
Pak Udin sedang berjaga di depan rumah kemudian melihat Rara keluar dari pintu dengan pakaian rapih dan membawa tas kecil, pertanda Rara akan pergi ke suatu tempat.
"Mba Rara mau kemana? biar pak Udin antar" seru pak Udin mendekati Rara.
"Iya pak tolong antar saya ke rumah sakit ya"
"Baik Mba.."
Setelah hampir 2 minggu pulang dari rumah sakit, kini saatnya Rara mendapat jadwal cek-up untuk pemulihan kesehatan yang total.
Begitu sampai di rumah sakit, Rara diperiksa oleh dokter yang dari awal menanganinya saat operasi.
"Ini jahitannya sudah mulai kering ya.. tapi apakah ibu Rara mengalami stress pasca operasi?" tanya dokter setelah selesai memeriksa Rara dan menyadari tekanan darah Rara tidak dalam keadaan normal.
Rara hanya tersenyum lalu beranjak dari tempat tidur dan duduk berhadapan di meja dengan dokter tersebut.
"Ibu Rara jangan banyak stress.. karena nanti akan memperburuk kesehatan ibu Rara sendiri"
Rara mengangguk.
"Apa asinya keluar?"
"Iya dok.. dan sering kali terasa sakit selang beberapa jam"
"Iya tidak apa-apa bu, itu hal yang wajar bagi perempuan setelah melahirkan, itu tandanya asi ibu Rara sehat. Dan jika mulai terasa sakit, segera di pompa saja, itu karena sudah penuh dan harus di keluarkan"
"Baik dok"
"Apa ada keluhan lain bu Rara?"
"Mmm ini dok, kadang perut saya terasa perih dok, tapi bukan karena jahitan, seperti perih di dalam begitu dok. Itu kira-kira kenapa ya dok?"
"Mmm... apa pak Reyhan belum cerita bu?"
"Maksudnya?" Rara bingung.
"Begini bu Rara.. akibat benturan 2x yang di alami bu Rara, rahim ibu mengalami luka yang menyebabkan infeksi. Itu yang terkadang membuat perih karena di dalam rahim ibu masih ada luka".
"Luka??" Rara terkejut.
"Iya bu Rara.. dan luka tersebut perlu waktu yang cukup lama untuk bisa sembuh. Kurang lebih bu Rara membutuhkan waktu pengobatan 5 sampai 10 tahun".
"Separah itu???" kini Rara mulai syok.
"Iya bu.. dan selama waktu itu juga bu Rara kemungkinan untuk hamilnya kecil, dan jika hamil pun akan beresiko untuk janin nantinya"
"Apa??" napas Rara mulai tidak beraturan. "Jadi maksudnya... a.. aku mandul?"
"Tidak bu Rara.. ini berbeda. Bu Rara bisa hamil lagi, tapi tidak dalam waktu yang dekat, karena bu Rara harus menjalani pengobatan terlebih dahulu. Jika bu Rara rajin dan rutin minum obat dan menjalani pengobatan melalui dokter kandungan, bisa jadi kurang dari 5 tahun sudah bisa sembuh total dan menjalani program hamil lagi. Kita sebagai dokter hanya bisa memprediksi sesuai keadaan sekarang, tapi bagaimana nanti itu menjadi urusan Tuhan yang menentukan bu Rara, jadi bu Rara jangan putus asa ya"
'10 tahun? pengobatan? tidak hamil?' Rara benar-benar syok.
"Suami saya sudah mengetahui hal ini dok?"
"Sudah bu.. pak Reyhan sudah tahu dari awal"
'Jadi dia sudah tahu? jadi.. apa selama ini dia berubah dan menjauhiku karena hal ini?'
Air mata mengalir begitu saja melewati pipi Rara.
--
Selama perjalanan pulang, di kursi belakang Rara duduk melamun dengan pikiran yang kacau. Tidak hanya kesehatan, pikiran, batin, tapi juga ia merasa masa depannya hancur.
'Ini alasan kamu bersikap seperti ini Mas? aku akui kalau aku salah, tapi haruskah kamu seperti ini? kamu seakan tidak membutuhkanku lagi'
Rara berusaha untuk tetap berfikir positif, namun entah kenapa pikirannya selalu menuju ke arah sebaliknya.
Rara merasa tidak ada yang berpihak kepadanya, bahkan ia pun menyalahkan dirinya sendiri, begitu juga dengan suaminya yang dengan jelas menyalahkannya atas kematian anak mereka. Reyhan satu-satunya orang yang Rara harap bisa menguatkannya, justru bersikap sebaliknya. Kini Rasanya yang Rara butuhkan hanyalah pelukan dari ibunya dan dia ingin pulang ke rumah orangtuanya.
