Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 36 Pengganti Rara


__ADS_3

Sepulang kerja, Rara bergegas mandi dan berdandan. Hari ini Bimo mengajaknya menonton film dan makan malam bersama. Tak lama kemudian Bimo datang ke kosnya menjemput Rara dan segera pergi ke bioskop. Malam itu Rara merasa bahagia, walaupun hubungannya dengan Bimo berakhir, namun Rara masih bisa dekat dengan Bimo, masih bisa saling tertawa bersama dan menghabiskan waktu bersama. Walau banyak sekali orang yang mengatakan bahwa tak seharusnya Rara terus bersikap baik ke pada Bimo atas apa yang sudah Bimo lakukan, namun sebesar apapun luka yang di buat Bimo, Rara selalu jatuh cinta kepada Bimo setiap harinya. Entah apa yang membuatnya begitu menyayangi Bimo sampai tak mampu untuk membenci Bimo. Bagi Rara, Bimo adalah laki-laki pertama dan terakhir baginya, mungkin itu yang membuat nama Bimo tidak pernah hilang di hati Rara.


Seusai menonton film, Bimo dan Rara pergi makan di sebuah tempat makan langganan mereka.


🎵 *bunyi hp Bimo berdering*. Bimo mengambil headset dari dalam tasnya dan memasangnya di telinga.


"Assalamu'alaikum. Hey" Bimo menyapa seseorang di balik layar hp dan meletakkan hp tersebut di depannya dan menghadap ke arahnya. Rupanya Bimo sedang menerima panggilan video dari seseorang.


"Aku lagi di luar, lagi makan" lanjut Bimo.


"Makan sama temen" seru Bimo.


'Siapa sih sampe-sampe Bimo menyebutku temen, bukan bilang Rara aja' gumam Rara dalam hati mulai penasaran dan kesal.


"Kamu lagi dimana?" lanjut Bimo bertanya.


'Kamu? lembut banget bahasanya Bimo. Berarti dia lagi ngobrol sama perempuan' Rara.


"Oh.. yaudah, nanti aku telfon lagi ya kalau aku udah di rumah" seru Bimo kemudian melepaskan headsetnya dan menaruh hp nya di dalam tas.


"Siapa sih?" Rara memberanikan bertanya.


"Hah?" balas Bimo kemudian diam sejenak. "Udah habisin makannya tuh tinggal dikit lagi" lanjut Bimo mengalihkan pembicaraan.


"Siapaaa?" Rara mengulangi pertanyaannya dengan nada pelan.


Bimo hanya diam sambil menghabiskan sisa makanannya.


"Pacar kamu?" lanjut Rara penasaran.

__ADS_1


"Udah habisin dulu makannya. Nanti aku ceritain" balas Bimo tanpa melihat Rara dan terus melanjutkan makan.


Rara hanya menghela nafas dan kemudian melanjutkan makan.


"Udah? yaudah yuk udah malem" ujar Bimo setelah melihat Rara sudah menghabiskan makanan dan minumannya.


"Gamau!" balas Rara.


"Kurang? Mau pesen makan lagi?"


"Kamu kan janji mau cerita. Cerita dulu baru pulang"


Bimo hanya terdiam memandangi wajah Rara.


'Apa aku harus cerita sekarang, apa nanti dia baik-baik aja? tapi aku sama Rara kan sahabat' Bimo.


"Bim! ko malah diem sih" Rara.


"Hah? emang dari dulu kamu sahabat aku ko pake nanya sih" Rara.


"Oke aku cerita karena kamu sahabat aku ya. Tapi ini aku belum cerita ke siapapun termasuk Galih, Aldi, Mela, dan Sasa. Aku gamau terlalu banyak orang yang tahu"


"Iya yaudah buruan cerita" Rara sok kuat mendengar cerita Bimo. Padahal hatinya sudah deg2an karena Rara tahu kemana arah cerita ini, pasti wanita yang Bimo sukai sekarang.


"Iya tadi perempuan. Dia bukan pacar aku. Tapi aku cinta sama dia" ungkap Bimo.


DEG!!!! seketika Rara merasa seluruh tenaga dalam tubuhnya hilang, membuatnya lemas dan merasa tak kuat menahan tubuhnya, padahal jelas-jelas dia sedang duduk di kursi. Nafas Rara seolah berhenti seketika. Pandangannya buyar entah kemana. Dadanya terasa Sesak.


'Kau mengatakan mencintai orang lain persis di depanku, apakah ini mimpi Bim?' Rara.

__ADS_1


"Ra?" Bimo menyadarkan lamunan Rara.


"Oh, Iya iya!" Rara tersadar dan berusaha melengkungkan bibirnya dan menguatkan dirinya.


"Anak kampus mana Bim?" sekuat tenaga Rara berusaha menahan sakit dan berpura-pura baik-baik saja.


"Satu kampus sama kita, dia teman satu kelasku yang sekarang" jawab Bimo.


'Jadi... Gosip yang selama ini aku dengar benar?' Rara.


"Kalau kau mencintainya, kenapa tidak kamu pacari?" lanjut Rara bertanya.


Bimo tersenyum. "Dia itu beda Ra. Selain cantik dan cerdas, dia perempuan yang sangat baik dan istimewa. Dia bukan tipe perempuan yang mau di ajak pacaran. Semenjak kenal dia, membuat aku merubah pola pikirku tentang pacaran. Kata dia pacaran itu tidak ada gunanya, kalau serius kenapa ga langsung ke jenjang yang lebih serius" lanjut Bimo.


"Maksudnya? Kamu ingin menikahinya?" Rara memberikan pertanyaan yang menyakiti dirinya sendiri.


"Insyaallah. Doain ya Ra" jawab Bimo dengan lantang.


Bumi sedang tidak baik malam itu, seluruh oksigen seketika habis tak tersisa sedikitpun untuk Rara agar bisa bernafas. Hebatnya Rara masih bisa melemparkan senyum ketika mendengar jawaban Bimo, walaupun jelas itu hanyalah senyum palsu.


"Siapa namanya"


"Mia. Namanya Mia"


--


Sepanjang perjalanan pulang menuju kos Rara, Bimo dan Rara tak mengobrol apapun, hanya terdengar angin dan sepinya malam. Setibanya di kos, Rara pun tidak banyak berbicara kepada Bimo, Rara langsung turun dari motor dan hanya mengucapkan "Terimakasih" lalu segera memasuki kamar dan mengunci kamarnya. Rara berbaring di atas tempat tidur, membaluti tubuhnya dengan selimut yang sebenarnya udara tidak terlalu dingin malam itu, namun entah mengapa seluruh tubuh Rara terasa dingin bahkan menggigil. Rara mencengkram keras selimut itu, menahan suara yang rasanya ingin menjerit. Matanya sudah banjir air mata. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernafas. Sampai akhirnya Rara tak sanggup lagi menahan semuanya, dan melepaskan semuanya dengan isak tangis sepanjang malam.


'Bertahun-tahun mencintaimu, tidak ada hasilnya Bim' Rara.

__ADS_1


Terimakasih dan jangan lupa di like🥰🙏


__ADS_2