Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 83 Malam Pertama


__ADS_3

Pagi hari Reyhan membuka matanya perlahan, dan melihat Rara sedang sibuk di depan lemari membereskan beberapa pakaian dan memasukannya ke dalam koper.


"Selamat pagi sayang..." ucap Reyhan.


Rara tersenyum. "Sudah bangun? Apakah tidurmu nyenyak?" lanjut Rara.


"Lumayan..."


"Iyalah.. kamar ku ini memang paling nyaman di banding hotel bintang lima"


Reyhan beranjak dari tempat tidur, dan menghampiri Rara, lalu melingkarkan kedua tangannya di perut Rara, memeluknya dari belakang.


"Ih Reyhan... apaan sih. Lepasin" Rara.


"Katamu setelah menikah, kita kan sudah menikah. Terserah aku dong mau ngapain aja" ujar Reyhan menyenderkan dagunya di pundak Rara.


'Huft... kenapa jantungku tiba-tiba berdetak seperti ini' Rara.


Reyhan melancarkan aksinya dengan menciumi telinga Rara.


"Reyhan.. geli.." protes Rara.


Reyhan tidak memperdulikan dan tetap melanjutkan aksinya.


Tok.. tok.. tok...


"Rara..." terdengar suara ibu dari balik pintu.


"Sudah lepaskan.." pinta Rara.


Reyhan pun melepaskan pelukannya.


'Hadehhh... ada aja yang ganggu. Ya sudahlah.. biar nanti malam saja dia ku makan' Reyhan.


"Iya bu.. kenapa?" tanya Rara ketika sudah membuka pintu.


"Apakah Reyhan sudah bangun? ada tamu di bawah, katanya sih Pak Udin, dia mencari Reyhan" jawab Ibu.


"Oh pak Udin sudah sampai ya?" sambung Reyhan mendekati pintu.


"Iya.. ibu suruh tunggu di bawah ya" Ibu.


"Iya bu terima kasih, nanti saya menyusul ke bawah" Reyhan.


Ibu Rara menuruni tangga dan membuatkan minum untuk pak Udin.


"Siapa pak Udin?" tanya Rara kepada Reyhan.


"Salah satu supir di rumah papah... dia ku suruh kemari untuk menjemput kita dan membawa barang-barang mu" jawab Reyhan.


"Barang ku kan tidak banyak, paling hanya 2 koper, itu kan cukup di taruh di mobil mu. Kenapa harus merepotkan orang lain" ujar Rara.


"Kamu lupa? mobil ku kan di bawa Papah dan Mamah pulang"


"Oh iya... hehe"


"Dasar... ayo lanjutkan"


"Apaa?!!! lanjutkan apa?!" teriak Rara.


"Lanjutkan bereskan barang-barangmu.. biar nanti siang kita bisa langsung pulang ke rumah kita"


"Oh... "


'Huft... selamat, kirain dia ingin melanjutkan yang tadi' Rara.


"Kenapa? apa kamu mau melakukannya sekarang?" ejek Reyhan.


"Melakukan apaan sih. Sudah sana mandi, dan temui pak Udin" ujar Rara kesal.


Reyhan tertawa kecil.


--


Dan setelah membereskan pakaian dan beberapa barang lainnya, Rara dan Reyhan berpamitan kepada seluruh keluarga Rara dan meminta izin membawa Rara tinggal bersamanya.


"Jaga diri ya dik... jaga kesehatan.. kalau ada apa-apa kabari saja..." kakak.


"Nanti sering-sering main ke rumah ayah ya (rumah Jakarta)"


Tiba-tiba Ibu menangis.


"Sudah bu... jangan menangis, kan ibu yang pernah menasehati ku untuk selalu menghormati dan patuh kepada suami setelah aku menikah. Insyaallah aku dan Mas Reyhan akan baik-baik saja bu..." Rara berusaha menenangkan ibunya.


"Iya nak.. ibu hanya sedikit merasa kehilangan, biasanya kamu yang membantu ibu di dapur dan menemani ibu ke pasar" ibu masih menangis.


"Tenang saja bu.. nanti aku dan Rara akan mengusahakan untuk sering pulang ke Bandung.." sambung Reyhan.


Dan seluruh keluarga Rara akhirnya melepas Rara untuk tinggal bersama suaminya.


