Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 69 Mia Kembali


__ADS_3

Tok.. tok.. tok... pintu apartemen Bimo di ketuk seseorang.


Bimo yang berada da didalam langsung segera berjalan kearah pintu dan membukanya.


"Oh Pak Yosep? silahkan masuk pak"


Rupanya pak Yosep yang sudah datang berkunjung ke apartemen Bimo.


"Silahkan pak duduk" Bimo mempersilahkan Pak Yosep duduk dan kemudian berjalan ke dapur menyiapkan minum.


"Bim tidak usah repot, air putih saja lagian saya tidak tidak akan lama" ujar Pak Yosep.


Bimo datang membawa segelas air putih dan menaruhnya di depan pak Yosep kemudian duduk berhadapan dengan pak Yosep.


"Maaf pak sebelumnya, ada perlu apa pak sampai pak Yosep datang menemuiku ke apartemen? padahal saya bisa menemui bapak kapanpun Bapak butuhkan"


"hahaha gapapa Bim. Ini cuma menyampaikan kerjaan. Sudah 2 bulan kamu di Bali mengurus proyek yang seharusnya saya tangani tapi saya berhalangan. Dan saya bangga dengan hasilnya, proyek ini berjalan sangat lancar karena dirimu"


Bimo tersenyum bahagia mendengarnya.


"Minggu depan ada proyek baru, kerjasama dengan perusahan yang ada di Jakarta, perusahan xyz, dan saya ingin kamu yang mengurusnya lagi. Sanggup?"


"Sanggup pak" Bimo langsung mengiyakan.


"Oh iya, pemilik perusahaan xyz sedang berada di Bali juga, nanti malam dia ingin bertemu untuk membahas proyek ini, nanti malam kamu ikut denganku ya?"


"Baik pak"


"Dan minggu depan kamu akan terbang ke Jakarta, tiket dan apartemen sudah saya siapkan"


"Baik pak, terimakasih banyak"


--


Rara sedang makan siang bersama Mora dan Reyhan di kantin belakang kantor. Semenjak Reyhan berkunjung di apartemen Rara waktu itu, Reyhan jadi lebih sering berhubungan dengan Rara bahkan sering mengajak Rara makan siang bersama, tapi tetap saja Rara mengajak Mora, tidak mau kalau hanya berdua.


"Bentar ya aku mau pesen es teh lagi" ujar Rara.


Mora dan Reyhan hanya mengangguk.


Setelah Rara pergi memesan es teh, tiba-tiba hp Rara yang tergeletak diatas meja bergetar. Reyhan yang berada di samping hp tersebut membuatnya penasaran. Reyhan menengok ke layar hp Rara tersebut dan terlihat ada pesan dan kiriman foto.


Reyhan mengambil hp Rara dan mengecek pesan tersebut.


"Ih Reyhan, itu kan hp Rara!" Mora.


"Diem, udah biasa ko aku ngecek hp nya" Reyhan.


'Ah masa sih?' Mora.


Ayah : Nak, adikmu sudah lahir, dia perempuan, cantik sepertimu.


Sebuah pesan yang di kirim dari ayahnya Rara dan kemudian ayahnya mengirimnya sebuah foto bayi.


Tak lama kemudian Rara terlihat berjalan membawa es tehnya. Reyhan langsung meletakkan hp itu lagi. Rara duduk kembali dan melahap makanannya kembali. Tak lama hp Rara berdering. Rara langsung mengangkatnya.


"Hallo ayah?"


"Nak.. sedang bekerja?"


"Tidak, sedang istirahat makan siang. Ayah lagi dimana?"


"Di rumah sakit"


"Hah?? rumah sakit? Rumah sakit mana?"


"Rumah sakit Pelita"


"Rumah sakit pelita?"


'Apa katanya? bukannya rumah sakit itu rumah sakit yang ada di Jakarta ya? berarti keluarganya Rara juga ada di Jakarta?' Reyhan.


"Iya nak, kamu kesini ya?"


"Memangnya ayah sakit apa?"


"Ayah tidak sakit tapi istri ayah melahirkan, kamu punya adik lagi, kalau tidak sibuk, kemarilah nak menjenguk adikmu"


"Ayah aku sibuk bekerja, aku tidak bisa kesana. Aku benar-benar sibuk. Sudah dulu ya, aku harus bekerja lagi" Rara mematikan telepon.


'Benar-benar sibuk katanya? berbohong sekali dia ini, kenapa dia seolah tidak ingin pergi ke rumah sakit, jelas-jelas ibunya melahirkan adiknya' Reyhan.


Selesai jam kerja, Reyhan menuju ruang kerja Rara.


"Ra, temani aku" Reyhan berdiri di depan pintu ruang kerja dan memperhatikan Rara masih sedang beres-beres.


"Hah kemana?"


"Jangan banyak tanya, tinggal ikut"


"Aku kan bawa motor"


"Motormu tidak akan hilang di kantor"

__ADS_1


'selalu itu jawabannya' Rara.


