Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 86 Ingin Menjenguk Obie


__ADS_3

'Foto perempuan? hah? bukannya ini fotoo....'


Saat mentari membuka dompet Bimo, ia melihat foto seorang laki-laki merangkul perempuan yang memakai toga dan membawa bunga, tentu saja itu foto Bimo saat hadir di wisuda Mia. Namun yang membuat mentari terkejut adalah, ada foto lain yaitu perempuan dengan rambut terikat kebelakang yang sedang tertawa dengan background belakang pemandangan gunung yang indah, siapa lagi kalau bukan Rara. Bimo diam-diam mengambil foto Rara saat mereka mendaki gunung bersama.


'Bukankah ini istrinya Reyhan?' Mentari.


Mentari mencoba mencari sesuatu yang lainnya yang bisa menjadi petunjuk untuk mengetahui pemilik dompet yang sedang ia pegang. Lalu Mentari menemukan KTP yang tertulis nama BIMO PRAKOSO.


'Bimo????' Mentari diam seakan mengingat nama itu.


"Hah? ini kan laki-laki yang aku temui saat nikahan Reyhan di Bandung!" Mentari pun akhirnya mengingat dengan jelas.


--


Di dalam kamar, Reyhan sedang duduk bersandar di atas tempat tidur sambil menatap layar hp nya. Sedangkan Rara duduk di depan meja riasnya sambil memakai krim malam dan menyisir rambut.


"Sayang" ucap Reyhan masih memperhatikan layar hp nya.


"Ya?" Rara.


"Aku liat agenda kerja ku, minggu depan full. Tapi lusa bisa santai dan besoknya lagi kan hari libur kerja, apa kita berangkat ke Purwokerto lusa aja?"


"Lusa? apa ga mendadak Mas?"


"Gapapa.. dari pada ga sama sekali. Biar besok aku hubungi pak Udin"


"Buat apa hubungi Pak Udin?" Rara bingung.


"Biar dia yang mengantar kita"


Rara berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk di atas ranjang.


"Mas.. apa nanti tidak merepotkan? lebih baik kita pergi berdua saja, naik kereta. Lagian aku hanya ingin ke satu tempat saja ko Mas nanti di sana kita juga bisa naik taxi online kan Mas"

__ADS_1


"Memangnya kamu mau kemana sih? tempat wisata apa namanya?"


Rara menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.


"Mas.. sebenarnya.. bukan tempat wisata" ujar Rara pelan.


"Lah terus?" Reyhan heran.


"Sebenarnya.. aku.. aku pengen nengokin makam Obie Mas.." Rara menjawab dengan pelan dan menunduk.


'Pasrah deh kalau pun dia harus marah..' Rara.


Reyhan diam sejenak menatap istrinya.


"Mas.. maaf..." Rara memohon.


"Yasudah kalau begitu kita pergi berdua saja naik kereta, biar ku pesankan tiketnya" jelas Reyhan.


'Apaa?!! Dia ga marah? dia ga cemburu? tumben' Rara.


"Mmm.. sebenarnya aku sedikit cemburu, tapi tidak apa-apa, sebagai ganti untuk menebus kesalahanku karena waktu itu sudah membuang foto mu dengan alm.Obie" lanjut Reyhan.


Mendengar jawaban Reyhan, Rara merasa terharu dan langsung memeluk suaminya.


"Terimakasih ya Mas... aku menyayangimu.." seru Rara sambil bersandar di dada suaminya.


Semenjak menikah, Reyhan memang lebih lembut, lebih mampu mengontrol emosinya bahkan terkesan jadi manja.


'Tumben banget dia meluk duluan begini? Sebegitu spesialnya Obie untuk mu sampai dia mampu merubah mu yang kaku jadi haru' Reyhan.


"Sayang..."


"Ya?"

__ADS_1


"Mau kah kamu ceritakan, bagaimana dulu kamu menghabiskan waktu bersama Obie?" pinta Reyhan.


Rara diam sejenak lalu membayangkan Obie.


"Aku dan Obie tidak seperti pasangan pada umumnya Mas, bahkan kita tidak pernah menonton film bersama di bioskop. Makan juga hanya di warung-warung biasa pinggir jalan. Aku sering menemani dia latihan balapan. Obie itu sakit Mas, karena itu aku selalu ingin di samping dia, menemani dia di saat dia sedang kesakitan"


"Sakit? Sakit apa?"


Rara tersenyum. "Sudahlah.. tidur yuk" Rara mengalihkan pembicaraan.


"Apa kamu sangat mencintainya?" tanya Reyhan.


Rara melepas pelukannya dan merubah posisinya menjadi duduk, menghadap Reyhan. Rara memegang tangan Reyhan.


"Mas... jangan tanyakan itu. Obie adalah masa lalu, dan dia juga sudah tenang. Sekarang dia hanya ingin melihat ku bahagia. Dan aku.. aku bahagia bersama mu Mas, kamu suami ku, aku akan berada di sisi mu sampai kita tak bernafas lagi" tak sadar Rara pun meneteskan air mata haru nya.


Reyhan mengusap pipi Rara sambil tersenyum.


--


Di dalam kamarnya, Mentari duduk di kursi sambil memegangi dompet Bimo.


'Kenapa bisa ada foto istri Reyhan di dalam dompet si Bimo, siapa sebenarnya Bimo ini? apakah Reyhan merebut Rara dari tangan Bimo? tapi... masuk akal sih, karena pada saat pernikahan Rara dan Reyhan, saat bertemu Bimo di parkiran, dia terlihat sedih'


'Apakah aku coba tanyakan Reyhan ya? Ah nanti kalau pemikiran ku salah, yang ada Reyhan berantem sama istrinya gara-gara aku'


Akhirnya mentari memberanikan diri untuk melihat isi dompet Bimo. Dan Mentari menemukan kartu nama Bimo yang menyebutkan bahwa Bimo adalah seorang yang bekerja di bagian keuangan, dan tercantum nomor telepon Bimo di kartu nama tersebut. Mentari pun langsung mengambil hp nya, mencatat nomor tersebut, lalu mencoba menelponnya.


Tut... Tut....


"Halo?" suara Bimo dari balik telepon.


'Haduh... harus ngomong apa niiiihhh...' Mentari.

__ADS_1


"Halooo??" ......


Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update😊🙏


__ADS_2