Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 99 Adik Ipar


__ADS_3

Sinar matahari berusaha menembus gorden jendela kamar apartemen, menyadarkan waktu sudah melebihi fajar.


"Mas.. bangun. Ini sudah jam berapa, kamu terlambat ke kantor" Rara menggoncangkan lengan Reyhan yang melingkar di perutnya.


"Hmmmm" Reyhan hanya mengeram di leher Rara, mengeratkan lingkaran lengannya.


Setelah persatuan cinta semalam, mereka memang kehabisan tenaga sampai tertidur nyenyak tanpa menyadari fajar telah berlalu.


"Mas ayo bangun..." Rara panik lalu mencoba duduk dan meraih ponsel Reyhan yang terletak di samping Reyhan untuk melihat jam.


"Mas... sudah jam 8 pagi. Kamu benar-benar terlambat Mas" Rara semakin panik.


"Apaan sih kamu... hari ini aku tidak ke kantor" balas Reyhan namun masih memejamkan mata.


"Kenapa tidak ke kantor? ini kan masih hari Kamis, masih hari kerja" seru Rara.


"Adikku hari ini ke rumah, dia ingin bertemu dengan mu dan dia ingin pergi jalan-jalan bersama mu. Dan aku akan menemani kalian" jelas Reyhan masih memejamkan mata dan memeluk Rara yang duduk di sampingnya.


"Hah? jalan-jalan? kemana?" Rara cukup terkejut.


Reyhan tidak menjawab justru tangannya sudah menjelajahi ke dalam selimut dan menuju bagian sensitif Rara. Mereka memang masih dalam keadaan tanpa sehelai benang namun berbalut selimut.


"Reyhan.. iiiihhhh" Rara berusaha menyingkirkan tangan Reyhan yang nakal.


"Suruh siapa kau membangunkan ku, tanggung jawablah, kamu sudah mengganggu tidurku" Reyhan akhirnya membuka matanya.


"Apaan sih... siapa yang mengganggu, ini kan memang sudah siang. Ya sudah ayo bersiap, katanya adikmu mau datang ke rumah, ayo pulang, aku belum siapkan makanan untuknya" Rara beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi sekaligus kabur dari keinginan Reyhan yang ingin nambah jatah.


Reyhan terlanjur membiarkan Rara lolos lalu tidak memperdulikan dan melanjutkan tidurnya sambil menunggu Rara bersiap di dalam kamar mandi.


--


Setelah membujuk Reyhan sekuat tenaga untuk bangun tidur, akhirnya dia mau bangun namun tetap tidak mandi. Rara dan Reyhan langsung segera pulang ke rumah dan berniat mempersiapkan segalanya untuk menyambut adik Reyhan. Namun sesampainya di rumah ternyata adik Reyhan sudah datang.


"Kakak......." berlari dan memeluk Reyhan.


"Hey lepaskan! kakak iparmu nanti cemburu" ledek Reyhan dan melirik ke arah Rara dengan tersenyum nakal.


"Ih ko bau asem!" teriak adik Reyhan.


"Memang aku belum mandi" Reyhan.


"Jorok banget sih, untung udah laku! kakak ipar ko mau-maunya sih nikah sama orang ini" teriak adik Reyhan kepada Rara.


Rara hanya tersenyum.


"Ya ampun kakak ipar manis banget senyumnya pantes laki-laki kurang aj*r ini tergila-gila. Halo kakak iparrr..." memeluk Rara. "Maaf ya kak, baru bisa bertemu denganmu sekarang" lanjutnya.


"Heyyy jangan erat-erat, keponakan mu nanti kejepit" gurau Reyhan memisahkan pelukan mereka.


"Oh iya Maaf...... ya ampuuunnn hamil aja masih keliatan langsing"


"Masih memasuki 3 bulan, jadi belum begitu keliatan" balas Rara sambil mengelus perutnya.


"Ga sabarrrrrrrr, cepet keluar ya kamu biar bisa main sama kakak" adik Reyhan berjongkok seolah sedang mengobrol dengan perut Rara.


