan kalian wariskan pada keturunan kalian nantinya? Dosa tanpa berkesudahan?'


'Lepaskan saja Alan, kamu itu terlalu tua untuk hidup dengan Alan yang masih butuh kesenangan.'


'Kamu itu cuma penghalang masa depan Alan! Lihat, kuliahnya keteteran karena harus mengurusmu dan tugas menikahimu menjadi bebannya selama ini daripada memikirkan pekerjaan dan karirnya kelak.'


Air mata Yashna mengalir deras. Ingatan dari apa yang dilontarkan orang-orang yang dianggap Alan sebagai barisan para sahabat nyatanya membentengi diri Yashna untuk tidak mengaminkan apa yang disampaikan mereka padanya.


”Tapi sepertinya aku tidak bisa, Alan. Rasanya sangat tersiksa lebih dari tuduhan dan gunjingan mereka. Aku tidak bisa melihatmu menikah dengan wanita lain. Apa aku ini egois?“


Yashna menyeret ransel yang tergeletak di lantai dan mengambil ponselnya dari dalam. Nama pemanggil yang mendadak membuatnya semakin tersiksa.


'Angkat telponnya, aku mohon, Yashna.'


'Aku minta maaf soal ciuman tadi, Yashna. Sumpah, aku tadi terbawa suasana.'


Yashna memblokir nomor Alan dengan hati nyeri. Pengakuan terbawa suasana yang semakin menyebabkan tangisnya pecah. Rasanya ia ingin pergi saja dari dunia ini. Apa saja yang berhubungan dengan Alan rasanya hanya terdapat rasa takut dan takut. Ia merasa tidak kuat menghadapi.


'Kak Yashna, besok temani jalan-jalan, yuk! Sekar butuh refreshing.'


Pesan dari Almira mengalihkan perhatian Yashna. Meski tetesan air matanya belum sepenuhnya reda, tetapi rasa putus asa membawanya pada keberanian untuk menghubungi Almira.


”Hallo, Yashna.“ Suara Almira yang ceria terdengar.


”Apa aku mengganggu?“ tanya Yashna pelan.

__ADS_1


”Hai, suaramu terdengar sedang tidak baik. Ada apa?“ tanya Almira terdengar cemas.


”Alan akan menikah dengan wanita lain,“ ucapnya begitu saja.


”Hah! Tidak mungkin!“


”Dia yang bilang sendiri ke aku. Dia lelah menungguku dan merasa aku tidak memiliki cinta lagi untuknya.“


”Ya Allah.“ Terdengar Almira menghela napas. ”Pahami perasaan kamu, Yashna.“


”Bukannya aku tidak bisa melepasnya ... bukan sepenuhnya salah Alan, tapi aku—“ Yashna mengusap air matanya dengan lengan, isaknya kembali terdengar. Ia bingung ingin mengucapkan apa. Selama ini terlalu banyak yang ia pendam.


”Ada sesuatu yang membuatmu kecewa hingga tidak bisa memaafkan dan kembali seperti dulu? Tidak ada manusia yang sempurna, Kak Yashna, ingat itu ... aku bisa melihat, selama ini dia sudah mencoba untuk memperbaiki sikapnya. Aku tidak menyalahkan kamu, tapi aku rasa kini sudah saatnya kalian duduk bersama dan saling jujur bicara dari hati ke hati.“


”Aku tidak bisa, Almira. Sebenarnya aku bisa saja membiarkan dia menikah dengan wanita lain, hanya saja aku terlalu bingung dengan sikapnya terhadapku.“


”Bagian apa? Mungkin aku bisa memberikan saran?“ tanya Almira dengan penuh kehati-hatian.


”Bagian ... dia menciumku setelah mengatakan akan menikahi wanita lain yang baru dikenalnya dua bulan,“ ungkap Yashna mengejutkan Almira. ”Bukankah itu artinya dia cowok brengs*k?“


”Ya ampun, Alan gila!“


Percakapan mereka pun terjeda. Yashna hanya mengembus napas, menunggu tanggapan Almira.


”Memangnya apa aku ini wanita bodoh!“ sahut Yashna merasa itu sangat konyol.


”Ya mendingan bodoh tapi tidak menyesal, daripada pintar tapi malah melepaskan peluang mendapatkan suami seperti Alan. Ingat, kalau kamu tidak menikah dengan Alan, kita akan gagal menjadi bibi-keponakan yang sweet dan kompak,“ ucap Almira disisipi canda.


Yashna pun berhasil tersenyum.


”Kejar dia, enak aja mau nikah sama cewek yang baru dikenal dua bulan! Hih!“ Terdengar suara Almira menggeram.


”Baiklah, Kak Almira. Terima kasih masukannya.“


”Aku mendukung apa pun keputusan kamu. Tapi sepertinya aku akan selektif memilih calon istri Alan yang baru dikenal dua bulan itu. Lagian umurnya berapa juga, dah mau nikah aja.“ Terdengar suara Almira mengomel.


”Iya, mungkin karena gaulnya sama orang tua kayak aku.“ Yashna tersenyum getir.


”Kalian 'kan dah kenal lama, sedangkan—hih! Pokoknya aku pingin kamu gagalin itu rencana gila, jangan biarkan dia nikah dengan mudah!“

__ADS_1


”Iya, Kak. Baiklah, selamat malam.“


”Ok, Kak Yashna. Nanti aku akan ceritakan ini sama mas Inu. Ok."


