Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 85 Pertemuan Bimo dan Mentari?


__ADS_3

Setelah makan malam bersama kemudian Rara mencuci piring. Di tangga terdengar langkah kaki yang tak lain adalah Reyhan, yang sedang menuruni tangga dan membawa satu paper bag cukup besar, kemudian Reyhan duduk di ruang tv dekat dapur.


"Sayang..." panggil Reyhan.


"Ya?" jawab Rara sambil tetap mencuci piring.


"Sini" perintah Reyhan.


"Sebentar.. ini belum selesai" lanjut Rara.


Rara pun segera menyelesaikan pekerjaannya kemudian langsung menghampiri Reyhan yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.


"Ada apa?" tanya Rara kemudian duduk di sebelah Reyhan.


"Masih sakit?" Reyhan bertanya balik.


"Engga" jawab Rara.


Reyhan tersenyum.


"Ini" kemudian Reyhan menyerahkan paper bag yang ia bawa tadi.


"Apa ini?" Rara bingung.


"Kado pernikahan dari ku"


"Hah? memangnya pengantin perlu ngasih kado juga? tapi aku tidak membelikan kado untukmu"


"Cukup menerimanya saja itu sudah jadi kado untuk ku" balas Reyhan.


Akhirnya Rara menerima paper bag tersebut lalu membuka dan mengeluarkan isi di dalam paper bag tersebut.


Muka Rara langsung terkejut dan mendadak pucat pasi.


"Pakailah setiap malam" seru Reyhan.


"Kamu mau membuatku masuk angin setiap hari?!! Aku tidak mau!" protes Rara.


"Yasudah... pakai setiap Senin malam dan Kamis malam juga malam Minggu" Reyhan masih berusaha.


Rara masih diam cemberut.


"Hey... kita kan sudah jadi suami istri, bahkan Rasul saja menganjurkannya. Dapet pahala loh" bisik Reyhan mencoba merayu.


"Kenapa harus malam Minggu juga?"


"Itu bonus untukku.." Reyhan meringis.


'Issshhh.. menyebalkan' Rara.


Isi paper bag tersebut adalah 10 biji lingerie berwarna hitam, pink, putih, biru, cream, kuning, coklat, ungu, hijau, dan abu-abu. Reyhan benar-benar menuruti apa kata Mentari, Reyhan ingin membuat istrinya terlihat seksi hampir setiap malam.


"Malam ini pakailah yang warna putih" seru Reyhan.


"Apa?!! malam ini lagi??!!"


"Iyalah, kalau perlu setiap hari" gurau Reyhan.


'Aarrggg.. gila apa ya, tugas ku kan banyak, bukan hanya melayani mu di atas ranjang Reyhaaaannn' Rara.


"Tapi ini kan belum di cuci!" Rara berusaha beralasan agar Reyhan membatalkan keinginannya.


"Itu bahannya bagus, tidak apa-apa, lagian hanya di pakai sebentar"


"Sebentar?!"


"Iya kan kalo sudah ku lepas juga itu akan tergeletak di lantai"


'Dasar.. Siapa sih yang pertama kali menciptakan ide untuk membuat baju semacam ini?! apa coba tujuannya? kalau dalam beberapa menit saja sudah tergeletak di lantai, lalu untuk apa pakaian ini di ciptakan' Rara kesal.


"Sudah sana naik ke atas dan pakai.. 10 menit lagi aku menyusul ke atas" lanjut Reyhan.


'Benar-benar dia ini. Harusnya tadi aku bilang saja masih sakit, arrghh..' Rara.


Rara selalu teringat apa kata ibunya, bahwa selagi kita sudah menjadi seorang istri, maka patuhi segala keinginannya suami, karena memuaskan suami juga sudah menjadi kewajiban seorang istri. Dan akhirnya Rara menuruti keinginan suaminya. Ia naik ke kamar atas dan berganti pakaian sesuai yang di perintahkan Reyhan. Rara sudah duduk bersandar di atas ranjang dengan jantung yang berdegup kencang. Tentu saja Rara masih merasa aneh dan malu walau memang tak semalu kemarin malam.


Tak lama kemudian, Reyhan membuka pintu kamar lalu menguncinya.


Reyhan langsung berjalan dan naik ke atas tempat tidur, dan langsung menerkam Rara tanpa jeda.


(Maklumin, pengantin baru guys wkwk)


--


Pagi hari, cahaya malu-malu menyelinap ke jendela, di bawah selimut Rara menyadari dirinya tidak memakai busana dan Mendapati Reyhan tepat di sampingnya sambil memeluk tubuh nya dengan erat.


