
Keesokan harinya, Reyhan, Rara, kedua orang tuanya, bi Ina, dan pak Udin, kembali lagi ke rumah masing-masing.
Sebelum tidur, seperti biasa Reyhan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah keluar dari kamar mandi, Reyhan melihat Rara duduk bersandar di atas tempat tidur sambil memegangi perutnya dan tersenyum-senyum sendiri.
"Kenapa? apa perutmu sakit?" tanya Reyhan.
Rara menggeleng.
Reyhan meletakkan handuknya lalu naik ke atas tempat tidur dan duduk di hadapan Rara, dan tangan kanannya mengelus lembut perut Rara.
"Kalau kamu merasa sakit, mual, tidak enak, atau menginginkan sesuatu, langsung katakan ya" ucap Reyhan.
Rara tersenyum dan mengangguk.
"Aku sudah bilang partner di kantor untuk merubah jadwal kerjaku agar aku lebih banyak kerja di rumah"
"Hah? kenapa?" Rara bingung.
"Aku tidak akan membiarkanmu sendiri di rumah" balas Reyhan lalu mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Jadi nanti aku bakal sering di rumah selama kamu hamil" lanjut Reyhan menatap wajah Rara.
Rara merubah posisi duduknya dan sedikit ke depan mendekati Reyhan, memeluk suaminya tersebut.
"Mas.. terimakasih ya. Terimakasih banyak sudah mau sabar dan menanti selama ini. Menjagaku, melindungiku, menemaniku, mendukungku, dan masih banyak hal lainnya. Aku sangat mencintaimu Mas... Aku janji, kali ini akan lebih berhati-hati lagi" seru Rara dengan suara yang mulai bercampur tangis haru dalam pelukan Reyhan.
Reyhan membalas pelukan istrinya, membelai lembut rambut Rara, dan mencium ujung kepala Rara.
"Besok kita ke rumah sakit ya, kita lihat perkembangan dia di dalam perutmu" ujar Reyhan.
Rara mengangguk.
--
Paginya, Rara dan Reyhan sudah berada di sebuah ruangan dokter kandungan di salah satu rumah sakit. Dari balik layar USG terlihat jelas sesuatu berada di dalam perut Rara, walau belum terbentuk sempurna karena masih memasuki minggu ke-8, namun terlihat perkembangannya cukup baik.
Rara tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati dan matanya pun tak mampu menahan haru, ia terus meneteskan air mata kebahagiaannya. Begitu juga dengan Reyhan yang sedari tadi tak melepas genggaman tangannya di tangan Rara, matanya pun seakan tak berkedip saat melihat langsung layar USG. Mata Reyhan tak mampu berpura-pura, terlihat mata yang berkaca-kaca memantulkan kebahagian.
--
Setelah keluar dari ruangan pemeriksaan, Rara dan Reyhan pergi untuk mengambil obat dan vitamin untuk Rara dan si kecil yang berada di dalam perut Rara.
"Mas.. itu bukannya Bimo?" Rara melihat seorang yang sedang mengambil obat juga dan menyadari bahwa itu adalah Bimo.
Reyhan mencoba memperhatikan ke arah yang di tunjuk Rara. Dan rupanya benar itu adalah Bimo.
"Hey.. ngapain?" sapa Reyhan saat menghampiri Bimo.
"Heyyy" Bimo langsung membalas sapaan Reyhan.
"Sendirian Bim?" tanya Rara.
"Engga, tuh.." Rara menunjuk seorang perempuan yang sedang duduk di kursi tunggu yang perutnya mulai terlihat membuncit. Siapa lagi kalau bukan istri Bimo, Mentari.
__ADS_1
Rupanya Bimo dan Mentari juga baru saja memeriksakan kandungan Mentari.
Setelah segala urusan di rumah sakit selesai, Reyhan, Rara, Bimo, dan Mentari, memutuskan untuk makan siang bersama di salah satu tempat makan yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut.
Mereka duduk bersebalahan dengan pasangan mereka masing-masing dalam satu meja.
"Bagaimana rasanya pertama kali hamil Mentari?" Rara memulai percakapan.
"Wah.. luar biasa Ra. Belum keluar saja rasanya sudah begini, apalagi kalau sudah lahir. Aku benar-benar tidak sabar" jawab Mentari senang.
"Kamu tidak merasa lemas, muntah, atau semacamnya?" lanjut Rara.