__ADS_1
Rara mengeluarkan ponsel dari tasnya. Membuka whatsapp dan mencari kontak Reyhan.
Rara : Mas.. aku rindu ibuku. Bolehkah aku pulang ke Bandung menemuinya?
Pesan terkirim dari ponsel Rara. Dan tak lama pesan terbaca dan langsung masuk sebuah balasan pesan.
Reyhan : Aku banyak kerjaan di kantor. Minta antar pak Udin.
SEK!
Membaca pesan tersebut seketika hatinya sangat sesak sampai-sampai terasa ada sesuatu yang menusuk bagian dadanya sampai bagian dalam.
'Kamu benar-benar mengacuhkanku? sepertinya kamu memang tidak membutuhkanku lagi, membiarkanku pulang begitu saja'
Tak dapat di bendung lagi, air mata keluar begitu saja.
--
"Untuk apa aku disini. Aku bukan istri yang berguna. Aku sudah tidak di butuhkan lagi disini!" Rara berbicara sendiri di dalam kamarnya sambil memasukkan satu persatu pakaiannya ke dalam koper. Amarah mulai merasuki Rara.
Hiks.. hiks... hiks......
Rara terduduk menangis di samping kopernya, menunduk dan mencengkram bajunya sendiri.
'Aku tidak ingin meninggalkanmu Mas, tapi sikapmu seakan menyuruhku untuk pergi'.
--
"Loh Mba Rara mau kemana????" bi Ina terkejut melihat Rara turun dari kamar atas dengan membawa tas dan koper.
Pak Udin yang sedang makan pun sama terkejutnya sampai terdiam bengong.
"Aku ingin menemui ibuku. Titip rumah ya Bi" jawab Rara masih berusaha tersenyum.
"Kenapa bawa koper Mba???" bi Ina masih bingung.
"Sebentar biar pak Udin antar Mba" pak Udin bangkit dari kursinya dan hendak cuci tangan.
Tidak seperti biasanya, sikap Rara membuat bi Ina dan pak Udin benar-benar terdiam heran dan sulit berkata sampai tidak bisa mencegah.
"Pak... sepertinya bencana sedang melanda rumah ini.." suara sedih bi Ina kepada suaminya.
--
Sore harinya datang sebuah mobil dan masuk ke dalam halaman rumah Reyhan. Pak Udin segera membukakan pintu mobil tersebut.
"Bu.. Pak..." sapa pak Udin ketika orang yang berada di dalam mobil tersebut sudah keluar.
"Sore Mang Udin.. sehat?" tanya pak Santoso.
Ternyata yang datang adalah Pak Santoso dan Istrinya. Kedua orang tua Reyhan memang memanggil pak Udin dengan sebutan Mang Udin.
Pak Santoso dan istrinya langsung masuk ke dalam rumah dan bi Ina yang sedang bersih-bersih di dalam terkejut melihat kedatangan majikannya.
"Sepi sekali bi, pada kemana?" tanya ibu.
"Mas Reyhan belum pulang bu..." jawab bi Ina.
"Rara kemana?" tanya pak Santoso.
Bi ina terdiam menunduk dan terlihat bingung.
"Kenapa bi?" tanya ibu.
"Tadi siang Mba Rara ke rumah sakit bu untuk periksa, tapi pulang-pulang langsung membereskan pakaian dan pergi bu"
"Pergi?" ibu terkejut.
"Maaf pak.. bu.. pas di mobil, mang Udin juga sempat melihat Mba Rara menangis" sambung pak Udin.
__ADS_1
"Mba Rara pergi membawa koper bu, katanya mau pulang ke Bandung menemui ibunya"
"Bawa koper?" kini pak Santoso yang terkejut.
"Terus Reyhan tahu? kenapa dia jam segini belum pulang?" ibu Reyhan mulai cemas.
"Mas Reyhan selalu pulang malam bu. Bu.. Pak... maaf kalau kami lancang, sebelumnya kami pernah mendengar Mba Rara dan Mas Reyhan bertengkar. Bibi khawatir dengan keadaan mereka bu..." jelas bi Ina berkata jujur sambil mulai menangis mengkhawatirkan kedua majikan mudanya.
--
Jeglek!!!!
"Mamah??? papah?????" Reyhan terkejut melihat kedatangan kedua orang tuanya yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Sedang apa kamu di sini?!" ibu Reyhan bertanya dengan wajah yang galak.
