
Reyhan sampai di sebuah pintu yang tak asing. Reyhan mencoba membuka pintu tersebut.
'Tidak terkunci, kebiasaan.. selalu lupa mengunci pintu. Berarti dia memang ada di sini'
Reyhan masuk lalu mengunci pintu dari dalam. Reyhan berjalan lebih ke dalam, membuka pintu kamar, benar saja, Rara sedang berdiri di dekat jendela. Rara berada di kamar apartemennya yang dulu.
Menyadari ada yang datang, Rara mengusap pipinya lalu berbalik badan dan melihat kedatangan Reyhan. Lalu mengalihkan pandangannya lagi ke luar jendela.
"Aku mencari mu kemana-kemana Ra..." ujar Reyhan.
"Setelah anak ini lahir, dia ikut bersamaku" seru Rara tanpa memandang Reyhan.
"Hah???"
"Aku kira kamu berbeda dengan Bimo, aku kira kamu tidak seperti ayah ku, nyatanya kamu sama saja" suara Rara terdengar bergetar pertanda dia menangis.
"Ko jadi bawa-bawa Bimo sih?" Reyhan.
Rara diam dan hanya menangis.
Reyhan berjalan mendekati Rara dan memegang lengan Rara agar Rara membalikkan badannya dan menatap Reyhan.
"Lepaskan!" Rara menolak lalu mundur selangkah untuk menjauhi Reyhan.
"Kamu kenapa sih?" tanya Reyhan.
"Kamu masih tanya kenapa??!!!" Rara berbalik badan dan mendengakkan kepalanya untuk menatap wajah Reyhan. "Aku tahu semua perbuatan kamu, Reyhan!!" lanjut Rara dengan mata uang tajam dan masih di banjiri air mata di pipinya.
'Baru kali ini aku melihat dia yang begitu sangat marah' Reyhan.
"Sayang... aku tahu aku salah, aku minta maaf" mohon Reyhan.
Cih.. Rara membuang muka dan berbalik badan, menatap jendela kembali.
"Aku.. aku ga ada maksud untuk.."
"Untuk apa?? kamu sadar ga istri kamu sedang hamil? Sadar ga???!!!!!" Rara memandang wajah Reyhan dan memecahkan amarahnya, membentak Reyhan.
"Jahat kamu Reyhan..." Rara menangis.
"Jahat? hanya karena aku ingin membeli rumah dan tidak bilang ke kamu, terus kamu bilang aku jahat?" Reyhan bingung.
"Apa??? beli rumah???!! jadi kamu membelikan perempuan jahanam itu rumah??!!" Rara semakin mengamuk.
"Aku ga habis pikir Reyhan... kau bermain di belakang ku bahkan sampai membelikannya rumah, apa kamu juga sudah menikahi dia di belakang ku??!!!!!" Rara semakin berteriak dan menangis.
"Bermain? menikahi? apa sih yang kamu maksud? dia yang mana? aku tidak mengerti apa yang..." Reyhan belum selesai melanjutkan perkataannya.
"Dia yang kamu peluk cium di kantor. Itu alasan kamu kamu menyuruhku untuk berhenti bekerja? agar kamu bisa mesra-mesraan dengan perempuan lain?? iya??!! siapa dia?? sekertaris baru mu?? staff baru mu??"
Reyhan menghembuskan nafasnya perlahan.
"Apa kamu tadi siang melihatku berpelukan dengan perempuan di kantor?" tanya Reyhan berusaha dengan pelan.
"Kau menciumnya!" Rara meneteskan air mata.
Reyhan melangkah dan berusaha memeluk Rara. Namun Rara benar-benar menolak dan menghindar.
"Aku pikir kamu marah gara-gara mendengar percakapanku soal membelikan rumah" ujar Reyhan.
Rara membuang muka.
'Brengs*k bahkan sekarang aku tahu bagaimana hubunganmu dengannya, sampai-sampai ingin membelikannya rumah' Rara.
__ADS_1
'Dia benar-benar marah, tidak ingin ku sentuh, bahkan memandangku saja enggan' Reyhan.
"Aku berniat membeli rumah baru untuk mu, dan memberikan rumah yang lama untuk adikku. Adik ku sudah menyelesaikan studynya, tinggal menunggu wisuda. Dia berencana tinggal di Indonesia dan ingin mempunyai rumah sendiri. Yang kamu lihat tadi siang adalah adik ku, dia senang saat ku beri tahu akan ku berikan rumah, karena itu dia memelukku. Dan tidak salah kan jika aku mencium adik ku? maaf tidak izin ke kamu dulu karena aku ingin memberimu kejutan atas kehamilan kamu. " jelas Reyhan.
DEG... 'Apa aku hanya salah paham? apa Reyhan berkata jujur?' Rara.
Reyhan melangkah maju, tak menyerah untuk berusaha memeluk istrinya.
"Kamu bohong!" teriak Rara masih menangis dan lagi-lagi mundur untuk menghindar.
"Apa perlu aku telpon dia? atau kita temui dia sekarang? ayo" seru Reyhan.
Rara hanya terdiam.
Reyhan melangkah lagi dan langsung menarik lengan Rara agar tubuhnya Rara jatuh di dalam dadanya. Reyhan melingkarkan kedua tangannya.
"Percayalah..." bisik Reyhan di telinga Rara.
Tak lama, terdengar isak tangis di dada Reyhan. Rara melepaskan ketakutannya dengan air mata, dan menenggelamkan perasaannya dalam hangatnya tubuh Reyhan.
'Dia sampai menangis seperti ini karena melihat ku dengan perempuan lain, menggemaskan sekali' Reyhan.