"Kalau aku sih biasa aja Ra.. justru yang begitu tuh Bimo. Sekarang dia lebih sensitif dengan bau-bauan hahaha.." Mentari.
"Serius Bim??" Rara terkejut.
"Iya, entah kenapa sering pengen muntah kalau mencium bau-bau aneh" sambung Bimo.
"Hahahaha... dasar lemahhh.. jangan-jangan kau yang hamil Bim" ledek Reyhan.
"Waktu itu... bangun tidur nih ya, Bimo masih merem, terus aku pingin kentut, yaudah kentut aja, lagian udah biasa juga, masa tiba-tiba dia bangung dan langsung lari ke kamar mandi, dan muntah dong hahahah.." seru Mentari.
"Iyalah... gimana ga muntah, itu kamu kentut baunya kebangetan sayang" Bimo beralasan.
"Hahah tapi kan udah biasa aku kentut begitu..." Mentari.
"Beda... itu baunya udah kaya bangkai" Bimo.
(Lah jadi urusan wkwk)
Mereka berempat saling bercerita dan berbagi pengalaman satu sama lain, apalagi Rara yang pernah mengalami keguguran, membuat Mentari untuk belajar lebih hati-hati, begitu juga dengan Rara yang lebih mengontrol dan menjaga agar kejadian dulu tidak terulang lagi.
Selain bercerita dan berbagi, mereka juga sesekali membahas kebiasaan aneh mereka setelah mereka menikah, mereka mengobrol dengan canda dan gurau, yang membuat tawa di setiap cela obrolan yang melukiskan kegembiraan dan kebahagiaan satu sama lain.
Suara Dalam Hati...
Rara,
Dear Bimo, terimakasih, karena kamu jugalah salah satu bagian perjalananku hingga aku bisa di titik ini, tempat ini, dan waktu ini. Darimu, adalah titik awal aku belajar kuat walau harus terluka lebih dulu. Darimu, aku belajar bagaimana untuk tetap bersikap baik terhadap orang yang sudah pernah melukaiku sekalipun.
Teruntuk Obie, jauh di dasar jiwaku, namamu punya tempat tersendiri di ruang hati ini. Terimakasih Bie.. tenanglah dengan damai. Sampai berjumpa di lain kehidupan, aku selalu merindukanmu.
Dan Mas Reyhan, terimakasih suamiku. Sudah sangat sabar dalam mencintaiku. Terimakasih untuk segala perjuangan dan pengorbanan sejauh ini, menjagaku, membimbingku, melindungi ku, menerimaku, menemaniku, dan mendukungku dalam keadaan apapun. Aku benar-benar tidak salah memilih untuk hidup bersamamu.
-
Reyhan,
Rara, istriku.. terimakasih sudah memilihku walau awalnya kamu pasti ragu, namun kamu berusaha kuat untuk meyakinkan semua orang termasuk dirimu sendiri. Maafkan aku yang pernah mengabaikan perjuanganmu, namun dari situ, aku belajar untuk lebih menghargai. Terimakasih sudah memberiku arti rumah yang sesungguhnya, karena kamulah tempatku untuk pulang.
-
Bimo,
__ADS_1
Dear Rara. Maafkan aku yang dulu sangat egois dan kejam terhadapmu. Akulah orang yang seharusnya tak pantas mendapat pengampunanmu. Namun kamu memilih untuk tetap berdiri sebagai sahabatku. Terimakasih, sudah memberiku arti dari sebuah maaf dan sahabat.
Dan istriku, Mentari. Terimakasih.. sudah datang di waktu gelapku. Menerima segala kekurangan dan keterbatasanku. Teruslah menjadi Mentari yang memberiku cahaya terang dalam kegelapan.
-
Mentari,
Walau aku tahu Bimo belum sepenuhnya melupakan Rara, namun aku bisa mengerti, karena masa lalu adalah salah satu dari bagian hidup yang tentu tidak bisa lepas dengan mudah. Justru aku berterimakasih karena Rara lah yang pernah mengisi hati Bimo hingga membuat Bimo jauh lebih baik. Dan dari Rara juga aku banyak belajar. Terimakasih Ra, sudah menjadi sahabat suamiku, dan semoga kita pun bisa menjadi sahabat yang baik kedepannya. Aku benar-benar senang bisa mengenalmu.
Teruntuk para pembaca setia tulisan ini..