'Setiap tidur dia memeluk ku seperti ini, seakan aku tahanan yang tidak boleh kabur melarikan diri' gumam Rara dalam hati sambil memandangi wajah suaminya yang sembunyi di lehernya.


"Reyhan...." Rara mencoba membangunkan Reyhan sambil menyentuh pipinya perlahan.


Reyhan tak menjawab.


"Mass.... ayo bangun, sudah pagi"


Reyhan masih tetap tidak menjawab tapi badannya bergerak, mengeratkan pelukannya.


"Ya sudah kalau masih mau tidur, setidaknya lepaskan pelukanmu. Aku mau mandi mas.."


"Hmmmmm" Reyhan hanya mengeram.


"Mas.... aku mau mandi lalu menyiapkan sarapan untuk mu" Rara berusaha melepaskan diri.


"Cium aku dulu" ujar Reyhan namun masih memejam matanya dan masih bersembunyi di leher Rara.


"Mmuuachhh.." Rara mencium ujung kepala suaminya.


Akhirnya Reyhan pun melepaskan pelukannya, namun melanjutkan tidurnya. Sementara Rara, dia segera beranjak ke kamar mandi dan keramas, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan .


1 jam kemudian, Reyhan turun sudah memakai pakaian kerja yang sebelumnya sudah di siapkan Rara. Kemudian Reyhan duduk di meja makan. Sudah tersedia sup baso dan telur dadar serta beberapa buah yang sudah di potong-potong oleh Rara. Rara mengambil minum lalu duduk di depan Reyhan untuk sarapan bersama.


"Sayang... " ucap Reyhan.


"Ya?"


"Ayok bulan madu"


"Bulan madu?!!" Rara terkejut


"Iya.. kita kan belum pernah pergi jalan-jalan bersama. Kamu mau kemana?"


"Apa itu tidak berlebihan mas?"


"Ra.. bulan madu itu wajar buat pengantin baru. Bagaimana kalau kita ke Jepang?"


"Apa?!! Jepang?!!"


"Iya.. kamu kan belum bertemu dengan adik ku"

__ADS_1


Ayah pak Santoso atau kakek Reyhan merupakan asli orang Jepang, setelah lulus SMA adik Reyhan pun memutuskan melanjutkan sekolah di Jepang, karena itu pak Santoso juga sering ke Jepang untuk urusan bisnis dan juga menengok anaknya.


Selama ini, Rara memang belum pernah bertemu dengan adiknya Reyhan, bahkan saat kakaknya itu menikah, dia tidak pulang karena katanya sedang ujian.


"Tapi kata mu adik mu kan sebentar lagi juga mau pulang. Lagian aku lebih cinta Indonesia mas" jawab Rara.


"Apaa?? kamu lebih mencintai Indonesia dari pada aku??!"


'Issshh apaan sih suamiku ini cemburuan sekali'


"Ya sudah.. kamu maunya kemana? Bali? Lombok?" tawar Reyhan.


'Sebenarnya ingin sekali aku naik gunung lagi, lama banget ga naik gunung. Tapi.. sepertinya jika naik gunung bakal ribet kalau untuk bulan madu, ah sudahlah..' Rara.


"Sudahlah Mas... bagiku di rumah saja juga sudah seperti bulan madu"


"Itu kan bagi kamu, bagiku beda dong sayang... enaknya kemana ya? kamu benar-benar tidak memikirkan ingin pergi kemana gitu?"


Rara diam dan seolah berfikir.


"Mmm.. aku ingin... ke.. Purwokerto Mas"


"Purwokerto??" Reyhan heran.


Rara mengangguk.


"Memangnya di sana ada tempat bagus?" lanjut Reyhan.


"Ada"


"Mmmm yasudah, nanti aku coba kosongkan jadwal di minggu depan ya"


Rara tersenyum.


"Oh iya Mas.. nanti siang aku mau ketemu Galih dan Bimo gapapa ya?"


"Mau ngapain?"


"Mmm.. sekedar ngobrol aja sih.. aku kan sering berkumpul dengan mereka"


"Tapi sekarang kamu istri ku, jangan terlalu sering bertemu laki-laki lain" jawab Reyhan judes.


"Jadi kamu mengizinkan atau tidak" Rara tak kalah judes.


"Yasudah..tapi beri aku ciuman dulu" Reyhan tersenyum licik.


