
Setelah makan malam waktu itu, Mentari dan Pak Jefri pulang bersama ke rumah. Di dalam mobil Mentari terlihat senyum-senyum sendiri sambil menyetir karena teringat wajah Bimo yang terkejut saat melihatnya.
"Apa kamu menyukainya?" tanya pak Jefri.
"Apaan sih Pa.." Mentari.
"Terus kenapa kamu senyum-senyum sendiri begitu? Papah udah hapal sama kamu" ujar Pak Jefri.
"Kalo papah sendiri, menurut papah dia gimana?"
"Mmm.... keliatannya dia laki-laki baik. Selama ini papah sering denger dia, awalnya dia bekerja di kantor pusat di Surabaya, terus dia di percaya untuk mengurus beberapa proyek di luar kota dan setiap proyek yang dia tangani, hampir semuanya berjalan lancar. Sepertinya selain tampan, dia laki-laki yang cerdas" jelas pak Jefri.
Mentari hanya tersenyum.
'Kita sependapat pah wkwk'
--
Paginya, Reyhan berdiri di depan lemari sedang memakai kemeja. Rara menghampiri untuk membantu Reyhan memakai dasi, namun kaki Rara berhenti ketika melihat cermin besar di dekat lemari.
Rara membalik-balikkan badannya sendiri, memandangi setiap bagian tubuhnya yang berada di dalam cermin.
"Reyhan.. ko aku gendutan ya" Rara.
"Hah?"
"Apa gara-gara semalem ya aku makan mie? ih kamu sih masakin aku segala!" Rara kesal.
"Hah??! kan kamu yang minta pake jurus ngambek. Lagian ga usah aneh deh, mana ada orang malem makan mie paginya langsung gendut" Reyhan.
"Ini buktinya aku gendut Mas..."
Reyhan berjalan menghampiri istrinya.
"Badan kecil kaya gini di bilang genduuuut??????" seru Reyhan sambil mencubit pipi istrinya.
"Sakit!!!"
"Sudah.. pakaikan dasinya" perintah Reyhan sambil menyerahkan dasi.
Rara pun melingkarkan dasi di kemeja Reyhan dan merapihkannya.
"Tapi... kalo di liat-liat emang gendutan sih" seru Reyhan memandangi Rara yang sedang memakaikan dasi.
Settt!!!!!! Rara mengikat dasi itu dengan kencang.
Uhuk... uhuk... uhuk... Reyhan batuk karena ikatan dasi Rara.
"Hey.. kamu mau membunuhku?!!" teriak Reyhan.
"Bodo amat! pakai sendiri!" balas Rara berjalan keluar kamar dan turun menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
--
Bimo keluar dari apartemen barunya hendak berangkat ke kantor. Dan ketika sedang mengunci pintu, Bimo mengingat sesuatu.
'Masa sih Mentari tinggal di apartemen ini juga? di lantai berapa ya' gumam Bimo kemudian memandangi kamar sebelahnya.
'Dari kemaren-kemaren aku belum melihat penghuni kamar sebelah, apa jangan-jangan.....' Bimo menduga.
"Hiiih... jangan sampe deh, masa iya bersebelahan. Ah sudahlah kenapa jadi memikirkan dia" ucap Bimo kemudian pergi berangkat kerja.
--
"Raraaaaaaa!" teriak Mora ketika memasuki toko kue Rara dan terlihat Rara sedang berdiri di dekat mesin kasir.
__ADS_1
"Hey... Moraa!!" Rara berteriak bahagia.
Mereka berdua berpelukan. Mora dan Galih berkunjung ke toko kue Rara saat jam istirahat kantor.
"Kangen bangeeeettttt" Mora.
"Samaaaa" Rara.
"Aku jugaaaaa" sambung Galih.
"Apaan sih lo!" Rara. "Eh sini sini.. duduk" lanjut Rara mengajak Mora dan Galih duduk di salah satu meja yang tersedia di dalam toko kue.
"Tumben ih kalian kesini" Rara.
"Iyalah.. kita mau mampir liat toko baru kamuuu" Mora.
"Dan minta gratisan!" gurau Galih.
"Hey! kau bilang nikah 2 bulan lagi, nikah sama siapa?!!! padahal Mora bilang sebulan lagi" Rara kesal.
"Hehe" Galih meringis.
"Mau-maunya sih Mor nikah sama id*ot satu ini!" gurau Rara.
"Terpaksa Ra..." balas Mora bergurau juga.
"Eh gimana, sampe mana persiapannya? kapan sih jadinya?" Rara.
"Insyaallah 3 mingguan lagi Ra" jawab Mora.
"Senangnyaaaaa..." Rara.
Galih dan Mora hanya tersenyum.
"Iya Ra... ini berkat kamu juga yang mempertemukan aku dengan id*ot ini!" gurau Mora.
"Kalau dia selingkuh atau KDRT atau sejenisnya, lapor ke aku ya, biar ku bantu hajar dia" bisik Rara kepada Mora.
