
Jam kantor selesai. Rara dan Mora berjalan menuruni tangga keluar kantor. Mereka lebih memilih lewat tangga dari pada lift, karena jika lewat lift mereka harus menunggu dan mengantri, lagian tempat kerja staff keuangan juga di lantai 2, jadi lewat tangga pun tidak terlalu cape.
"Kamu tinggal dimana? pulang naik apa?" Mora.
"Aku tinggal deket sini ko, aku pulang naik ojol" Rara.
"Hah?! bareng aku aja, aku bawa motor"
'Aduh ga lucu kalo nanti dia tau aku tinggal di hotel' Rara.
"Eh gausah, aku habis ini mau mampir dulu di cafe depan, ketemu seseorang" Rara berbohong.
"Oh gitu, yaudah deh"
--
Sesampainya di hotel, Rara melihat 2 lelaki berada di depan kamarnya. Satu duduk di kursi depan kamar, sementara satunya lagi berdiri di samping orang duduk tersebut.
"Ayahh?!!" Rara.
Rupanya ayah Rara dan supir pribadinya.
"Hey nak. Baru pulang kerja?" tanya ayah.
"Ayah ko bisa di sini?"
"Kamu di sini kenapa ga kasih kabar ayah?"
Rara diam tidak menjawab dan berjalan ke pintu membuka kunci pintu dan mempersilahkan ayahnya masuk. Sedangkan supir ayahnya menunggu di luar.
"Ayah ko bisa tahu aku di sini?"
"Ibumu yang memberitahu"
'Ah ibu, kebiasaan' Rara.
"Kamu kerja dimana?" lanjut ayah.
"Di perusahaan ABC"
__ADS_1
"Kenapa ga kerja di perusahaan ayah aja?"
"Ayah.... selagi aku bisa sendiri, aku ingin bekerja sendiri"
'Aku tidak mau bergantung kepada ayah'
"Kamu kan anak ayah, gimanapun juga kamu yang nantinya akan meneruskan usaha ayah"
"Ayah.. aku kan perempuan, suatu hari nanti aku akan menikah dan ikut suamiku"
"Kan nanti bisa di urus bareng suami kamu. Sama seperti kakakmu, sekarang dia mengurus usaha ayah yang cabang Bandung bersama suaminya"
"Ayaaahh... jangan paksa aku. Lagian kan ada adik, dia kan anak laki-laki"
"Adik kamu kan masih SMA. Masih harus sekolah"
"Ayaaah.. aku bener-bener ga suka di paksa loh... Lagian aku baru hari pertama kerja masa aku langsung resign. Aku senang bekerja di sana"
'walau temanku baru Mora sih'
Ayah menghela napas seakan pasrah. "Terus sampai kapan kamu tinggal di hotel? kenapa tidak tinggal bersama ayah?" lanjut ayah.
"Aku udah cari-cari kos lewat internet yang deket-deket sini ko, ayah ga usah khawatir paling besok atau lusa aku udah dapet kos"
"Bereskan bajumu sekarang" perintah ayah.
"Ayah, aku gamau!!" Rara sedikit berteriak.
"Ini" ayah menyodorkan sebuah kunci.
Rara diam dan heran menatap ayahnya.
"Ayah tidak menyuruhmu tinggal bersama ayah. Tapi tinggallah di apartemen ayah. Walaupun apartemennya tidak terlalu mewah, setidaknya kamu bisa hidup lebih layak. Apartemennya juga tidak terlalu jauh dari sini"
Rara terkejut.
"Ayaaahh.. aku tinggal di kos-kosan aja gapapa. Waktu kuliah juga aku kan tinggal di kosan"
"Kamu katanya ingin punya toko kue, di apartemen ada dapur yang komplit ada ovennya juga, bisa kamu manfaatkan sekalian kamu berlatih bikin kue yang lebih enak. Kalau di kos kan dapurnya belum tentu komplit"
__ADS_1
Rara benar-benar terkejut dan terharu dengan apa yang di ucapkan ayahnya.
'Dari mana ayah tahu aku ingin punya toko kue. Pasti ibu'
"Terimalah, sebagai kata maaf dari ayah karena tidak hadir di wisudamu" lanjut ayah.
Rara diam dan meneteskan air mata. Rara mendekat ke ayahnya dan memeluk ayahnya sambil menangis.
'terimakasih ayah'
"Kapan ya terakhir ayah di peluk begini? sekarang kamu sudah besar, gadis kecil ayah yang dulu suka menangis melihat cicak sekarang tumbuh jadi perempuan yang mandiri" ujar ayah Rara kemudian mencium ujung kepala Rara dan membelai rambut Rara.