--


"Tadi kamu panggil aku apa?" tanya Reyhan di dalam mobil.


"Maksudnya?" Rara heran.


"Tadi.. pas kamu bilang sama ibumu, kamu memanggilku apa?" ulang Reyhan.


"Mas?" Rara meyakinkan.


Reyhan diam tersenyum.


"Kenapa? aku tidak boleh memanggil suamiku 'Mas'?" tanya Rara.


Reyhan memeluk Rara yang duduk di sampingnya dan menciumi rambut Rara yang lurus dan wangi.


"Reyhan stop! kamu sedang apa sih, kamu tidak malu ada pak Udin" bisik Rara sambil berusaha menyelamatkan diri.


Reyhan tidak peduli.


"Reyhaaaaan... berhentiiii" Rara merengek.


Akhirnya Reyhan pun menghentikan kelakuannya.


'Dasar pengantin baru' gumam pak Udin dalam hati sambil tersenyum melihat kelakuan majikan mudanya.

__ADS_1


--


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan Bandung-Jakarta, akhirnya sekitar 16.00, Rara dan Reyhan tiba di rumah mereka.


Pak Udin juga membantu membawa barang-barang dan juga kado-kado pernikahan Rara-Reyhan.


"Mbak Rara.. ini semua kadonya taruh di mana?" tanya pak Udin.


"Di dalam kamar saja pak.. taruh di dekat sofa ya pak.. di atas ada Reyhan ko" jawab Rara yang sedang memasak di dapur.


Setelah pak Udin selesai meletakkan semua barang-barang, pak Udin pamit untuk kembali pulang ke rumah pak Santoso.


"Tidak makan dulu pak? saya sudah masak" ujar Rara.


"Tidak usah mbak Rara.. saya langsung pulang saja, nanti malam mau mengantar pak Santoso ada urusan di luar" jawab pak Udin.


"Oh begitu.. ya sudah.. salam untuk papah dan mamah ya pak Udin.."


"Baik mbak.."


"Oh iya pak, Reyhan di atas sedang apa?" tanya Rara.


"Sedang tidur mba. Sepertinya mas Reyhan kelelahan"


"Oh yasudah terimakasih ya pak.. hati-hati di jalan"


"Mari mbak.." pak Udin pun keluar dan meninggalkan rumah Reyhan. Rara pun mengantar pak Udin sampai depan lalu kembali masuk rumah dan mengunci rumah.


Karena Reyhan tertidur, Rara tidak tega membangunkannya. Akhirnya Rara mandi dan sholat maghrib, lalu makan sendirian di dapur.


Tak lama.. Reyhan keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.


"Kenapa makan sendirian? tidak membangunkan ku?" tanya Reyhan kemudian duduk di meja makan bersama Rara.


"Sepertinya kamu kelelahan, dan aku tidak tega membangunkanmu. Sudah sana mandi dulu" Rara.


"Kamu sudah mandi?" tanya Reyhan.


"Sudah dong ini kan sudah jam 19.00" jawab Rara.


"Aku makan dulu saja, laper. Habis itu baru mandi" Reyhan menawar.


"Yasudah.. "


Rara pun berdiri dan menyiapkan makan untuk Reyhan.


--


Jam 20.00 Reyhan selesai makan dan kemudian naik ke kamarnya dan mandi. Sedangkan Rara sedang duduk di sofa kamar sambil membuka satu-persatu kado pernikahannya.


'Kenapa ini warnanya mencolok dan berbeda sendiri?'


Rara melihat sebuah kado yang menurutnya unik, berbeda dengan kado lainnya, kado lain kebanyakan di bungkus dengan kertas kado bernuansa merah ataupun putih, namun ada sebuah kado yang di bungkus dengan warna hijau mencolok dan membuat Rara tertarik.


Akhirnya Rara pun membuka kado tersebut. Setelah bungkusan kado terbuka, ada sebuah kertas kecil di dalamnya. Rara pun melihat dan membaca tulisan di kertas tersebut.


Pakailah.. dan buat Reyhan klepek-klepek.


Dari : Mentari.


"Dia bilang Reyhan? berarti dia mengenal Reyhan dong. Apa mungkin dari mantannya Reyhan? tapi bukankah Reyhan tidak pernah pacaran sebelumnya?!" Rara semakin bingung.