"Heyyyy kalian pikir gue ga dengerrr???" Galih.
Rara dan Mora tertawa pelan.
"Eh Ra... kamu gemukan sih?" seru Mora sambil memperhatikan Rara.
"Ah masa sih?" Rara memegangi pipinya.
"Iya gendut" sambung Galih bergurau.
Plak!! Rara menepak lengan Galih.
'Kenapa semua orang hari ini bilang aku gendut?!!!!' Rara.
"Kamu lagi isi kah?" tanya Mora.
"Isi? isi apa?" Rara bingung.
"Isi tabung gas!!! isi bayilah!" teriak Galih.
'Sumpah ya nih mulut bocah satu ini ga bisa ga bikin kesel' Rara.
"Kamu kan udah nikah beberapa bulan, belum pernah cek Ra?" tanya Mora lagi.
"Hehe.. emang harus ya? ini tuh karna semalem aku makan mie jam 2 pagi, mangkannya jadi gendutan" Rara.
"Gue hampir tiap hari makan mie ga gendutan tuh" Galih.
__ADS_1
"Perut lu kan udah terbiasa makan makanan akhir bulan!!" gurau Rara kesal.
"Udah.. udah.. coba di cek aja Ra.. itung-itung cek kesehatan juga kan kalaupun belum isi" Mora.
"Eh gue kan ngasih kado pas lu nikahan tuh Ra, ini saatnya tuh kado bermanfaat, di pakelah" seru Galih.
'Emang nih bocah satu ga ada akhlaknya' gurau Rara kesal.
"Oh iya, Reyhan tau ga kalo kamu kesini Mor? kok dia ga ikut?" Rara mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, tadi dia keluar mau ketemu klien, dia kan lagi ngurus proyek baru, katanya tadi dia chat kamu tapi kamu bales-bales" Mora.
Rara langsung mengecek isi hp nya dan ternyata memang dari tadi Reyhan menghubunginya.
'Tadi aku sibuk di dapur, sorry ya Reyhan baru sempet liat hp' Rara.
--
Di salah satu meja cafe Meriju, Mentari duduk dengan secangkir kopi di hadapannya namun di dalam kepalanya memikirkan sesuatu.
'Masa sih aku satu apartemen sama dia? dia di lantai berapa ya? apa perlu aku tanya ke dia? apa aku pulang ke apartemen aja ya malam ini?' Mentari.
Ternyata Mentari memikirkan Bimo.
--
Setelah makan malam bersama, Rara masuk ke dalam kamar, sementara Reyhan mengerjakan sesuatu di ruang kerjanya. Rara duduk di ujung tempat tidur.
'Kenapa aku jadi kepikiran kata Galih dan Mora ya. Masa sih aku hamil? bentar-bentar...'
Rara berdiri dan berjalan memperhatikan kalender di dalam kamar.
'Aku telat 2 minggu? tapi emang biasanya aku sering telat datang bulan sih'
Rara berdiri dan diam sejenak seolah berfikir.
'Apa aku cek aja?'
Rara berjalan menuju rak dan lemari, mencari kado pernikahan dari Galih berupa testpack. Dan Rara pun menemukan barang itu di dalam rak.
'Emang gila tuh Galih, ngasih begini 10biji, jualan apa gimana?!! tapi bermanfaat juga sih, aku jadi ga perlu malu-malu beli ini'
Sesampainya di dalam kamar mandi, Rara berjalan mondar mandir sambil memegangi benda itu.
'Coba engga coba engga coba engga coba engga coba engga coba engga. Argghhh... kenapa sih jadi deg-degan begini'
Hufttt..... Rara menghembuskan napas. Lalu memandangi jam melalui hp nya, jam menunjukkan pukul 9 malam.
'Coba, engga, coba, engga, coba, engga, coba, engga, coba. Hah? oke, coba'
Dengan jantung yang deg-degan dan napas yang tidak karuan, Rara memberanikan diri untuk membuka benda itu.
'Ini gimana cara makenya sih.. sial*n, aku ga ngerti beginian'
Rara mencoba membaca petunjuk pemakaiannya dan mencari informasi melalui internet di hp nya. Setelah tahu tahapannya, Rara pun mencoba mengukuti sesuai petunjuk.
'Setelah di cemplungin, tinggal di tunggu nih ya'
Sambil menunggu, Rara duduk di atas toilet duduk dengan tangan yang memegang benda tersebut dan kaki yang terus bergerak-gerak tanpa sadar karena rasa deg-degan namun penasaran.
'Kenapa rasanya jadi menegangkan kaya nunggu pengumuman snmptn begini sih'
Rara berkali-kali mencoba menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan untuk menenangkan dirinya.
Terimakasih jangan lupa di like, share ke siapapun, dan juga vote sebagai dukungan kamu untuk author agar rajin update😊🙏
__ADS_1