
"Kayaknya nanti aku bakal pulang agak malam, soalnya aku ada janji bertemu klien" seru Reyhan kepada Rara ketika selesai sarapan dan hendak berpamitan untuk berangkat ke kantor.
Rara yang berdiri di depan Reyhan hanya terdiam lalu melangkah mendekati Reyhan, hingga wajah mereka saling berdekatan.
Rara meraih kerah baju kemeja Reyhan dan merapihkan dasi hitam yang sebenarnya sudah terpasang rapih. Sesekali Rara mengusap lembut bagian pundak Reyhan seolah-olah ada debu yang menempel di sana.
'Kenapa sih nih bocah' gumam Reyhan dalam hati.
Rara menempatkan kedua telapak tangannya di dada Reyhan lalu menjinjitkan kedua kakinya agar tubuhnya yang pendek bisa sedikit menyeimbangkan dengan tubuh Reyhan. Rara memiringkan kepalanya dan perlahan nafas Rara terasa di leher Reyhan.
"Eh eh eh.. kenapa ini" ujar Reyhan.
Rara tidak memperdulikan dan terus menciumi leher suaminya.
'Bisa agresif juga nih bocah'
"Hey mau apa" ujar Reyhan lagi.
Rara menghiraukan, dan terus melanjutkan aksinya.
Reyhan terdiam dan membiarkan istrinya menciumi lehernya.
'Yagapapa... teruskan sayang'
"Mas....." tak lama kemudian Rara menghentikan aktifitasnya dan kemudian memeluk suaminya itu sambil bergumam lembut memanggil Reyhan.
"Ko berhenti? segitu saja manjanya?" balas Reyhan kemudian membalas pelukan Rara.
"Kamu kan mau berangkat kerja" jawab Rara masih memeluk suaminya.
"Tidak, kata siapa" seru Reyhan lalu dengan sigap menggotong tubuh Rara, dan menempatkannya di atas meja dapur.
Reyhan berdiri di depan Rara yang terduduk di meja, lalu melepas dasi dan membuka kancing kemejanya satu persatu.
__ADS_1
"Haha... Mas.. kamu kan mau berangkat kerja" Rara tersenyum menahan tawa.
"Kamu pagi-pagi membuat junior ku berdiri, tanggung jawablah"
Reyhan langsung melumuri bibir Rara dengan kecupan.
"Mas.. masa di dapur ih"
Reyhan langsung menggendong Rara menuju sofa ruang tengah. Dan mereka pun bercinta di pagi hari, dan Reyhan mengulur waktunya untuk berangkat ke kantor. Tidak peduli akan terlambat nantinya. Entah kenapa, pagi itu, Rara benar-benar ingin bermanja dengan suaminya. Itu adalah momen langka bagi Reyhan, karena jarang sekali Rara menunjukkan sikap manjanya apalagi sampai memulai duluan.
--
"Loh?!" Mentari sedang menyiapkan sarapan dan terkejut ketika melihat Bimo keluar dari kamar hanya memakai celana pendek dan kaos.
"Kamu tidak berangkat kerja?" lanjut Mentari.
"Hari ini biar aku kerjakan semua pekerjaan ku di rumah" jawab Bimo.
"Kenapa?" Mentari heran.
Mentari terdiam, ia heran dan bingung dengan sikap Bimo yang tiba-tiba aneh, karena baru kali ini Bimo berinisiatif untuk menemaninya, biasanya tidak mau, atau sekali pun mau harus di paksa dan marah terlebih dahulu.
Bimo berjalan mendekati Mentari, dan mereka berdiri berhadapan. Bimo meraih tangan Mentari.
"Maafkan aku yang selalu sibuk dengan dunia ku sendiri. Aku tidak bermaksud tidak peduli denganmu, hanya saja, aku bersikap acuh karena aku tidak mau terlalu memikirkan soal anak. Begitu juga aku berharap agar kamu bisa menerimanya lebih santai, agar kamu juga tidak terbebani. Dari awal, aku tidak pernah memaksamu untuk segera hamil. Jadi jangan membuat dirimu sendiri merasa berat dan cemas" jelas Bimo.
Mentari terdiam dan meneteskan air matanya. Bimo langsung mengusapnya dengan lembut menggunakan jarinya.
