
"Silahkan masuk" Rara mempersilahkan Mentari dan Eri untuk masuk.
"Hallo broooooo" teriak Eri.
"Hy cuyyyyyy!!" teriak Mentari.
'Whattt apaan sih mereka main nyelonong aja, aku kan suruh nunggu di ruang tamu!' Rara.
Setelah di persilahkan masuk, Eri dan Mentari berjalan di belakang Rara, namun ketika Rara hampir sampai di ruang makan untuk memberi tahu Reyhan, ternyata mereka berdua mengikuti sampai ruang makan dan langsung menyelonong ketika melihat Reyhan sedang duduk di meja makan.
"Wiiihhhh... ada di Indonesia kau!!" balas Reyhan kemudian memeluk Eri dan Mentari bergantian.
'Hah... bisa-bisanya dia berpelukan dengan perempuan lain di depanku?' Rara berdiri menatap kesal tiga orang menyebalkan itu.
"Sini sini makan. Kebetulan banget, tau aja ya kalo di sini ada makanan, langsung pada main" gurau Reyhan.
"Waahhh... apa ini masakan bi Ina? kangen banget ih makan masakan bi Inaaaa" seru Mentari kemudian bergabung di meja makan.
"Halo bi Inaaaa... kangen aku gaaa?" gurau Eri tersenyum kemudian bergabung juga di meja makan.
Bi Ina hanya tersenyum dengan tingkah mereka.
'Mereka akrab dengan bi Ina juga? cih...' Rara.
"Ini masakan istriku coy... sudah makan, ini lebih enak dari masakan bi Ina, ya bi ya..." balas Reyhan.
Rara masih berdiri diam dan kesal.
"Sayang ayok lanjutkan makan" Reyhan.
"Aku sudah kenyang" jawab Rara kemudian naik ke lantai atas dan masuk ke kamar.
Semua orang hanya terdiam memperhatikan tingkah Rara.
"Apa lagi berantem bro?" tanya Eri.
"Apa kita ganggu Rey?" tanya Mentari.
"Hah?? Engga engga... sudah biarkan saja, maklum ibu hamil sensitif" balas Reyhan.
"Ibu hamil?" Mentari terkejut.
"Kau mau jadi bapak?" Eri tak kalah terkejut.
Reyhan tersenyum sambil mengangkat-ngangkat alisnya.
"Wiiissshhhh.. mantap brooo, tembakan yang dahsyat" gurau Eri.
"Si*alan!" balas Reyhan.
Mentari hanya menatap sinis mendengar gurauan kedua lelaki itu.
Reyhan, Mentari, dan Eri akhirnya makan bersama di rumah Reyhan. Sementara Rara masuk ke dalam kamarnya. Rara berbaring di atas tempat tidurnya.
'Menyebalkan sekali mereka, datang seenaknya sendiri' gumam Rara.
--
Setelah selesai makan malam bersama, Eri dan Mentari menuju ruang tv dan bermain PS bersama. Sementara Reyhan naik ke atas sejenak untuk melihat Rara.
Reyhan masuk ke dalam kamarnya, terlihat Rara sedang berbaring di atas tempat tidur. Reyhan menghampiri Rara kemudian duduk di tepi tempat tidur. Ternyata Rara sudah tertidur pulas.
'Hm... kamu kan belum makan malam kenapa sudah tidur'
Reyhan menarik selimut dan membalutinya ke tubuh Rara. Reyhan membelai lembut kepala Rara.
'Semenjak hamil kamu tambah menggemaskan, walaupun tambah sering marah juga'
Reyhan mencium pipi Rara kemudian turun kembali ke lantai bawah untuk bermain game bersama kedua sahabatnya.
"Apa Rara marah?" tanya Mentari.
"Engga, lagi tidur dia. Sudah yuk lanjutttttt aku lawan Eri dulu lahhhh" seru Reyhan.
Dan mereka pun asik bermain game.
