Mantanku, Suamiku

Mantanku, Suamiku
EPS 58 Cinta Obie


__ADS_3

Selama proses pemakaman, Rara terus meneteskan air mata namun tetap tenang, Bimo di samping Rara terus merangkul pundak Rara, menguatkannya sambil memperhatikan Obie yang perlahan hilang berselimut tanah. Gadis yang berdiri di depan pintu ruang operasi malam itu, dia terus menangis kencang, bahkan terus memanggil nama Obie.


Seluruh keluarga, kerabat, tetangga, teman-teman Obie, sahabat-sahabat Obie, team balapan Obie, semua menyaksikan peristirahatan terakhir Obie. Entah ada berapa ratus orang, yang jelas begitu banyak orang pertanda banyak yang menyayangi Obie.


Bunga bertaburan di atas tanah, kayu bertulis nama Obie sudah berdiri tegak di atas tanah, doa-doa menghujani suasana, perlahan orang-orang melangkah meninggalkan pemakaman, Ibu Obie tidak ikut menguburkan karena mendadak sakit dan merasa terpukul atas kepergian putranya. Gadis itu berlutut sambil memeluk nisan Obie, dia menangis seolah tak mau berhenti.


"Sayang.. kenapa kamu pergi secepat ini" ucap gadis itu.


'Sayang? apa maksudnya? jadi dia bukan adiknya Obie? lalu siapa dia sebenarnya' Rara.


"Sudah nak. Ayo kita pulang" ujar ayah Obie membantu gadis itu berdiri. Dan mereka lalu berjalan meninggalkan pemakaman.


--


Rara berlutut di samping tempat peristirahatan terakhir Obie. Menaburkan bunga di atasnya. Mengusap lembut papan kayu yang terukir nama Obie. Berkali-kali membaca alfatihah dalam hati sambil meneteskan air mata.


Bimo yang berdiri di samping Rara berkutut mengikuti Rara.


"Ra... sudah... ayo" Bimo memegang kedua pundak Rara dan berusaha membantu Rara berdiri.


Rara memakukan kakinya, menggelengkan kepala sambil menangis namun tak bersuara.


"Tidak boleh begitu, ayo Ra.." Bimo mengulang usahanya.


"Biarin aku disini dulu Bim. Aku ga mau meninggalkannya sendiri di sini, aku masih ingin menemani Obie, beri aku waktu Bim.." pinta Rara.


Efan melangkah mendekati Bimo, menganggukan kepalanya ke arah Bimo, seolah menyuruh Bimo untuk menuruti mau Rara. Akhirnya Bimo berdiri, dan berjalan bersama Efan meninggalkan Rara. Bimo dan Efan menunggu Rara di mobil.


--


Rara masih berlutut di samping makam Obie. Memandangi nisan Obie sambil tangan kanannya mencengkram tanah yang menindih tubuh Obie. Kelopak matanya terus mengeluarkan air mata.


"Gelap ya Bie di dalam sana?"


"Gue lupa harusnya tadi gue bawa lampu" Rara tertawa sendiri.


"Lo pasti seneng di dalam sana, bisa makan baso aci level tinggi bareng bidadari-bidadari. Sementara gue? gue harus makan baso aci sendiri, soalnya Bimo ga suka baso aci Bie" air mata Rara menetes.


"Sekarang gue punya hoby baru Bie selain naik gunung. Lo mau tau? merindukan lo Bie. Sialan emang lo Bie, lo kan tau gue ga suka nahan kangen. Tapi sekarang lo bakal bikin gue kangen tiap hari" Rara menunduk menangis terisak.


"Gue benar-benar ngerasa sendiri Bie. Sekarang gue ga punya siapa-siapa lagi. Ga ada yang sayang sama gue, kaya lo sayang sama gue"


"Tapi gue seneng. Lo ga akan ngerasain menggigil dan sakit kepala lagi. Lo ga akan ngerasain sakit itu lagi"


Aaaaaaaaaaaaa..... hiks........ hiks..... hikss..


Rara melepas segala yang membuat sesak di dadanya, Rara menangis sekencangnya.

__ADS_1


Rara meletakkan telapak tangan kiri di dadanya, Rara menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Rara mengusap air mata di wajahnya.


"Gue kuat. Gue kuat kok Bie. Lo ga usah takut, di dalam sana banyak bidadari yang mau sama lo" Rara tersenyum.


"Gue pulang dulu ya Bie. Gue pasti nyusul lo suatu saat nanti"


Sedari tadi, Rara berbicara sendiri. Dia percaya Obie mendengarnya. Rara memegang erat kayu nisan, mencium nisan tersebut cukup lama.


'Aku sayang kamu Bie' suara hati Rara.


--


Rara berjalan menghampiri mobil. Bimo dan Efan sudah menunggu. Rara membuka pintu mobil bagian belakang, dan duduk di kursi belakang. Efan dan Bimo duduk bersebelahan. Bimo dan Efan melirik ke belakang memandang Rara.


"Bim, kita pulang sekarang ya" ucap Rara.


"Hm? boleh..." Bimo.


"Gue minta tolong anterin ke stasiun bisa Fan?" Rara.


"Bisa. Tapi gue minta waktu lo sebentar dulu mau?"


"Maksudnya?" Rara bingung.


"Ada yang gue mau ceritain tentang Obie. Dan sebelum pergi, dia nitipin sesuatu buat lo Ra"


--


--


"Kemaren lo nanya kan, kenapa gue bisa bebas dari masa tahanan?" Efan.


