Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 112 Maafkan Ibu


__ADS_3

Setelah beberapa hari Rara di rawat di rumah sakit, akhirnya Rara di perbolehkan untuk pulang, tentu saja dengan catatan harus tetap banyak istirahat dan melakukan cek up beberapa kali lagi untuk kesehatan yang total.


Pagi hari Rara masih terbaring pulas di tempat tidur dengan keadaan yang masih lemas dan pucat. Sementara itu sedari tadi Reyhan sudah bangun lebih dulu dan segera bersiap untuk berangkat kerja. Reyhan memilih untuk langsung bekerja kembali ke kantor, walaupun tentu saja keadaan batinnya masih berduka, justru Reyhan menjadikan bekerja sebagai pelarian untuk menyibukkan dirinya.


Reyhan berdiri di depan lemari dan seketika memperhatikan Rara masih terlihat belum pulih total, terlihat kesedihan dan kekecewaan terpancar dari mata Reyhan.


'Sekuat-kuatnya dirimu, kamu tetap manusia biasa Ra. Sampai kapan kamu membohongiku?'


Setelah berganti pakaian kerja, Reyhan langsung turun ke lantai bawah tanpa membangunkan Rara terlebih dahulu. Bahkan ketika melewati meja makan, bi Ina menawarkan sarapan namun Reyhan menolak dan langsung keluar rumah menuju mobil.


--


"Bim.. kamu sudah dengar kabar yang menimpa Rara?" tanya Mentari kepada Bimo sambil menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Sudah dari Galih, tapi Rara sendiri belum cerita ke aku ataupun yang lainnya. Sepertinya Rara baru hanya cerita ke Galih" jawab Bimo.


"Aku juga tahu dari Eri. Reyhan memilih cerita kepada Eri yang jauh di sana dari pada kepada ku. Apa sebaiknya hari ini kita berkunjung ke rumah mereka?" Mentari.


Bimo diam sejenak seakan berfikir.


"Sepertinya jangan dulu deh.. aku cukup paham gimana Rara, dia tipe yang ingin menyendiri dulu saat ada masalah. Dan sepertinya keadaannya belum tepat untuk menjenguk mereka" seru Bimo.


"Hmm... yasudah. Lain kali saja kita menjenguk mereka ya"


"Iyaaa.. yasudah ayo sarapan"


--


Perlahan Rara membuka matanya dan menyadari Reyhan sudah tidak berada di dalam kamar. Dengan berjalan sangat pelan, Rara menuruni tangga dengan hati-hati karena masih merasakan sakit di bekas jahitannya.


"Mba Rara" bi Ina terkejut melihat Rara menuruni tangga dan langsung segera menuntun Rara. "Baru saja bibi mau mengantar sarapan ke kamar, Mba Rara harus banyak istirahat" lanjut bi Ina.


"Tidak apa-apa Bi. Itung-itung olahraga... oh iya Bi, Reyhan sudah berangkat ya?"


"Sudah Mba.. tadi turun dari atas langsung berangkat"


"Mas Reyhan tidak sarapan dulu Bi?"


"Tidak Mba"


'Hmmmm tumben sekali dia pergi tanpa sarapan' Rara.


Setelah duduk di meja makan, Rara mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Reyhan.


'Mas.. kenapa tidak membangunkan ku? kenapa tidak sarapan? jangan lupa nanti sarapan ya'


Setelah pesan whatsapp terkirim, tak lama kemudian langsung centang biru, tapi setelah di tunggu belasan menit, tidak di balas. Padahal biasanya, Reyhan langsung membalas begitu membaca pesan dari Rara.


--


Sesampainya di kantor, Reyhan melihat ada pesan masuk di ponselnya yang ternyata adalah pesan yang di kirim Rara. Reyhan hanya memandangi ponselnya lalu meletakkannya di atas meja. Reyhan bersandar di kursinya dan sedikit mendengakkan kepala seakan melepas lelah, padahal dia sendiri baru sampai di kantor dan belum memulai bekerja.