__ADS_1
--
Setelah asik bermain game berjam-jam, Eri dan Mentari pamit untuk pulang. Pukul 23.00 Mentari sudah tiba di apartemennya di antar oleh Eri. Ketika Mentari sampai di depan pintu apartemennya dan hendak membuka kunci, Mentari melirik ke arah pintu apartemen Bimo.
'Sudah tidur belum ya dia. Yang tadi sore aku lihat, dia bukan ya. Tapi untuk apa juga dia datang ke cafe ku. Ah sudahlah...'
Mentari pun akhirnya masuk ke apartemennya dan bergegas untuk tidur.
--
Pukul 00.20 Rara membuka matanya perlahan, dan mendapati Reyhan sedang tertidur pulas sambil memeluknya. Dengan pelan Rara berusaha menyingkirkan tangan Reyhan lalu turun ke lantai bawah menuju dapur.
'Aku laper banget'
Rara berusaha mencari sesuatu yang bisa di makan di dalam kulkas, namun hanya ada susu dan buah.
'Aku pengen makan, aaaaa....'
Tak lama Reyhan turun dari lantai atas.
"Kamu laper?" tanya Reyhan.
"Ga" jawab Rara singkat.
"Terus ngapain itu megang apel?" tanya Reyhan melihat Rara memegang sebuah apel.
"Memangnya tidak boleh?" balas Rara jutek.
"Kamu kenapa sih... marah terus sama aku"
"Siapa yang marah"
"Itu apa namanya kalau bukan marah?"
"Ya suruh siapa kamu peluk-peluk perempuan lain di depan aku?!!"
"Hahahahha.. kamu cemburu gara-gara Mentari?"
"Ga!"
Reyhan berjalan mendekati Rara, berdiri tepat di hadapan Rara lalu berusaha mencium Rara.
"Apaan sih, nanti di lihat bi Ina" Rara menolak.
"Memangnya kamu tidak pernah berpelukan dengan sababatmu? apalagi sudah lama tidak bertemu. Aku yakin kamu juga pernah begitu sama Galih kan"
'Iya juga sih, kadang aku juga begitu sama Galih, aku juga sering nyelonong masuk ke kontrakannya' Rara.
"Sudah ah.. jangan marah hanya karena soal itu. Tidur lagi yuk" ajak Reyhan.
"Aku pengen ketoprak" seru Rara.
"Hah?! itu kepengenan kamu apa kepengenan anak kita?!" Reyhan terkejut.
"Gatau pokoknya aku mau makan ketoprak. Sekarang"
"Ra.... ini hampir jam 1 malam, mana ada orang jualan ketoprak?"
"Mangkannya ayo cariiii...."
"Besok saja ya, ku belikan 5 porsi sekaligus"
"Aku maunya sekarang!" Rara ngambek bahkan terlihat mau menangis karena kelaparan.
Mendengar ada sedikit keributan, bi Ina bangun dan menuju dapur.
"Mas Reyhan... apakah mas Reyhan atau mba Rara lapar?" tanya bi Ina.
"Oh bi Ina bangun? engga bi, ini Rara pengen makan ketoprak" balas Reyhan.
"Mba Rara ngidam? yasudah biar bibi bangunkan pak Udin ya, biar pak Udin yang mencarikan" bi Ina.
"Tidak usah bi, bibi lanjut tidur aja, aku mau Reyhan yang mencarinya" seru Rara.
"Apa?" Reyhan terkejut.
__ADS_1
Wle.. Rara menjulurkan lidahnya, mengejek.
"Pesan melalui online aja ya" bujuk Reyhan.
"Terserah pokoknya kamu yang mencarikan" Rara.
'Issshhh dia ini ngidam apa sedang mengerjaiku'
Akhirnya Reyhan memesan melalui apk.online dan untungnya masih ada walau harus menunggu hampir 1 jam karena lokasinya yang jauh. Selama menunggu, Rara dan Reyhan menonton tv sedangkan bi Ina kembali tidur karena di perintahkan Reyhan untuk istirahat.