"Kakak? kamu kan tantenya, panggilnya bibi lah" ejek Reyhan.


"Enak saja, kakak saja biar keliatan muda. Sudah sana mandi, banyak omong ih"


Reyhan dan Rara tertawa.

__ADS_1


--


Setelah Reyhan mandi dan Rara berganti pakaian. Mereka melanjutkan rencana awal mereka untuk berjalan-jalan, tentu saja bersama adiknya Reyhan juga, yaitu Reina.


Mereka memutuskan untuk pergi ke salah satu Mall, karena Reina menginginkan untuk menonton film. Sayangnya, sesampainya di bioskop, film yang di inginkan Reina sudah penuh dan hanya sisa di jam malam.


"Yaaahhh...." Reina cemberut.


"Yasudah tidak usah menonton film, lagian kakak iparmu tidak suka menonton film horor" seru Reyhan.


"Tidak mau kak, aku mau nonton film ituuuuuuu, aku rindu dengan hantu indonesia, apalagi mba kunti" Reina.


"Kau lebih merindukan kunti indonesia dari pada keluargamu sendiri?!!" Reyhan.


"Iya, dari pada aku merindukanmu wle" ejek Reina.


"Isshhh kau ini..." Reyhan berusaha mencubit pipi adiknya.


"Sudah-sudah... kamu ini seperti anak SD saja.." ujar Rara kepada Reyhan dan berusaha menengahi.


"Yeeeyy sekarang ada yang belain wle" Reina memeluk kakak iparnya.


"Yasudah mau kemana ini jadinya?" Reyhan.


"Mmm... kak ayo mampir kesana!" Reina menunjukkan toko baju branded dan langsung menarik kakak iparnya.


"Hih dasar cewe, ujungnya belanja kan!!" gumam Reyhan.


Rara dan Reina masuk ke dalam toko pakaian, sambil menunggu istri dan adiknya, Reyhan berpamitan untuk berkeliling mencari cemilan.


"Kak, ayo pilih-pilih tidak usah melihat harga, ini semua di bayar sama kak Reyhan" bisik Reina ketika melihat Rara hanya diam.


"Ah kakak ipar nih... masa aku doang yang belanja" gerutu Reina.


"Sudah tidak apa-apa.. pilih saja ya, kakak mau ke sana dulu" ujar Rara.


Rara pergi ke bagian pakaian laki-laki dan memilih sesuatu.


'Ingin beli kan Reyhan apa ya...' Rara berkeliling memilih barisan jas yang bergantungan.


'Sepertinya ini bagus, sesuai pakaianku yang akan di pakai untuk nikahan Galih nanti. Lucu kan biar nanti couplean hihi' Rara memilih jas berwarna merah maroon.


Setelah puluhan menit Rara dan Reina berbelanja, akhirnya mereka selesai dan menemui Reyhan yang sudah menunggu di depan toko.


"Banyak sekaliiiii" Reyhan terkejut melihat belasan paper bag yang ada di tangan Reina.


"Haha.. karena kakak ipar tidak mau berbelanja jadi aku saja yang menghabiskan uang mu kak" Reina tersenyum licik.


"Apa??!! kamu menghabiskan semua isi kartu ku?!!!!" teriak Reyhan.


"Tidakkk... masih sisa ko, seperempat! hahahah" gurau Reina.


"Dasarrr....." gumam Reyhan.


"Sudah Mas... biarkan sekali-kali kan, lagian kamu sih memberikan kartumu" Rara merangkul pinggang belakang Reyhan.


Reyhan menghembuskan nafas perlahan.


"Kamu membeli apa sayang?" Reyhan melihat satu paper bag di tangan Rara.


"Oh, ini untukmu.."

__ADS_1


"Untukku??! kamu tidak berbelanja untuk dirimu?"


"Iyaa. tapi di buka di rumah aja ya. Tidak Mas... aku tidak suka berbelanja pakaian" Rara.


"Istriku ini memang tidak pandai menghabiskan uang, syukurlah..." gurau Reyhan lalu mengecup ujung kepala Rara.


