
Rara duduk bersandar di atas tempat tidurnya sambil memegang perutnya yang sudah semakin membesar. Kandungan Rara sudah memasuki bulan ke 5.
Tak lama pintu kamar terbuka dan masuk seorang laki-laki tampan dengan membawa segelas susu di tangannya.
"Minum dulu sebelum tidur" ucap Reyhan memberikan segelas susu kepada istrinya.
"Terimakasih Mas" Rara menerimanya lalu meminumnya.
"Kamu sedang memikirkan apa? Bimo?" tanya Reyhan.
"Ih apaan sih Mas, bukan. Aku sedang memikirkan ini" jawab Rara sambil mengalihkan pandangannya ke perutnya seakan menunjuk.
"Kenapa anak kita? sampai-sampai mengganggu pikiranmu?" Reyhan naik ke atas tempat tidur lalu duduk di samping Rara sambil mengelus lembut perut istrinya.
"Aku takut Mas.. katanya orang melahirkan itu rasanya seluruh tulang patah, mules luar biasa, nyeri ga karuan. Nyeri datang bulan saja kadang aku sampai tidak kuat menahannya, apalagi nanti...." suara Rara terdengar pelan dan menciut karena cemas.
"Sssttt jangan ngomong gitu ah. Dulu saja kamu berani menyiram kepala HRD mu, masa sekarang ketakutan demi anakmu?" Reyhan berusaha menguatkan.
"ih! kamu....."
"Sini" Reyhan merangkulkan lengannya dan meletakkan Rara dalam dadanya. "Dulu.. saat kamu menyiramku, kamu adalah perempuan pemberani yang pernah aku kenal. Dan saat aku tahu soal orangtuamu, kamu adalah perempuan yang kuat. Jadi... aku percaya kamu juga akan bisa melewati itu" Reyhan.
Rara terdiam dan mengeratkan pelukannya.
"Tidak perlu takut, aku akan selalu ada di samping kamu" lanjut Reyhan.
"Janji ya, temani aku di saat aku lahiran nanti" seru Rara.
__ADS_1
"Pasti.... sudah habiskan dulu susunya, lalu kita tidur" perintah Reyhan.
Rara pun meraih susu yang sudah di letakkan di atas meja lalu menghabiskannya. Kemudian mengistirahatkan tubuhnya di makam hari dalam dekapan tubuh Reyhan.
"Selamat tidur suamiku"
"Selamat tidur sayang, mmccchhh" kecupan lembut mendarat di kening Rara.
--
Setelah selesai memindahkan barang-barang Mentari dari apartemen Mentari ke apartemennya, Bimo segera bergegas membersihkan badannya, lalu melanjutkan merapihkan barang-barang Mentari. Begitu juga dengan Mentari yang sedang memindahkan dan merapihkan pakaiannya ke dalam lemari Bimo. Kini mereka hidup bersama dan memutuskan untuk tinggal di apartemen Bimo.
"Mentari.. Maaf ya baru bisa memberimu tempat tinggal yang kecil ini" ujar Bimo.
"Tidak apa-apa Bim.. lagian dari dulu aku juga terbiasa tinggal di apartemen" Mentari tersenyum.
"Aku sudah sempat memilih rumah dan atau tanah kosong, tapi aku takut kamu tidak suka atau lokasinya tidak cocok" lanjut Bimo.
'DEG!' mendengar Mentari menyebutkan kata anak seketika membuat Bimo merasa merinding, ia ingat bahwa mereka belum melaksanakan kewajiban mereka sebagai pengantin baru, yaitu malam pertama.
Mereka begitu sibuk dengan acara pernikahan mereka sehingga untuk bisa bernafas lega sejenak saja sudah menjadi waktu yang menguntungkan untuk mereka.
"Yasudah.. istirahatlah, kamu pasti lelah. Kita lanjutkan bereskan barang-barang ini besok saja. Aku ke kamar mandi dulu untuk bersih-bersih" ucap Mentari lalu berjalan ke kamar mandi dengan membawa sesuatu di tangannya.
Bimo pun menyingkirkan barang-barang yang tergeletak di atas tempat tidur dan menyisihkannya untuk di bereskan esok hari. Bimo membersihkan tempat tidurnya dan bersiap untuk istirahat malam.
'Hmmm sepertinya Rara balas dendam denganku'
__ADS_1
Gumam Mentari di dalam kamar mandi sambil memandangi cermin melihat dirinya sendiri memakai lingerie putih perpaduan biru yang di berikan Rara untuknya. Sesuatu yang di bawa Mentari saat memasuki kamar mandi adalah kado pemberian dari Rara yang ternyata berisi lingerie. Tentu saja Rara memberinya dengan sengaja untuk membalas dendam waktu itu.
Mentari menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
'Ah sudahlah, buang rasa malu, ini sudah menjadi kewajiban ku sekarang'
Tak lama kemudian Mentari keluar dari kamar mandi dengan rambut terurai dan lingeri pendek yang memperlihat lekuk tubuhnya. Mentari menampakkan dirinya di hadapan Bimo dengan wajah sedikit malu dan mulut yang bungkam.
Seketika Bimo melihatnya hanya bisa menelan ludah.
Mentari tersenyum melihat wajah Bimo yang melongo tanpa berkedip.
"Hahahahah...." Mentari pun akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi dan meluapkannya.
"Haduhhh... kamu tidak pernah melihat wanita sexy sebelumnya? ekspresimu lucu sekali hahaha" Mentari terbahak.
"Kamu mengejekku? berani juga menggodaku ya, sudah siap kamu? oke baiklah. Kemari!" kaki Bimo sudah menempel di lantai turun dari tempat tidur dan hendak mendekati Mentari.
Melihat pergerakan Bimo, Mentari mundur selangkah lalu mencoba berlari sambil tertawa.
Usahanya untuk lari ternyata adalah pilihan yang keliru, dengan cepat Bimo pun berlari menangkap Mentari, dan menggendongnya sampai di tempat tidur.
"Ampuuuunnnn...." teriak Mentari dengan wajah yang berseri dan tawa yang menari-nari.
"Tidak ada ampun bagimu" seru Bimo mulai menggelitiki Mentari.
Perlahan mereka menikmati setiap lekuk tubuh satu sama lain, menghirup harumnya aroma tubuh yang penuh dengan asmara. Merekapun terjerumus dalam cumbu yang membuat candu.
__ADS_1
(Selamat bersenang-senang Bimo dan Mentari).
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote kak😊