
Beberapa hari berlalu..
Setelah selesainya proyek yang di kerjakan antara perusahaan Bimo dan Mia selesai, Bimo pun langsung pindah bekerja di Bekasi. Bimo juga tinggal di salah satu apartemen di Bekasi yang tidak jauh dari tempat kerjanya.
Sedangkan Rara, setelah renovasi ruko dan segala persiapan, kini Rara sudah mulai sibuk dengan toko barunya. Toko kue yang sudah beroperasi beberapa hari belakangan. Walau Rara mempunyai karyawan namun Rara masih sering memantau secara langsung untuk datang ke toko.
--
Di dalam ruang kerja barunya, Bimo sedang menata ruangan itu agar terlihat rapih dan juga agar dia merasa nyaman saat bekerja nanti.
Tok.. tok.. tok...
Suara pintu ruangan berbunyi dan seseorang datang, yang tak lain adalah pak Yosep.
"Bim.. nanti malam, ada meeting bersama Pak Jefri dan juga beliau mengajak makan malam di resto biasanya"
"Ok baik pak, saya akan datang" balas Bimo.
--
Jam makan siang, Reyhan datang ke toko kue Rara dan mengajak Rara makan siang bersama. Salah satu keuntungan Rara membuka toko kue dekat kantornya adalah Reyhan bisa makan siang bersama Rara di jam istirahat. Rara dan Reyhan makan di salah satu tempat makan langganan mereka.
"Gimana toko hari ini?" tanya Reyhan kepada istrinya.
"Sudah lumayan banyak yang beli Mas dan sudah ada beberapa pesanan kue ulang tahun buat besok" jawab Rara gembira.
"Alhamdulillah...."
"Oh iya, gimana kabarnya Mora? lama banget aku ga ketemu dia" Rara.
"Tadi ku ajak tapi katanya ada perlu sama Galih, mereka lagi sibuk menyiapkan pernikahan, nikahnya kan bulan depan" Reyhan.
"Bulan depan???!! Galih ko bilang ke aku katanya masih 2 bulanan lagi, isshhh dasar si id*ot itu, nikah sama yang mana 2 bulan lagi" gurau Rara.
"Bahkan kata Mora, kemungkinan bisa di majuin beberapa minggu lagi".
"Kita dateng kan?"
"Iya dong"
Rara menghela napas. "Hm... tinggal Bimo yang belum" lanjut Rara.
"Bimo??" Reyhan bingung.
"Iya. Aku, Mela, Sasa, Aldi, sudah menikah. Galih sebentar lagi. Tinggal Bimo yang belum.." balas Rara pelan seakan sedih.
"Heyyy!!! kamu mengkhawatirkan dia???!!" Reyhan mulai kesal.
'Isshh dia ini cemburuannya masih saja' Rara.
"Bukan begitu Mas.... bagaimana pun Bimo kan sahabat aku" jelas Rara.
"Kayaknya cuma kamu orang yang mau bersahabat dengan mantan!" seru Reyhan masih kesal.
"Dan kayakanya cuma aku yang mau nikah sama mantan" balas Rara.
"Apa??!" Reyhan terkejut.
"Hey! kamu lupa?? kamu kan mantan aku juga!" Rara tidak mau kalah kesal.
"Oh iya ya... sudah sudah.. makan"
__ADS_1
'iiisshhh menyebalkan sekali suami ku ini, untung sayang' Rara.
--
Dari jam 19.00 Bimo dan pak Yosep sudah tiba di resturant biasanya, tempat mereka meeting dan makan malam bersama klien atau partner kerja lainnya. Selang 15 menit kemudian Pak Jefri datang bersama seorang perempuan cantik berambut panjang.
'Kenapa ada dia?' Bimo terkejut melihat kedatangan pak Jefri dan perempuan itu.
'Ketemu dia lagi?' Mentari sama terkejutnya.
Perempuan yang di bawa pak Jefri adalah Mentari.
"Maaf ya saya terlambat, saya tadi ada urusan dulu, harus menjemput putri kesayangan saya ini" seru pak Jefri sambil merangkul Mentari.
'Apaaa???!! putri??!!!' Bimo.
"Oh iya tidak apa-apa pak" balas pak Yosep.
"Tidak apa-apa kan saya membawa anak saya ikut meeting dan makan malam bersama kita?" Pak Jefri.
"Oh iya tentu saja tidak apa-apa pak" Pak Yosep.
Sementara Bimo masih bengong karena terkejut.
"Perkenalkan dirimu nak" bisik Pak Jefri kepada Mentari.
"Saya Mentari.." seru Mentari sambil tersenyum dan menundukkan badan untuk menghormati.
Pak Yosep membalas dengan tersenyum.
'Dunia ini kenapa terasa sempit sekali' Bimo.
Kemudian mereka kembali duduk di kursi masing-masing.
Bimo terlihat masih bengong.
"Bim.. Bimo, pak Jefri mengajakmu berbicara" bisik Pak Yosep.
"Oh??? I-Iya pak" Bimo meringis malu.