Rara duduk di sofa sambil menonton tv, Reyhan rebahan di sofa dengan kepala yang berada di pangkuan Rara. Kemudian terdengar suara pintu ada yang mengetuk.
"Reyhannn... bangun, itu sepertinya sudah datang ketopraknya" Rara.
Reyhan beranjak lalu berjalan keluar rumah. Benar saja pesanan sudah datang, Reyhan memberi uang lalu kembali ke dapur dan menyiapkannya untuk Rara.
"Sayang ini sudah siap" seru Reyhan.
Rara berjalan kemudian duduk di meja makan, dan melahap ketoprak yang ia inginkan. Reyhan duduk berhadapan dengan Rara hanya melihat dan memperhatikan istrinya makan dengan sangat lahap.
"Mmmm... enak bangettttt" Rara.
'Syukurlah kalau dia senang' Reyhan.
"Kenapa memperhatikan ku seperti itu?" tanya Rara sambil makan.
"Suapin aku, A....." Reyhan membuka mulutnya.
"Enak saja! ini punya ku" Rara menjauhkan piringnya.
"Pelit banget sama suami" Reyhan.
"Hahaha.. iya iya ini" Rara menyodorkan sesuap ketoprak kepada Reyhan.
Reyhan membuka mulutnya kemudian melahap suapan Rara. Mereka akhirnya makan sepiring berdua.
--
Paginya. Bimo membuka pintu keluar dari apartemennya hendak berangkat kerja.
Mentari membuka pintu hendak membuang sampah.
Mereka keluar dari apartemen mereka bersamaan dan mereka saling menatap satu sama lain.
'Dia pulang ke apartemen?' Bimo
'Sepertinya dia mau berangkat kerja' Mentari.
Bimo mengunci pintu lalu berjalan melewati Mentari tanpa berbicara apapun, hanya tersenyum ke arah Mentari.
'Ada apa dengan dia, kenapa jadi kaku begitu' Mentari heran sambil memperhatikan Bimo yang melangkah mulai jauh.
--
Seperti biasanya, Reyhan berangkat ke kantor, sementara Rara berangkat ke toko kue nya. Menjelang jam makan siang, Rara mencoba menghubungi Reyhan, dan mengirim pesan mengajak suaminya untuk makan seafood bersama di jam istirahat nanti, namun Reyhan tak kunjung membalas pesan Rara. Akhirnya Rara berinisiatif untuk menemui Reyhan di kantor.
Rara pergi menggunakan taxi online. Sesampainya di kantor Reyhan, para karyawan sudah mulai beristirahat dan menuju kantin karena memang 5 menit lagi sudah masuk jam istirahat, sehingga kantor terlihat agak sepi.
Rara mencoba menghubungi Reyhan lagi, namun tetap tidak ada jawaban.
'Kemana sih dia ini, apa lagi makan di kantin?' Rara.
Akhirnya Rara berjalan ke arah lift dan naik menuju ruangan Reyhan. Sesampainya di depan ruangan Reyhan, terdengar suara tawa Reyhan bercampur dengan suara tawa wanita.
'Ada siapa ya di dalam? apa Reyhan sedang bersama Mora?' Rara.
Rara berjalan semakin mendekati pintu ruangan, pintu tidak terkunci bahkan sedikit terbuka. Rara mencoba melihat dari sela pintu. Terlihat seorang perempuan yang berdiri membelakangi dan bersandar pada meja kerja Reyhan, sementara Reyhan duduk di kursinya sambil sedikit mengangkat wajahnya agar bisa mengobrol dengan perempuan itu yang berdiri.
Terlihat mereka bercanda dan tertawa bersama. Dan hanya selang beberapa detik, perempuan itu memeluk Reyhan, dan Reyhan membalas pelukan perempuan tersebut lalu mencium rambut perempuan itu.
'Ga mungkin.. ga mungkin...'
Rara hanya bisa berdiri terpaku melihat pemandangan tersebut. Matanya mulai berkaca-kaca, jantungnya berdetak tak seperti biasanya.
Rara berlari keluar kantor dan menangis.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote๐๐