
Reyhan dan Rara sudah tiba di salah satu hotel yang berada di Palembang dari semalem, dan pagi ini mereka bersiap untuk menghadiri pernikahan Galih dan Mora. Kedua orang yang spesial bagi Rara dan Reyhan.
"Ih Mas... ko pake jas itu sih..." suara Rara sedikit kesal melihat Reyhan berdiri di depan cermin sambil memakai jas berwarna hitam. "Aku kan udah siapin jas yang di atas kasur itu" lanjut Rara melihat jas yang ia beli waktu itu masih tergeletak di atas tempat tidur.
"Aku pake ini aja lah.. itu warnanya merah, mencolok banget" tolak Reyhan secara halus.
"Itu warna maroon Mas.. apanya yang mencolok sih, baju aku aja ga mencolok ko, tuh cantik kan" Rara memamerkan gaunnya.
"Ya kamu pantas-pantas saja memakai warna seperti itu. Sudahlah aku pake ini saja"
"Kalau kamu memakai jas hitam, apa bedanya kamu sama pengantin pria?!! sudah, jangan pakai jas hitam, nanti kamu di kira pengantinnya!" ujar Rara.
"Apaan sih kamu, berlebihan deh... tidak akan, pengantin pria pasti memakai jas putih (kadang hitam juga sih), ah sudahlah... tidak apa sayang, aku pake ini saja" Reyhan masih berusaha membujuk istrinya.
"Pokoknya aku mau kamu pake itu!" teriak Rara memasang wajah ngambek.
'Hadeeeehhh mulai deh jurus ngambeknya' Reyhan.
"Yaudah iya iya......" Reyhan mengalah.
Rara tersenyum.
Setelah perdebatan perihal pakaian yang akhirnya di menangkan oleh Rara, kemudian mereka berangkat ke gedung pernikahan yang tak jauh dari hotel. Hanya 10 menit perjalan sudah sampai di gedung tersebut.
Setibanya di gedung, Rara di sambut oleh sahabat-sahabatnya yang lain yaitu Aldi, Sasa dan Mela. Mereka membawa masing-masing pasangan mereka dan bahkan membawa buah hati mereka masing-masing.
"Ya ampuuunnn akhirnya aku bisa bertemu dengan si bayi bayi lucu iniiiiii" Rara menciumi satu persatu anak sahabatnya.
__ADS_1
Tak lupa mereka pun menyambut Reyhan juga.
Mereka mengobrol seketika dan langsung mencari tempat duduk masing-masing yang sudah di siapkan oleh Galih dan Mora.
--
Sementara itu, di parkiran Mobil. Bimo dan Mentari berjalan masuk menuju gedung pernikahan. Mereka sedikit terburu-buru karena hampir telat. Terlihat Mentari sedikit kesusahan dalam berjalan karena gaun dan sepatu yang ia pakai.
Bimo memberhentikan langkahnya dan menjulurkan lengan kirinya kepada Mentari. "Pegang lenganku" lanjut Bimo.
"Hah?" Mentari bingung.
"Biar jalannya cepat" Bimo beralasan.
Mentari tersenyum dan menuruti keinginan Bimo.
--
Galih sudah bersiap, duduk di kursi akad menunggu pak penghulu datang karena masih dalam perjalanan. Dari sisi lain yang tak jauh, Rara duduk sambil menggumpalkan telapak tangannya dan mengangkatnya, memberi semangat kepada Galih dari kejauhan.
Tak lama pak penghulu datang dan juga Mora berjalan memasuki meja akad di antar oleh ibunya, dengan gaun putih nan cantik Mora terlihat seperti bidadar.
"Ya ampuuunnn Mora cantik banget, kenapa sih setiap perempuan memakai pakaian nikah adat manapun, terlihat seperti bidadari" Rara kagum melihat penampilan Mora. "Dulu pas aku pakai gaun cantik seperti bidadari tidak Mas?" tanya Rara kepada Reyhan.
"Tidak" jawab Reyhan dengan cepat.
Tentu saja Reyhan berbohong untuk mengejek istrinya. Padahal dia sendiri seketika teringat jelas bagaimana perasaannya dulu saat melihat Rara memasuki pelaminan dengan gaun yang mengubah Rara seperti malaikat tak bersayap. Bahkan Reyhan pun sampai meneteskan air mata bahagianya pada saat itu. Memang benar, semua perempuan terlihat seperti bidadari saat memakai pakaian nikah adat manapun itu.
__ADS_1
"Ko tidak sih...." Rara kesal.
Reyhan tertawa kecil.
"Bahagianya melihat mereka duduk di pelaminan, rasanya ingin menikah lagi" ujar Reyhan.
"APAAAA??!!!!" Rara langsung melototi Reyhan.
"Hahahah... biasa aja dong matanya... maksudnya ingin bersama di pelaminan lagi bersama kamu, mengulang hari bahagia kita dulu..." jelas Reyhan mencubit hidung Rara.
"Alasan.. awas saja kamu kalau menikah lagi. Kepalamu lepas sama lehernya!" ancam Rara bergurau.
'Waduh..' Reyhan
Reyhan tertawa lalu merangkul istrinya.
--
Acara akad segera di mulai, Bimo dan Mentari langsung memasuki gedung mencari meja mereka yang sudah di siapkan Galih. Karena suasana yang sudah mulai ramai, Bimo menggenggam tangan Mentari erat agar tidak terlepas di dalam kerumunan, menggandengnya menuju meja tamu khusus undangan.
Meja Bimo yang sudah di siapkan Galih dan Mora, ternyata bersebelahan dengan meja Rara dan Reyhan.
Rara terbelalak melihat kedatangan Bimo, terkejutnya Rara bukan karena melihat Bimo, namun karena melihat siapa yang berada di samping Bimo dan di gandeng oleh Bimo.
"Mentari???!!!!" Rara benar-benar terkejut melihat Bimo datang bersama Mentari.
Bimo pun hanya diam melihat ke arah Rara dan Reyhan yang sedang memandang ke arahnya.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di LIKE dan VOTE ya sebagai dukungan kakak-kakak terhadap novel ini, dan agar author rajin untuk update😊🙏