
17.00 Reyhan berpamitan pulang karena nanti malam dia ada janji menemani ayahnya survey tempat untuk proyek baru nanti. Sementara Rara beres-beres apartemen dan kemudian mandi dan sholat Maghrib. Setelah maghrib, Rara bersiap-siap, karena memang sebelumnya Rara sudah ada janji akan menemui Bimo di apartemennya. Bimo sudah mengirim lokasi apartemennya, dan Rara langsung menuju kesana.
Rara duduk berhadapan dengan Bimo di ruang tengah apartemen Bimo.
"Tumben kamu minta kesini, padahal aku bisa ke apartemen mu kalau kamu mau ketemu"
'Tuhan... semoga keputusanku kesini tidak akan salah' Rara.
"Bim.."
"Ya?"
Kedua bibir Rara serasa saling mengunci, tidak ingin berkata. Oksigen terasa tipis hingga membuat nafas teriris. Jantung berdetak istimewa, tak seperti biasanya.
"Kenapa Ra?" tanya Bimo.
Rara menatap lurus wajah Bimo.
"Bim.. bisa kah malam ini kita berbincang sebagai sahabat?"
"Bukankah dari dulu juga kita sahabat?"
"Tolong bicaralah tanpa memikirkan kalau kita pernah punya hubungan"
"Kamu kenapa sih Ra?"
"Bim.. ku mohon..." bujuk Rara.
"Oke oke.." Bimo pasrah.
Rara menarik nafas sejenak, dan menghembuskannya perlahan.
"Apakah kamu.. masih mencintai.. Mia?" tanya Rara dengan sangat pelan.
Bimo diam sejenak.
"Kenapa kamu menanyakan itu?"
"Aku sahabatmu, dan aku ingin sahabatku ini berbagi rasanya denganku"
"Aku tidak tahu Ra"
"Bim.. jawab saja, malam ini anggap aku sahabatmu, bukan mantanmu"
Bimo diam sejenak.
"Aku rasa, masih.." lanjutnya.
'Sudah ku duga' Rara.
"Apakah kamu bersedia.. menceritakan kepada sahabatmu ini, mengenai apa yang kamu rasakan saat pertama kali Mia bilang dia akan menikah dengan pria lain?"
"Sakit" jawab Bimo dengan tegas.
"Hanya sakit?"
"Hancur.." lanjut Bimo.
"Seandainya.. ternyata Mia batal menikah, atau jadi menikah namun dia berpisah dengan suaminya, lalu Mia kembali lagi padamu, apakah kamu akan menerimanya lagi?"
__ADS_1
'Kenyataannya memang Mia sekarang sudah berpisah dengan suaminya Ra' Bimo.
"Bim.. jawab... aku sahabatmu malam ini"
"Aku akan berfikir ulang untuk hal itu Ra"
"Kenapa?"
"Karena dia tidak memprioritaskan aku. Bahkan aku memutuskan untuk tidak kembali, karena dia sudah menghancurkan semuanya"
Rara dan Bimo langsung diam.
"Bim.. tanpa kamu sadari, apa yang sudah kamu ucapkan barusan, itulah yang aku rasakan ketika dulu kamu pergi meninggalkanku untuk wanita lain. Dan sama seperti jawabanmu, aku pun tidak akan memutuskan untuk kembali, dengan alasan aku takut hancur untuk yang kedua kalinya" Rara meneteskan air mata.
"Aku ga tau kalau rasanya akan seperti ini Ra.. Maaf..." Bimo pun meneteskan air mata.
Rara mendekat, meletakkan telapak tangannya di pipi Bimo, mengusap lembut air mata yang menetes pelan di wajah tampannya.
'Jangan menangis Bimoku' Rara.
"Jujur.. aku pun sakit, saat tahu sekarang kamu merasakan apa yang dulu aku rasakan. Entah kenapa, seakan aku tidak ingin kamu merasakannya" lanjut Rara.
"Mungkin ini hukuman untukku Ra.."
"Bim.. satu hal yang perlu kamu tahu, aku tidak pernah membencimu, karena kamu sahabatku"
Rara dan Bimo diam saling menatap.
"Boleh aku memelukmu?" pinta Bimo.
Rarapun berdiri, di ikuti dengan Bimo. Mereka melangkah saling mendekat, dan memeluk dalam hangatnya persahabatan.
Cukup lama mereka berpelukan, meleburkan segala luka yang ada di diri masing-masing.
"Sudah lepaskan.. kalau kelamaan nanti aku berubah pikiran" gurau Rara.
Rara dan Bimo tertawa. Mereka melepaskan pelukan.
"Apa kamu akan menikah dengan Reyhan?" tanya Bimo tiba-tiba.
"Apa yang kamu ketahui?" tanya Rara.
"Aku tahu semuanya. Setelah malam itu saat bertemu Reyhan, Galih menceritakan semuanya. Dan aku tahu, kamu akan kesini untuk mengatakan ini" ujar Bimo.
"Bim.. setidaknya kamu sudah berjuang untuk Mia, kamu harus yakin setiap perjuangan akan berbuah manis, walau bukan melalui Mia, Tuhan sedang menyiapkan seseorang yang lebih dari Mia, percayalah.."
'Seperti kata Obie, Segala perjuangan memang pasti akan berakhir indah. Tapi indahnya bukan hanya di jalan itu saja' Rara.
"Aku percaya nyonya Reyhan..." gurau Bimo.
"Hahaha apaan sih!"