__ADS_1


'Ingin sekali aku marah, namun entah harus bagaimana menunjukkannya Ra. Kenapa keadaan kita jadi seperti ini Ra'


Reyhan hanya mampu berbicara dalam hatinya, dan tanpa sengaja Reyhan meneteskan air mata, mengingat kembali apa yang terjadi kepada anaknya.


--


Rara menarik napas menghembuskannya perlahan, tangannya menggenggam gagang pintu kamar. Perlahan Rara menekan gagang pintu tersebut lalu mendorongnya, Rara memasuki sebuah kamar, kamar yang tidak terlalu besar, kamar bernuansa biru dengan gambar-gambar awan di salah satu sisi dindingnya, terlihat juga beberapa mainan, robot-robotan, dan boneka-boneka yang menghiasi rak-rak dan meja. Dan ada sebuah ranjang kecil di sudut ruangan yang di atas tergantung sebuah mainan yang apabila di tekan tombolnya akan berputar dengan mengeluarkan nada-nada lucu. Ya, Rara berada di sebuah kamar yang sudah di siapkan Reyhan sebelumnya. Kamar yang juga sudah di hias oleh dirinya dan Reyhan. Kamar yang seharunya sudah di tempati oleh anak mereka.


Rara mencengkram tepi ranjang bayi tersebut, isak tangis mulai terdengar, air mata mulai mengalir, bibir mulai bergetar. Seluruh tubuh rasanya tak berdaya, hati terasa sakit, jiwa terasa pedih, batin terasa pilu. Rasa dan keadaan yang pernah terasa sebelumnya, yaitu saat kehilangan Obie yang begitu menyakitkan, namun kali ini, berlipat-lipat rasanya sampai tak terhingga. Rara harus menerima kenyataan, di pisahkan 2x dengan orang yang dia cintai karena kematian.


'Maafkan ibu nak.. maafkan ibu yang telah lalai menjagamu, maaf nak, maafkan ibu...'


Hanya kata maaf yang terus terucap dari bibir maupun hatinya ketika mengingat apa yang terjadi kepada anaknya.


'Kenapa Tuhan, kenapa tidak aku saja yang kau ambil..'


Di dalam kamar tersebut, Rara terus menangis dengan kaki yang semakin lemas hingga menjatuhkan tubuhnya kelantai. Memeluk dirinya sendiri dengan tangan yang baginya sudah bersalah, tangan yang menyebabkan semua keadaan ini terjadi.


'Bod*h, kamu sangat bod*h Ra, bod*h!!!! aaarrrgghhhh'


Terus menereus Rara menyalahkan dirinya sendiri.


--


Pukul 21.13 WIB Reyhan sampai di rumahnya dan langsung berjalan menuju dapur. Bi Ina yang melihat kedatangan Reyhan langsung segera mengahmpiri Reyhan di dapur.


"Mas Reyhan ingin makan? biar bibi buatkan makanan"


"Tidak usah bi"


"Ini susu apa bi?" tanya Reyhan sambil menunjuk susu yang di kemas plastik tertentu yang sudah di sterilkan.


"Itu ASI nya Mba Rara, Mas..."


"Asi??" Reyhan bingung.


"Iya Mas Reyhan.. biasanya perempuan yang setelah melahirkan, ASI nya akan keluar, itu pertanda bahwa ASI Mba Rara bagus Mas Reyhan.."


"Tapi kan anak kita...." Reyhan tidak melanjutkan pembicaraannya.


"Iya Mas Reyhan.. walaupun begitu, jika ASI nya bagus harus tetap di keluarkan karena jika tidak akan terasa sakit. Dan tadi Mba Rara cukup kesakitan pada dadanya Mas..."


Reyhan hanya terdiam lalu melangkah menaiki anak tangga satu persatu dan memasuki kamarnya.


Ketika sampai di dalam kamar, terlihat Rara berbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang terbalut selimut menutupi sampai dadanya.


Rara menyadari ada yang datang dan langsung membuka matanya.


"Mas.. kamu sudah pulang?" tanya Rara sambil berusaha duduk dengan raut wajah yang sedikit merintih menahan sakit.


Reyhan terdiam hanya memandang istrinya sekilas, lalu meletakkan tas dan membuka kancing kemejanya dengan tubuh yang membelakangi Rara.

