Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 70 Alasan Mia


__ADS_3

"Ra... kamu pacaran sama Reyhan?" tanya Mora kepada Rara yang sedang fokus ke laptop di atas mejanya.


Rara hanya melirik ke arah Mora dan melanjutkan mengetik.


Mora kemudian duduk di depan Rara.


"Ra... ko diem aja sih.. semalem Reyhan cerita ke aku katanya udah pacaran sama kamu" lanjut Mora.


Rara langsung berhenti mengetik dan memandangi Mora. "Reyhan ngomong apa aja?" lanjut Rara.


"Ya dia telepon, katanya udah pacaran sama kamu terus aku di suruh jagain kamu kalo lagi kerja biar ga ada yang gangguin kamu di kantor"


'isssh dasar alay. yang lain ga boleh gangguin tapi dia sendiri seenaknya gangguin. Nembak aja pake pemaksaan. Mentang-mentang kepala HRD' Rara.


"Ini pertama kalinya Reyhan pacaran loh Ra"


"Hahh?!! ku kira kamu mantannya Reyhan"


"Hah? Aku? hahahahahhaha" Mora tertawa. "Reyhan itu temen satu kelasku dulu pas SMP" lanjut Mora.


"Hah? emangnya dia orang Palembang juga?"


"Engga, dia dulu pas SMP pernah ikut omnya, adik pak Santoso yang di Palembang, terus Reyhan sekolah di sana juga, tapi lulus SMP pindah ke Jakarta lagi" jelas Mora.


"Pantesan kalian keliatan udah kenal lama banget"


"Hahahah iya, aku tau semua aib nya dia pas masih jadi ABG alay yang kucel, dekil, hahahha. Karena itu walau dia di sini paling di takutin karyawan lain, tapi aku ga takut, karena kalo dia nakutin aku, ku sebar foto-fotonya jaman SMP hahahaha"


"Coba liat mana sih fotonya" Rara.


Mora mengambil flashdisk di ruang kerjanya kemudian kembali lagi ke ruang kerja Rara dan menancapkan flashdisk itu ke laptop Rara dan memperlihatkan foto-foto Mora dan Reyhan saat bersahabat jaman SMP.


"Hahaahahah.. Hahahahah... Hahahahah" Rara dan Mora terus tertawa melihat setiap slide foto, karena Reyhan begitu keliatan dekil dan alay dengan potongan rambut seperti andika kangen band (hehe).


"Dia kan anak pak Santoso ya, kenapa pas SMP dia dekil begitu" Rara masih tertawa.


"Gatau dia lebih memilih masuk di SMP biasa, dan berpenampilan seperti bukan anak orang kaya, gatau kenapa" Mora.


Rara masih senyum-senyum sendiri melihat foto-foto Reyhan di laptop.


"Tapi Ra, dari aku jaman SMP kenal sama Reyhan, dia itu ga pernah punya pacar, bahkan sampe sekarang satu kantor sama dia. Padahal banyak yang suka sama dia di kantor ini, tapi 1pun Reyhan gada yang tertarik. Dan ga nyangka dia jatuh cinta sama kamu Ra... haduhhhhh Reyhan Reyhan" Mora.


'Unik juga nih cowo' Rara.


--


Tok Tok Tok


Malam hari, Bimo sedang fokus ke layar laptop mengerjekan sesuatu di teras apartemennya, kemudian bergegas berjalan ke arah pintu ketika mendengar ada yang mengetuk pintu apartemennya.


"Mia?!!!" Bimo terkejut mendapati Mia yang berada di balik pintu tersebut.


"Hy Bim" Mia tersenyum.


"Silahkan masuk" Bimo.


--


Rara dan Reyhan sedang makan malam bersama di tempat sate di pinggir jalan.


"Kenapa sih ga masak di apartemen aja?" Reyhan.


"Aku lagi pengen makan sate" Rara.


"Masakanmu lebih enak dari sate ini" gumam Reyhan.


Rara tersenyum. "Udah jangan banyak protes, buruan habisin makannya" lanjut Rara.

__ADS_1


"Reyhan...."


