
Sebelum tidur, sudah menjadi hal biasa untuk Rara dan Reyhan saling bercerita atau bertukar pendapat. Rara berbaring dan menempatkan dirinya bersandar diatas dada Reyhan. Begitu juga dengan Reyhan yang memeluk hangat tubuh istri tercintanya.
"Mas.." ucap Rara sambil melukiskan garis-garis tak beraturan di dada suaminya menggunakan jari-jarinya.
"Ya..."
"Saat aku keguguran dan sulit hamil lagi, apakah kamu pernah terlintas untuk menikah lagi?"
"Hah?" Reyhan terkejut dengan pertanyaan istrinya.
"Jawab jujur saja Mas.. tidak apa-apa" lanjut Rara.
"Haha.. Sayang.. kalau aku berniat untuk menikah lagi, pasti saat itu aku memilih agar dokter tidak menyelamatkanmu" jawab Reyhan.
"Kenapa kamu lebih memilih menyelamatkan ku?"
"Ra.. bukankah aku sudah pernah bilang alasannya?"
Rara terdiam.
"Bukannya aku sedang menggombal.. tapi jujur, aku tidak bisa membayangkan jika kamu pergi meninggalkanku. Tidak ada yang membangunkan ku di pagi hari, tidak ada yang menyiapkan baju dan sarapan untukku, tidak ada yang mengelola keuanganku, tidak ada yang menjaga rumah, tidak ada yang menemaniku tidur, tidak ada yang bisa aku peluk dengan hangat seperti ini" Reyhan mengeratkan pelukannya lalu mencium ujung kepala Rara.
"Mas.. maafkan aku jika aku belum bisa membuatmu bahagia"
"Justru kamulah alasan aku dalam segala hal. Kalau bukan karenamu, aku tidak akan seperti saat ini. Justru semenjak hidup bersamamu, aku merasa lebih damai, tenang, nyaman, dan pastinya bahagia".
"Aku sangat mencintaimu, Mas.." Rara merangkulkan satu tangannya di leher Reyhan.
"Haha.. kamu sedang merayuku? ingin mulai sekarang?" ledek Reyhan.
"iiihhh... aku sedang serius!" Rara memukul pelan dada Reyhan.
Tangan Reyhan mulai nakal, berjalan perlahan menuju kancing baju Rara dan membukanya dengan pelan.
"Mas...." Rara mencegah tangan Reyhan.
"Apalagi....." Reyhan sudah tidak sabar, dan menatap wajah Rara.
"Eh, muka mu sedikit pucat, sakit?" lanjut Reyhan mulai panik setelah memperhatikan dengan jelas wajah Rara.
"Aku sedikit merasa pusing Mas..."
"Biar aku carikan obat di bawah, siapa tahu bi Nana mempunyai obat pusing" Reyhan terduduk dan mulai beranjak dari tempat tidur.
"Mas!" Rara menggenggam lengan Reyhan. "Tidak usah.. Peluk aku saja" lanjut Rara mencegah dengan manja.
Melihat wajah manja Rara, akhirnya Reyhan menurut. Ia berbaring lagi dan membiarkan Rara masuk ke dalam pelukannya lagi.
"Mas.. sebenarnya aku sudah 3 bulan tidak datang bulan" seru Rara.
__ADS_1
"Serius?" Reyhan terkejut.
"Iya.. tapi kan memang aku sering telat karena minum obat, tapi biasanya sih hanya sebulan atau dua bulan.. kenapa ini sampai 3 bulan lebih ya..."
Selama Rara menjalankan pengobatan setelah keguguran, Rara hampir setiap hari mengkonsumsi obat dan vitamin yang di berikan oleh dokter. Yang terkadang itu membuat jadwal datang bulannya menjadi tidak teratur. Namun kali ini Rara merasa tidak seperti biasanya, karena sampai telat lebih dari tiga bulan, padahal sebelum-sebelumnya hanya sering telat satu sampai dua bulan saja.
"Apa kamu sudah mencoba mengeceknya menggunakan testpack?" tanya Reyhan.
"Belum.. aku takut Mas. Takut hasilnya mengecewakan"
"Sayang.. jangan begitu. Kita kan sudah sepakat apapun hasilnya, kita harus menerima dengan lapang dada. Kalau begitu bagaimana kalau besok kita periksakan ya? nanti aku antar" ajak Reyhan.
"Iya..." jawab Rara pelan.
"Tapi sepertinya di sini rumah sakit lumayan jauh. Paling dekat adanya puskesmas"
"Tidak apa-apa Mas.. kita coba ke puskesmas saja"
"Yasudah, besok aku temani"
"Terimakasih suamiku...." Rara tersenyum.
"Yasudah ayo"
"Ayo kemana?" Rara bingung.
"Jatahku belum jadi...." ledek Reyhan.
Reyhan tersenyum dan langsung berdiri mematikan lampu. Lalu menagih jatahnya.
--
Pagi hari, sarapan sudah berbaris rapih di hidangkan di tengah meja makan. Pak Santoso dan istrinya keluar kamar dan bersiap untuk menyantap sarapan pagi.
