Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 124 Liburan Keluarga


__ADS_3

Mmmmcchhh... sebuah kecupan manis pagi hari mendarat di pipi Rara yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.


"Loh Mas, tidak ke kantor?" Rara terkejut melihat Reyhan turun dari lantai atas hanya memakai kaos dan celana pendek.


"Tidak, hari ini papah dan mamah akan kerumah" balas Reyhan.


"Hah? jam berapa? sekarang? aku belum menyiapkan makanan Mas" Rara mulai panik.


"Haha.. memangnya papah dan mamah ke sini mau numpang makan?. Tidak usah sayang.. nanti agak siangan papah dan mamah ke sini jemput kita"


"Jemput?" Rara bingung.


"Yap.. kita akan keluar untuk berlibur"


"Hah? kemana?" Rara semakin terkejut karena ide liburan keluarga yang sangat mendadak ini.


"Ada deh...." ledek Reyhan. "Sudah, ayo sarapan" lanjut Reyhan duduk di meja makan untuk bersiap melahap sarapannya.


--


Siang hari, kedua orang tua Reyhan datang ke rumah bersama pak Udin dan bi Ina. Mereka datang untuk menjemput Reyhan dan Rara.


"Mas.. kita mau kemana sih?" tanya Rara saat hendak memasuki mobil.


"Liburan sayang.." jawab Reyhan sambil mendorong koper kecil berisi pakaian ganti Rara dan Reyhan.


'Ya liburan sih liburan, tapi kemana? sampai bawa koper, kenapa mendadak seperti ini?' Rara bingung dan sebenarnya sedikit kesal karena sedari tadi bertanya tidak di jawab dengan pasti oleh Reyhan.


Roda mobil terus berjalan sampai tak terasa perjalanan sudah lebih dari 1 jam. Jalanan mulai sepi, di sekeliling hanya terlihat pepohonan yang hijau dan tinggi. Bahkan rumah-rumah pun jarang terlihat, sekalinya ada jaraknya saling berjauhan. Wilayah yang bisa terbilang adalah wilayah di kaki bukit yang hijau. Rara semakin heran dan bingung akan kemana sebenarnya ia di bawa.


Tak lama kemudian, pak Udin menghentikan mobil di depan sebuah rumah namun tidak seperti rumah biasanya. Rumah yang terdiri 2 lantai berukuran sedang namun di sekelilingnya terdapat rerumputan, tumbuhan, pohon, dan bunga-bunga yang luas nan hijau. Bahkan tak jauh di sebelahnya terdapat seperti penambakan ikan yang cukup luas.


Semua orang turun dari mobil, seorang laki laki yang terbilang hampir tua mendekati mereka, bersalaman dan kemudian langsung mengeluarkan koper-koper dan membawanya masuk ke dalam rumah tersebut di bantu oleh pak Udin juga.


Kemudian semua orang masuk ke dalam rumah yang bernuansa putih tersebut dan saat tiba di pintu masuk, ada seorang ibu-ibu yang hampir berumur tua datang menghampiri dan bersalaman dengan mamah Reyhan, bahkan mamah Reyhan membalasnya dengan pelukan.


"Mas Reyhan.. kopernya mau di taruh di lantai bawah atau atas?" tanya pak Udin


"Biasa, di atas aja ya pak.. nanti biar mamah dan papah di bawah" jawab Reyhan.


Setelah saling bersalaman dan berpelukan, semuanya berbincang dan sedikit mengobrol menanyakan soal kabar.


"Ini menantu saya" seru mamah Reyhan sambil merangkul Rara.


"Selamat datang nona" jawab ibu-ibu itu tersenyum dan menyalami Rara.


"Panggil Rara saja bu..." balas Rara tersenyum.


Rara benar-benar bingung ia berada dimana dan sedang berbicara dengan siapa.

__ADS_1


"Cantik kan bi istri aku" sambung Reyhan dari belakang lalu memeluk Rara dari arah belakang juga.


"Mas.. apaan sih malu" gerutu Rara.


Semua orang tertawa melihatnya.


"Reyhan antar Rara ke kamar, istirahatlah dulu sebentar, mungkin Rara kelelahan setelah perjalan cukup jauh" seru Pak Santoso.


"Siap pah" jawab Reyhan lalu menggandeng tangan Rara dan menariknya menaiki anak tangga.


"Mas..." ucap Rara ketika sudah memasuki kamar dan menutup pintu.


"Ya" jawab Reyhan sambil melepas jaket dan jam tangannya.


"Ini kita di mana sih Mas?"


"Ini salah satu villa keluarga, milik papah" jawab Reyhan.


'Waw, gila. Salah satu? memangnya pak Santoso memiliki berapa villa?' Rara terkejut dan ia masih belum menyadari bahwa mertuanya adalah orang yang sangat berada.


Ya, selama menikah dengan Reyhan. Rara dan Reyhan hidup dengan usaha mereka sendiri, terutama hasil dari apa yang Reyhan bangun dari dulu. Reyhan juga tidak pernah bercerita atau mengumbar apapun yang di miliki orangtuanya.