"Iya"


"Jelang beberapa hari setelah Obie dan Lo dateng jenguk gue di lapas waktu itu, kemudian Obie datang lagi sendiri. Dia bantu bebasin gue, tentunya bukan bebas cuma-cuma, tapi bebas bersyarat. Obie nebus semua denda dan sanksi yang masih jadi tanggungan gue, sehingga gue bisa bebas"


"Maksud lo dengan bayar pake uang?


"Iya"


"Tapi Obie kan ga punya uang sebanyak itu"


"Setiap dia menang judie online, setiap dia menang balapan, setengah dari pendapatan itu buat hidup dia seperti kuliah, makan, dll. Seperempat dia kumpulin buat bantu orang-orang lanjut usia di panti jompo tiap bulan, dan seperempatnya lagi dia kumpulin buat bantu gue bebas dari penjara. Saat Obie dateng bawa lo ke lapas, itu Obie ngasih tau gue kalo uang yang dia kumpulin buat bebasin gue udah cukup"


Rara meneteskan air mata.


"Obie emang keliatan brutal, pembalap, pemabuk, bahkan pemake, tapi dia orang baik Ra. Gue gagal bantu dia lepas dari barang itu karena gue sendiri masuk penjara. Tapi dia pernah dateng jenguk guecdi lapas, dia cerita kalo dia deket sama gadis yang dari awal dia suka. Bahkan dia bilang, dia mau berhenti make demi gadis itu. Gadis itu lo Ra"

__ADS_1


Rara masih diam menangis.


"Sampe suatu hari dia bener-bener kesakitan dan terpaksa memakai barang itu lagi di rumah temennya. Dan setelah itu temennya ke tangkep dan Obie jadi buron. Gue mau bantu menghapus nama Obie dari daftar buron, tapi gue ga punya uang. Berhari-hari Obie menghilang tapi sebenernya gue tau dia kemana aja. Sampai akhirnya ayah Obie datang ke gue dan nanya soal Obie. Ayah Obie mendesak gue buat jujur. Dan akhirnya gue cerita semuanya ke ayah Obie. Ayah Obie langsung mencari Obie dan menebus Obie di polsek agar nama Obie terhapus dari daftar buron dan bisa bebas kemana aja. Tapi.. ayah Obie mau menebus dengan syarat tertentu yaitu Obie harus menikah dengan anak dari sahabat ayahnya Obie. Obie menyetujui dan akhirnya Obie bertunangan"


"Gadis itu? gadis yang berdiri di depan pintu ruang operasi? gadis yang tadi di pemakaman?" Rara terkejut.


"Iya... namanya Dian" balas Efan.


"Walau Obie menyetujui untuk bertunangan, bukan berarti dia ga sayang sama lo Ra. Justru karna dia sayang sama lo, cinta sama lo, dia tetep menghilang. Supaya lo percaya kalo dia masih buron. Namun di satu sisi dia juga mencari cara agar bisa membatalkan pernikahan itu nantinya. Akhirnya setelah acara pertunangan, dia mengikuti lomba balap yang hadiahnya lumayan, dan jika dia menang, hadiah itu akan di berikan kepada ayahnya sebagai uang ganti dan membatalkan pernikahannya dengan anak dari sahabat ayahnya. Dan Obie berharap setelah acara balapan itu dan mendapat hadiah, Obie berniat menceritakan ini semua ke lo. Tapi sayangnya.... Obie mengalami kecelakaan di tengah sirkuit yang membuat pendarahan di kepalanya"


Rara menunduk dan benar-benar menangis terisak.


"Ini. Dia beli ini bua lo. Ya walaupun itu murahan, tapi dia bilang lo suka ikan. Itu di beli sehari sebelum dia balapan, saat itu gue lagi nemenin dia latihan terus ada orang jualan itu di depan stadion tempat latihan"


Efan menyerahkan gantungan kunci yang bening seperti kaca dan didalamnya terdapat air dan ada mainan ikan kecil yang jika di goncangkan seolah sedang berenang di dalamnya.



"Andai lo tau, sebesar apa dia sayang sama lo" Efan.


Rara menggenggam gantungan kunci itu dan menangis. "Terima kasih Fan" lanjut Rara.


'Terima kasih banyak Bie. Gue juga sayang sama lo' Rara.


Epilog


Bimo dan Efan.


Didalam mobil, Bimo terlihat sedikit cemas sambil terus memperhatikan Rara dari jauh melalui kaca mobil. Bimo takut Rara pingsan karena dari kemarin dia tidak mau memakan apapun, di tambah sepanjang hari dia terus menangis.


"Udah tenang aja, biarin dia menikmati masa terakhirnya bareng Obie" Efan berbicara kepada Bimo yang duduk di sampingnya.


Bimo hanya diam dan melirik ke arah Efan.


"Lo mantannya Rara?" lanjut Efan.


"Sahabatnya Rara, ya.. sekaligus mantannya juga"


"Beruntung banget lo di cintai sama gadis seperti Rara"


"Maksudnya?"


"Harusnya lo sadar bro... Orang kaya Obie aja bisa secinta itu sama Rara, dan ingin menjaga Rara sebaik mungkin. Tapi lo sendiri sebagai orang yang di cintai Rara, masa lo mau nglepasin Rara gitu aja?"


Bimo diam dan masih berusaha mencerna omongan Efan.


"Gadis sebaik Rara, di tinggal Obie yang sangat menyayanginya. Dia pasti benar-benar merasa sendiri. Harusnya lo bisa jagain Rara lebih dari Obie jagain dia, karena lo lebih beruntung bisa memiliki Rara" lanjut Efan.

__ADS_1


Terimakasih dan jangan lupa like dan vote🙏, Ikuti terus kelanjutannya🥰


__ADS_2