"Cieeee jalan berdua mulu" ucap Mora meledek "Duluan ya Ra" lanjutnya kemudian dia keluar kantor duluan.


"Mau kemana sih?" tanya Rara berdiri di depan Reyhan dan sudah selesai beres-beres.


"Udah ayok"


--


Selama perjalanan Rara benar-benar bingung ga tau akan di bawa kemana. Namun di kursi bagian belakang terlihat kotak besar yang sudah di bungkus kertas kado.


"Kita mau keacara ulang tahun?" tanya Rara.


"Hah??!"


"Itu di belakang ada kado besar"


"Sudah diam"


Rara pun akhirnya menurut dan diam. Reyhan membawa mobilnya memasuki sebuah rumah sakit.


"Kita ngapain kesini, kamu sakit?" tanya Rara lagi.


"Kita akan menjenguk seseorang"


'Pasti kamu senang' Reyhan.


"Menjenguk siapa?" Rara masih bingung.


"Sudah diam, ayo turun"


Reyhan dan Rara turun dari mobil, tak lupa Reyhan pun mengambil kado di kursi belakang dan membawanya.


Setelah makan siang di kantin tadi, Reyhan meminta tolong kepada salah satu pegawainya yang perempuan untuk membeli peralatan bayi dan membungkusnya sebagai kado.


Reyhan dan Rara berjalan memasuki sebuah ruangan. Dan kemudian mereka masuk kedalam ruangan itu. Terlihat seorang perempuan yang sedang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit sambil menyusui seorang bayi, dan ada suara air di dalam toilet rumah ruangan tersebut, pertanda ada yang sedang di dalam kamar mandi.


"Selamat sore tante, selamat ya atas kelahirannya. Om mana?" tanya Reyhan kepada perempuan yang sedang menyusui tersebut dan Reyhan memberikan kado yang sudah ia bawa.


Sementara Rara berdiri sedikit menjauh dan masih terdiam karena bingung.


'Apa ini tantenya Reyhan?' Rara.


"Oh ada.. sedang di kamar mandi. Sayang... Rara sudah datang" ujar perempuan itu.


'Hah?? Rara? dia mengenalku?!' Rara.


Tak lama kemudian seorang laki-laki keluar dari kamar mandi.


"Oh hy nak. Sudah sampai?"


Tak berkata apapun Rara langsung keluar dari ruangan dan berlari meninggalkan rumah sakit.


Reyhan bingung dengan sikap Rara. Reyhan langsung mengejar Rara.


"Ra.. tunggu" Reyhan mengejar Rara dan kemudian menarik lengan Rara untuk segera berhenti berlari.


Rara berbalik badan, dan.... BWWWKKKKKK!!!!


Rara meninju Reyhan dengan cukup kencang.


"Awww!!!! Ssssshhhh" Reyhan merintih kesakitan.


"Pulang sekarang!!!!" Rara berteriak sambil menangis.


Reyhan ingin marah namun menguburnya karena melihat Rara yang menangis dan terlihat sangat marah.


Akhirnya Reyhan dan Rara memasuki mobil dan pulang ke apartemen Rara. Selama perjalanan, Rara tidak berkata apa-apa, wajahnya terlihat sangat marah dan sesekali meneteskan air mata. Reyhan pun hanya bisa diam sesekali memperhatikan Rara dan mengelus-elus wajahnya yang sakit terkena tinjuan Rara.


'Kenapa sih nih anak, kenapa harus semarah ini?' Reyhan.


--


Bimo dan pak Yosep sudah menunggu kedatangan tamu mereka untuk makan malam bersama di salah satu hotel mewah di Bali. Tak lama kemudian datang seorang bapak-bapak memakai jas dan seorang perempuan yang berjalan di belakangnya.


'Mia?!! apa benar itu Mia?' Bimo.


'Bimo?!' Mia.


"Selamat malam pak, silahkan duduk" pak Yosep.


Bapak-bapak tersebut dan Mia kemudian duduk satu meja bersama pak Yosep dan Bimo.


"Bimo, perkenalkan, ini Pak Akbar pemilik perusahaan xyz yang akan bekerja sama dengan kita dalam proyek di Jakarta nanti, dan ini sekretarisnya, Mia"


Bimo bersalaman dengan pak Akbar dan juga Mia.


'Akhirnya aku bertemu denganmu lagi Bim. Apakah ini hanya sebuah kebetulan, atau... jodoh?' Mia.


--


Sesampainya di apartemen, Rara tetap diam tak berkata apapun, dia langsung bergegas mandi dan masuk ke dalam kamarnya lagi. Sementara itu, Reyhan duduk di teras memandangi langit yang sudah gelap, dan masih memegangi wajahnya yang masih ngilu akibat pukulan Rara.

__ADS_1


'mantep juga pukulannya' Reyhan.


