Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 106 Maaf Mas


__ADS_3

Pagi yang sejuk dengan keadaan rumah yang damai. Rara dan bi Ina sedang mempersiapkan sarapan. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari arah tangga yang tak lain adalah Reyhan.


"Loh Mas, ko pake kaos dan celana pendek? kamu ga kerja?" Rara terkejut melihat penampilan suaminya.


"Engga, aku masih pengen libur dulu" jawab Reyhan kemudian duduk di kursi makan.


"Mmm gitu..." balas Rara sambil menyiapkan piring dan nasi untuk Reyhan.


"Bi Ina?" ucap Reyhan tanpa melihat bi Ina yang sedang mencuci alat-alat bekas memasak.


"Iya Mas Reyhan?" bi Ina.


"Itu kepala Rara kebentur lemari dapur?" lanjutnya bertanya.


'Ah si*lan! kenapa Reyhan masih membahas itu?!' Rara.


Rara langsung menengok ke arah bi Inah dan mengedip-edipkan matanya seakan memberi kode sesuatu.


Bi Ina diam dan mengangkat alisnya, kebingungan.


"Bi Ina.. ko diem?" kini Reyhan membalikkan badannya dan melihat ke arah bi Ina.


"E.. I-Iya Mas Reyhan.." suara bi Ina terbatah.


"Oh yasudah..." balas Reyhan kemudian melanjutkan melahap sarapannya.


"Ih kamu ga percayaan" seru Rara lalu duduk di hadapan Reyhan.


"Iya kamu kan selalu bilang gapapa padahal kenapa-kenapa. Yasudah makan sarapanmu" seru Reyhan.


'Hmm.. maafkan aku ya Mas.. tidak maksud untuk berbohong, aku hanya tidak mau membuatmu cemas nantinya, lagian aku dan anakmu tidak kenapa-kenapa. Maaf ya Mas...'


--


Setelah sarapan pagi, Reyhan naik kembali ke kamarnya dan bermalas-malasan di atas tempat tidur. Sedangkan Rara mengosongkan isi koper bekas Reyhan ke Jepang lalu merapihkan pakaian di lemari.


"Mas.. kamu jetlag?" tanya Rara melihat Reyhan berbaring di atas tempat tidur sambil memejamkan mata, namun Rara tau Reyhan tidak tidur.


"Engga" jawab Reyhan tetap memejamkan mata.


"Kamu pulang sendiri? ga bareng mamah dan papah?"


"Engga, papah dan mamah masih di sana. Reina di suruh papah untuk mengurus usaha papah yang di Jepang, jadi Reina tidak jadi menetap di Indo"

__ADS_1


"Serius? berarti kamu tidak jadi membeli rumah dong?"


"Iya, kenapa? kamu senang?"


"Ih... ga gitu... ishhh" Rara cemberut.


"Haha.. kemarilah" Reyhan membuka matanya dan memberi kode agar Rara mendekat di sisinya.


"Kenapa? mau menyuruhku apa? tidak lihat aku sedang membereskan pakaian?" seru Rara.


"Sudah taruh saja dulu itu, nanti gampang di lanjutin lagi. Sekarang kemarilah" Reyhan mengulangi.


"Tidak mau. wle" ejek Rara.


"Cepat kemari, atau mau pake pemaksaan?! ku hitung sampai tiga! satu... dua..." ancam Reyhan bergurau.


'issshhhh pasti dia minta ena-ena' gumam Rara dalam hati.


"Iya iya....." Rara pun pasrah, dan naik ke atas tempat tidur lalu duduk bersandar di ranjang.


Reyhan mendekat dan menjatuhkan kepalanya di paha Rara, dan sesekali menciumi anak yang ada di dalam perut istrinya itu.


"Kamu sedang ingin di manja?" Rara.


"Hm" Reyhan hanya mengeram.


'Menggemaskan juga suami aku' Rara.


'Berani-beraninya mencubitiku, lihat saja, beberapa menit lagi akan ku terkam dia' Reyhan.


"Mas.. kamu tahu tidak, Bimo akan melamar Mentari"


"Serius?" Reyhan cukup terkejut. "Tahu dari mana?" lanjut Reyhan.


"Dari Bimo, kemarin ngomong langsung ke aku" dengan polosnya Rara jujur.


"Apa??!!" Reyhan bangkit dari rebahannya dan langsung duduk berhadapan dengan Rara. "Kamu bertemu dengannya kemarin?" lanjut Reyhan.


'Duh keceplosan'


"Ih sabar dong Mas.. aku tidak menemuinya. Dia yang datang ke toko. Sepertinya dia sedang cemas karena ingin melamar Mentari. Dan kebetulan Galih masih di Palembang, jadi yang dia temui aku. Bagaimanapun aku juga kan sahabatnya Bimo Mas.." jelas Rara berusaha menenangkan.


"Alah alasan.. intinya tetap saja kamu bertemu dengan dia"

__ADS_1


'Hm.. dia ini memang benar-benar cemburuan, ishh dasar, untung aku mencintaimu Reyhan'


"Eh Mas.. aku bosan.. ayo keluar kemana gitu" bujuk Rara dengan Manja sekaligus mengalihkan pembicaraan.


Reyhan tidak menjawab dan langsung membuka paksa baju Rara.


"Ih Mas apaan sih..." Rara berusaha mencegah tangan nakal Reyhan.


"Nanti kita keluar, tapi kamu harus menjalani hukuman dulu" seru Reyhan.


"Hah? hukuman???" Rara bingung.


"Iya, karena sudah menemui Bimo di saat aku tidak ada. Jadi kamu harus di hukum" Reyhan melanjutkan melucuti kancing baju Rara.


"iiiihhhh siapa yang menemui Bimo sih. Kan Bimo yang menemui aku, harusnya yang di hukum Bimo dong Maassssss..."


"Tidak ada enaknya menghukum Bimo. Sudah jangan banyak protes, layani suamimuuuu" Reyhan melepas sedikit demi sedikit pakaian Rara, dan sesekali mencubit dan menggelitiki istrinya.


"Mas... ih Massss..... geliiii.... pelan-pelannnnnn"


Yasudah.. apalagi yang terjadi jika bukan kegiatan bercinta (wkwk).


--


Mentari dan Bimo duduk di salah saru meja cafe Meriju. Ya, mereka berdua sedang merencanakan acara untuk pernikahan mereka. Mereka mencari informasi dan memilih gedung, dekor, desainer gaun, dan lainnya melalui internet.


"Kamu yakin ingin melaksanakannya bulan depan?" tanya Bimo kepada Mentari yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Katamu lebih cepat lebih baik kan? lagian aku tidak ingin terlalu mewah, yang biasa aja. Jadi ga terlalu memakan waktu lama juga untuk mempersiapkannya" balas Mentari.


Bimo terdiam.


"Kenapa? kamu belum siap?" Mentari.


"Engga... bukan begitu. Hanya bertanya. Yasudah lanjutkan memilih" Bimo.


--


Setelah melakukan kegiatan yang nikmat itu, Reyhan dan Rara segera mandi dan bersiap untuk pergi keluar rumah sesuai keinginan Rara, agar menghilangkan rasa bosan Rara.


"Mas.. kita mau kemana sih?" tanya Rara dalam mobil.


"Ke Cafe.. kamu belum pernah main ke cafe ku kan? bukan cafe ku sih, cafe ku bersama sahabat-sahabatku maksudnya" Reyhan.

__ADS_1


'Berarti ada Mentari dong? yasudahlah tidak apa-apa dari pada aku bosan di rumah' Rara.


Terimakasih dan jangan lupa di like dan vote kak😊


__ADS_2