'Selalu ada maunya' gumam Rara kesal.


Mau tidak mau, agar di izinkan oleh Reyhan, Rara pun mengikuti keinginan Reyhan. Rara beranjak mendekati suaminya yang sedang duduk di kursi makan. Melihat Rara yang mendekat, Reyhan langsung merubah arah posisinya, siap menerima pelukan dari istrinya. Rara merangkulkan kedua tangannya di leher Reyhan dan sedikit menundukkan badannya, sedangkan Reyhan tetap duduk sambil melingkarkan tangannya juga sedikit mengangkat tubuhnya agar bisa memeluk tubuh Rara yang berdiri memeluknya. Dan merekapun berenang dalama kemesraan.


"Yasudah aku berangkat dulu" ujar Reyhan setelah mendapatkan keinginannya.


Reyhan berpamitan berangkat kerja, dan Rara mengantarnya sampai ke halaman depan. Tak lupa, sebelum pergi Reyhan mendaratkan kecupannya di kening istri tersayangnya.


Semenjak Rara menyetujui untuk menikah, Reyhan melarangnya untuk bekerja di perusahaan, karena bagi Reyhan itu sudah menjadi kewajibannya yang mencari uang untuk istrinya. Dan Rara pun menuruti perintah Reyhan sehingga Rara tidak lagi masuk kerja.


--


Di kantor, Mia melihat Bimo sedang fokus menganalisis data di laptopnya, Mia berinisiatif membuatkan kopi untuk Bimo. Mia mendekati Bimo dan menyerahkan secangkir kopi yang di letakkan di samping laptop Bimo.


"Eh Mia.. tidak perlu repot-repot" Bimo terkejut dengan kedatangan Mia yang membawakannya kopi.


"Tidak apa-apa.. untuk menghilangkan kelelahan mu" jawab Mia.


Bimo tersenyum.


"Ya?"


"Proyek yang sedang kita kerjakan, sebentar lagi selesai. Apakah kamu akan kembali ke Surabaya?" tanya Mia.


"Mm... sepertinya begitu, kantor ku kan di sana"


"Kamu tidak coba mendaftar saja di sini, kantor tempatku bekerja pasti akan menerima mu"


"Haha.. kenapa juga aku harus mendaftar di kantor tempatmu bekerja? aku kan sudah mendapat pekerjaan" jawab Bimo santai.


"Mmm.. a-aku..." Mia terbatah.


Tiba-tiba hp Bimo berdering.


"Sebentar ya" Bimo meraih hp nya lalu berdiri dan berjalan menjauh dari Mia untuk menerima telepon masuk.


'Pak Yosep?'


"Halo pak?" Bimo.


"Bim.. nanti malam bisa temui saya?"


"Bisa pak..."


"Ya sudah, jam 19.00 saya tunggu di Cafe Meriju ya"


"Baik pak"


'Cafe Meriju? dimana itu?' Bimo.


Setelah menutup telepon dari pak Yosep, Bimo kembali ke meja kerjanya di mana sebelumnya juga ada Mia yang duduk di depannya.


"Siapa Bim?" tanya Mia.


"Ini pak Yosep.." jawab Bimo santai.


"Oh iya.. nanti malam.. papah ku mengundangmu untuk makan malam bersama di rumah ku" seru Mia.


Mia memang bukan asli Jakarta, namun setelah bisnis ayahnya bubar, Mia bekerja keras menjadi tulang punggung keluarganya, karena Mia adalah anak satu-satunya. Setelah kegagalan yang di alami Mia dan keluarganya, kemudian Mia bekerja di perusahaan xyz yang berada di Jakarta dan tinggal bersama om dan tantenya di Jakarta, kedua orang tua Mia pun ikut bersama Mia ke Jakarta.


Setelah Mia mengetahui satu proyek bersama Bimo, Mia juga menceritakan itu kepada orang tuanya. Tentu saja kedua orang tua Mia senang, anaknya bertemu Bimo lagi, karena bagaimana pun dulu kedua orang tua Mia sempat merestui hubungan Mia dan Bimo.


"Aduh... maaf banget ya Mia.. nanti malam aku sudah ada janji ketemu pak Yosep" Bimo tersenyum merasa tidak enak.


"Oh begitu... ya sudah tidak apa-apa.. oh iya, sebentar lagi jam makan siang, mau makan bersama?" Mia belum menyerah.


'Dia ini.. masih saja berusaha' Bimo.


