
Hari ini, berselimut mentari pagi, di atas lautan awan putih, di bawah luasnya biru langit, dari balik jendela pesawat Bimo duduk dengan tenang dari Bali menuju Jakarta. Setelah kedatangan Mia malam itu di apartemennya, esok harinya Mia lebih dulu terbang ke Jakarta. Sejak itu juga, Mia masuk kedalam pikiran Bimo lagi, membuatnya sedikit gelisah.
Kembalinya Mia, mengingatkan bagaimana dulu usaha Bimo untuk memperjuangkan Mia, mengingatkan bagaimana sakitnya Bimo saat di tinggal menikah oleh Mia bersama laki-laki lain. Namun memang di akui, bahwa Bimo masih mencintai Mia.
--
'Sialan! kenapa Rara semarah ini? padahal harusnya aku yang marah' Reyhan.
Di dalam ruang kerjanya, Reyhan berdiri dari lantai 4 kantor memandangi keadaan luar dari balik jendela, mengingat bagaimana kemarin-kemarin, dia berdebat dengan Rara, di tambah lagi pagi tadi saat tiba di parkiran kantor, Reyhan turun dari mobil dan melihat Rara hendak memasuki kantor, namun Rara hanya memandang ke arah Reyhan seketika, lalu membuang muka dan berjalan kembali masuk kedalam kantor. Reyhan pun enggan menyapa karena bagaimanapun Reyhan merasa sakit hati dan berhak marah karena kekasihnya itu menyimpan foto laki-laki lain di dalam kamarnya.
Ini kali pertamanya Reyhan melihat Rara begitu marah, sedih, dan menangis. Walau sebelumnya Reyhan pernah melihat Rara dalam keadaan marah dan menangis saat kejadian di rumah sakit waktu itu untuk menemui ayahnya, namun entah kenapa Reyhan merasa kemarahan dan kesedihan Rara kali ini berbeda, terlihat lebih dalam dan tidak biasa.
Karena itu, Reyhan benar-benar penasaran siapa sebenarnya sosok laki-laki yang berada di dalam foto yang sudah ia musnahkan.
'Apa mungkin Mora mengetahui siapa laki-laki itu?' Reyhan.
--
Siang hari Bimo sudah tiba di Jakarta. Bimo berbaring di atas tempat tidurnya, dia sudah tiba di apartemen yang sudah di siapkan pak Yosep untuknya selama tinggal di Jakarta. Hp di saku celana Bimo bergetar. Sebuah pesan masuk.
Mia : Bim.. sudah sampai di Jakarta? nanti malam ingin makan malam bersama?
Bimo menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
'Mia, dengan kembalinya dirimu, tidak akan mengubahku. Aku akan tetap memperjuangkan Rara, sahabatku, mantanku' Bimo.
--
Mora sedang menyeruput segelas kopi hangat sambil mengerjakan laporan di dalam ruang kerjanya.
Drtttt.. drttt... hp yang berada di atas meja bergetar. Seseorang mengirim pesan kepada Mora.
Reyhan : Mor, keruangan saya sekarang!
'Reyhan? ada apa menyuruhku ke ruangannya?' Mora.
Mora : Pekerjaan saya banyak. Laporannya belum selesai.
Reyhan : Buruan! penting.
Mora : Pekerjaanku lebih penting, laporan ini ga selesai-selesai, kelar hidup aku di caci maki bu Septi.
Reyhan : Saya yang lebih berkuasa di perusahaan ini dari pada bu Septi. Cepat kesini atau mau ku pecat?!
'Iiisshhhhh sombongnyaaaaa, dia lupa foto aibnya aku yang pegang' Mora.
Mora : Ada apa sih, ruanganmu jauh banget, males ke lantai 4.
Reyhan : benar-benar ingin berhenti bekerja hari ini? Buru!
'Benar-benar menyebalkan!' Mora.
Mora : Oke, oke.. meluncur segera.
Reyhan : Jangan sampe Rara tahu kalau aku menyuruhmu kesini. Cepat.
'Hah??! Ada apa ini? apa mereka berantem?' Mora.
