
"Permisi.. bisa bertemu dengan pemilik cafe ini?" tanya Bimo.
"Bisa Mas.. apa sebelumnya sudah ada janji?" karyawan cafe.
"Sudah.. saya mau mengambil dompet saya" balas Bimo.
Salah satu karyawan akhirnya mengantar Bimo menuju salah satu ruangan.
Setelah malam itu, Mentari akhirnya memberanikan diri untuk menelpon Bimo dan memberitahu bahwa dompetnya tertinggal di cafenya. Namun mentari tidak memberitahu tentang dirinya melainkan hanya memberi informasi untuk menemui pemilik cafe. Dan esoknya, sepulang kerja Bimo langsung menuju Meriju cafe.
Bimo masuk ke dalam ruangan dan terlihat seorang perempuan yang sedang duduk membelakangi. Kemudian dia memutar kursinya dan..
"Ka-kamu???!" Bimo terkejut.
"Hy Bim?" Mentari tersenyum lalu mempersilahkan Bimo untuk duduk di hadapannya.
"Kamuuu...." Bimo masih syok.
"Yap.. sebelumnya kita pernah bertemu, di Bandung. Tepatnya di parkiran gedung nikahan Rara-Reyhan" seru Mentari.
"Kenapa dompet ku bisa di kamu?"
"Oh.. itu karyawanku yang menemukannya"
"Kamu pemilik cafe ini??"
"Yaaaa... 60% (40% sisanya Eri dan Reyhan)"
Bimo terdiam karena masih heran.
'Kenapa aku bertemu dengan wanita ini lagi' Bimo.
Bimo mengulurkan tangannya, meminta dompetnya kembali dan tanpa berbicara apapun.
"Apa?? minta jajan?" gurau Mentari
Bimo tertawa sinis. "Dompetku" lanjutnya.
Mentari tak mau kalah, ia membalas dengan tertawa sinis juga.
"Begini cara mu menghargai orang yang sudah baik dan menolongmu?" Mentari.
"Ok. Sebelumnya terimakasih. Dan sekarang saya minta dompetnya"
Mentari menjulurkan dompet yang ada di tangannya. Dan ketika Bimo hendak mengambilnya, Mentari menggerakkan tangannya, seolah sedang menjaili Bimo.
'Maunya apa sih nih cewe' Bimo.
Bimo hanya terdiam kesal. Mentari tertawa. Kemudian menyerahkan dompet Bimo.
__ADS_1
"Terimakasih" ucap Bimo saat menerima dompetnya.
"Hanya itu?" Mentari.
'Benar kan, dia menginginkan sesuatu' Bimo.
"Lalu kau menginginkan balasan apa?"
"Besok, hari Minggu. Ku tunggu kamu di cafe ini jam 10.00" seru Mentari.
"Haha.. dengan alasan apa aku harus menuruti mau mu?" Bimo.
"Sebagai rasa terimakasih" jawab Mentari singkat.
"Jika aku tidak datang?"
"Ku beri tahu Reyhan bahwa kamu menyimpan foto istrinya di dompetmu"
'Apa??!! dia mengenal Reyhan??!!!' Bimo.
Bimo hanya memandangi Mentari. Lalu berjalan keluar ruangan.
"Akan ku pastikan kamu datang, jika KTP mu ingin kembali" lanjut Mentari ketika Bimo hampir menutup pintu.
Bimo mengecek isi dompetnya dan benar saja, KTP nya tidak ada.
'Dia benar-benar ingin mengerjaiku' Bimo.
--
Rara duduk berlutut di samping tempat peristirahatan Obie, begitu juga dengan Reyhan. Menabur bunga dan membacakan doa untuk Obie.
Setelah kesepakatan waktu itu, akhirnya Reyhan menyetujui keinginan Rara untuk menemui makam Obie. Walau sebenarnya Reyhan cemburu namun dia ingin menebus kesalahannya waktu itu yang sudah menghancurkan foto Obie. Dan bagaimana pun Reyhan cemburu, Obie sudah tidak ada.
Makam Obie terlihat bersih, dan bahkan masih ada bunga bertaburan, menandakan masih ada orang yang rajin menengok makam Obie. Dan Rara berfikir orang itu adalah Efan. Karena terkadang Efan mengirimkan foto keadaan makam Obie kepada Rara. Efan memang sahabat terbaiknya Obie. Rara sengaja tidak memberitahu Efan kalau dirinya datang ke Purwokerto untuk menengok Obie, karena Rara tidak ingin merepotkan Efan, dan juga tidak ingin membuat Reyhan kebingungan jika ada keberadaan Efan.