"Anak saya ini si Mentari juga tinggal di apartemen kencana" seru Pak Jefri.
"Apaaa??!!!!" teriak Bimo terkejut.
Pak Jefri dan Pak Yosep hanya diam melihat Bimo yang berteriak.
'wkwk dasar bod*h' Mentari.
"Ma-Ma-Maaf..." Bimo terbatah.
'Kali ini bumi bukan lagi sempit, tapi menciut' Bimo.
"Oh iya Bimo, saya ingin tahu hasil dari proyek yang di kerjakan di Jakarta" seru Pak Jefri.
'Huft... kenapa aku jadi tidak fokus begini, ayo dong fokus, fokus, fokusss' Bimo.
"Proyek itu sudah selesai dan berjalan dengan lancar pak, hanya ada sedikit gangguan namun tidak menjadi masalah besar. Bahkan beberapa hari yang lalu saya bersama pak Yosep di undang datang ke perusahaan xyz oleh pak Akbar untuk syukuran atas selesainya proyek tersebut Pak" jelas Bimo.
'Huft.. syukurlah aku bisa menjelaskan tanpa terbatah' Bimo.
Bimo melirik ke arah Mentari dan ternyata Mentari juga sedang melihat ke arahnya.
__ADS_1
'Wkwk apa-apaan dia ini! curi-curi pandang' Mentari.
Pak Jefri mengangguk. "Kalau dari segi keuntungannya?" lanjut pak Jefri.
"Sangat menguntungkan pak. Baik untuk kita maupun untuk perusahaan xyz sendiri. Dari proyek tersebut selain kita mendapat keuntungan berupa materi, kita juga dapat beberapa keuntungan lainnya, seperti.... blablabla..." Bimo menjelaskan secara detail apa yang di tanyakan Pak Jefri.
'Kalau diajak ngobrol dia terlihat sangat cuek apalagi kalau diajak bercanda, tapi melihat dia berbicara mengenai pekerjaan dengan sangat lancar dan jelas, membuat dia terlihat sangat berwibawa dan cerdas' gumam Mentari sambil memperhatikan Bimo secara diam-diam yang sedang menjelaskan soal pekerjaan kepada ayahnya.
Setelah meeting membahas pekerjaan, mereka melanjutkan dengan makan malam bersama.
Mentari adalah putri satu-satunya pak Jefri, sementara ibunya atau istri pak Jefri sudah wafat. Pak Jefri memiliki rumah di daerah Depok, namun karena Mentari membangun cafe di Bekasi, Mentari memutuskan tinggal di apartemen, yaitu apartemen kencana yang ternyata Bimo juga tinggal di sana sekarang. Namun mentari tidak setiap hari tinggal di apartemen tersebut, sesekali dia pulang ke rumah ayahnya.
--
Pukul 01.55 Reyhan terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa Rara tidak ada di atas tempat tidur.
'Kemana dia' Reyhan.
Reyhan bangun dan mencoba mencari istrinya di dalam kamar mandi, tapi tidak ada. Reyhan keluar kamar dan mencoba mecari di kamar lainnya, namun tidak ada juga.
'Kemana ya'
Reyhan menuruni tangga dan berjalan menuju dapur dan terlihat Rara sedang duduk di meja makan.
"Ra..." sapa Reyhan.
"Hey... kamu bangun?" tanya Rara menyadari Reyhan mendekatinya.
"Kamu ngapain sih?" tanya Reyhan kemudian duduk di depan Rara.
"Aku merasa perutku tidak enak Mas.."
"Tidak enak gimana?" Reyhan bingung.
"Ga tau Mas... agak sakit tapi mual, tapi ga muntah" jelas Rara.
"Mual tapi ga muntah gimana sih" Reyhan masih bingung.
Kemudian Reyhan memegang dahi Rara seakan mengecek apakah Rara demam atau tidak.
"Agak anget sih.." seru Reyhan. "Biar ku ambilkan obat" lanjutnya kemudian berdiri hendak mengambil obat.
"Tidak perlu Mas" Rara menolak. "Bikinin aku mie aja ya" Rara tersenyum meringis.
"Mie?? bukan kah tadi kamu sudah makan malam?"
"Tapi aku pengen makan mie Mas... buatin ya. Pake telor, tambah cabe 5 hehe"
"Katanya tadi sakit perut.. sudah, ku ambilin obat aja, habis itu tidur lagi"
"Ga mau!" teriak Rara.
Mendengar Rara berteriak Reyhan akhirnya menatap wajah Rara, dan terlihat Rara ngambek dan bahkan hampir menangis.
'Apa-apaan sih dia ini, tumben sekali begini' Reyhan.
"Yasudah.. aku masakin, tunggu sebentar, jangan ngambek" Reyhan pasrah.
Dan Reyhan pun menuruti keinginan Rara yang tiba-tiba aneh dan tidak seperti biasanya itu.
'Jam 2 malem minta makan mie pake cabe 5, hadeh....' Reyhan.
__ADS_1
Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update😊🙏