
Obie melepas helmnya kemudian turun dari motor. Sudah 10x putaran dia mengelilingi sirkuit di stadion. Obie berjalan menuju kursi penonton stadion, menghampiri gadis yang sedang duduk manis menunggunya.
"Gimana latihan ku tadi?" tanya Obie.
"Keren! tapi tadi di tikungan sana kamu kurang lancar" Rara menunjuk ke suatu arah.
"Iya, tadi sedikit ragu karena takut jatuh jadi kurang fokus, hehe"
"Mungkin kamu butuh ini" Rara menyodorkan sebotol aqua.
"Terimakasih sayang" Obie tersenyum kemudian meminum air tersebut.
Rara hanya memperhatikan wajah Obie yang berada di sebelahnya.
"Kebiasaan. Aku kan bukan pacarmu" gumam Rara.
"Tapi kan aku sayang kamu" ujar Obie sambil menutup botol minum.
"Macaaaa ccciiiiih???!" ledek Rara.
"Kamu meledekku? ku habisi kau!!!"
Obie merangkulkan tangan kirinya ke leher Rara dan menyekapnya ke dalam dada Obie, sementara tangan kanannya sibuk mencubit hidung Rara sampai merah.
"Obieee lepaskan! Kamu bau keringat" gurau Rara masih di sekap Obie.
"Oh beraninyaaaaa" Obie semakin melancarkan aksinya.
"Obie sakit!" teriak Rara.
Obie pun melepaskan Rara namun tangannya masih merangkul di belakang tubuh Rara.
Obie tersenyum melihat Rara yang sedang mengelus-elus hidungnya yang merah. Namun matanya berkaca-kaca.
"Haha gimana, ampun?"
"Iya iya ampun bos... sakit tau" Rara mewek kesakitan.
"Uwww mana yang sakit?'
"Ini!!!" Rara menyodorkan wajahnya sambil memegang hidungnya seakan pamer kesakitan.
Mmmmchh.. Obie mencium pipi Rara.
"Ih Obie!!! banyak orang!" teriak Rara.
"hahaha biarin"
"Malu tau!"
"Hahahah santai aja.." Obie melepas tangannya dan kemudian duduk bersandar di barisan kursi stadion seolah merebahkan dirinya.
Obie menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.
"Cape ya?" tanya Rara.
"Lumayan" jawabnya sambil mengatur nafas dan meringis seolah kesakitan.
Rara memegang dada Obie. "Sakit?"
"Sedikit" Obie tersenyum meringis.
Obie memang sedikit mempunyai masalah jantung akibat pernah kecelakaan waktu SMA, jatuh saat bertanding dan dadanya terkena bagian depan motor sehingga terkadang membuatnya sulit untuk mengatur nafas. Ditambah lagi dia perokok, kadang minum alkohol, dan memakai. Bisa di bayangkan kan bagaimana isi dalam tubuhnya?.
"Sudah ku bilang kan...." Rara belum selesai melanjutkan ucapannya.
"Sayang... ceramahnya nanti ya di kos aja" sambung Obie dengan tersenyum.
Rara menatap tajam Obie.
"Haha iya sayang iyaaa.. aku juga kan sedang berusaha menghentikan kebiasaan buruk ku"
Dan akhirnya Rara pasrah.
Mereka berdua diam sesaat.
"Bie.."
"Hmm??"
"Kenapa kamu suka balapan? padahal kan berbahaya. Bahkan kamu sudah berkali-kali jatuh dan jatuh" tanya Rara kepada laki-laki di sebelahnya.
"Karena sudah terperangkap di zona nyaman" jawabnya dengan jelas.
Rara merubah posisi duduknya, menghadap Obie yang berada di sebelahnya.
"Apa kamu akan terus berada di zona nyaman ini?"
Obie tersenyum. "Tentu tidak" balasnya.
"Lalu?"
"Aku juga punya impian suatu saat nanti bisa bekerja layaknya orang umum. Aku akan keluar dari zona nyaman ini, mungkin nanti ketika aku sudah lulus kuliah dan menemukan pekerjaan yang lebih tepat dan pastinya tidak membahayakan nyawaku" balas Obie.