Terlihat Rara terus memandangi batu nisan yang terukir nama Obie. Sesekali Rara tersenyum, dan juga meneteskan air mata.
'Maaf Bie.. setelah sekian lama aku baru datang ke sini lagi. Aku benar-benar sangat merindukan mu Bie. Rindu menemani mu balapan dan juga rindu dengan segala kejailanmu. Aku selalu berdoa untuk mu setiap aku selesai sholat dan itu cukup mengobati kerinduan ku padamu. Maaf kan aku Bie.. Maaf kan aku yang belum bisa membuat mu bahagia, dan bahkan aku tidak ada di saat-saat kamu masih berusaha bernafas untuk yang terakhir kalinya. Maafkan aku Bie.. maaf kan aku yang belum sempat membalas semua kebaikan mu.. Maaf Bie..'
Tak sadar Rara pun menangis.
Reyhan melingkarkan tangan kirinya di pundak Rara, berusaha menenangkan Rara.
'Kau pasti sangat merindukannya, sampai kau menangis seperti ini' Reyhan.
Rara mencoba tersenyum dan menghapus air matanya.
"Bie.. aku datang bersama seseorang. Namanya Reyhan. Dia suami ku" seru Rara kemudian memandangi Reyhan.
__ADS_1
"Hy Obie.. terimakasih sudah berada di sisi Rara saat dia sedang melewati masa sulit waktu itu" balas Reyhan.
Rara tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Reyhan.
"Tidak perlu khawatir Bie.. insyaallah Reyhan akan menjaga ku, walau dia sedikit jail seperti mu" Rara mencoba bergurau.
Reyhan tertawa pelan.
'Bie.. maafkan aku yang tidak bisa melanjutkan perjuanganku untuk Bimo, karena dia masih mencintai Mia. Tapi aku yakin, kamu setuju dengan keputusanku untuk memilih Reyhan menjadi suami ku. Walau dia cemburuan, tapi aku percaya itu karena dia sangat menyayangiku bukan karena dia kasar. Dan.. salah satu alasan ku menerima Reyhan adalah.. aku sedikit melihat dirimu ada pada diri Reyhan Bie..' Rara.
--
Di kamar hotel. Rara keluar dari kamar mandi, terikahat Reyhan sedang duduk di atas tempat tidur sambil bermain hp.
"Mas.. kamu sedang apa?" tanya Rara sambil mengusap wajahnya dengan handuk.
"Ini sedang melihat lamaran pekerjaan yang masuk. Setelah kamu keluar dari kantor, aku belum menemukan pengganti yang cocok lagi. Sebagai kepala HRD aku harus teliti dalam menerima karyawan baru" jawab Reyhan.
"Oh iya.. waktu aku tes dan interview aku tidak melihatmu"
"Aku sedang sakit waktu itu. Tapi aku menerima laporan kalau kamu yang lolos"
"Mmm begitu.."
Reyhan masih saja fokus dengan hp nya.
Rara berjalan dan naik ke atas tempat tidur. Mengambil paksa hp Reyhan lalu meletakkannya di atas meja. Rara duduk di atas paha Reyhan.
'Eh tumben sekali Rara agresif begini' Reyhan.
"Mas.. maaf ya mengajak mu bulan madu di tempat seperti ini. Dan bahkan besok kita harus kembali ke Jakarta lagi"
"Tidak apa-apa asalkan kamu senang"
"Mas... aku.. aku sayang sama kamu" ucap Rara dengan malu-malu.
"Haha.. mau bilang sayang aja harus malu" gurau Reyhan lalu mencolek hidung Rara.
Rara melepas kuncir rambutnya, membiarkan rambutnya terurai dan merapihkannya dengan jari-jarinya.
'Menggemaskan sekali, dia bisa agresif juga' Reyhan
"Kita kesini untuk bulan madu kan? ayo lakukan" seru Rara
'Ini serius? Rara meminta duluan sebelum aku memintanya??!' Reyhan.
Tentu saja Reyhan tidak menolak ajakan Rara, dan mereka melanjutkan tujuan mereka dari awal yaitu untuk berbulan madu. Dan mereka saling menghangatkan di tengah-tengah cahaya rembulan yang menyelinap di kamar hotel.
'Reyhan.. terimakasih.. terimakasih untuk menyingkirkan cemburumu dan memilih untuk tidak marah denganku, terimakasih sudah menuruti keinginanku, terimakaih sudah mau menemani ku menjenguk peristirahatan Obie, terimakasih Reyhan... aku sangat menyayangimu.' Rara
__ADS_1
Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update😊🙏