"Iya sayang?"


Rara terdiam dan memandangi Reyhan yang berada di depannya. 'Mendengar apa yang di ucapkan Reyhan, kenapa aku teringat Obie ya, kalau boleh jujur, sikap Reyhan memang sedikit mirip dengan Obie' Rarapun memejamkan mata seketika dan membaca Alfatihah. Rara memang selalu mendoakan Obie ketika dia mengingat Obie.


"Hey.. ada apa, malah diem dan merem, ngantuk?" Reyhan.


'Issshhh kenapa aku bisa pacaran sama orang ini' Rara.


"Pak Santoso itu orangnya seperti apa, hampir 2 bulan aku kerja di perusahaannya tapi aku tidak pernah melihatnya di kantor"


Reyhanpun mengeluarkan hp dari saku jaketnya dan menunjukkan fotonya bersama pak Santoso kepada Rara.


Rara memperhatikan foto tersebut.


"Jangan fokus ke yang sebelah kiri, itu memang sangat tampan" Reyhan membanggakan dirinya sendiri.


"Pak Santoso lebih terlihat gagah dan maco, kumisnya bikin gemes" gurau Rara.


"Apaaa?!! seleramu seperti papahku? apa aku harus berkumis juga?!"


"Hahahah.. becanda issh.. tapi ko kamu sama pak Santoso ga ada mirip-miripnya sih" lanjut Rara masih memperhatikan foto.


"Gimana bisa mirip, aku kan bukan anak kandung pak Santoso" jelas Reyhan.


"Apaaa?!!!" Rara terkejut.


"Tidak ada yang mengetahui kalau aku bukan anak kandung pak Santoso, aku menceritakan ini sama kamu karena kamu pacarku"


Rara masih diam terkejut.


"Dari bayi aku di buang orangtuaku di pos komplek, kemudian Pak Santoso menemukanku dan membawaku kerumahnya dan mengangkatku sebagai anak. Karena di satu sisi Mamah dan Pak Santoso masih belum di karuniai anak. Namun setelah aku umur 6th, Mamah hamil dan melahirkan anaknya. Sejak itu aku merasa kasih sayang mamah dan papah berkurang, sampai lulus SD akhirnya aku berfikir bahwa aku tidak di butuhkan lagi, dan aku meminta untuk ikut adik pak Santoso ke Palembang, dan melanjutkan SMP di sana. Namun setelah lulus SMP mamah dan pak Santoso menjemputku dan membawaku ke Jakarta lagi. Mereka tetap ingin merawatku sekalipun mereka sudah mempunyai anak" lanjut Reyhan.


"Bagus dong, itu artinya Pak Santoso dan Istrinya, sangat menyayangimu. Dan lagian, kamu bukan tidak di butuhkan lagi, kamu hanya merasa cemburu dengan adikmu" ujar Rara.


"Reyhan.. walaupun kamu bukan buah hati pak Santoso dan istrinya, tapi kamu hal berharga yang pernah mereka temuin di kehidupan mereka. Percayalah..."


'Gadis ini, aku memang tidak salah jatuh cinta kepadanya, kini aku mulai menyayangimu Ra' Reyhan.


"Ah massa sih sayangkuuu" Reyhan membalasnya dengan bergurau.


"Iiihhhhhhh kesel" Rara.


Reyhan tertawa.


--


Mia duduk di ruang tamu, sementara Bimo kedapur menyiapkan minuman, kemudian Bimo datang membawa segelas es coklat dan menaruhnya di depan Mia.


"Terimakasih Bim" Mia.


"Kamu ko bisa tau aku di sini?" tanya Bimo kemudian duduk di depan Mia.


"Iya, aku menanyakan alamatmu melalui pak Yosep" jelas Mia.


'Sudah ku duga' Bimo.


"Ada perlu apa Mia?"


"Bagaimana kabarmu Bim?"


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja"


"Aku senang bisa bertemu lagi denganmu Bim"


Bimo hanya diam.

__ADS_1


"Bimo..."


"Ya"


"Ada yang mau aku omongin Bim" lanjut Mia.