"Aku.. aku sudah ada janji dengan Rara dan Galih, Maaf ya Mia.."


"Oh..... yasudah, oh iya titip ucapan selamat dari aku untuk Rara ya, selamat atas pernikahannya, sampaikan maaf ku karena tidak hadir memenuhi undangannya"


"Ok Mia.. nanti aku sampaikan. Mmm.. permisi ya aku mau siap-siap makan siang" Bimo mengambil dompet dan kunci mobilnya lalu keluar dari ruangan meninggalkan Mia begitu saja.


'Padahal Rara sudah menikah dengan yang lain, tapi dia masih saja belum mau menerima ku lagi' Mia.


--


Rara, Bimo dan Galih bertemu di sebuah tempat makan dekat tempat kerjanya Galih.


"Lo udah izin kan sama Reyhan kalo mau ketemu kita?" tanya Galih kepada Rara.

__ADS_1


"Iya udah..... Oh iya Aldi kemarin jadinya nginep dimana?" Rara.


"Di apartemenku, Galih juga. Besoknya langsung deh kita anterin Aldi ke stasiun" Bimo.


Rara mengangguk-angguk.


"Oh iya Ra.. berarti sekarang lo ga kerja lagi?" tanya Galih.


"Iya engga, Reyhan melarang ku untuk bekerja. Tapi.. rencananya gue bakal bikin toko kue"


"Mmm.. Bagus dong, tiap hari mampir ah minta gratisan" gurau Galih.


"Enak saja!" Rara.


"Ada titipan selamat dan permohonan maaf dari Mia, Ra.." tiba-tiba Bimo menyambung.


"Hah?! Oh iya.. aku ga liat Mia di nikahan ku, apa kamu ga bareng Mia Bim?"


"Ga" jawab Bimo singkat.


"Kamu kekeh tidak ingin memberinya kesempatan Bim?" tanya Rara dengan pelan karena takut Bimo marah.


"Jika kamu saja tidak ingin kembali dengan ku, untuk apa juga aku kembali dengannya"


'Waduh.. kenapa Bimo jadi sensitif gini' Rara.


"Eh... Eh... masih aja bahas kenangan. Sudah.. sudah.. Bimo ini berusaha mendekati perempuan saat di acara nikahan lo Ra.." Galih mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Hah?!!! apa-apaan sih lo! siapa juga yang deketin cewe" Bimo tidak terima.


"Eeeehhh... lupa? kau kan sedang ngobrol sama perempuan saat di parkiran" Galih.


"Perempuan? siapa?" Rara kepo.


'Apa aku cerita saja ya, sapa tau Mentari adalah teman dekatnya Rara. Tapi... ah sudahlah nanti mereka malah mengejek ku' Bimo.


"Jangan dengerin Galih, Ngarang! sudah ayo makan" Bimo tidak ingin melanjutkan pembicaraan.


--


Setelah sholat Maghrib, Bimo sudah mandi dan sudah bersiap untuk menemui pak Yosep, atasannya. Bimo mencoba mencari tahu cafe Meriju melalui internet yang ternyata terletak di daerah Bekasi. Bimo segera menuju ke sana dituntun oleh aplikasi Map.


Dan akhirnya Bimo sampai di sebuah cafe yang cukup besar dan ramai. Pak Yosep menghubungi untuk menemuinya di meja 34. Ternyata Bimo terlambat, pak Yosep sudah lebih dulu datang dan bahkan sudah memesankan minuman dan makanan untuk Bimo.


"Aduh maaf ya pak, saya terlambat" mohon Bimo.


"Tidak apa-apa, duduk lah"


"Bagaimana pak, apa ada masalah pekerjaan? atau pekerjaan saya tidak becus?" tanya Bimo setelah duduk berhadapan dengan pak Yosep.


Pak Yosep tertawa. "Bukan.. justru pekerjaan mu selalu bagus. Begini Bimo.. proyek antara perusahaan kita dan perusahaan xyz yang di kerjakan di Jakarta ini, Minggu depan kan selesai. Dan rencananya.. kamu tidak saya kembalikan ke Surabaya"


"Hah? kenapa pak? apakah saya di berhentikan bekerja di perusahaan?" Bimo terkejut.


"Bukan.. bukan.. justru kamu di pindahkan di Jakarta. Perusahaan kita kan mempunyai anak perusahaan di Bekasi lebih tepatnya dekat sini, saya berencana akan memindahkan mu di anak perusahaan yang di Bekasi, dan saya akan mempercayakan kamu untuk mengurusnya, dengan kata lain kamu saya angkat jadi pimpinan di cabang perusahaan ini" jelas pak Yosep.