Tak lama, Rara datang dan sudah memakai baju tidur celana panjang. Dia sudah terlihat segar karena baru saja mandi dan wajahnya sudah tak semarah tadi. Kemudian Rara duduk di samping Reyhan.


'wajahnya sudah terlihat menggemaskan lagi' Reyhan.


"Sakit ya?" Rara.


"Kamu belajar tinju di mana?" jawab Reyhan dengan bercanda.


"Pas SD satu kelas sama Chris John" Rara membalas gurauan Reyhan.


"Woooooh pantesan, pasti awal mula dia ingin jadi petinju gara-gara ingin melindungi dirinya dari teman satu kelas semacam kamu" balas Reyhan.


"Sudah jangan banyak ngomong, sini mukamu" Rara pun mengoleskan salep di wajah Reyhan.


'Kalau aku bertanya, dia marah ga ya' Reyhan.


"Ra.."


"Hm"


"Kamu tidak senang ibumu melahirkan?"


'Duh semoga amarahnya tidak naik lagi' Reyhan.


"Dia bukan ibuku" jawab Rara santai.


'Syukurlah dia tidak marah'


"Bukan ibumu? maksudnya?"


"Aku anak dari istri pertama ayahku. Ibuku ada di Bandung. Yang tadi di rumah sakit, itu istri kedua ayahku"


Reyhan hanya diam terkejut.


"Mereka sudah lama menikah diam-diam, dan aku baru mengetahuinya saat aku SMP. Dan aku berjanji tidak akan mau menemui perempuan itu, kalau iya akan kubunuh. Tapi ternyata kamu yang hampir ku bunuh hahahaha" lanjur Rara tertawa berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Maafkan aku..." ucap Reyhan dan memegang tangan Rara.


"Gapapa Rey... Oh iya, ngomong-ngomong ko kamu tahu ayahku di rumah sakit? bagaimana bisa kamu tahu ruangannya?"


"Pas kamu makan di kantin, aku melihat ayahmu mengirim foto dan pesan, yaudah aku liat haha maaf ya. Dan aku sempat mencatat nomor ayahmu. Tapi ternyata kamu malah tidak ingin menjenguk ke rumah sakit, pikirku anak macam apa tidak ingin menjenguk ibunya. Yasudah aku telpon saja ayahmu dan bilang kalau aku akan membawa kamu ke rumah sakit, lalu aku tanya rumah sakit dan ruangannya" jelas Reyhan.


"Ayah itu bukan orang yang mudah memberikan informasi apalagi sama orang yang belum pernah ketemu. Ko bisa ayah langsung percaya sama kamu?" Rara heran.


"Aku bilang.. aku pacar kamu"


"APA??!!!!!" Rara terkejut.


"Mulai sekarang kita pacaran" ujar Reyhan.


"Eng-ga!"


"I-Ya"


Rara menatap Reyhan dengan tajam. "Dasar gila" lanjt Rara kemudian pergi masuk ke kamar.


'Haha iya, sepertinya aku sudah gila, gila karenamu Ra. Kamu gadis yang unik, keberanianmu saat menyiramku waktu itu membuatku sangat tertarik. Bahkan sekarang aku tahu, kamu gadis yang hebat, hidup di tengah keluarga yang tidak utuh namun tetap terlihat mandiri dan kuat'. Reyhan.


--


Rara membuka matanya perlahan dan menatap jam dinding yang menunjukkan jam 00.15. Rara merasa sangat lapar dan haus, dia baru ingat dari sepulang kerja belum makan karena tragedi rumah sakit tadi. Akhirnya Rara berjalan keluar mencari makanan di kulkas. Betapa terkejutnya Rara, melihat Reyhan tidur di sofa depan tv.


"Reyhan! bangun!" Rara berusaha membangunkan Reyhan. Namun tidak ada respon apapun.


Rara memandangi wajah Reyhan.


'Ya ampun, pipinya mulai memar ungu dan bengkak. Aku tidak sadar sekuat itu aku memukulmu, maafkan aku Reyhan' Rara.


"Rey.. bangun dong...." Rara mengulangi usahanya.


Akhirnya Reyhan pun membuka matanya perlahan kemudian duduk.


"Kamu ngapain sih... ko belum pulang?


'kalau ayahku tiba-tiba datang gimana? mati aku' Rara.


"Aku kan menunggu balasan kamu" ujar Reyhan masih berusaha menghilangkan kantuknya.


"Balasan apa?!"


"Balasan kamu bilang iya"


'Apaan sih maksudnya' Rara.


"Udah jam segini, pulang sana" lanjut Rara.


"Jawab iya dulu, aku pulang"


"Yaudah iya"


Reyhan tersenyum kemudian berdiri "Ok, mulai hari ini, kita resmi pacaran"

__ADS_1


'Jadi.. maksudnya iya itu.. iya jadi pacarnya?!!!' Rara.


Terimakasih dan jangan lupa like dan vote🙏


__ADS_2