Tanpa berbicara apapun, Reyhan membiarkan Rara mengeluarkan tangisnya, karena Reyhan tahu Rara sedang dalam keadaan sangat marah dan kecewa, sebab itu Reyhan membiarkan Rara meleburkan kemarahannya dengan memberinya pelukan hangat.
Cukup lama juga Rara menangis dalam pelukan Reyhan, entah 5 menit, 10 menit, 15 menit, atau lebih. Namun suara tangisnya perlahan menghilang hanya tersisa suara cegukan yang hanya sesekali.
"Sudah menangisnya?" bisik Reyhan.
Rara melepaskan pelukan Reyhan lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangannya sambil memasang wajah merah.
"Aku malu...." seru Rara cemberut.
"Hahahhaha...." Reyhan tertawa lepas.
"Aaaahhhh!!! diam kamu!" teriak Rara semakin cemberut.
"Badanmu bau asem!" teriak Rara.
"Apa???!" Reyhan terkejut dan langsung menciumi bajunya.
"Pasti kamu belum mandi" Rara.
"Hehe iya.. tadi aku pulang kerja langsung panik mencari mu kemana-mana" Reyhan.
"Bersihkan dulu badanmu!" teriak Rara.
Akhirnya Reyhan keluar dan membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.
Tak lama Reyhan datang hanya memakai celana boxer dengan memperlihatkan tubuhnya yang gagah. Tentu saja Reyhan tidak memakai baju karena memang tidak ada pakaian, karena mereka sedang berada di dalam apartemen Rara.
Reyhan kemudian naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Rara.
"Sudah di bersihkan kan tempat tidurnya?" tanya Reyhan.
"Sudahhh...." jawab Rara.
"Syukurlah..."
"Mas..."
"Hm?"
"Kamu akan memberikan rumah kita untuk adik mu?" tanya Rara.
__ADS_1
Reyhan melirik ke arah Rara. Lalu meregangkan tangan kirinya, dengan sigap Rara masuk ke dalam rangkulan Reyhan. Rara meletakkan tangan kirinya di atas dada Reyhan, melukiskan garis garis tak beraturan di dada Reyhan menggunakan jarinya.
"Rencananya sih gitu, maaf tidak memberi tahu kamu dulu" balas Reyhan.
"Mas... kamu beli kan saja adik mu rumah baru"
"Memangnya kamu tidak mau membeli rumah baru?"
"Aku sudah nyaman tinggal di rumah itu Mas.."
"Bukankah rumah itu kecil? nanti setelah kamu melahirkan anak kita bagaimana? belum lagi nanti adik-adiknya mau tidur dimana?"
"Memangnya kamu menginginkan berapa anak?!"
'Dasar, enak saja. Dia pikir melahirkan semudah itu?' Rara.
"Di atas kan ada satu kamar yang kosong, di bawah juga ada satu kamar, bi Ina kan nanti kembali ke rumah papah mamah ketika aku sudah melahirkan. Sudahlah Mas.. rumah itu akan nyaman untuk kita tinggal bersama anak-anak kita nanti" lanjut Rara
"Oke oke... biar nanti ku pikirkan ulang" Reyhan membelai rambut istrinya.
"Oh iya, apakah kamu selalu begini ketika sedang marah?" lanjut Reyhan.
"Maksdunya?" Rara bingung.
"Kamu menghilang"
"Oh itu.. aku tidak mau melempiaskan kemarahan dan kekecewaan ku secara langsung, karena itu aku lebih suka menyendiri dulu, untuk menenangkan diri" seru Rara.
"Tapi kan itu dulu, sebelum kamu punya aku. Sekarang kamu punya suami, dan ceritakan semuanya ke aku, bukankah suami-istri harus saling berbagi?"
"Maaf..." Rara memohon.
"Tidak apa-apa.. jangan membuatku khawatir lagi, mencarimu kemana-mana membuatku merasa cemas"
"Mas..."
"Ya?"
Rara diam sejenak dan membuat Reyhan melihat wajah istrinya yang berada di rangkulannya, terlihat mata Rara berkaca-kaca.
"Aku takut..." ujar Rara.
"Takut?" Reyhan bingung.
"Aku takut.. akan ada perempuan yang bisa membuatmu merasa lebih senang dan bahagia" ucap Rara.
Reyhan tersenyum. "Mungkin di luar sana, banyak perempuan yang bisa membuatku merasa lebih senang, tapi... tidak ada yang bisa membuatku merasa beruntung, selain kamu" jelas Reyhan.
Mendengar pengakuan Reyhan, Rara terdiam terpaku.
'Dia bilang beruntung, mengingatkan aku dengan seseorang. Ya.. sama seperti kata-kata alm.Obie' Rara.
"Aku mencintaimu Mas..." lalu Rara meneteskan air mata kebahagiaannya.
'Apa? apa aku tidak salah dengar? dia sudah mencintai ku?' Reyhan.
Tak menjawab apapun, Reyhan mencium mata istrinya kemudian mengusap lembut air mata yang mengalir di pipinya.
"Jangan pernah menghilang lagi" ujar Reyhan.
Rara hanya terdiam memandangi wajah tampan suaminya.
Reyhan mengecup lembut kedua bibir istrinya. Menyusuri setiap wangi tubuhnya, dan memerangi dinginnya hujan malam itu dengan menyatukan tubuh mereka dalam cinta.
__ADS_1
'Dan kini hari itu tiba.. hari dimana aku menyadari, bahwa aku mencintaimu Reyhan.. entah sejak kamu mengucapkan janji suci, atau sejak kamu menikmati tubuhku, atau sejak mengunjungi pemakaman Obie, entah sejak kapan aku mencintaimu. Yang aku tahu... kini aku selalu ingin berada si sisimu, Reyhan..' Rara.
Terimakasih dan jangan lupa di LIKE dan VOTE ya kakak-kakak agar author semangat untuk update🙏