Reyhan berjalan menuju pintu teras kamar. Reyhan membuka gorden dan kemudian membuka pintu tersebut. Reyhan berjalan keluar dan berdiri di teras. Terlihat Reyhan juga mengeluarkan ponsel di sakunya, lalu mengangkatnya ke depan seakan sedang mengambil foto. Kemudian Reyhan berbalik badan, dan memandang Rara yang masih berdiri di dalam kamar.


"Kemarilah.." seru Reyhan mengajak Rara.


Rara berjalan menghampiri suaminya.


"Lihatlah, di sana ada kebun teh" tunjuk Reyhan.


Rara memandangi apa yang di arahkan Reyhan, terlihat jelas luasnya kebun teh yang begitu terlihat segar, walau hari menunjukkan terik siang, namun udaranya benar-benar sejuk.


"Mas, itu..." Rara menunjuk ke bawah.


"Itu tambak ikan, banyak berbagai ikan tawar di budidayakan di sana" balas Reyhan.


"Apa itu milik papah juga?"


"Iya. Kebun teh itu juga"


"Serius Mas????"


Reyhan mengangguk. "Papah membangun ini untuk bisa mempekerjakan penduduk desa setempat, agar mereka bisa mempunyai penghasilan dan juga tetap menjaga lingkungan mereka. Tapi papah tidak langsung turun tangan mengurus semua ini. Karena itu papah mempercayai ini semua kepada pak Ujang dan istrinya bu Nana" lanjut Reyhan.


"Apakah orang yang di bawah tadi?" tanya Rara.


"Iya. Mereka pak Ujang dan bu Nana. Mereka yang mengurus kebun teh dan tambak ikan itu, dan juga menjaga rumah ini agar tetap bersih dan tidak kosong"


"Wahhh.... baik sekali papah dan mamah" Rara benar-benar terharu.

__ADS_1


"Ya... mereka adalah orang yang sangat baik. Kalau mereka tidak baik, tidak mungkin mereka memungut dan mengangkat ku sebagai anak" ujar Reyhan.


Rara mendekati Reyhan, dan memeluk suaminya.


"Bukan memungut, memangnya kamu sampah? apa kamu daun?. Mereka menemukan harta berharga Mas, yaitu kamu"


Hahaha.. Reyhan tertawa sambil membalas pelukan Rara.


"Sayang aku lelah, aku ingin tidur" lanjut Reyhan.


Sesuai perkataan papah Reyhan sebelumnya. Akhirnya Rara dan Reyhan istirahat siang, tertidur di kamar mereka.


Setelah berjam-berjam berlalu, Rara terbangun dan mendengar sedikit keberisikan di lantai bawah. Rara mencoba mencari sumber suara berisik itu. Rara melangkah menuju teras kamarnya lalu melihat ke arah bawah. Tepat di tambak ikan, ada beberapa orang laki-laki termasuk pak Santoso, pak Udin dan pak Ujang, juga di bantu beberapa orang lainnya. Terlihat mereka sedang menangkap ikan.


Rara melangkah menuju tempat tidurnya lagi, berusaha membangunkan Reyhan.


"Mas.. Mas..."


"Hmmmmm" Reyhan hanya mengeram.


"Mas, sepertinya di bawah sedang sibuk menangkap ikan"


"Iyaaaaaa" jawab Reyhan masih memejamkan mata.


"Ih kok iya sih. Bangun Mas.. ayok bantuin"


Reyhan membuka matanya. "Kamu ingin nyemplung ke tambak?" lanjut Reyhan.


"Kamu" Rara tersenyum dengan polosnya.


Reyhan menatap tajam Rara.


"Hahahha.. sudah Mas ayok bangun, sudah sore juga. Sepertinya di dapur juga sedang sibuk soalnya dari tadi berisik"


"Iya. Nanti malam kan akan ada acara bakar-bakar ikan dan makan malam bersama dengan para pegawai papah yang bekerja di kebun teh dan tambak" jelas Reyhan.


"Oh ya???" Rara benar-benar tidak tahu soal itu.


"Iya. Yasudah aku mandi dulu deh" Reyhan mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.


'Wah.. sepertinya nanti malam akan seru, akan banyak orang, dan pesta ikan bakar. Senangnyaaa' gumam Rara dalam hati membayangkan nanti malam.


Sambil menunggu Reyhan mandi, Rara merapihkan tempat tidurnya. Dan saat sedang melipat selimut, ponsel Reyhan yang tergeletak di atas meja dekat tempat tidur bergetar, begitu juga layar ponsel menyala. Tak sadar Rara menengok ke arah ponsel tersebut. Terlihat sebuah pesan masuk.


Gita : Aku benar-benar Rindu...


DEG!!!!! Rara terkejut saan membaca tulisan pesan tersebut. Jantungnya sangat berdebar, kakinya mulai lemas, nafasnya tidak beraturan.


'Apa!!! Rindu? Gita? siapa Gita???!!!!!!'

__ADS_1


Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote😊


__ADS_2