Terimakasih atas waktu dan dukungan kalian yang telah bersabar menunggu update-an-nya di setiap hari. Mohon maaf jika saya mempunyai salah dalam kata dan menyikapi tanggapan kalian. Saya benar-benar mengucapkan terimakasih teruntuk kalian yang sudah membaca tulisan ini sampai akhir. Terimakasih atas dukungan, semangat, dan juga masukan yang sudah kalian beri. Semoga ke depannya saya bisa belajar lebih baik lagi😊🙏
Tujuan awal saya menulis cerita ini bukanlah untuk menyinggung ataupun lainnya, apalagi sampai 'menjual kesengsaraan Rara' (Wkwkwk sama sekali tidak). Justru, mungkin di dalam cerita Rara terlihat menderita dan banyak sedihnya, kenapa?... Di sini saya hanya berusaha memberikan pembelajaran melalui kisah Rara. Jadi mari kita ambil positifnya, dan abaikan jika ada negatifnya.
Pembelajaran apa sih yang ingin di sampaikan?
Pertama
Dari kisah Rara dan Bimo, kita bisa belajar untuk saling memaafkan, berdamai dengan masa lalu, namun tetap realistis. Tidak sedikit orang yang saling memusuhi bahkan saling dendam karena masa lalu yang kelam. Mereka tidak tahu, bahwa langkah awal untuk berjalan menuju masa depan adalah berdamai dengan masa lalu. Jadi, tidaklah perlu kita membenci orang, sekalipun ia sudah menyakiti kita.
Kedua
Dari pertemuan Rara dan Obie, kita bisa belajar untuk lebih saling menghormati orang lain. Mungkin banyak orang jika di pandang dari luar terlihat seperti pendosa, namun ternyata hatinya lebih manusiawi. Maka janganlah memandang orang hanya dari latar belakangnya saja.
Selain itu kita juga belajar untuk menghargai waktu, menghargai kebersamaan, dan menghargai orang yang berusaha membuat kita tersenyum.
Ketiga
Penolakan Rara atas lamaran Bimo, bukanlah keputusan yang tanpa alasan. Kita bisa belajar untuk tidak menyakiti orang yang sudah mencintai kita. Kita bisa belajar untuk lebih menghargai kesempatan. Kita bisa belajar agar lebih bertanggung jawab atas apa yang sudah kita pilih dari awal, bukannya lari dari pilihan. Dan kita juga perlu ingat, hukum alam pasti berlaku, apa yang kita perbuat suatu saat pasti akan mendapat balasan, bahkan terkadang berkali-kali lipat, entah itu perbuatan baik ataupun buruk.
Ke empat
Keguguran Rara bukanlah penderitaan yang di buat author semata-mata untuk menjual (hadeeeeh😂).
Saya hanya ingin memberi pembelajaran, terutama untuk pasangan yang baru menikah, atau sudah menikah namun kehilangan anak, atau yang masih belum di karuniai anak.
Disini kita bisa belajar bahwa di dalam pernikahan bukan hanya soal anak. Apalagi perihal anak yang lebih berkuasa adalah Tuhan. Karena nafkah bisa di cari, kasih sayang bisa di bentuk, rumah bisa di bangun, namun anak? kita hanya bisa berusaha, kapan di berinya itu kehendak Tuhan. Maka, fokuskanlah untuk saling menyayangi dan memperkuat hubungan. Dan yakinlah bahwa segala kesabaran dan penantian, akan berbuah manis🙂.
Intinya, yang terpenting di dalam sebuah hubungan adalah 'Saling'. Saling menyayangi, saling mencintai, saling mendukung, saling mengerti, saling menerima, saling terbuka, saling percaya, saling berjuang, saling bertahan, dan lainnya. Karena hubungan itu di jalani oleh 2 insan, 2 hati, 2 jiwa, 2 raga. Jika hanya salah satu, maka satunya akan tumbang, patah, dan hancur.
Terimakasih semuanya🥰
Sedikit Pengumuman.
Insyaallah dalam waktu dekat (sekitar akhir bulan/awal bulan depan), saya akan menulis sebuah kisah yang berjudul 'Candu Ku'.
Menceritakan seorang gadis bernama Alana Mahesa, yang menjadi korban ke ambisiusan ayahnya, dan harus menikah dengan seorang lelaki atas pilihan ayahnya. Yang ternyata lelaki tersebut adalah seorang pecandu.
Di tunggu ya😊
__ADS_1