“Terima kasih. Maaf mengganggu.”


“Tidak masalah, kita ini keluarga.”


Ia tidak berbicara lagi dan memilih untuk mengakhiri panggilan dengan mengucapkan selamat malam.


Yashna merenung, di lantai bawah ranjangnya ia merebahkan diri. Selama ini ia merasa sudah menjalani hubungan yang sangat sia-sia. Ketika Alan menolak pernikahan dengan alasan usia dan pendidikan, ia memaklumi semuanya. Ia memilih pergi dan berharap mendapatkan pria lain. Namun, ketika ia bisa mendapatkan teman yang serius untuk membina hubungan, Alan datang dengan memaksakan diri mengajak menikah. Padahal ia hanya tidak mau tudingan menghancurkan masa muda Alan dengan menikah muda tersemat padanya.


”Tapi, kenapa tiba-tiba wanita yang baru kenal dua bulan malah akan mendapatkan status istri dengan tanpa tuduhan merusak masa depan Alan!“ geramnya tidak terima.


"Hanya karena menikah denganku masa depan karir Alan rusak, sedangkan kalau menikah dengan wanita lain tidak, begitukah maksudnya?" decak Yashna merasa diperlakukan tidak adil.


Yashna bangkit dari tempatnya, lalu berjalan linglung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia butuh tidur. Ia merasa tidak mampu berpikir jernih dan akan memikirkan semuanya besok pagi. Apa akan melakukan seperti yang Almira sarankan, atau membiarkan saja Alan menikah dengan wanita lain. Ia merasa sangat pusing.


Yashna kembali ke kamar dengan tubuh lebih segar. Matanya bengkak karena menangis lama, dan kini ia tersenyum karena lagi-lagi ia menyadari tangisan itu disebabkan karena Alan. Pria itu lagi. Orang yang mengucapkan kata cinta saat usianya masih sembilan belas tahun. Konyol sekali karena tanpa modal apa pun sudah berani melamarnya ketika ia masih bekerja sebagai bodyguard di rumah Krisna dan Isna saat itu.


”Dasar Bocah!“ decak Yashna tersenyum getir. ”Selamanya kamu bocah! Sayangnya aku bisa kalah sama bocah dan pasrah saat kamu menciumku hanya karena terbawa suasana. Kamu bodoh, Yashna!“


Perempuan itu mengomel, bicara sendiri pada bayangannya di depan cermin. Ia merasa patah hati untuk yang kedua kalinya. Bukan hanya Wisnu saja yang meninggalkannya untuk menikah dengan Almira, oh bukan ... saat itu Wisnu memilih Depe daripada dirinya.


”Sekarang keponakannya akan melepaskan aku untuk digantikan siapa?“ ocehnya kesal.


Yashna menduduki kursi yang berada di depan meja rias. Memandang bingkai Foto yang terpasang cantik di hadapannya. Foto bersama Alan dan bunda Kartika ketika di Australia. Sebuah keluarga cacat yang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa semua orang memiliki hak untuk bahagia dan ada cara untuk mewujudkannya. Dengan saling melengkapi satu sama lain tanpa memedulikan dari mana ia dilahirkan karena tidak ada yang bisa memilih.


”Kenapa aku melupakan apa yang pernah diucapkan bunda Kartika.“ Yashna menjadi gelisah. Hubungan buruk itu dimulai sejak Alan mulai mengenal banyak teman terutama wanita. Dunia Yashna seolah penuh ujian karena hubungannya dengan Alan mengusik mereka.


'Karena Alan bisa saja hanya menceritakan tentang kamu, makanya teman-temannya iri dan ingin berada di posisi kamu, Kak Yash. Atau bisa juga itu mereka lakukan hanya untuk merusak hubungan kamu dengan Alan.'


Terngiang ucapan Almira di dalam beberapa kesempatan ketika mereka tidak sengaja membicarakan beberapa topik. Yashna menggelengkan kepalanya. Rasanya cukup masuk akal, dan buruknya hubungannya dengan Alan karena komunikasi itu tidak terjalin dengan baik. Ia yang salah karena tidak bisa terbuka seperti Alan.


”Apa aku harus menggagalkan rencana pernikahan itu? Aku akan jadi tokoh villain?" Yashna mulai memindai perasannya sendiri, tanpa berbalut tuduhan orang-orang padanya lagi. Itu tidak penting lagi saat ini.


“Pertama-tama aku harus tahu siapa gerangan wanita yang sudah berhasil membuat Alan menoleh padanya. Meskipun wanita itu hanya pelampiasan nyatanya Wisnu saja bisa jatuh cinta dengan Almira. Alan bisa saja jatuh cinta dengan wanita itu seandainya memang tidak ada pertengkaran dan yang ada hanya keromantisan ... hih!” Yashna mengepalkan jemari tangan, bergidik saat membayangkan bagaimana agresifnya Alan saat bersama dirinya. Selama ini dirinya sendiri yang bisa menjaga hubungan cinta itu berada pada batas kewajaran. “Bocah itu tidak bisa dibiarkan!”


****

__ADS_1


'Keputusasaanku berada dalam titik buntu. Aku selalu berharap bisa memutar keadaan rumit ini menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk berjalan bersama lagi dan saling merenung bahwa kita tidak ingin berpisah satu sama lain.'


(Kalandra Tama)


__ADS_2