"Tentang apa?"


"Tentang kita"


Bimo tertawa kecil. 'Kita katanya?'


"Mia.. sudah tidak ada kita diantara aku dan kamu"


"Bim.. kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi"


"Bagaimana aku bisa tahu, kamu langsung berubah begitu saja setelah kamu pergi meninggalkan Jogja" Bimo mulai meluapkan perasaannya.


"Kamu tidak mengerti Bim..."


"Bagaimana aku bisa mengerti? kamu secepat itu menghilang tanpa menjelaskan apapun kepadaku, Mia"


"Kamu ingat saat di teras hotel malam itu? setelah itu aku berjuang demi kamu Mia.. aku bekerja keras agar segera menyelesaikan kuliahku dan segera mencari pekerjaan yang mapan, untuk apa? untuk bisa menikahimu Mia.." lanjut Bimo.


"Aku minta maaf Bim..." Mia mulai menangis.


"Tapi, kamu gadis yang aku perjuangkan, justru entah kemana. Kamu sudah mulai mecampakkan pesan dan panggilan telepon dari ku, padahal kamu baik-baik saja dan senang sudah mendapatkan pekerjaan"


"Aku sedang berjuang untuk keluargaku Bimo.."


Bimo hanya diam.


"Bisnis papahku di ambang ke bangkrutan, karena itu aku langsung meninggalkan Jogja dan mengurus bisnis papahku agar bisnis papahku tidak bubar"


"Lalu masalahnya dimana? apakah itu mendorongmu untuk mencampakkanku? aku sadar ada yang kamu tutupin, tapi yang aku butuhkan hanya keterbukaanmu Mia"


"Aku tidak bisa cerita ke kamu Bimo, karena kamu sedang fokus menyelesaikan skripsimu.."


"Alasan!"


"Aku berjuang sendirian mempertahankan bisnis papahku Bimo..."


"Dan aku juga berjuang sendirian mempertahankanmu Mia.."


"Dan aku gagal Bim.. aku gagal menyelematkan bisnis papahku.."


"Dan tiba-tiba kamu datang membawa kabar bahwa kamu akan menikah. Kamu tidak tahu betapa hancurnya aku, Mia..."


"Dan aku terpaksa menikah dengan pria lain yang bisa menyelamatkan bisnis papahku, aku terpaksa Bimo.. aku terpaksa..." Mia menangis.


Bimo hanya diam menahan amarahnya.


"Tapi... selama sebulan aku menikah, aku tidak bahagia, selama sebulan aku terus mengingatmu, sampai akhirnya dia tahu kalau aku mencintai laki-laki lain, dan itu kamu, Bimo.. dan kemudian dia menceraikanku"


"Aku memilih bercerai dengannya, dan merelakan bisnis papahku hancur, sampai akhirnya aku memilih bekerja di perusahaan xyz, memulai semuanya dari awal lagi"


"Aku selalu berdoa.. agar suatu saat bisa bertemu denganmu dan menjelaskan ini semua, dan hari ini Tuhan mengabulkan doaku, entah hanya kebetulan semata atau memang karena kita di takdirkan bersama. Aku mencintaimu Bim.."


Bimo diam dan berjalan keluar menuju teras apartemen, Bimo berdiri di tepi teras, kedua tangannya mencengkram pagar teras, matanya memandangi gelapnya malam dengan tajam.


Mia berjalan mengikuti Bimo, melingkarkan kedua lengannya di tubuh Bimo, memeluk Bimo dari belakang.


"Aku ingin bersama denganmu lagi Bim..." ujar Mia menangis di punggung Bimo.


"Aku sangat mencintaimu Mia, bahkan mungkin sampai sekarang. Tapi dulu kamu pergi meninggalkanku, mencampakkan keseriusanku untuk menikahimu Mia... dan itu sakit, bahkan sampai sekarang masih terasa sakit" balas Bimo.


Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote sebagai dukungan untuk author. Baca juga tulisan keduaku berjudul 'Kos Pak Darso'🙏😊

__ADS_1


__ADS_2