
'Bagaimana dia bisa sampai di sini? dasar menyebalkan. Tau ah!' gumam Rara memandangi Reyhan yang masih tertidur pulas di kursi kayu.
Rara mencoba tak memperdulikan dan masuk ke dalam kamarnya. Mendengar ada suara yang sedang membuka kunci pintu, Reyhan membukakan matanya dan terbangun.
Rara masuk ke dalam kamar dan Reyhan langsung ikut masuk dan menyusul Rara dari belakang.
Rara hanya terdiam tanpa berbicara apapun, Rara berdiri di depan meja yang di dindingnya terdapat kaca besar sehingga Reyhan bisa melihat wajah Rara dari kaca tersebut. Rara sedang meletakkan tasnya di atas meja tersebut sembari melepas jam tangan dan lainnya berusaha untuk menyibukkan dirinya. Namun terlihat kesedihan dan kemarahan di wajah Rara.
Reyhan pun hanya terdiam dan bingung harus memulai bicara dari mana. Saking bingungnya ia tidak tahu harus berkata apa, yang ia inginkan hanya memeluk istrinya.
Reyhan melangkah maju dan berusaha memeluk Rara dari belakang, namun Rara menggeser tubuhnya sedikit menjauh berusaha menghindar. Reyhan tidak mau kalah, ia melangkah lagi dan melingkarkan erat kedua tangannya sampai ke depan perut Rara, mencium pundak Rara.
Begitu juga dengan Rara yang masih tidak mau kalah, ia mencoba menghindar lagi, dan berusaha melepaskan kedua tangan Reyhan yang memeluk erat dirinya. Namun genggaman tangannya yang melingkari tubuh Rara, rupanya sangat kencang dan erat, Reyhan benar-benar tidak mau melepaskan dekapannya.
"Lepaskan" akhirnya Rara mengeluarkan satu kata.
Reyhan tidak memperdulikan, justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan... kamu bau asem!" seru Rara masih berusaha melepaskan dirinya.
"Kamu juga" balas Reyhan bergumam di pundak Rara.
'Kurang ajar!'
Ya, memang sebenarnya keduanya sama-sama belum mandi sore dan wajar jika keduanya tercium bau-bau yang kurang pantas di hidung. Yang tadinya Rara berusaha bergurau agar keadaan tidak terlalu panas, justru ia juga terkena imbas dari usaha gurauannya.
"Aku sesak napas!" teriak Rara beralasan.
Akhirnya Reyhan pun melepaskan pelukannya, alasan Rara yang kedua rupanya membuat Reyhan tidak tega.
"Kemana saja kamu? aku menunggu dari tadi" seru Reyhan.
Rara hanya bungkam.
"Sayang..." Reyhan berusaha meraih tangan Rara.
Rara langsung menarik tangannya namun terlihat matanya mulai mengeluarkan air mata dan dengan sigap Rara juga langsung menghapusnya.
"Kemarilah.." Reyhan melangkah mendekat berusaha memeluk istrinya kembali.
Tapi Rara justru melangkah menjauhi Reyhan, menuju jendela kaca besar yang masih terbuka gordennya. Rara berdiri menatap sunyinya malam dari balik jendela kaca tersebut. Bibirnya mulai bergetar seakan tak mampu menahan tangis lagi.
"Aku mencarimu" Reyhan.
"Peduli apa kamu sama aku!" terdengar suara Rara bercampur dengan tangis.
"Sayang...." Reyhan melangkah mendekati Rara lagi.
__ADS_1
"Jangan mendekat!" Tegas Rara secara langsung sambil mengulurkan kedua tangannya kedepan seakan membuat benteng pertahanan untuk dirinya.
Reyhan tidak peduli, dan menepis begitu saja tangan Rara, menerobos pertahanan istrinya. Dengan cepat langsung memeluk Rara tanpa ampun.
"Lepaskan! Tidak mau! lepaskan Reyhan!" Rara berteriak seakan sedang dalam ancaman, menghujani tubuh Reyhan dengan pukulan kecil.
"Tidak akan aku lepaskan" gumam Reyhan terdengar dari telinga Rara yang sedikit bercampur tangis, rupanya Reyhan pun mulai tak sanggup menahan sedih yang ia rasakan.
"Hiks.... hiks... hiks... Ga-ma-u.. Ga-ma-u Reyh-han..." suara Rara mulai gagap karena tangis yang tersedu.
"Maafkan aku.. maafkan aku...." Reyhan mendekap erat Rara dengan tangis yang ikut mengalir.
Hikks... hiks... hiksss..... Rara terus menangis. Berusaha memberontak agar terlepas dari dekapan Reyhan pun percuma, karena Reyhan memeluknya sangat erat.
Reyhan memejamkan matanya dengan pipi yang sudah basah karena air mata, melingkarkan erat kedua tangannya, memeluk Rara dengan sangat erat seolah tidak akan melepaskannya untuk selamanya.