"Cih... iyuhhh terus saja bermesraan di depanku!" gumam Reina kemudian berjalan mendahului meninggalkan kedua kakaknya.


'Akhirnya bisa melihat kak Reyhan bahagia bersama wanita. Tapi semenjak punya istri dia terlihat manja sekali, iyuh!' Reina.


Reyhan, Rara dan Reina melanjutkan berjalan-jalan dan melihat-melihat. Namun Reina yang berjalan di depan kemudian tiba-tiba langkahnya terhenti di depan sebuah toko besar.


"Kak.. ayok beli" Reina girang.


"Beli apa?" Rara bingung.


"Kakak ipar kan belum belanja, ayo kita belanja perlengkapan bayi aja, ayok kakkkkk" Reina merengek di depan toko perlengkapan bayi.


Rara melihat ke arah Reyhan.


"Iya.. bener kata Reina. Tidak apa-apa, beli sebanyaknya yang di butuhkan" Reyhan.


"Tapi kan anak kita lahirnya masih lama Mas.. tidak apa-apa beli perlengkapannya sekarang?" tanya Rara.


"Tidak apa-apa.. sudah ayo aku temani dan membantu untuk memilih" balas Reyhan.


Reyhan menggenggam tangan istrinya masuk ke dalam toko tersebut di ikuti dengan Reina. Mereka berjalan pelan untuk melihat-lihat ke samping kanan dan kiri, dan Rara sambil memikirkan apa saja yang kira-kira di beli terlebih dahulu. Sedangkan Reina, begitu dia melihat ada yang lucu dan menggemaskan untuk keponakannya, dia langsung memasukkannya ke dalam trolly, mereka memilih hampir semua perlengkapan bayi, mulai dari baju, alat makan, bantal, mainan, peralatan untuk menghias kamar bayi, kasur bayi, dan lainnya. Karena semangatnya Reyhan dan Reina, mereka hampir membeli se isi toko.


"Mas... bukannya ini berlebihan? kamu membeli semuanya seperti ini" Rara mulai panik.


"Sidah tidak apa-apa, biar nanti semuanya mereka kirim ke rumah, jadi jangan khawatir bagaimana cara membawanya" jawab Reyhan masih memilih-milih.


"Bukan begitu Mas... tapi ini berlebihan, tidak perlu sebanyak ini di beli semua"


"Sudah tidak apa-apa sayang.." Reyhan tersenyum mengelus pipi Rara, berusaha menenangkan istrinya agar tidak perlu cemas.


--


Setelah berjam-jam memutari mall dan memilih ini itu, Rara merengek dan mengeluh kakinya kesakitan, sehingga Reyhan memutuskan untuk pulang, hari pun sudah hampir gelap.


Sesampainya di rumah, Reyhan dan Rara langsung mandi, sementara Reina langsung pulang ke rumah orang tuanya di antar oleh pak Udin.


Reyhan keluar dari kamar mandi, dan melihat istrinya sudah cantik dan wangi duduk di kursi hias menghadap cermin, namun ada yang terlihat sedikit aneh di wajahnya.


"Sayang.. kenapa?" Reyhan.


"Banyak sekali kita menghabiskan uang hari ini Mas.." Rara.


"Hahaha... kamu takut uang kita habis?" Reyhan menghampiri istrinya, berdiri di belakang Rara dan merangkulkan tangannya di leher Rara.


Rara hanya tersenyum tipis lalu memegang tangan Reyhan yang melingkar di lehernya.


"Tidak apa-apa, untuk anak kita. Besok barang semuanya yang tadi kita beli, akan di kirim. Nanti kita Tata ruangan sebelah, kita rubah jadi kamar untuk si kecil ya" Reyhan.


Rara mengangguk dan tersenyum.


"Ya sudah.. kebawah yuk, makan terus tidur. Pasti kamu kelaparan dan kelelahan karena sudah berjalan kesana-kemari"


Reyhan menggandeng Rara menuruni tangga untuk makan malam bersama di meja makan yang sudah di sajikan makan malam oleh bi Ina.


Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote ya kakak agar author semangat untuk up😊🙏

__ADS_1


__ADS_2