"Tapi kamu kan sudah berjuang bertahun-tahun di dunia balap. Sudah jatuh bangun berkali-kali. Kamu tidak sayang dengan apa yang sudah kamu lewati sejauh ini?" tanya Rara lagi.
"Aku lebih sayang kamu"
"Obieeeee aku serius.. kebiasaan ih"
"hahaha... Raraku... tidak semua sesuatu yang nyaman itu baik. Segala perjuangan memang pasti akan berakhir indah. Tapi indahnya bukan hanya di jalan itu saja" jelas Obie.
__ADS_1
"Maksudnya?" Rara bingung.
Allahuakbar.. Allahuakbar.....
Rara membuka matanya, nafasnya sedikit terengah, jantungnya berdetak tak biasa. Rara memperhatikan sekitar, ternyata dia ada di dalam kamar. Rara meraih hp yang berada di atas meja samping tempat tidurnya, jam menunjukkan waktu subuh.
'Apa aku mimpi? Apa maksud dari perkataan Obie?' Rara.
Rara diam sejenak, kemudian duduk. Rara menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Tak terasa Rara meneteskan air mata, dan kemudian menangis.
Hikkss.... hikkksss.... hikkssss.....
'Setelah sekian lama aku ga liat kamu, akhirnya aku bisa liat kamu lagi Bie'
Rara beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan ke kamar mandi hendak wudhu kemudian sholat subuh dan mengaji untuk mendoakan Obie.
--
Karena kebetulan ini hari minggu yang artinya hari libur kerja, jam 10.00 Rara bersiap untuk berkunjung ke suatu tempat.
Tok... tok.. tok..
'Hihhh kemana sih ga di buka-buka' Rara.
"Gaaaliiiihhhhhh main yooookkk" teriak Rara di depan kontrakan Galih.
Jegrek!
"Ya ampun Ra... pagi-pagi dah teriak" Galih keluar dengan mata yang masih kantuk.
"Apaan! ini udah 10.30. Melek mangkannya!!!" Rara langsung nyelonong ke dalam kontrakan Galih. Bukannya apa-apa, karena mereka sudah saking lamanya bersahabat dan kedekatan mereka sudah seperti keluarga.
'Untung sahabat, kalo bukan udah ku mutilasi nih bocah!' Galih.
Rara duduk di ruang tengah.
"Lo bawa apa nih?" tanya Galih melihat sesuatu yang di letakkan oleh Rara di atas meja.
"Itu tadi gue bikin telur dadar sama cumi crispy, ada sambel trasi juga" jawab Rara.
"Mantapppppp, tiap hari kek kaya gini"
"Gue tau lo pasti kelaparan"
"Yaudah yok makan"
"Eeehhh enak aja. Mandi dulu!!!"
"Gausah mandilaaaahhh biar nambah sedep"
"Jijik banget sumpah!!!"
Rara dan Galih akhirnya makan bersama.
"Sini" Rara meminta paksa Hp Galih.
"Ih ko di matiin?" Galih melihat Rara menonaktifkan hp nya.
"Udah makan buru abisin"
Tak lama, hp Rara pun berdering, dan ternyata Reyhan menelpon. Rara pun mematikan hp nya juga.
"Siapa?" Galih.
"Reyhan.."
"Hahahhaha.. " Galih tertawa.
"Kenapa ketawa?"
"Lo sok cantik, di rebutin 2 cowo" gurau Galih.
"Yeeee, emang gue cantik" balas Rara bergurau.
"Idih najissss. Jadi pilih yang mana?"
"Tau ah"
"Dua-duanya udah jadi mantan pula hahahaha.. mantan tuh harusnya di buang ke laut Ra" gurau Galih lagi.
"Brisik banget sih lu"
"Apa perlu gue ambilin beras?"
"Hah??!!! buat apaan?"