'Menangislah Ra... sekarang aku ada di sini'
Rara benar-benar menangis sejadinya sampai tidak mampu berkata apapun, ia mulai sesenggukan sampai rasanya sulit bernapas. Tubuhnya pun mulai lemas karena tenaga yang hampir habis di keluarkan untuk menangis. Namun pelukan Reyhan seakan menahan diri Rara agar tidak terjatuh ke lantai.
Terus, terus, dan terus menangis. Rara meluapkan segala kesedihan, sakit, marah, dan juga rindu, ke dalam dekapan Reyhan. Lama sekali Rara menangis benar-benar sampai sesenggukan tak berbicara apapun, dan tentu saja ini kali pertamanya Reyhan melihat Rara menangis sampai sebegitunya, dan itu karena ulah dirinya.
"Maafkan aku membuat mu sampai seperti ini" Reyhan menciumi kepala Rara yang bersandar di dalam dadanya.
Pelan-pelan, tangis Rara mulai mereda, isak tersedu mulai berkurang, suaranya sudah mulai tenang, nafasnya mulai teratur. Rara memasrahkan dirinya di dalam pelukan Reyhan.
Ketika Rara sudah tenang dan tak terdengar isak tangis lagi, perlahan Reyhan melepaskan dekapannya. Menempatkan wajah Rara tepat di hadapannya, namun wajah Rara terus tertunduk seakan tak mau menatap wajah Reyhan.
Reyhan meraih dagu Rara dengan jarinya, lalu sedikit mengangkatnya pelan agar tepat lurus memandang matanya. Terlihat kemarahan di wajah Rara mulai runtuh, namun kesedihan dan kepedihan terlihat jelas di mata Rara yang mulai bengkak karena terus menangis. Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
Reyhan menatap tajam mata Rara seakan tak berkedip. Mengelus lembut wajah Rara dengan ibu jarinya. Benar saja, Rara meneteskan air matanya lagi, pertanda menunjukkan segala luka yang ia simpan. Reyhan meraih wajah Rara dan hendak mencium bibir istrinya, namun Rara memanglingkan wajahnya. Rupanya Rara masih enggan untuk di sentuh salah satu bagian sensitifnya. Reyhan pun tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah.
"Maafkan aku..." lagi lagi Reyhan hanya bisa berkata itu. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa, dan memang hanya kalimat itu yang terus menghantui di hati maupun pikirannya.
Mungkin memang benar, bahwa laki-laki adalah makhluk yang sulit berkata-kata. Namun bukan berarti tak bersungguh-sungguh. Justru karena kesungguhannyalah yang membuatnya sampai tak mampu berkata-kata.
"Kamu sudah makan?" akhirnya Rara mengeluarkan suaranya, dan yang keluar hanya lah pertanyaan itu, pertanyaan yang tidak asing lagi, pertanyaan yang hampir setiap hari ia ajukan kepada Reyhan.
Benar, seorang istri memang tidak akan membiarkan suaminya kelaparan. Apalagi melihat Reyhan yang sampai tertidur di kursi kayu tadi, membuat Rara berfikir bahwa Reyhan sangat kelelahan.
"Biar aku pesankan makanan dulu" seru Rara kemudian berjalan menuju meja lagi untuk mengambil ponselnya dan memesan makanan melalui aplikasi online. Sambil menunggu makanan datang, Rara masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang seharian telah mengelilingi Jogja bersama Mela.
--
Setelah keduanya selesai mandi bergantian, kemudian mereka makan malam bersama yaitu menu yang sebelumnya sudah di pesan melalui online. Saat makan bersama, Rara benar-benar tidak berkata apa pun, bahkan ia juga tidak melihat ke arah Reyhan sama sekali. Dan Reyhan memaklumi itu.
Begitu makan malam selesai, keduanya memutuskan untuk beristirahat, Rara sudah terbaring di atas tempat tidur menghadap tembok alias membelakangi. Tentu saja mereka tidur satu ranjang, karena di dalam kamar penginapan hanya terdiri satu tempat tidur saja.
__ADS_1
Reyhan menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama. Ia langsung naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Reyhan mendekati Rara dan tentu saja memeluk istrinya yang masih belum mau berbicara banyak karena kesalahannya. Saat Reyhan memeluk Rara dari belakang, Rara hanya terdiam dan tidak bergerak apapun, melihatnya hanya terdiam tanpa penolakan, Reyhan menciumi leher bagian belakang istrinya, dan Rara masih terdiam hanya terdengar hembusan napasnya, seakan pasrah.
"Sayang..." bisik Reyhan di telinga Rara.
Tentu saja Rara masih diam.
"Sini, kemarilah, Menghadapku.." ujar Reyhan.
