
Ketika Bimo masuk ke dalam mobilnya dan hendak berangkat ke kantor, Bimo melihat Mentari sedang berdiri sambil memainkan hp di depan apartemen.
'Ngapain dia di pinggir jalan begitu?' Bimo.
Bimo mendekati ke arah Mentari lalu membuka kaca mobilnya.
"Kamu lagi ngapain di situ?" tanya Bimo.
"Oh.. Bimo. E... ini.. aku lagi mau pesen ojeg online" jawab Mentari.
"Mobil kamu kemana?" tanya Bimo.
"Mobilku bannya bocor" jawab Mentari.
"Emangnya kamu mau kemana?"
"Mau ke cafe"
"Yaudah masuk, biar ku antar, lagian kan searah" ajak Bimo.
"Emang gapapa?" Mentari sungkan.
"Gapapa.. ayok masuk" seru Bimo.
Mentari akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan Bimo. Dan Bimo pun mengantar Mentari ke cafe. Kebetulan cafe Mentari dan kantor Bimo searah dan tidak terlalu jauh.
"Kamu biasanya pulang jam berapa?" tanya Bimo sambil menyetir.
"Hah? Mmm.. biasanya pulang sore sih, kadang malem juga"
"Yasudah.. nanti sore biar ku jemput sekalian. Nanti balik kerja aku mampir ke cafe" ujar Bimo masih fokus melihat jalan dan menyetir.
"Seriuss???" Mentari tak percaya.
"Gausah GR. Beberapa hari lalu ada penumpang ojeg yang di jambret, ada juga yang di rampok di dalam mobil, bahaya. Selama mobil kamu kamu bannya bocor, mending sama aku" seru Bimo.
Mentari menahan tawa mendengar apa yang di sampaikan Bimo.
'Apa iya ada peristiwa itu? wkwk bilang aja mau jemput pake alasan segala, dasar' Mentari.
"Oke... aku tunggu di cafe yaaaa" balas Mentari tersenyum.
--
Hari ini Reyhan datang ke kantor lebih siang, karena harus mengantar Rara ke dokter terlebih dahulu untuk mengecek kandungan Rara.
Rara dan Reyhan pergi ke salah satu rumah sakit terdekat. Setelah mendaftar dan mengantri, Rara dan Reyhan pun masuk ke dalam ruangan dokter kandungan. Rara di periksa melalui gejala dan juga melakukan USG. Dan terlihat ada butiran kecil seperti kelereng yang menempel di rahim Rara.
"Usia kandungan sudah memasuki 5 minggu ya bu" ucap dokter setelah melakukan pemeriksaan kemudian duduk di meja nya. Di ikuti dengan Rara dan Reyhan yang duduk berhadapan dengan dokter.
Rata dan Reyhan saling memandang dan tersenyum satu sama lain.
'Ga nyangka udah memasuki 5 minggu, berarti setelah haid bulan kemarin dia langsung tumbuh' Rara mengelus perutnya pelan.
"Apakah ibu Rara mengalami muntah-muntah, pegal-pegal, atau gejala lainnya?" dokter.
"Tidak sih dok.. saya hanya merasa mual namun tidak sampai muntah. Tapi di jam tengah malam saya sering merasa lapar dok, padahal sudah makan malam" ujar Rara.
"Ok baik... mual dan muntah itu wajar ya bu, makan tengah malam juga boleh tapi jangan berlebihan ya bu, bisa jadi itu ngidam, selagi makanannya tidak membahayakan tidak apa-apa. Tapi hindari makan mie dan makanan cepat saji lainnya ya bu Rara" dokter.
"Ga boleh makan mie, burger, dan sejenianya dok?" Rara sedih.
"Boleh, tapi jangan berlebihan ya bu..." dokter.
Rara menghela napas. "Yasudah dok..."
"Ini nanti saya beri vitamin dan susu untuk ibu hamil, vitamin di minum pagi hari, dan susu di minum sebelum tidur ya bu Rara.." dokter.
"Baik dok..."
"Apa ada yang perlu di tanyakan lagi?" dokter.