Bimo menelan ludah seakan tidak percaya.


-


Sementara itu, di sudut lain, Mentari sedang meracik kopi pesanan pelanggannya, dan dia melihat ke arah meja 34. Terlihat laki-laki muda nan tampan sedang mengobrol serius dengan seorang bapak-bapak berdasi.


'Kenapa rasanya aku mengenal dia ya, apakah aku sebelumnya pernah bertemu dengannya ya?' Mentari.


-


"Saya sudah menyiapkan tempat tinggal dinas untuk mu, sebuah apartemen di Bekasi yang tidak jauh dari sini. Jika kamu bersedia, mulai Minggu depan kamu bisa langsung pindah ke Bekasi" lanjut Pak Yosep.


"Ba-baik pak.. saya bersedia" tegas Bimo.


Bimo memang laki-laki pekerja keras. Soal pekerjaan dia sangat tegas dan konsisten. Tapi dalam percintaan, Bimo masih sering berubah-ubah arah.


Setelah obrolan dan makan malam bersama selesai, Bimo mengeluarkan dompetnya dan berdiri hendak membayar semua pesanan Pak Yosep.


"Eh mau kemana? sudah letakan dompetmu dan duduk lah kembali. Semua pesanan ini sudah di bayar" ujar pak Yosep.


Bimo pun meletakkan dimpetnya di atas meja dan langsung menyalami pak Yosep.


"Terimakasih banyak pak.. padahal kali ini bisa menjadi kesempatan saya untuk mentraktir bapak sebagai rasa terimakasih dan bersyukur saya"


"Haha.. tidak apa-apa lain kali saja. Kalau begitu saya pamit dulu ya" seru pak Yosep.


"Oh mari pak, saya juga langsung pulang saja"


Bimo dan Pak Yosep langsung berjalan keluar cafe dan pulang.


--


Setelah kepergian pak Yosep dan Bimo, salah satu pelayan menghampiri meja nomor 34 untuk membersihkan meja tersebut. Namun pelayan menemukan dompet berwarna hitam. Pelayan tersebut segera memberikan dompet temuannya kepada Mentari yang merupakan pemilik cafe.


"Mbak Mentari.. ini sepertinya ada dompet yang tertinggal" pelayan memberikan dompet itu.


"Oh? ok terimakasih.."


Mentari memperhatikan dompet yang sedang ia pegang.


'Apa aku buka saja ya dompetnya, sapa tahu ada kartu nama atau sejenisnya agar aku bisa menghubungi pemilik dompet ini' Mentari.


Dan akhirnya Mentari memberanikan diri untuk melihat isi dompet tersebut. Dan ketika membukanya, yang pertama kali terlihat adalah sebuah foto perempuan.


'Foto perempuan? hah? bukankah ini foto.....'


* * * * *


Reyhan duduk di sofa sambil menonton tv. Rara datang menghampiri lalu duduk di samping Reyhan.


"Mas..." Rara merengek sambil menggoncang-goncangkan lengan Reyhan.


"Ya? kenapa?" tanya Reyhan.


"Ada yang memarahiku..."


"Hah? siapa yang berani memarahi mu selain aku?"


"Itu"


"Itu mana?" Reyhan heran.


"Ituuuu yang sedang membaca Mas.. katanya mereka kecewa karena aku memilih menikah dengan mu dari pada sama Bimo"


"Apa??!!! Mana.. mana yang bilang kecewa?! hey kalian, dengarkan ya, bagaimana pun, aku mantannya Rara juga dan aku lebih setia dan bisa membuat Rara bahagia, beda dengan Bimo. Jadi jangan suruh Rara memilih Bimo, enak saja! Ok???? harus bilang Ok!!! dan biar ku kasih bocoran sedikit ya.. Bimo juga akan segera menikah. Dengan siapa hayo? mangkannya tetap baca!"😉


* * * * *


Waduh.. maafin Reyhan ya guys.. emang gitu orangnya😁✌️


BTW Marhaban ya Ramadhan... selamat menunaikan ibadah puasa ya teman-teman, semoga kita semua senantiasa di berikan kesehatan agar bisa menyelesaikan ibadah puasa satu bulan penuh. Walau lagi puasa tetap semangat🙏🥰

__ADS_1


Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update😊🙏


__ADS_2