Tanpa di sangka, Rara menuruti keinginan Reyhan dan langsung berbalik badan.
Walau hanya ada sedikit cahaya dari lampu tidur yang remang, namun dapat terlihat cukup jelas bahwa wajah Rara basah karena menangis. Reyhan langsung mengusap pipi Rara dengan tangannya.
"Jika kamu belum mau memaafkan aku, tidak apa-apa. Tapi tolong, jangan membenci suamimu yang egois ini" kata Reyhan.
"Maafkan aku, yang belum bisa menjadi istri dan ibu yang baik" akhirnya Rara mulai berbicara walau masih dengan menangis.
"Ssstt.... jangan berkata seperti itu. Aku yang salah karena sudah menyalahkanmu, yang jelas-jelas bahwa ini semua adalah ketetapan Tuhan. Justru akulah suami yang hanya bisa melukai istrinya. Maafkan aku Ra..."
"Aku mengerti kamu melakukan itu karena kebohongan ku, aku tidak bermaksud membohongimu Reyhan. Hanya saja.. aku hanya berusaha memberimu ruang agar kamu bisa menghabiskan waktu dengan keluargamu dan tidak ingin membuatmu cemas. Aku benar-benar tidak bermaksud membohongimu Reyhan.."
"Aku juga tidak bermasud menyalahkanmu, hanya saja aku benar-benar tidak suka di bohongi apalagi sampai menyangkut keselamatan kamu. Maaf karena aku melempiaskan kecewa dan marahku kepadamu. Maaf sayang.. Sudahlah, jangan menangis lagi" Reyhan terus mengusap air mata Rara yang keluar lagi dan lagi.
Keduanya pun saling memeluk satu sama lain, dan sesekali Reyhan mencium kening istrinya.
"Reyhan...."
"Ya?"
"Bagaimana dengan impianmu?"
"Maksudnya?" Reyhan bingung dan langsung memandang wajah Rara.
"Kamu ingat? saat di teras apartemen, saat kamu mengajakku untuk menikah, kamu sempat bilang bahwa salah satu alasanmu memilihku karena kamu berfikir kita berasal dari keluarga yang sama, tidak utuh dan kurang kasih sayang. Lalu kamu ingin kita saling melengkapi dan membuat anak-anak kita nanti bisa merasakan hangatnya keluarga. Tapi kamu tahu.. sekarang aku sulit hamil lagi Reyhan.."
"Sayang... sulit bukan berarti tidak bisa"
"Reyhan.. butuh waktu lama agar aku bisa hamil lagi, lama sekali Reyhan.."
"Ra.. siapa saja bisa kita jadikan anak. Banyak anak-anak terlantar yang bisa saja kita asuh sebagai anak sendiri. Tapi.. istri seperti mu, hanya ada satu di bumi ini. Ra.. mendapatkan anak bisa dari mana saja, tapi mendapatkan pasangan hidup sepertimu, aku harus rela di siram es teh di depan para karyawanku" rupanya Reyhan mulai menyelipkan candaannya berharap bisa menenangkan Rara.
"Reyhan......" gumam Rara kesal dengan sedikit garis senyum di bibirnya.
Reyhan langsung memeluk Rara lagi, dan Rara pun membalasnya dengan pelukan yang tak kalah hangatnya.
'Aku benar-benar tidak tahu akan menjadi seperti apa jika kamu yang tidak selamat. Aku memang sempat tidak bisa menerima keadaan, namun sesungguhnya aku tidak pernah menyesal telah memutuskan agar dokter menyelamatkanmu dari pada anak kita. Karena kini aku sadar, anak kita pasti berada di tempat yang tepat. Dan kamu pun tetap berada di tempat yang seharusnya, yaitu disisiku. Rara.. istriku, teruslah bernafas, tetaplah hidup bersamaku, sampai kita menua, dan sampai tertimbun tanah...' Reyhan.
'Keegoisan Reyhan kemarin, bukan tanpa alasan. Ia juga berhak memberontak atas kebohongan yang telah ku lakukan. Sisi lain yang bisa ku ambil adalah.. dia melakukan itu karena dia sangat menyayangi anak kita. Kini aku tahu, hal yang paling ia benci adalah kebohongan, entah untuk alasan apapun itu. Walau aku sempat sangat terluka karena perkataannya, namun aku juga sadar, dialah laki-laki yang selalu berusaha membuatku untuk tetap bernafas dan berada di sampingnya. Walau aku sempat merasa tersiksa batin karena Reyhan, namun aku sadar, Reyhan pula yang menyembuhkannya. Dan walau begitu, aku sama sekali tidak pernah memikirkan untuk pisah darinya. Walau kita masing-masing sempat membutuhkan waktu untuk sendiri, namun pada akhirnya saling memaafkan adalah kunci dari utuhnya sebuah hubungan. Aku sangat menyayangimu, Suamiku' Rara.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote😊