"Mmmmm... dok...." sambung Reyhan, namun terlihat ragu.
"Iya pak Reyhan? ada yang ingin di tanyakan?" dokter.
Reyhan melirik Rara sejenak.
__ADS_1
"Mmm... begini dok.. i-itu... mi-misalkan.. be-begituan.. boleh kan dok?" Reyhan terbata dan terlihat sedikit malu.
'Begituan apa sih maksudnya?' Rara bingung.
Dokter tersenyum. "Selagi hamil masih boleh untuk berhubungan kok pak Reyhan. Tapi usahakan pelan agar tidak menyakiti si bayi maupun ibunya ya Pak" dokter.
Reyhan tersenyum lebar dan mengangguk.
'Ya ampun... malu-maluin aja nanya begitu' Rara.
--
Di dalam mobil.
"Kenapa sih nanya begitu" ucap Rara kesal.
"Hah?" Reyhan bingung. "Oh... ya memangnya kenapa? ga salah kan?" lanjut Reyhan.
"Malu tau....."
"hahaha.. kenapa harus malu? lagian kamu hamil 9 bulan, belum lagi nanti pemulihan, kamu mau setahun ga begituan? mending nanya dong dari pada nanti aku jajan di luar kan" ledek Reyhan sengaja.
"APAAAA??!!!!!" Rara terlihat marah.
'Wkwk... ekspresi mukanya lucu banget' Reyhan.
PLAK..... Rara mendaratkan telapak tangannya di lengan Reyhan cukup kencang.
"Duh.. sakit..." Reyhan merintih.
"Berani jajan di luar, ku bunuh kau nanti!!!" ancam Rara bergurau.
"Hahahah... becanda sayang..." Reyhan membelai lembut rambut Rara.
"Jangan sering bikin aku kesel, aku kan lagi hamil!"
'Hm senjata ngambeknya semakin tambah kuat nih' Reyhan.
"Iyaaa maaf..... becanda istriku.... yaudah kita makan yah, mau makan apa anak ayah?" kemudian Reyhan mengelus lembut perut Rara seakan mengajak ngobrol buah hatinya.
Rara menahan tawa ketika mendengar Reyhan memanggil dirinya sendiri ayah.
--
Tak lama, Mentari pun datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Taraaaaa.. satu porsi matcha untuk orang yang menjemput ku hari ini" Mentari menyerahkan matcha ice kepada Bimo lalu duduk berhadapan dengan Bimo.
"Matcha?" Bimo bingung.
"Iya, kamu doyan kan? itu minuman kesukaan aku, cobain deh, enak banget" Mentari tersenyum.
'Kenapa dia semakin mirip dengan Rara? sama seperti Rara yang menyukai matcha juga' Bimo.
Kemudian Bimo menyeruput dan mencoba matcha tersebut.
"Gimana? enak kan?" tanya Mentari penasaran dengan pendapat Bimo.
"Enak" jawab Bimo.
"Iyalah.. itu kan buatan langsung dari tangan aku" Mentari tersenyum.
"Oh iya, kamu udah laper?" tanya Mentari.
"Mmm.. lumayan. Mau makan dulu?" Bimo.
"Kita ke supermarket yuk, belanja sayur dan lauk. Nanti kita masak di apartemenku, sekalian kamu liat apartemenku, kamu kan belum main ke tempatku kan?"
"Mm... boleh"
"Yasudah aku ambil tas dulu" seru Mentari.
Bimo dan Mentari akhirnya pergi ke supermarket untuk berbelanja bahan.
--
Sesampainya di supermarket, Mentari langsung mengambil keranjang dan diikuti Bimo di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu suka makan apa?" tanya Mentari kepada Bimo yang berjalan di sebelahnya.
"Nasi" jawab Bimo singkat.
"Iiiih maksudnya lauk apa" balas Mentari sambil mencubit lengan Bimo.
"Aw.. hahaha..." Bimo tertawa. "Mmm... Masak ikan aja, aku lagi pengen ikan" lanjut Bimo.
