
Semua orang berkumpul di halaman gedung, mereka datang dari berbagai penjuru kota, semua orang tua berbangga menyaksikan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan. Semua wisudawan tersenyum senang karena tiba di ujung dari perjuangan kuliah. Semua orang terlihat bangga bahagia, namun tidak dengan Rara. Wisuda Rara hanya di hadiri oleh ibu, kakak, dan adiknya beserta supir suruhan ayahnya. Sementara itu ayahnya Rara tidak bisa hadir dengan alasan pekerjaan padahal Rara tahu alasan ayahnya bukanlah pekerjaan, melainkan menemani istri keduanya yang sedang hamil. Namun bagaimanapun, Rara tetap merasa bersyukur bahwa ibunya bisa menyaksikan salah satu hari besar di kehidupan Rara.
Selama acara wisuda berlangsung, Rara, Galih, Aldi, Mela dan Sasa tentu saja tetap mengobrol dan bercanda. Setelah acara wisuda selesai Rara berfoto-foto dengan sahabat-sahabatnya itu dan sekalian berpamitan kepada mereka kalau besoknya Rara langsung pulang ke Bandung bersama keluarganya dan meninggalkan Jogja. Selama berfoto di halaman gedung sampai tiba di hotel kembali, Rara terlihat sedikit gelisah dan sesekali menengok ke kanan ke kiri seolah menunggu ke datangan seseorang. Ya.. tentu saja, bagaimanapun Rara tetap berharap Bimo bisa hadir di acara wisudanya.
Malam hari Rara berdiri di teras kamar hotel lantai 5. Rara memandangi jalan-jalan kecil Jogja dari atas kamar hotel. Dia melamun seolah sedih dan memikirkan sesuatu. Padahal hari itu seharusnya Rara bahagia.
"Kamu sedang apa di sini? ga tidur?" suara peremouan pelan menghampiri Rara.
"Eh ibu... belum ngantuk bu..." jawab Rara sopan.
"Kamu sedang memikirkan apa? ayahmu?"
"Bukan bu, aku tidak memikirkan ayah. Aku sudah terbiasa tanpa kehadiran ayah"
"Lalu kamu sedang memikirkan apa?"
Rara diam menunduk.
"Ceritakanlah nak"
"Sebenarnya aku berharap Bimo datang di wisudaku bu. Tapi ternyata dia tidak datang"
"Mungkin dia sedang ada keperluan lain yang lebih penting nak"
'Keperluan lebih penting seperti sedang mempersiapkan pernikahan?' Rara.
"Kenapa kamu tidak mencoba bertanya kepadanya?"
'Untuk apa apu bertanya, kalau nanti dia jawab "aku ga bisa datang karena di larang Mia atau karena sedang mempersiapkan pernikahan", bagaimana? aku belum siap mendengar itu, lebih baik aku diam' Rara.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah tidak pernah berhubungan lagi dengannya bu. Karena aku tahu, dia masih mencintai perempuan itu"
"Kamu benar-benar masih mempertahankan dia? kamu gadis yang sangat setia seperti ibu. Kemarilah" Ibu Rara melebarkan kedua tangannya menyuruh Rara masuk ke dalam pelukannya.
--
Keesokan harinya, Rara sudah bersiap kembali ke Bandung bersama keluarganya, meninggalkan Jogja yang setiap sudutnya memiliki kenangan bagi Rara.
'Terimakasih Bimo, Galih, Aldi, Mela, Sasa, terimakasih sudah menjadi sahabat dan keluarga keduaku selama di Jogja. Terimakasih Bimo, sahabatku, mantanku. Terimakasih Obie, kekasihku yang mencintaiku. Terimakasih Jogja, kamu memang benar-benar istimewa' gumam Rara memandangi jalan dari balik kaca mobil yang perlahan meninggalkan kota Jogja.
Epilog
Kantor Bimo
Tok.. tok...
"Masuk...." Bimo.
"Engga.. kenapa?" ujar Bimo sambil duduk di kursi kerjanya berhadapan dengan laptop.
"Nih..." meletakkan tumpukan berkas di atas meja.
"Apa ini?" Bimo bingung.
"Proyek baru, proyek kerjasama yang akan di kerjakan perusahan kita dengan salah satu perusahan yang ada di Bali"
"Terus?"
"Itu susunan anggaran proyek itu, tapi belum sepenuhnya selesai, kamu di suruh menyelesaikan sekalian kamu menggantikan kepala keuangan"
__ADS_1
"Bentar-bentar maksudnya?"
"Ya.. sekarang kamu tangan kanan Pak Yosep (kepala keuangan Cabang Surabaya), karena pak Yosep sedang mengurus proyek lain di Manado, kamu di suruh untuk menggantikan dia selama proyek baru ini berjalan. Dan mulai Senin depan, kamu di pindahkan di Bali sampai pak Yosep kembali dari Manado"
"Senin depan?!!!" Bimo terkejut.
"Iya. Sabtu kamu berangkat ke Bali, Minggu kamu selesaikan susunan anggaran itu, dan Seninnya kamu ada meeting dengan perusahaan lain untuk mempresentasikan susunan anggaran itu dan membahas proyek itu"
"Kenapa aku? aku ga bisa" Bimo syok.
'Sabtu kan aku harus ke wisuda Rara' Bimo.
"Kerja kamu selama ini tuh bagus. Karena itu kamu yang di tunjuk. Kalo kamu ga mau, protesnya jangan ke saya, tapi ke pemilik perusahan. Ya paling nanti kamu di pecat hahaha" meledek.
'Sialan. Aku harus bagaimana. Tidak mungkin aku menyiakan kesempatan kerja ini. Tapi.. bagaimana dengan Rara?' Bimo.
"Kapan pak Yosep kembali?" tanya Bimo.
"Katanya sih 2 bulan lagi, tapi ga tentu, bisa jadi maju, bisa jadi mundur"
'Sialan, aku di Bali selama itu, jarak aku dengan Rara semakin jauh' Bimo.
"Udahlah bro.. terima aja, kalo kamu berhasil dalam proyek ini, kamu di janjikan naik jabatan" lanjutnya.
'Bukan itu, masalahnya kapan aku bisa menemui Rara? kesalahpahaman ini sepertinya memang akan berlanjut' Bimo.
"Oyyyyy diem aja!!! nih baca dulu berkas-berkasnya. Oh iya, nanti selama di Bali, kamu tinggal di apartemen yang sudah di sewa pak Yosep, nanti alamatnya ku kirim di WA sekalian tiket pesawatnya juga" ujar teman kantor Bimo kemudian berjalan keluar ruangan.
'2 bulan di Bali... Arrrgghhhh' Bimo.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote sebagai dukungan agar author rajin untuk update🙏🥰