--
Siang menjelang sore, Bimo menelpon Galih, sahabatnya yang berada di Jakarta juga.
"Hy Gal".
"Hallo broooo! apa kabar?!" Galih.
"Lo dimana nih?"
"Masih di kantor ini. Gimana?"
"Balik jam berapa?"
"Biasa, jam 5an lah"
__ADS_1
"Gue di Jakarta nih. Shareloc kontrakan lo dong"
"Seriusss???! ngapain lo di Jakarta?"
"Udah shareloc aja. Ntar malem gue mampir" ujar Bimo.
Bimo menolak ajakan Mia untuk makan malam bersamanya dan memilih main ke kontrakan Galih sekalian melepas rindu karena sudah lama mereka tidak bertemu.
--
"Cape sekali menuju ruangan HRD padahal naik lift" Mora mengeluh di depan Reyhan kemudian duduk.
"Kamu pernah main ke apartemen Rara?" tanya Reyhan masih berdiri di dekat jendela.
"Pernah"
"Kamu tahu foto laki-laki di kamar Rara? itu siapanya Rara?"
"Hah?!!! gatau. Aku kalo main di di teras atau ruang tv atau ga di dapur masak bareng Rara. Memangnya kenapa?"
"Aku menemukan foto laki-laki di dalam kamarnya" ujar Reyhan sedikit emosi.
"Hahahah kamu cemburu?"
"Apaan sih"
"Ya kamu kenapa ga tanya langsung aja sih"
"Rara keburu marah, bahkan sampe mutusin aku"
"Hah?!! segitunyaaa???? ko bisa?" Mora heran.
"Karena foto itu ku sobek-sobek dan ku buang"
"Ya iyalah. Pantes aja Rara mutusin kamu. Kau ini cemburu tapi bod*h" ujar Mora.
"Apa kamu bilang??!!!""
"Hehe becanda" Mora meringis.
"Ya tapi jangan di sobek juga kali Reyhan.. apalagi membuangnya tanpa izin"
"Aaarrrrgghhhh" Reyhan kesal.
"Kayaknya... Galih tahu siapa foto laki-laki itu" gumam Mora.
"Galih?? siapa Galih?" Reyhan bingung.
--
'Pantas saja Rara marah dan sedih ternyata Obie sudah meninggal' gumam Reyhan dalam hati ketika keluar kantor hendak memasuki mobil.
Saat Reyhan dan Mora berada di ruangan Reyhan, Mora jadi menelpon Galih dan menanyakan tentang foto yang berada di dalam kamar Rara. Dari ciri-ciri yang Reyhan berikan, yaitu salah satunya memakai baju balap dan memegang piala, tentu saja Galih hapal siapa lagi kalau bukan Obie. Dan Galihpun akhirnya menceritakan apa yang ia ketahui tentang Obie kepada Reyhan dan Mora melalui telepon.
Memang benar. Foto yang berada di atas meja samping tempat tidur adalah foto Obie. 1 foto menggambarkan Obie sedang duduk di atas motor balapnya memakai baju balap, dan 1 foto lagi menggambarkan Rara sedang memegang piala dan di rangkul oleh Obie, foto itu di ambil saat Rara menemani Obie bertanding balapan dan menang. Foto-foto itu Rara dapatkan sebagai hadiah ulang tahun dari Obie, dan hanya itu yang Rara punya karena Rara tidak memiliki file aslinya karena di simpan di hp nya Obie. Sebab itu Rara marah dan sedih. Sebenarnya ada 1 lagi foto Rara di rangkul Bimo, namun tidak hanya berdua, dalam foto itu ada juga Galih, Aldi, Mela dan Sasa. Mungkin karena foto itu foto bersama jadi Reyhan tidak terlalu memperdulikan foto tersebut.
'Aku benar-benar menyesal, Rara pasti sangat kecewa denganku. Mengapa aku cemburu sampai lupa berfikir? Arrrghhh... apa nanti malam aku temui saja dia di apartemennya?' Reyhan.