Rara tertawa kecil di pelukan ayahnya.
Dulu Rara adalah anak kesayangan ayahnya, Rara tidak pernah di marahi apalagi di bentak, ayahnya begitu sayang kepadanya. Setiap ujian sekolah, Rara swlalu belajar bersama ayahnya, dan ketika mendapat peringkat 3 besar di kelas, ayahnya selalu memeluk Rara sambil memegang buku rapot di tangannya. Dari kecil Rara tidak pernah meminta banyak hal apalagi barang-barang mewah, walaupun Rara tahu ayahnya termasuk orang yang berada. Namun kebersamaan dengan ayahnya tiap hari sudah cukup bagi Rara.
Tapi semua berubah ketika perempuan jahanam itu datang merebut segalanya dari tangan Rara dan keluarganya. Ayah jarang sekali pulang ke rumah, bahkan hampir tidak pernah berhubungan lagi dengan Rara. Walau Rara tahu ayahnya masih sering menanyakannya lewat ibunya. Semenjak menikah dengan perempuan jahanam itu, ayah Rara memang hampir tidak pernah berhubungan langsung dengan anak-anaknya, terutama Rara, karena Rarapun merasa kecewa dan marah, walau di dalam hatinya, Rara sangat mencintai ayahnya.
Tapi, walau begitu, ayah tidak pernah lari dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin keluarga. Ayah memberikan segalanya, rumah, pendidikan, fasilitas, uang, dll kepada Rara, ibu, kakak dan adiknya. Ayah selalu bekerja keras membangun usahanya untuk anak-anaknya kelak. Ayah membangun usaha yang sekarang beridri di Jakarta Pusat dan sudah memiliki cabang di Bandung (yang sekarang di pegang kakaknya Rara dan suaminya). Walau Rara tahu, ayahnya akan menyuruhnya mengurus usaha ayahnya yang di Jakarta, namun Rara tidak mau. Rara ingin usaha itu di teruskan adiknya saja suatu saat, dan Rara memilih bekerja sendiri dan membuka usaha sendiri suatu saat bersama suaminya.
Mungkin ayahnya Rara bukanlah suami yang baik untuk ibunya, tapi ayah Rara selalu berusaha menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk kehidupan putra putrinya.
'Ayaaah... bagaimanapun dirimu, aku tidak pernah benar-benar membencimu. Engkau tetaplah ayah terhebat, pahlawan di hidupku' Rara.
--
Akhirnya Rara membereskan pakaiannya, dan pergi ke apartemen di antar oleh ayahnya beserta supir ayahnya. Rara juga di berikan sepeda motor yang sudah di di apartemen. Apartemen ayahnya memang bukan apartemen mewah namun sangat layak dan nyaman. Apartemen yang terdiri mungkin sekitar 20 lantai (maaf Rara tidak menghitungnya hehe) dan apartemen ayahnya Rara ada di lantai 8. Apartemen tersebut tersedia 1 kamar tidur, dapur, toilet, ruang tamu, dan teras yang indah karena dari teras lantai 8 dapat melihat ke indahan kota Jakarta.
Apartemen ayah sangat bersih dan terawat, mungkin karena sebelumnya sudah di bersihkan oleh salah satu pegawai ayah, sehingga Rara tidak perlu kerepotan membersihkannya. Setelah ayah Rara berpamitan, Rara langsung segera membereskan pakaiannya, memasukkannya kedalam lemari. Ayah juga sudah menyiapkan beberapa bahan pokok di dapur dan didalam kulkas, seperti beras, susu, kopi, teh, mie instan, dan beberapa buah-buahan. Rara kemudian meracik secangkir kopi hitam dan menyuruputnya di teras apartemen. Rara memandangi sekeliling dan hanyut dalam dinginnya malam.
'Bie. Benar apa kata lo, ayah sangat menyayangiku'
Rara meletakkan kopinya di atas meja kemudian melangkah kembali ke tepi teras, berdiri sambil memejamkan matanya, mengangkat tangannya sejajar dengan dada, meminta kepada Tuhan, hatinya membaca Alfatihah.
Setiap Rara membacakan doa untuk Obie, diapun merasa nyaman dan tentram, seolah Obie menerima kiriman doa darinya dengan wajah yang tersenyum tampan.
'Semoga lo tenang, dan di tempatkan di surga-Nya Bie'
'Terimakasih ayah, terimakasih banyak Tuhan'
__ADS_1
Terimakasih, dan jangan lupa di like dan vote sebagai dukungan agar author rajin untuk update🙏🥰