Karena penasaran, Rara pun mengambil isi dari kotak kado tersebut, ada sebuah kain berwana merah. Rara mencoba mengangkat kain tersebut agar bisa melihat secara detail.


"Whattt??!!! pakaian macam apa ini??!!!!" Rara terkejut.


Jegrek.


Pintu kamar mandi terbuka. Rara langsung melipat kain yang ia pegang dengan sembarangan dan menyembunyikannya, memasukkannya ke dalam kotak. Terlihat Reyhan keluar dari kamar mandi tidak memakai baju, hanya memakai celana pendek dan memegang handuk di tangannya.


Seketika Rara merasa deg-deg an.


"Kenapa?" tanya Reyhan melihat Rara yang sedikit aneh.


"Em... E-Engga... hehe" Rara gugup.


"Kamu sedang membuka kado dari siapa?" tanya Reyhan melihat kotak warna hijau di pangkuan Rara yang tidak tertutup dengan rapih.


"Hah? I-Ini.. Da-dari.. temanmu. Eh te-temanku."


'Aduh.. kenapa aku jadi gugup begini' Rara.


"Jadi yang benar dari siapa?" tanya Reyhan yang masih berdiri sambil mengelap tubuhnya dengan handuk.


"Dari mentari.." Rara pun akhirnya jujur.


"Oh iya.. itu temanku. Di kertas bilang apa katanya?"


"Hah??!! ga bilang apa-apa" tegas Rara.


"Ga mungkin.. dia sahabatku pasti dia ngomong sesuatu, coba sini liat mana kertasnya" Reyhan mendekat.


Namun Rara diam tidak menyerahkan.


"Akhirnya Reyhan mengambil kotak di pangkuan Rara"


"Ja...." Rara hendak bilang jangan namun sudah terlanjur mendarat di tangan Reyhan.


Reyhan mengambil kertas ucapan itu dan membacanya.


'Membuat Reyhan klepek-klepek? apa maksudnya?' Reyhan.


Reyhan pun melihat secara detail isi kado tersebut dan kemudian Reyhan tersenyum.


Reyhan kemudian meletakkan handuknya dan berjalan kembali mendekati Rara.


"Yasudah.. pakai sana.." Reyhan.


"Tidak mau" jawab Rara jutek.


"Kenapa???" tanya Reyhan sambil tersenyum.


"Pakaian macam apa kaya gitu. Jas hujan saja ada untuk tangan dan kakinya. Sedangkan ini? ini terlihat seperti sehelai benang!" jawab Rara jutek.


"Hahahahhaha" Reyhan tertawa."Kenapa jadi jas hujan, memangnya kamu mau tidur pakai jas hujan?" lanjut Reyhan.

__ADS_1


Rara diam ngambek.


"Jangan pakai jurus ngambek. Malam ini tidak akan mempan untuk ku. Sudah sana pakai sayang.." Reyhan.


Rara masih diam.


Isi dari kotak kado tersebut adalah sebuah lingerie berwarna merah mencolok.


--


Di dalam kamar mandi Rara berdiri di depan kaca dengan lingerie tersebut yang sudah Rara kenakan.


'Pakaian macam apa kaya gini! Memalukan. Arrghhh.. apakah ini yang di rasakan setiap pengantin perempuan di malam pertamanya?!! Mentari.. kenapa harus memberi ku kado seperti iniiiii.... awas saja kalo aku bertemu denganmu! Ku habisi kau nanti' Rara.


--


Sementara itu.. Reyhan duduk bersandar di tempat tidur dan matanya terus memperhatikan pintu kamar mandi.


'Lama sekali dia di dalam? apakah dia tertidur di dalam kamar mandi?!' Reyhan.


"Ra....." teriak Reyhan berusaha memanggil.


'iiihhhhh kenapa dia terus memanggilku?! dia tidak tahu apa rasanya aku pengen mati menahan malu?!' Rara.


Tak lama kemudian.. jegrek... Reyhan melihat pintu terbuka perlahan.


'Ayooo keluar dan tunjukkan dirimu Ra...' Reyhan.


'Apakah aku langsung keluar saja ke lantai bawah tanpa melihat dia? tapi tidak mungkin, Reyhan pasti sudah mengunci pintu kamar. Arghh.... apakah aku harus benar-benar keluar memakai pakaian ini?!!' Rara.


"Sayang...." Reyhan.