--
20.00 Bimo sudah tiba di kontrakan Galih, dan membawa banyak makanan untuk mereka berdua.
"Wihhhhh pesta nih. Apa kabar bro?!" Galih merangkul Bimo.
"Baik.. baik..." Bimo.
"Ayo masuk" ajak Galih.
Bimo duduk di ruang tengah, sementara Galih pergi ke dapur untuk mengambil air putih dan beberapa piring untuk meletakkan makanan yang sudah di bawa oleh Bimo.
"Sejak kapan di Jakarta?" tanya Galih datang dari dapur kemudian duduk berhadapan dengan Bimo.
"Baru hari ini. Lagi mau ngurus proyek baru di Jakarta" Bimo.
__ADS_1
"Bakal lama di Jakarta?"
"Yaa... paling sebulan/dua bulan"
"Lumayan juga. Gimana, persiapan udah sampe mana?"
"Persiapan apa?"
"Nikah"
"Nikahhh??!!" Bimo bingung.
"Katanya lo mau nikah"
"Kata siapa?"
"Rara!"
'Sudah ku duga, anak itu benar-benar berfikir ke arah situ' Bimo.
"Nikah sama kambing?" gurau Bimo.
"Lah sama Mia lah"
"Dia udah nikah" jelas Bimo.
"Hah?!! serius? sama siapa?"
"Mana gue tau! gue kan ga dateng di nikahannya"
"Lah terus tau dari mana?" tanya Galih sungguh kepo.
"Pas wisuda gue, Mia dateng ngasih kabar kalo mau nikah dan nyuruh gue buat dateng ke nikahannya. Ya boro2 dateng ke nikahannya dia, dateng ke wisudaan kalian aja gue ga sempet karena kerjaan"
"Bentar.. bentar.. sumpah ya gue bingung" Galih berubah duduk dengan menggaruk-garuk kepalanya seolah sedang berfikir.
"Terus kenapa Mia bisa ada bareng keluarga lo saat wisuda, anak-anak mikirnya karena emang sengaja lo undang Mia, dan Rara juga berfikir lo jadi merencanakan pernikahan setelah wisuda, karena itu Rara marah dan mencoba menghilang agar moveon dari lo" lanjut Galih.
"Moveon?!!" Bimo terkejut.
'Kalau Rara udah berhasil moveon gimana ini?!' Bimo.
"Iya.. eh berarti selama ini salah paham?!!" Galih.
"Yaaa... begitulah..."
"Kenapa lo dari awal ga mau cerita ke gue sih bambank!!!" Galih geregetan.
"Percuma.. gue cerita juga Rara ga bakal percaya"
"Iya juga sih. Tapi setidaknya Rara kan berfikir.. sapa tau dia jadi berubah fikiran dan buka semua blokir kontak agar bisa berhubungan sama lo lagi"
"Ah sudahlah... udah terjadi mau gimana lagi" Bimo pasrah.
"Rencananya gue mau ke Bandung, buat nemuin Rara. Mumpung lumayan deket nih Jakarta-Bandung. Nanti gue atur deh kapannya, gue coba minta libur dulu sama atasan gue, lo ikut ya, temenin gue, lo tau kan alamat rumahnya Rara?"
"Lo ke Bandung yang ada ketemu ibunya doang"
"Maksudnya?!!!"
"Rara ada di Jakarta, dia juga udah kerja di Jakarta" jelas Galih.
"Seriusss?!!! dia tinggal di mana?? biar gue samperin dia" Bimo bersemangat.
Akhirnya Galih memberikan alamat apartemen Rara kepada Bimo dan Bimo pun pergi dari kontrakan Galih dan segera menemui Rara.
'Sorry Ra.. menurut gue, lo perlu ketemu Bimo untuk meluruskan kesalapahaman ini dan menyelesaikan segala urusan kalian' Galih.
--
Di dalam kamarnya, Reyhan berdiri di depan cermin sambil merapihkan rambutnya, Reyhan sedang bersiap untuk menemui Rara dan meminta maaf kepadanya.
'Semoga Rara mau memaafkanku' Reyhan.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like, share ke siapa aja untuk membaca karya ini, dan pastinya jangan lupa vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update🙏😊