'Dia sudah mulai bisa di ajak bercanda' Mentari.
"Yasudah.. aku masak ikan sama oseng kangkung ya. Harus makan sayur"
"Iyaa... terserah kamu saja.." Bimo.
--
Setelah menjemput Rara di toko kue, Reyhan dan Rara langsung segera pulang. Sesampainya di rumah, ternyata sudah ada pak Santoso, istrinya, pak Udin, dan satu perempuan yang sudah cukup tua.
Reyhan dan Rara turun dari mobil.
"Mamah.. papah.. ya ampun.. udah lama di sini?" Rara merasa tidak enak dan langsung mencium tangan kedua mertuanya itu.
"Tidak.. kita juga baru sampai kok" jawab pak Santoso.
Rara kemudian membuka kunci pintu dan mereka sekeluarga masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang tengah.
"Tumben papah ke sini?" tanya Reyhan.
"Iya kami mau melihat keadaan menantu yang sedang mengandung cucu kita ya pah.." seru Mamah Reyhan.
"Oohh... jadi tidak ingin melihat ku? yayayaya..." gurau Reyhan.
Semua tertawa.
"Bagaimana nak keadaan mu? apakah kamu merasa sakit atau lemas?" tanya Pak Santoso.
"Tidak pah.. aku baik-baik saja.. aku juga masih bisa kerja di toko. Tidak perlu khawatir.." jawab Rara tersenyum.
"Kamu jangan terlalu sering bekerja, banyak-banyak istirahat saja di rumah..." Mamah.
"Tuh dengerin..." sambung Reyhan sambil melirik istrinya.
"Oh iya... ini namanya Bi Ina.. Bi ini ini istrinya pak pak Udin. Bi ina ini dari Reyhan kecil sudah bekerja bersama keluarga kita. Selama kamu hamil, bi Ina di sini dulu ya, buat bantu-bantu kamu ngurus rumah, dan menjaga kamu di rumah saat Reyhan sedang bekerja" Papah.
"Hah?" Rara terkejut dan menatap Reyhan.
Reyhan tersenyum.
"Saya Bi Ina.. Mba Rara" perempuan tua itu yang ternyata bi Ina dan kemudian tersenyum kepada Rara.
"Mah.. Pah.. aku baik-baik saja.. aku masih bisa kok mengurus rumah.." jawab Rara.
"Selama kamu hamil aja sayang.. aku yang meminta bi Ina dan pak Udin tinggal di sini selama kamu hamil. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa saat sendirian di rumah kalau aku terlambat pulang kerja" Reyhan.
'Issshh... jadi ini rencana Reyhan, kenapa dia tidak bicara dulu denganku' Rara.
"Pak Udin juga?" Rara bingung.
"Iya... pak Udin juga tinggal di sini dulu selama kamu hamil nak, untuk membantu mengantar kamu kalau kamu perlu pergi ke suatu tempat" Papah.
Rara tersenyum terpaksa dan hanya bisa pasrah.
Dan akhirnya Pak Udin dan Bi Ina tinggal di rumah Reyhan selama Rara hamil. Mereka tinggal di kamar bawah. Dan mereka di beri tugas untuk menjaga Rara ketika Reyhan tidak ada di rumah.
--
Setelah berbelanja, Bimo dan Mentari langsung menuju apartemen. Kaki mereka berdua seketika berhenti melangkah ketika sudah hampir sampai di depan apartemen Mentari. Seorang perempuan yang berdiri di depan apartemen Bimo membuat Bimo dan Mentari terkejut.
"Mia?" Bimo benar-benar terkejut.
"Hy Bim" Mia tersenyum.
'Siapa wanita yang datang bersama Bimo itu?' Mia.
'Bukankah itu... wanita yang ada di foto waktu itu? wanita yang memakai toga dan di rangkul oleh Bimo. Apakah dia kekasih Bimo sekarang?' Mentari.
Saya Mohon maaf kemarin tidak update karena saya sedang kurang enak badan🙏.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan share ke siapapun, dan juga klik vote agar author rajin untuk update😊🙏