"Buat nemu jawabannya. Lu capcipcup tuh pake biji beras"
"Sialan, keburu ubanan gue"
"Ya enggalah. Orang beras gue tinggal segelas" gurau Galih.
"Miskin emang lo" gurau Rara.
"Sialan!!"
"Gue udah nemu jawabannya ko" ujar Rara.
"Serius?? pilih siapa??"
"Gue mau nikah... sama lo aja deh"
__ADS_1
"Astaghfirullaha'adziiimmmm cobaan apa lagi ini ya Allahhh... amit-amiiiitttt"
"Brengs*k emang lo! sialaaan!!!!" Rara menendang kaki Galih yang duduk di depannya.
Rara dan Galih tertawa.
"Serius ah, lo udah mutusin belum kira-kira pilih siapa?" tanya Galih mulai serius.
"Gatau gueeee" jawab Rara bingung.
"Ati-ati loh.. kelamaan ntar dua-duanya malah lepas"
Rara melirik Galih.
"Menurut lo, gue harus pilih siapa?!"
"Lo nanya pendapat gue?"
"Iya.. lo kan sahabat terbaik gue nih, coba lah lo kasih masukan gitu sapa tau gue dapet pencerahan"
"Aduhhh.. kalo gue sih... ga suka dua-duanya"
"Hahhh?!! ko gitu sih?!!" Rara terkejut.
"Yaiyalah... gue masih normal, ga mungkin gue mau pilih cowo. Pisang ko makan pisang"
"ih!!!! serius anj*yyyyyyy" Rara kesal. "Bener-bener cape ya ngomong sama lo, heran ko bisa-bisanya Mora mau nikah sama lo" lanjut Rara.
"Gue pake dukun coy!" gurau Galih.
Galih dan Rara tertawa.
"Lo ga harus tenggelam dalam zona nyaman Ra" ujar Galih tiba-tiba.
Rara diam sejenak.
'Kenapa tiba-tiba aku ingat mimpi semalam?' Rara.
--
Jam 15.00 Rara memutuskan untuk pulang. Karena jarak apartemennya dan kontrakan Galih tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 15 menitan Rara sudah tiba di apartemennya.
"Reyhan??" Rara terkejut melihat seseorang berdiri di depan pintunya.
"Kamu dari mana?" Reyhan.
"Kamu udah lama disini?"
"Engga.. baru ko"
"Aku habis main sama Galih"
Reyhan hanya mengangguk-angguk.
Setelah Rara membukakan pintu, Reyhan pun masuk dan duduk di ruang tengah. Rara membuatkannya minum dan kemudian duduk di depan Reyhan.
"Ada apa?" tanya Rara.
"Gapapa.. tadi kan aku menelpon mu, tapi tidak angkat, aku kira kamu sakit"
Tiba-tiba.. Rara mengingat sesuatu.
"Kenapa kamu menemui ayahku?" tanya Rara dengan muka kesal.
"Kamu tahu dari mana?"
"Jawab"
Reyhan tersenyum. "Aku meminta izin untuk melamarmu" lanjut Reyhan.
"Kamu sedang berusaha mengambil hati ayah ku?"
"Tidak juga"
"Terus?"
"Yaaa... aku ga mau aja nanti ayahmu marah kalau tiba-tiba anaknya ku rebut dan ku bawa pulang"
"Hih pede banget. Emangnya aku mau di bawa kamu?"
"Berarti tidak mau?" Reyhan membalikkan pertanyaan.
"E-Engga gitu juga... ma-maksudnya..."
"Berarti mau?" Reyhan tersenyum meledek.
"Ah diam kamu!" Rara kesal.
Reyhan tertawa kecil.
"Jadi?"
Rara menatap Reyhan tajam. "Jadi apa?!" lanjut Rara.
"Jadi mau atau tidak?" tanya Reyhan.
Rara diam sejenak dan memalingkan wajahnya.
"Akan ku jawab Besok" balas Rara.
Reyhan tersenyum walau kenyataannya dia pun deg-degan.
__ADS_1
Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update🙏😊