Mungkin Rara sudah jatuh bangun mati-matian berjuang untuk Bimo, dan berharap bisa mendapat hasilnya bersama Bimo. Tapi setelah Obie datang dalam mimpinya, Rara sadar.. indah bukan hanya di satu jalan saja. Yang berarti, Reyhan adalah keindahan dari apa yang sudah Rara perjuangkan dan korbankan selama perjalanan cintanya.
--
Pagi hari, Rara berjalan masuk ke dalam kantor menuju ruang kerjanya.
"Reyhan?!" Rara terkejut mendapati Reyhan sudah berada di depan ruangannya.
__ADS_1
'Dia ini seperti hantu, selalu muncul tiba-tiba di hadapanku' Rara.
"Minggir, aku mau masuk" Rara membuka pintu dan menaruh tasnya di atas meja.
Reyhan mengikutinya dari belakang.
"Apa siiihh.... mau apa pagi-pagi di sini?" tanya Rara kesal.
"Aku ingin mendengar jawabanmu" ujar Reyhan tidak sabar dengan wajah yang sedikit berkeringat.
'Dia terlihat seperti habis mengangkat beban 2ton hahaha' Rara tertawa dalam hati.
"Aku tidak bisa Reyhan.." jawab Rara pelan.
"Apaaa?!!!!" teriak Reyhan.
Rara diam.
"Kenapaaa???!!!" lanjut Reyhan.
"Ya aku tidak bisa.."
"Ya tidak bisanya kenapa, alasannya apa??!"
"Aku tidak bisa menerima lamaran laki-laki lain, karena aku sudah menerima lamaranmu"
Reyhan terdiam. Rara tersenyum.
"Berani-beraninya kau mengerjai ku, dasarrr, sini kamu!" Reyhan menggelitiki Rara.
Mereka saling tertawa bahagia.
Diary Rara
Mencintai Bimo begitu dalam, bukanlah kesalahan dalam hidupku. Justru aku berterimakasih, karenanya aku banyak belajar, karenanya aku bangga dengan diriku sendiri yang tanpa sadar aku sudah menjadi teman, sahabat, kekasih, dan mantan, dalam satu pribadi. Yang belum tentu orang lain bisa melakukan peran itu secara bersamaan.
Mungkin hati ku akan selalu memaafkan dan menerima Bimo, namun jika perjuanganku berwujud fisik, mungkin seluruh tubuhku sudah penuh dengan jahitan. Aku tahu.. Bimo sudah mendapatkan apa yang sudah ia tanam, walau kenyataannya aku sendiri tidak ingin dia mendapatkan itu. Karena bagaimanapun aku tidak pernah berharap agar dia merasakan sakit yang aku rasakan. Namun benar, Tuhan memang Maha Adil.
Mungkin banyak yang akan bertanya, kenapa sih Ra kamu tidak memberi kesempatan kedua untuk Bimo?, aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mereka tidak tahu entah sudah berapa kali kesempatan yang sudak aku berikan, namun dia masih menyiakannya saat itu. Walau aku tahu kini Bimo sudah berubah, namun aku juga tahu traumaku ini sulit di rubah. Karena itu, salah satu alasanku untuk memutuskan ini adalah, aku tidak ingin trauma ini akan menjadi bumerang yang akan meledak kembali di saat nanti aku menghadapi keadaan sulit jika menikah dengan Bimo.
Terimakasih Bimo, kamu adalah salah satu perjalanan terhebatku sampai aku di titik ini.
Setelah perjalananku bersama Bimo, aku bertemu Obie. Mengenal Obie bukanlah penderitaan, walau pada akhirnya kematian menjauhkan ku dengannya, namun karenanya aku mampu terus berjalan dalam keadaan hati dan kaki penuh nanah dan duri. Kepergiannya mungkin meninggalkan penyesalan, namun keabadiannya adalah jalan yang sudah ia pilih lebih awal. Mengenangnya adalah sebuah hobi yang mengasikkan, merindukannya adalah hal yang menenangkan.
Aku belajar dari Obie bahwa segala sesuatu yang terlihat buruk, justru sering kali adalah sebuah hal yang berharga bahkan tak ternilai. Darinya aku belajar, bahwa mencintai tidak harus dicintai. Ketulusan tidak butuh imbalan. Dan perjuangan tidak perlu di tampilkan, melainkan di buktikan.
Obie adalah hal berharga yang belum sempat ku miliki. Tapi Tuhan memang pemilik yang lebih berhak atas Obie. Walau begitu, aku merasa berharga di cintai oleh orang tak ternilai seperti Obie. Dialah kekasihku.
Dan.. ini lah pilihan terakhirku. Memilih hidup bersama Reyhan, menghabiskan sisa nyawa bersamanya, walau entahlah.. ini adalah pilihan tepat atau tidak, yang jelas Reyhan adalah sebuah harapan baru yang akan aku perjuangkan hingga akhir nafas ku. Kelancangannya memang bukanlah hal yang baik, namun kesungguhannya adalah hal yang perlu ku hargai. Kejailannya adalah hal yang akan ku nanti di setiap hari. Cemburunya adalah alarm saat aku terlelap dalam duka ku yang akan ku hadapi nanti. Reyhan adalah suamiku yang akan aku patuhi. Reyhan adalah tempatku untuk menyejukkan hati, dia adalah surgaku.
Salam, Rara.
***
Buat kalian yang nanya...
'Mantanku, Suamiku' ini maksudnya 1 orang yang sama? atau... 'Mantanku, Suamiku' ini adalah 2 orang yang berbeda?
Itu tergantung sudut pandang kalian masing-masing aja ya๐๐
__ADS_1
Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update๐