
Sesampainya di cafe.
"Hy Men..." Reyhan berjalan menghampiri Mentari.
"Oh Reyhan?! tumben kesini" Mentari berdiri dan menanggapi tos tangan ala persahabatan mereka.
'Isshhh apaan sih Bimo ada di sini' Rara.
"Hy Ra" sapa Bimo.
Rara hanya terdiam memandang sinis Bimo.
"Duduk ayo duduk.. mau minum apa? biar aku buatin" tawar Mentari.
"Aku biasa" jawab Reyhan. "Kamu mau apa?" lanjut Reyhan bertanya kepada Rara yang hanya diam.
"Hah? aku mau matcha aja, yang dingin" balas Rara.
Haha.. 'Minuman kesukaannya ga pernah berubah' Bimo tertawa kecil.
"Oke aku buatkan dulu ya" Mentari melangkah meninggalkan mereka dan menyiapkan minuman.
"Kayaknya ada yang lagi cari-cari gedung nih" seru Reyhan mengintip layar laptop yang ada di tengah-tengah mereka.
Bimo hanya tersenyum.
"Memangnya sudah melamar?!" tanya Rara.
"Ya sudah dong sayang.. orang udah cari gedung gini" balas Reyhan.
"Ih kamu ini, yang di tanya siapa yang jawab siapa" Rara ngedumel.
Bimo hanya tertawa pelan menyaksikan keributan rumah tangga pasutri yang berada di hadapannya.
"Terus rencana acaranya kapan?" tanya Reyhan.
"Bulan depan, insyaallah" Bimo.
"Hah? cepet banget" sambung Rara.
"Ya suka-suka mereka dong Ra. Mungkin Bimo udah ga kuat nahan" gurau Reyhan.
"Nahan apa?" Rara polos.
"Nahan malam pertama, gitu aja ga ngerti" Reyhan.
__ADS_1
"Iisshhh kamu tuh bisa diem ga sih" Rara mulai kesal.
"Hm, dulu pas malam pertama yang ga sabaran juga si Rara nih Bim, agresif juga ternyata" ledek Reyhan.
Plakkkk!!! Rara mendaratkan telapak tangannya dengan kasar di lengan Reyhan. "Fitnah!!!!" lanjut Rara.
Reyhan dan Bimo tertawa.
Tak lama kemudian Mentari datang dengan membawa 2 gelas minuman pesanan Reyhan dan Rara. Lalu menghidangkannya di hadapan Reyhan dan Rara.
"Mas.. aku laper" seru Rara tiba-tiba.
Reyhan melihat jam di lengannya, waktu menunjukkan pukul 10.25 WIB.
"Mau makan apa? di sini juga ada makanan, pesan saja" jawab Reyhan.
"Ih tidak mau. Aku mau burger di burgerk*ng" Rara.
"Di sini juga ada burger" Reyhan masih membujuk.
"Gamau Mass....." Rara mulai merengek.
"Sudah sana belikan, udah tau istrimu lagi hamil. Mungkin ngidam" sambung Mentari.
Reyhan menghela napas dan pasrah. Lalu berdiri membawa kunci mobil di tangannya.
"Hah?!" Bimo terkejut. "Aku?" lanjutnya.
"Iya. Ayo temani!" ujar Reyhan.
"Sudah sana temani Reyhan, belikan juga untuk ku ya" bisik Mentari kepada Bimo.
Bimo pun pasrah dan berdiri sambil membawa jaketnya.
"Mas, aku mau 2 ya. Sama beli kan aku eskrim juga yang rasa coklat dan vanilla" Rara meringis.
"isshhhh dasar ibu hamil rakusss" ejek Reyhan sambil berlari kecil keluar cafe menghindari hantaman Rara.
--
Kini, hanya tinggal Rara dan Mentari yang duduk berhadapan di meja cafe Meriju.
"Ra.."
"Ya?"
__ADS_1
"Mmm.. bisakah kamu ceritakan semuanya tentang Bimo?" pinta Mentari.
"Hah?!" Rara terkejut.
"Maksudnya bukan soal hubungan kamu dan Bimo di masa lalu, tapi kamu kan sudah mengenal Bimo lama, dan lebih paham gimana Bimo. Sementara aku yang akan menikah dengan Bimo, tapi aku sendiri belum mengerti gimana Bimo"
"Aku juga tidak mengenal Reyhan sebelumnya, bahkan aku baru sedikit bisa memahaminya setelah kita menikah beberapa bulan. Dan jujur, sampai sekarang aku masih belum bisa sepenuhnya memahami Reyhan. Yang jelas, aku akan selalu berusaha ada di sisi dia. Kamu tidak perlu berusaha mencari tahu kesana kemari tentang Bimo, aku yakin seiring berjalannya waktu, kalian pasti akan bisa memahami satu sama lain. Yang terpenting, kalian harus saling percaya" jawab Rara.
"Dan ingat, ketika kita sudah menjadi seorang istri. Surga kita pindah berada di suami. Jadi wajib untuk kita patuh terhadap perintah suami" lanjut Rara.
Mentari hanya tersenyum mendengar jawaban dari Rara.
"Aku kasih bocoran sedikit deh, Bimo tidak suka makanan pedas. Jadi sepertinya kamu akan jarang belanja cabe dan saus" lanjut Rara.
Haha.. Mentari tertawa, Rara tersenyum.
'Semoga dia wanita yang tepat buat kamu ya Bim' gumam Rara dalam hati sambil memperhatikan Mentari tertawa.
--
Di dalam mobil, Reyhan menyetir sambil di iringi dan bernyanyi lagu so7. Bimo yang berada di sampingnya hanya bisa memperhatikan Reyhan.
"Kenapa? pasti tidak asing dengan lagu ini kan?" Reyhan.
"Haha.. iya. Lagu kesukaan Rara" balas Bimo.
Reyhan tersenyum.
"Boleh aku menanyakan sesuatu?" lanjut Bimo.
"Ya, tanya saja" jawab Reyhan sambil memperhatikan jalan.
"Sudah berapa lama kamu sahabatan dengan Mentari?"
"Sejak kuliah. Kenapa?"
"Hmmm.. gapapa. Aku hanya masih bingung aja, aku belum paham gimana Mentari sebenarnya. Takut tidak bisa mengerti dan membahagiakan dia" jelas Bimo.
"Sepertinya kamu sudah menyadari Mentari dan Rara itu cukup mirip, ya walau lebih cuekan Rara sih. Tapi tetap istimewaan Rara hahahah..." Reyhan membanggakan.
"Bim.. mengerti/memahami seseorang itu, tidak perlu harus tahu apa yang dia suka dan atau apa yang dia tidak suka. Mengerti seseorang itu lebih mengarah bagaimana kita bisa mengatur ego kita sendiri. Percuma kalau kamu mengerti apa yang disukai atau yang tidak di sukai Mentari, kalau kamu saja masih belum bisa menurunkan egomu sendiri" Reyhan.
"Membahagiakan perempuan itu simple Bim. Kita hanya perlu selalu ada di saat keadaan apapun. Itu sudah cukup membuat wanita merasa bahagia" lanjut Reyhan.
Mendengar apa yang di jelaskan Reyhan, seketika menjadi tamparan keras dan juga pembelajaran baru bagi Bimo.
__ADS_1
'Sepertinya kamu memang memilih suami yang tepat Ra' Bimo.
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote๐๐