__ADS_1


"Mas.. kamu sudah makan?" tanya Rara lagi.


"Sudah" terdengar jawaban singkat dari Reyhan, dan dia langsung mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, Reyhan keluar dengan handuk yang melingkar menutupi pinggang sampai lututnya. Lalu dia berjalan dan berdiri di depan lemari untuk berganti pakaian tidur.


"Mas.. ko jam segini baru pulang?" tanya Rara.


Reyhan diam tidak menjawab dan masih sibuk dengan pakaiannya.


"Apa pekerjaan di kantor banyak? atau kamu habis bertemu klien?" Rara bertanya lagi.


"Iya" hanya kata itu yang keluar dari mulut Reyhan.


"Iya apa Mas?" Rara merasa belum menemukan jawaban yang tepat.


Reyhan berbalik badan dan melihat ke Rara dengan tajam.


"Bawel banget sih! Sudah, istirahatlah." seru Reyhan dengan nada yang cukup tinggi lalu membalikkan badannya kembali menutup lemari dan menaruh handuknya.


Rara mendengarnya hanya menelan ludah lalu menunduk.


'Kenapa dia membentakku?'


Tak terasa Rara meneteskan air mata namun segera mengusapnya dengan cepat agar tidak terlihat Reyhan.


Setelah menaruh handuk, Reyhan berjalan mendekati tombol lampu lalu mematikannya dan bergegas naik ke atas tempat tidur. Reyhan membaringkan tubuhnya dan bersembunyi di balik selimut. Tubuhnya menghadap lawan arah, membelakangi Rara.


Rara membaringkan tubuhnya dan menghadap Reyhan, terlihat punggung tubuh Reyhan yang seakan terasa hangat, dan juga tercium harum tubuh Reyhan yang baru saja selesai mandi.


Rara menggeser tubuhnya mendekati Reyhan, lalu berusaha melingkarkan tangan kirinya untuk memeluk Reyhan. Namun, saat Rara berusaha memeluk, Reyhan bergerak bahkan menggeser tubuhnya agak jauh, seakan memberi tanda penolakan.


SEK!


Seketika dada Rara terasa sesak.


'Mas.. aku tahu kamu sedih, kamu terpukul, kamu berduka, kita sama. Tapi apakah marah menjadi pilihan yang tepat dalam situasi seperti ini?'


Rara menangis dalam diamnya. Lalu bergeser kembali di tempatnya semula dan berbalik badan melawan arah. Mereka berdua pun akhirnya saling memunggungi.


Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote🙏


Dear kakak-kakak pembaca..


Apaan sih ko Rara menderita lagi, ko ceritanya jadi drama, hih jadi kaya sinetron, malesin banget sih thor, dan blablabla..


Dari awal banyak permintaan untuk tidak menghadirkan pelakor, namun kalian perlu ingat di dalam rumah tangga, permasalahan bukan hanya datang dari perkara pelakor saja.


Rumah tangga yang berjalan dengan bahagia terus rasanya juga tidak nikmat (dan sepertinya tidak ada rumah tangga yang berjalan bahagia terus, karena pasti ada permasalahan-permasalahan kecil maupun besar yang akan datang). Dan mungkin ini saatnya Rara dan Reyhan memasuki sisi lain dari sebuah rumah tangga yang terkadang ada pahitnya. Di sini Rara dan Reyhan akan di uji perjuangannya satu sama lain.


Dari awal saya membuat tulisan ini bukan untuk di sukai atau tidak sukai, di sukai alhamdulillah, tidakpun tidak masalah. Tapi tujuan awal saya membuat tulisan ini yaitu selain untuk menghibur kakak-kakak sekalian, saya juga berusaha menyampaikan kisah yang bisa kita ambil pelajaran/hikmahnya.

__ADS_1


Saya bukan penulis profesional yang bisa bikin novel romance yang luar biasa, saya hanya sekedar menulis cerita kecil yang masih abal-abal dan banyak kurangnya untuk mengisi waktu luang, mohon maaf ya🙏 (maap ya curhat🤭).


Mari kita ambil sisi positif dan hikmahnya dari kisah Rara😊 ikuti terus kelanjutannya ya😉


__ADS_2