"Loh.. Reyhan dan Rara mana bi?" tanya Mamah kepada bi Ina yang sedang menyiapkan minum.
"Tadi pagi-pagi Mas Reyhan dan Mba Rara keluar, katanya mau mencari udara segar dan mampir ke puskesmas Bu..." jawab bi Ina.
"Apa Rara sakit?" pak Santoso mulai khawatir.
"Mamah juga tidak tahu pah.. tapi semalam Rara memang mengeluh pusing"
"Iya Mba Rara juga sempat mengeluh tidak enak badan Bu.." sambung bi Ina.
"Duh.. semoga menantu tidak apa-apa ya" gumam pak Santoso.
"Yasudah bi ayok ikut makan.. duduk saja tidak apa-apa, panggilkan pak Udin, pak Ujang, dan bi Nana juga" lanjut Mamah.
Akhirnya merekapun sarapan bersama dalam satu meja, namun tanpa Rara dan Reyhan.
__ADS_1
--
Setelah sempat berkeliling sebentar untuk mencari udara segar, Rara dan Reyhan tiba di sebuah puskesmas yang tidak terlalu jauh dari villanya. Setelah Rara dan Reyhan selesai melewati proses pendaftaran diri dan sebagainya, merekapun di persilahkan masuk ke sebuah ruangan dan bertemu dengan seorang bidang yang baik hati dan ramah.
Selama proses pemeriksaan, Rara dan Reyhan cukup tegang, terutama Rara yang hatinya juga merasa khawatir. Namun Rara sudah lumayan terbiasa dan terlatih untuk menerima apapun hasilnya.
"Istri saya sehat kan?" tanya Reyhan kepada bidan tersebut.
"Tentu saja pak.. istri bapak sehat. Jika istri bapak sedikit merasa kelelahan itu wajar bagi seorang ibu hamil yang usia kandungannya masih muda" ujar bidan tersebut.
"Hah???" Rara dan Reyhan terkejut bersamaan.
"Iya... setelah saya periksa dan saya lihat dari jadwal terakhir ibu datang bulan, Ibu positif hamil. Dan perkiraan usia kandungan baru memasuki minggu ke-7. Jadi wajar jika sering mulai merasa lelah atau kurang enak badan" lanjut bidan.
Rara dan Reyhan saling menatap, namun mereka juga saling diam, karena mereka bingung harus berkata apa, namun dari mata keduanya terlihat jelas sebuah kebahagiaan yang terpancar.
"Untuk detailnya.. karena ibu Rara pernah mempunyai riwayat keguguran, saya sarankan untuk kedepannya pemeriksaan lebih lanjut di dokter kandungan ya bu.."
"Baik" Rara mengangguk dan mengusap wajahnya yang ternyata mulai meneteskan air mata haru.
--
Sesampainya di villa. Terlihat pak Santoso sedang duduk bersantai sambil menyeruput secangkir kopi dan mengobrol di temani pak Ujang dan Pak Udin. Begitu juga dengan Mamah, bi Nana dan bi Ina yang sedang membersihkan taman/halaman depan rumah.
Ketika mobil Reyhan datang dan memasuki halaman villa, semua orang langsung tertuju dengan kedatangan Reyhan dan Rara. Begitu Rara dan Reyhan turun dari mobil, Mamah langsung datang dan menghampiri.
"Nak.. apa kamu baik-baik saja?" tanya Mamah kepada Rara sambil memegangi lengan Rara.
"Aku baik-baik saja Mah..." Rara tersenyum.
Reyhan mendekat dan langsung merangkulkan lengannya di pundak Rara.
"Mah.. Rara hamil" ujar Reyhan dengan pelan dan tersenyum.
Mamah langsung membelalakkan matanya dan melengkungkan bibirnya dengan jelas, menunjukkan sebuah kebahagian dan seakan tidak percaya.
"Serius?????" lanjut Mamah.
Rara hanya tersenyum dan mengangguk.
"Aaaaa.... selamat ya naaaakkkk" Mamah langsung memeluk Rara dan bahkan mencium pipi Rara sebagai ucapan selamat.
"Pahhhh.... kita akan punya cucuuuuu" lanjut Mamah teriak seakan sedang mengumumkan sebuah informasi penting.
Pak Santoso langsung berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Rara.
"Selamat ya anak ku....." pak Santoso memeluk Rara dengan kasih sayang, begitu juga Rara yang membalas pelukannya dengan penuh kehangatan.
Pak Udin, pak Ujang, bi Ina, dan bi Nana pun ikut mendengar dan menyaksikan kabar baik dan pemandangan kebahagian tersebut. Mereka saling tersenyum dan mengucap syukur, lalu mereka juga memberi selamat kepada Rara dan Reyhan dengan bergantian. Hari itu, tidak hanya Rara dan Reyhan yang awalnya cukup terkejut dan bahagia, namun satu keluarga juga sangat merasa bahagia.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote😊