Dan akhirnya Rara memberanikan diri untuk keluar dan menampakan dirinya. Terlihat Reyhan sudah duduk bersandar di atas tempat tidur dan wajahnya memperhatikan ke arah kamar mandi.


"Hahahaha..." Reyhan langsung tertawa.


Melihat Reyhan tertawa Rara merasa kesal dan kemudian masuk kembali ke dalam kamar mandi.


Brakkkk!!!!! Rara menutup pintu kamar mandi dengan cukup kencang.


'Kurang ajar, dia menertawakan ku. Arrghhh'


Tak sadar Rara pun menangis tak kuat menahan malu.


Reyhan beranjak dari tempat tidur dan mendekat ke kamar mandi. Reyhan berusaha membuka pintu namun terkunci. Terdengar sedikit isak tangis Rara di dalam kamar mandi.


'Hah? dia menangis???!!' Reyhan.


Tok.. tok.. tok...


"Ra.... Sayang... buka pintunya" Reyhan berbicara pelan.


"Sayang... ayo buka pintunya.." Reyhan mengulangi.


Ceklek.. terdengar suara kunci terbuka.


Reyhan pun lansung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mandi.


Terlihat Rara sedang berdiri memakai lingerie namun kedua tangannya menyilang menutupi dadanya. Rara berdiri menunduk dan terlihat menangis.


Reyhan mendekati Rara dan memeluknya.


"Kenapa menangis?" tanya Reyhan berbisik di telinganya.


"Ka-ka-mu... men-ter-ta-wa-kan ku.." Rara menjawab sambil terisak.


Reyhan semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku tertawa bahagia Ra.."


"Ba-Bahagia karena su-sudah mengejekku??!!" Rara masih menangis.


Reyhan melepas pelukannya. Rara semakin menunduk dan mengeratkan kedua tangannya yang menyilang.


Reyhan meraih dagu Rara dan mengusap air mata Rara. "Sudah jangan menangis.." lanjutnya.


Reyhan berusaha melepas kedua tangan Rara yang menyilang menutupi dadanya.


"Lihatlah.. kamu sangat cantik, dan suami mu ini bahagia melihatnya.." ujar Reyhan.


Reyhan melepaskan kuncir rambut Rara. "Dengan Rambut terurai lebih menggemaskan" lanjut Reyhan tersenyum.


Perlahan Rara berhenti menangis.


Reyhan memeluk Rara kemudian menggendongnya dan membaringkan Rara di atas tempat tidur.


Reyhan menatap wajah Rara yang malu-malu dan membelai rambut Rara. Kemudian Reyhan mencium kening Rara 3x lalu kembali memperhatikan wajah Rara yang sudah berhenti menangis.


"Aku malu Mas..." ujar Rara.


Reyhan tersenyum "Kenapa harus malu? aku suami mu" lanjutnya.


Rara terdiam menatap Reyhan yang berada tepat di atasnya.


Reyhan menyentuh wajah Rara dengan jari-jarinya, menyusuri setiap lekuk mata, alis, hidung, mulut.


Tangan Reyhan semakin menyusuri ke bawah, kini sudah merambat ke mana-mana.


Wajah Reyhan bersembunyi di dalam leher Rara.


Rara terpejam dan tangannya mencengkram ujung bantal dan sprei. Tanpa sadar Rara menggigit bibirnya dan ingin bersuara, lalu tangan kanannya langsung menutup mulutnya.


Reyhan meraih tangan kanan Rara, dan melepaskannya dari mulut Rara.


"Jangan di tahan, lepaskan saja, tidak akan ada yang mendengar" ujar Reyhan pelan.


Reyhan melanjutkan aksinya, melepas dengan lembut pakaian Rara inci demi inci.


"Aahhhh...." terdengar pelan suara Rara.


Reyhan mendengar Rara mulai mendesah, pertanda Rara menikmati permainannya. Reyhan semakin bersemangat untuk menjelajahi setiap lekukan tubuh Rara.


Sejak malam itu dinding-dinding kamar Reyhan mulai membiasakan mendengar suara yang mungkin akan terus ada di setiap malam. Malam dingin saat itu terasa sangat hangat bagi Reyhan dan Rara. Semakin berputar arah jam dindin, semakin mereka melebur dalam kenikmatan cinta yang sesungguhnya.


Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update😊🙏

__ADS_1


__ADS_2