"Sudahlah.. jangan menangis. Sudah berapa kali ku bilang, jika sudah rezeki, pasti akan datang. Jangan seperti ini terus, kamu membuat dirimu sendiri tersiksa. Jalani saja, hidup berdua denganmu itu sudah lebih dari cukup" lanjut Bimo berusaha menenangkan.
"Tapi aku ingin memberimu keturunan Bim..."
"Ya.. dan aku percaya kamu bisa. Tapi mungkin tidak sekarang, karena belum waktunya. Mungkin suatu saat nanti. Usahamu bertahun-tahun sudah cukup, sisanya biarkan Tuhan yang menentukan. Aku tidak mau membuatmu tersiksa lebih lama lagi"
__ADS_1
Setelah hampir satu tahun Bimo menikahi Mentari dan belum juga di karuniai anak, Mentari memutuskan untuk ikut program hamil. Awalnya Bimo tidak terlalu setuju karena baginya, program ataupun tidak program sama saja, kalau memang sudah rezekinya pun pasti akan di beri oleh Tuhan. Namun karena ingin membuat Mentari senang, akhirnya Bimo mengizinkan.
Tapi selama bertahun-tahun mengikuti program hamil tersebut, bahkan sampat berganti dokter berkali-kali, nyatanya Mentari belum kunjung hamil juga. Dan Bimo tahu, selama menjalani program hamil itu, Mentari sering kali merasa kesakitan, entah karena efek suntikan ataupun efek berbagai obat yang ia konsumsi secara rutin, dan bagi Bimo itu sudah membuat Mentari tersiksa, dan menyakiti dirinya sendiri.
Dan alasan Bimo menolak untuk tes kesuburan adalah, karena ia tidak ingin membuat Mentari cemas. Karena jikalau pun hasilnya ada yang mandul, entah dirinya atau pun istrinya, tetap saja akan membuat Mentari cemas. Bahkan kalau pun hasil keduanya subur, tetap akan membuat Mentari cemas, karena Bimo paham bagaimana Mentari, Mentari akan bingung dan heran dan terus berusaha keras untuk hamil. Karena itu Bimo bersikap nyantai berharap agar Mentari juga bisa lebih menerima keadaan dengan tenang tanpa kekhawatiran yang berlebihan. Namun mungkin caranya salah, hingga membuat Mentari berfikir bahwa Bimo tidak peduli dengannya.
"Kamu ingin kita tes kesuburan?" tanya Bimo.
Mentari terdiam bingung.
"Jika kamu ingin, ayo kita pergi hari ini juga. Tapi apakah kamu sudah siap bagaimanapun hasilnya?" Bimo bertanya lagi.
Mentari masih terdiam.
"Aku yakin apapun hasilnya nanti, kamu pasti tetap merasa cemas"
"Bim.. kalau aku yang tidak subur, bagaimana?" tanya Mentari.
"Apakah selama ini aku pernah memintamu untuk memberiku anak?" jawab Bimo dengan memberi pertanyaan.
Mentari terdiam dan mengingat kembali, bahwa memang selama ini, Bimo tidak pernah memaksanya untuk segera hamil, bahkan dia juga tidak pernah membahas soal anak.
"Sekarang pertanyaannya, bagaimana jika aku yang ternyata tidak subur?" Bimo bertanya balik.
Mentari terdiam.
"Mentari, tujuan utamaku menikah denganmu, bukanlah untuk mendapatkan anak. Melainkan aku ingin kamu selalu menemaniku, begitu juga sebaliknya. Aku hanya ingin menghabiskan sisa waktuku di dunia ini untuk hidup bersamamu"
Mata Mentari berkaca-kaca, ia memeluk Bimo dan ia menangis dalam dekapan Bimo.
"Sudahlah.. serahkan segalanya kepada Tuhan" ucap Bimo kemudian mengecup kepala Mentari dengan lembut.
Di hari itu, Mentari memutuskan untuk berhenti mengikuti program hamil, bukan karena menyerah, namun Mentari mulai mengerti apa yang di katakan oleh suaminya, bahwa sekeras apapun usaha kita, segala sesuatu yang menentukan tetaplah Tuhan. Dan Mentari merelakan segalanya kepada yang maha memiliki kehidupan. Karena sesuai perkataan Bimo, jika sudah rezekinya, pasti akan datang di waktu yang tepat, bukan di waktu yang cepat.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote😊