"Ya... kerja dong mah.." jawab Reyhan dengan bingung.
"Jam segini masih kerja? ini hampir petang Reyhan! seharusnya kamu pulang, pekerjaan bisa di lanjutkan besok lagi!" kini ibunya mulai berteriak kesal.
"Mah... sudah... tenang.. jangan emosi ah" pak Santoso berusaha menenangkan.
"Mamah kenapa sih.. sudah duduk dulu.." Reyhan.
Dan akhirnya mereka bertiga duduk di sofa yang berada di ruang kerja Reyhan.
'Ya Allah... sabar.... anak ini menyebalkannya tidak pernah berubah' gumam ibu Reyhan.
"Apa kamu dan Rara baik-baik saja?" tanya pak Santoso.
Reyhan diam tidak menjawab namun terlihat sedikit menunduk sedih.
"Kamu pasti memarahinya" celetuk ibu Reyhan.
"Mah......" pak Santoso masih berusaha menahan.
"Biarkan pah.. rasanya mamah ingin sekali menjewer telinganya!"
"Reyhan.. Rara itu sedang berduka" lanjut ibu.
"Dan apa menurut mamah aku tidak berduka?" balas Reyhan. "Rara sudah membohongiku mah, dia mengabaikan kesehatannya dan akhirnya seperti ini" lanjut Reyhan.
"Reyhan.. apapun itu, Rara pasti punya alasan. Namun, kamu tidak seharusnya bersikap seperti ini kepadanya"
"Aku kehilangan anakku mah.." Reyhan mulai berkaca-kaca.
"Dan Rara juga kehilangan anak yang ia kandung. Reyhan.. 8 bulan Rara mengandung, membawa anak kamu kemanapun dia pergi, selama 8 bulan itu juga Rara sulit untuk tidur, mual, muntah, makan susah, jalan terasa berat, tapi dia tidak pernah mengeluh kan?"
"Jika kamu sangat kehilangan, lalu bagaimana dengan Rara? bisa kamu bayangkan? pengorbanan dan penantiannya selama 8 bulan harus berakhir begitu saja, bahkan dia sama sekali tidak sempat melihat anaknya. Seharusnya kamu masih beruntung di beri kesempatan untuk bisa melihat langsung anak itu menangis dan sempat bernapas. Tapi bagaimana dengan Rara? jangankan sempat untuk melihat anaknya, dia justru sedang memperjuangkan nyawanya untuk tetap bisa hidup denganmu"
"Jika kamu merasa saki hati, Rara tidak hanya menahan sakit di hati, melainkan jiwa, batin, bahkan fisik. Mungkin Rara tidak menunjukkan itu, bukan karena sok kuat, melainkan karena dia ingin mendorong mu supaya kuat juga dalam menerima kenyataan"
Reyhan terdiam menunduk, menyembunyikan wajahnya, karena ia mulai meneteskan air matanya.
Reyhan terbayang saat Rara masih hamil, bahkan setelah operasi pun, Reyhan mengingat bahwa Rara memang hampir tidak pernah mengeluh sakit.
"Tidak ada seorang ibu yang baik-baik saja di tinggalkan oleh anaknya, Reyhan. Dan dalam keadaan seperti ini.. seharusnya kamu bisa menjaga dan merawat Rara, bukan menyibukkan diri di kantor seperti ini".
Terdengar isak tangis kecil yang mulai bersuara, sepertinya, perkataan ibunya membuat Reyhan tersentuh.
Pak Santoso membiarkan istrinya terus menasehati anaknya, dan pak Santoso pun mendekati Reyhan dan merangkulkan satu tangannya di pundak Reyhan seolah menenangkan.
"Kata bi Ina, tadi siang Rara pergi ke rumah sakit, namun pulang-pulang Rara terlihat menangis dan langsung pergi, katanya Rara ingin pulang ke Bandung" lanjut ibu Reyhan.
Reyhan menegakkan badannya lalu mengusap wajahnya. Raut mukanya menunjukkan seakan sedang memikirkan sesuatu.
'Apakah dokter sudah mengatakan soal infeksi di rahimnya?'
Reyhan mulai cemas, lalu Ia juga teringat sesuatu, yaitu pesan yang di kirim Rara tadi siang yang mengatakan bahwa Rara rindu kepada ibunya dan ingin pulang ke Bandung.
__ADS_1
"Rara tidak hanya pergi menemui ibunya, melainkan dia juga pergi membawa koper" seru ibu Reyhan lagi.
Seketika Reyhan langsung berdiri dengan sigap dan mengambil kunci mobil di atas meja kerjanya.